RUT 1:21
Teks
Naomi berdiri di gerbang Betlehem, dikenali dan sekaligus tidak dikenali oleh perempuan-perempuan sekampungnya, dan ia menolak namanya sendiri. Ayat 21 adalah puncak protesnya: ia berangkat dari kota itu dengan tangan penuh, suami dan dua anak laki-laki, dan TUHAN memulangkannya kosong. Lalu ia melempar pertanyaan yang tidak dijawab siapa pun: "Mengapa kamu memanggilku Naomi, padahal TUHAN telah bersaksi melawanku dan Yang Mahakuasa telah menindasku?" Nama Naomi berarti "manis, menyenangkan", dan itulah yang terasa seperti ejekan di telinganya. Perhatikan siapa yang ia sebut sebagai pelaku: bukan kelaparan, bukan Moab, bukan nasib buruk, melainkan TUHAN sendiri, dua kali disebut, sekali dengan nama perjanjian dan sekali sebagai Yang Mahakuasa.
Inti
Yang mengejutkan bukan kepahitan Naomi, melainkan teologinya. Ia tidak kehilangan iman; justru karena ia percaya bahwa TUHAN memerintah atas segala sesuatu, ia tidak punya siapa-siapa lagi untuk dituduh. Kata yang dipakainya, "bersaksi melawanku", adalah bahasa ruang pengadilan: Allah tampil sebagai saksi pendakwa, dan Naomi merasa dirinya terdakwa tanpa tahu dakwaannya apa. Alkitab memberi ruang untuk suara semacam ini tanpa menegurnya. Tidak ada narator yang menyela, "Naomi keliru." Namun ada ironi yang menusuk: sementara ia berkata "kosong", Rut berdiri di sampingnya, dan panen jelai baru saja dimulai. Kepenuhan Allah sudah hadir dalam bentuk yang belum dikenali Naomi. Inilah inti pasal ini: anugerah sering bekerja lebih dulu daripada kesanggupan kita melihatnya, dan Allah tidak tersinggung oleh keluhan orang yang masih menyebut nama-Nya.
Benang Merah
Kalimat "aku pergi dengan penuh, tetapi TUHAN memulangkan aku dengan kosong" membalikkan salah satu pola paling mendasar dalam Alkitab. Israel turun ke Mesir karena kelaparan dan keluar dari sana dengan tangan tidak kosong; Allah sendiri yang bersumpah bahwa umat-Nya tidak akan pulang hampa. Naomi menempuh rute yang sama, meninggalkan tanah perjanjian karena lapar, tetapi pulang dengan tangan terbuka dan kosong. Ia berdiri di titik di mana janji itu tampak gagal. Justru dari titik itulah kitab ini bergerak: perempuan yang menyebut dirinya kosong akan, di pasal empat, memangku seorang bayi di dadanya, dan bayi itu menjadi kakek Daud. Garis dari gerbang Betlehem yang pahit ini terus memanjang sampai ke Betlehem yang lain, tempat Allah mengisi kekosongan dunia dengan cara yang tidak dikenali siapa pun pada malam itu.
Cermin
Ada momen ketika kita menghitung hidup kita dan hasilnya minus. Karier yang berhenti di tengah jalan, rumah yang lebih sepi daripada yang direncanakan, kursi kosong di meja makan, tubuh yang tidak lagi menurut, tabungan yang habis untuk biaya rumah sakit. Naomi tidak membungkus itu dengan bahasa rohani yang sopan. Ia menyebut Allah sebagai alamat keluhannya, dan justru itu yang membuat keluhannya doa dan bukan sekadar sinisme. Bahaya kita biasanya dua-duanya sekaligus: kita terlalu saleh untuk mengeluh terus terang, dan terlalu terluka untuk melihat Rut yang berdiri di samping kita. Hari ini, ucapkan dengan suara keras, sendirian, satu kalimat jujur kepada Allah tentang apa yang terasa kosong dalam hidup Anda, tanpa menambahkan penjelasan pembelaan apa pun sesudahnya.
