RUT 1
Teks
Sebuah keluarga dari Betlehem melarikan diri dari kelaparan ke Moab. Dalam sepuluh tahun, Elimelekh dan kedua anaknya mati, dan Naomi tinggal bersama dua menantunya yang orang Moab. Ketika ia mendengar TUHAN kembali memberi makan umat-Nya, ia bersiap pulang. Orpa akhirnya berbalik, tetapi Rut memilih untuk tetap: "Bangsamu akan menjadi bangsaku, dan Allahmu akan menjadi Allahku." Naomi tiba di Betlehem sebagai perempuan yang pahit, meminta agar orang memanggilnya Mara.
Inti
Ruth 1 adalah pasal tentang pilihan-pilihan yang diambil di reruntuhan. Elimelekh memilih Moab daripada bertahan di Betlehem. Naomi memilih pulang meskipun tangan hampa. Orpa memilih akal sehat. Rut memilih kesetiaan tanpa jaminan apa pun, bahkan ketika Naomi sendiri mendesaknya untuk pergi. Yang mencolok: Allah tidak berbicara sepatah kata pun dalam pasal ini. Tidak ada penglihatan, tidak ada nabi, tidak ada perintah langsung. Namun setiap tokoh mengambil keputusan yang menentukan hidupnya. Inilah teologi tersembunyi dari Ruth: iman terbentuk bukan pertama-tama dalam momen dramatis, melainkan dalam pilihan yang tampak biasa saja pada saat itu, ketika tidak ada yang memaksa, ketika akal sehat berkata sebaliknya, dan ketika Allah tampak jauh.
Benang Merah
Rut, seorang perempuan Moab, seorang asing dari bangsa yang menurut hukum Taurat tidak boleh masuk jemaah TUHAN sampai keturunan kesepuluh, justru menjadi nenek buyut Daud, dan pada akhirnya nenek moyang Yesus. Perhatikan bagaimana kasih karunia bekerja: bukan melalui kemurnian garis darah, bukan melalui prestasi religius, tetapi melalui kesetiaan seorang perempuan yang terikat pada mertuanya yang pahit. Kalimat "Allahmu akan menjadi Allahku" adalah pengakuan iman yang lahir dari kasih konkret kepada seorang manusia yang patah. Di sinilah tersembunyi pola Injil: Allah masuk ke dalam sejarah keselamatan justru melalui pintu-pintu yang oleh manusia dianggap tertutup, dan Ia membangun garis Mesias dari kesetiaan yang tidak menuntut apa pun kembali.
Cermin
Sekarang pertanyaannya tajam. Kapan terakhir kali Anda memilih untuk tetap ketika akal sehat berkata pergi? Naomi memberi Rut alasan sempurna untuk pulang. Tidak ada laki-laki, tidak ada masa depan, tidak ada jaminan. Orpa bertindak wajar, dan teks tidak menghakiminya. Tetapi Rut mengikat dirinya kepada seorang perempuan tua yang pahit tanpa prospek. Bagaimana dengan orang tua Anda yang mulai pikun, teman yang jatuh dalam depresi berkepanjangan, pasangan yang kehilangan pekerjaannya dan menjadi sulit, jemaat yang menyusut dan mengecewakan? Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan "melepaskan hubungan yang tidak sehat." Kadang itu benar. Tetapi Ruth 1 menuntut jujur: sebagian besar kesetiaan sejati justru terjadi ketika kita tidak mendapat apa pun kembali, dan ketika yang kita layani tidak menarik lagi.
Dan Naomi mengajarkan hal lain. Ia tidak menutupi kepahitannya dengan bahasa rohani. "Yang Mahakuasa telah memperlakukanku dengan pahit." Di gereja kita sering memaksakan senyum. Naomi tidak. Ia pulang, ia tetap dalam perjanjian, tetapi ia menamai lukanya. Itu juga sebuah pilihan etis: kejujuran di hadapan Allah tanpa mengundurkan diri dari-Nya.
Detail
Perhatikan kata kerja pada ayat 14: Rut "memegang erat" kepada Naomi. Dalam bahasa Ibrani ini kata yang sama yang dipakai dalam Kejadian 2:24 tentang suami yang "bersatu" dengan istrinya. Ini bukan sekadar pelukan sentimental. Ini adalah bahasa perjanjian, bahasa pernikahan, dipakai untuk menggambarkan ikatan seorang menantu perempuan kepada mertuanya. Rut mengambil komitmen sekelas pernikahan terhadap seorang perempuan yang tidak dapat memberinya apa-apa. Ini bukan sopan-santun keluarga. Ini adalah pengikatan diri yang radikal, dan justru di titik inilah teks memberi kita gambar tentang bagaimana kasih karunia terlihat dalam kaki dan tangan manusia.
Profil
Pendengar pertama kitab ini kemungkinan besar hidup pada masa monarki, mungkin di sekitar zaman Daud atau setelahnya, ketika pertanyaan tentang siapa yang termasuk umat Allah menjadi tajam. Moab bukan sekadar negeri asing. Moab adalah musuh, tetangga yang bermusuhan, bangsa yang menurut Ulangan 23 tidak boleh masuk jemaah TUHAN. Ketika pendengar Israel mendengar "perempuan Moab" mereka merasakan ketegangan yang tidak kita rasakan lagi. Kitab ini adalah tamparan halus terhadap eksklusivisme etnis. Ia berkata: lihat dari mana raja kalian berasal. Bagi mereka, cerita ini menantang siapa yang mereka anggap berada di dalam dan siapa di luar, sebuah pertanyaan yang kembali tajam di gereja masa kini.
Intertekstualitas
Sumpah Rut menggemakan pola panggilan Abraham dalam Kejadian 12: meninggalkan negeri, bangsa, dan rumah bapa untuk pergi ke tempat yang belum dikenal. Bedanya, Abraham dipanggil oleh suara Allah; Rut dipanggil oleh kasih kepada seorang perempuan. Namun keduanya sama-sama iman. Dan bandingkan Naomi dengan Ayub: keduanya kehilangan segalanya, keduanya menuduh Allah dengan jujur, keduanya tetap dalam hubungan. Kitab Suci memberi ruang untuk keluhan yang berani, asalkan keluhan itu diarahkan kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya. Yesus sendiri, di kayu salib, mengutip mazmur keluhan. Naomi berdiri dalam tradisi yang sah ini.
Refleksi
Di titik mana dalam hidup Anda saat ini Anda tergoda menjadi Orpa, mengambil keputusan yang wajar, sementara Roh mungkin memanggil Anda untuk memegang erat seperti Rut?
*Adakah kepahitan yang Anda tutupi dengan bahas
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ruth 1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti RUT 1?
Tentang apakah RUT 1?
Apa konteks historis dari RUT 1?
Apa yang RUT 1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana RUT 1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ruth 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk kebaikan yang Naomi doakan bagi Orpa dan Rut. Aku bersyukur karena Engkau melihat setiap kasih yang kami tunjukkan kepada orang yang telah pergi dan kepada keluarga yang tinggal. Terima kasih untuk orang-orang yang setia merawatku dalam masa dukaku.
Naomi berhenti bicara. Bukan memeluk, bukan berterima kasih, hanya diam. "Ketika Naomi melihat bahwa Rut berkeras untuk ikut dengannya, dia berhenti membujuknya." Kadang kesetiaan kita disambut sunyi, bukan tepuk tangan. Rut tetap berjalan di samping perempuan yang sedang terlalu pahit untuk membalas kasihnya. Kamu sanggup mengasihi seperti itu?
Inikah Naomi?" Seluruh kota gempar melihatnya pulang. Sepuluh tahun duka mengubah wajah seseorang sampai orang yang mengenalnya harus bertanya dua kali. Naomi tidak menyembunyikan itu. Dia pulang apa adanya, dengan luka yang terbaca di mukanya. Beranikah kamu pulang begitu, tanpa memoles diri dulu?
Terima kasih, Tuhan, untuk Rut yang berpaut pada Naomi ketika semua alasan menyuruhnya pulang. Terima kasih untuk orang orang yang tetap tinggal di sisiku saat hidupku terasa pahit, dan untuk Engkau sendiri yang tidak pernah melepaskan peganganMu atasku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