Tokoh Utama
Naomi bukan perempuan cengeng. Di ayat 8 dan 9 ia memberkati kedua menantunya dan mendoakan kesejahteraan bagi mereka, padahal ia sendiri tidak punya apa-apa untuk diberikan. Ia berpikir tentang masa depan orang lain sebelum masa depannya sendiri. Kepahitannya bukan tanda iman yang runtuh melainkan iman yang terluka: ia tetap memakai nama perjanjian, TUHAN, ketika menuduh. Yang mengharukan sekaligus menyedihkan adalah kebutaannya. Rut baru saja mengucapkan sumpah setia yang paling indah dalam Perjanjian Lama, dan Naomi tetap berkata "kosong". Duka memang mempersempit penglihatan; ia menghitung yang hilang dengan teliti dan lupa menghitung yang tinggal. Kita tidak perlu menghakiminya untuk itu. Alkitab pun tidak. Allah bekerja sabar dengan orang yang belum sanggup melihat pekerjaan-Nya.
Intertekstualitas
Ayat ini bergema paling kuat dengan Ayub, yang juga berkata bahwa TUHAN yang memberi dan TUHAN yang mengambil, dan yang juga menuntut Allah menjawab tuduhannya. Bedanya, Ayub mendapat jawaban dari badai; Naomi tidak mendapat jawaban sama sekali, hanya panen jelai yang dimulai diam-diam di ayat berikutnya. Sebaliknya, Hana di Silo menyanyikan Allah yang mengosongkan dan mengisi, dan Maria di Nazaret menyanyikan Allah yang mengenyangkan orang lapar dengan kebaikan dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa. Dua nyanyian itu adalah tafsiran atas Rut 1:21 yang belum bisa dinyanyikan Naomi. Ia berdiri di sisi gelap dari kalimat yang sama. Kitab ini menempatkan protesnya dan pemenuhannya berdampingan, tanpa buru-buru mendamaikan keduanya.
Konteks
Zaman para hakim adalah zaman tanpa raja dan tanpa arah, ketika kelaparan melanda kota yang namanya berarti "rumah roti". Keluarga Efrata itu mengungsi ke Moab, bangsa yang punya sejarah panjang permusuhan dengan Israel, dan di sana kehilangan segalanya. Naomi pulang sebagai janda tua tanpa anak laki-laki, artinya tanpa pelindung, tanpa penghasilan, dan tanpa hak jelas atas tanah keluarganya. Ia berbicara di ruang publik kota, tempat perempuan-perempuan berkumpul dan reputasi dibentuk, dan yang mereka lihat bukan lagi Naomi yang dulu berangkat. Perhatikan juga waktunya: awal musim panen jelai, musim semi, saat gandum pertama dipersembahkan. Kota sedang penuh persis ketika Naomi merasa paling kosong.
Refleksi
Apa yang selama ini Anda hitung sebagai kehilangan, dan siapa atau apa yang berdiri di samping Anda yang belum pernah Anda hitung?
Beranikah Anda menujukan keluhan Anda kepada Allah sendiri, seperti Naomi, atau selama ini Anda menyalurkannya ke arah orang lain?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ruth 1:21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti RUT 1:21?
Tentang apakah RUT 1:21?
Apa konteks historis dari RUT 1:21?
Apa yang RUT 1:21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana RUT 1:21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ruth 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Naomi berhenti bicara. Bukan memeluk, bukan berterima kasih, hanya diam. "Ketika Naomi melihat bahwa Rut berkeras untuk ikut dengannya, dia berhenti membujuknya." Kadang kesetiaan kita disambut sunyi, bukan tepuk tangan. Rut tetap berjalan di samping perempuan yang sedang terlalu pahit untuk membalas kasihnya. Kamu sanggup mengasihi seperti itu?
Inikah Naomi?" Seluruh kota gempar melihatnya pulang. Sepuluh tahun duka mengubah wajah seseorang sampai orang yang mengenalnya harus bertanya dua kali. Naomi tidak menyembunyikan itu. Dia pulang apa adanya, dengan luka yang terbaca di mukanya. Beranikah kamu pulang begitu, tanpa memoles diri dulu?
Terima kasih, Tuhan, untuk Rut yang berpaut pada Naomi ketika semua alasan menyuruhnya pulang. Terima kasih untuk orang orang yang tetap tinggal di sisiku saat hidupku terasa pahit, dan untuk Engkau sendiri yang tidak pernah melepaskan peganganMu atasku.
Naomi tidak punya apa pun untuk ditawarkan. Tidak ada anak lagi, tidak ada jaminan, hanya kepahitan dan perjalanan pulang yang panjang. Justru di situ Rut berkata, "Ke mana engkau pergi, aku akan pergi... Allahmu adalah Allahku." Ia memilih mengikat diri pada orang yang sedang kosong. Kesetiaan sejati sering lahin di tempat yang tidak menguntungkan. Kepada siapa kamu tetap tinggal, walau tak ada untungnya?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi