2 SAMUEL 18
Teks Itu
Daud menata pasukannya menjadi tiga bagian, hendak ikut maju, tetapi dicegah rakyatnya. Sebelum mereka berangkat, ia berpesan di depan semua orang: "Bersikaplah lemah lembut kepada Absalom, anak muda itu." Pertempuran di hutan Efraim berakhir dengan dua puluh ribu korban; Absalom tersangkut di pohon tarbantin, dan Yoab, yang mendengar perintah raja, menikamnya dengan tiga lembing. Lalu datanglah dua pelari membawa berita kemenangan kepada seorang ayah yang hanya menanyakan satu hal.
Intinya
Bab ini menaruh dua bahasa yang tidak bisa saling menerjemahkan di ruangan yang sama: bahasa negara dan bahasa ayah. Yoab berpikir dalam angka, stabilitas, dan risiko pemberontakan berikutnya. Daud berpikir dalam nama seorang anak. Keduanya tidak seluruhnya salah, dan itulah yang membuat pasal ini menusuk. Kitab Samuel tidak memberi kita tokoh yang bersih. Ia menunjukkan bahwa keputusan yang secara politis masuk akal bisa sekaligus merupakan pembunuhan, dan bahwa kasih seorang ayah yang benar bisa sekaligus melumpuhkan tanggung jawabnya. Allah tidak muncul untuk memberi penilaian akhir. Yang tertinggal adalah tangisan seorang raja dan tumpukan batu di hutan. Teks ini menolak menyederhanakan etika menjadi pilihan antara benar dan salah; sering kali pilihan kita berada di antara dua hal yang keduanya berdarah.
Benang Merah
"Sekiranya aku mati menggantikanmu" adalah kalimat yang tidak bisa dipenuhi Daud. Ia mengucapkannya terlambat, atas anak yang sudah mati, dan atas anak yang bersalah. Justru karena itu kalimat ini menjadi celah yang lebar dalam Perjanjian Lama, sebuah kerinduan yang menunggu digenapi. Anak Daud yang lain, seribu tahun kemudian, juga akan tergantung di antara langit dan bumi di luar kota, juga ditinggalkan sendirian, tetapi bukan karena pemberontakan-Nya sendiri. Perbedaannya bukan hiasan retoris: Absalom mati karena dosanya, Yesus mati karena dosa kita. Dan Bapa yang menyerahkan Dia tidak sedang kalah oleh Yoab-Nya; Ia memilih dengan sadar. Pertukaran yang tidak sanggup dilakukan Daud dilakukan Allah sendiri, dan itulah dasar mengapa kita boleh berharap ada pengampunan bagi anak-anak yang memberontak, termasuk kita.
Cermin
Perhatikan prajurit di ayat 12. Ia ditawari sepuluh syikal perak dan sebuah ikat pinggang untuk melakukan satu hal cepat yang semua orang tahu akan menguntungkan. Ia menolak, bukan karena Absalom layak hidup, melainkan karena ia mendengar perintah raja. Anda mengenal tawaran itu. Angka yang "dibulatkan" di laporan keuangan karena atasan sudah tahu dan tidak akan bertanya. Kalimat yang dibiarkan beredar tentang rekan kerja yang memang menyebalkan, karena toh itu mempercepat urusan. Yoab menyebutnya efisiensi: "Aku tidak akan membuang-buang waktu seperti ini denganmu." Efisiensi adalah nama sopan bagi banyak dosa kita. Dan perhatikan juga Daud: ia memberi perintah lemah lembut di depan umum, tetapi tidak pernah menghadapi Absalom sejak pemerkosaan Tamar. Kelembutan yang menunda konfrontasi bukanlah kasih; itu utang yang bunganya dibayar orang lain.
Konteks
Kita berada di seberang Yordan, sekitar tahun 970 SM. Daud melarikan diri dari Yerusalem yang direbut anaknya sendiri, dan berkemah di Mahanaim, wilayah pinggiran. Ia bukan lagi raja yang memimpin dari depan; rakyatnya menghitungnya "sama harganya dengan sepuluh ribu dari kami", sebuah pujian yang sekaligus berarti: tinggallah di rumah, Tuan, Anda sudah tua. Yoab adalah panglima yang sudah dua kali membunuh saingan politik dengan tangannya sendiri dan selalu lolos, karena Daud membutuhkannya. Absalom, anak yang tampan dan populer, telah membangun tugu bagi dirinya sendiri di Lembah Raja karena ia tidak punya anak laki-laki. Dalam dunia yang mengukur nilai hidup dari nama yang diteruskan, tugu batu itu adalah pengakuan kekalahan sebelum pertempuran dimulai.
Tokoh Utama
Yoab adalah orang paling kompeten dalam pasal ini, dan itulah masalahnya. Ia membaca situasi dengan tepat: selama Absalom hidup, perang tidak akan selesai. Ia juga tahu persis apa yang diperintahkan rajanya, dan melanggarnya dengan mata terbuka. Ia bahkan mengatur berita: Ahimaas yang bersemangat dilarang berangkat, orang Kush yang tidak dikenal dikirim untuk menerima amarah raja. Yoab mengelola kebenaran seperti ia mengelola medan perang. Ia tidak digambarkan sebagai monster; ia digambarkan sebagai orang yang yakin bahwa hasil membenarkan cara, dan yang selama bertahun-tahun tidak pernah menanggung akibatnya. Ada Yoab dalam setiap organisasi, setiap keluarga, kadang dalam diri kita: orang yang menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak boleh ditanyakan terlalu jauh.
Pertanyaan
Apakah Yoab benar? Kerajaan memang selamat karenanya. Jika Absalom dibiarkan hidup, perang saudara berikutnya hampir pasti terjadi, dan ribuan orang lagi akan mati. Teks tidak mengutuk Yoab di sini, dan itu tidak nyaman. Namun teks juga tidak memujinya, dan ia menutup pasal bukan dengan sorak kemenangan melainkan dengan seorang ayah yang meratap. Kita tidak diberi rumus. Yang diberikan adalah ini: Anda mungkin harus mengambil keputusan keras yang tidak dapat dihindari, dan Anda tetap harus menanggung beratnya. Bahaya sesungguhnya bukanlah membuat pilihan yang sulit; bahayanya adalah menjadi orang yang tidak lagi merasakan apa pun setelah membuatnya. Yoab pulang dan meniup trompet. Daud naik ke ruangan atas dan menangis. Hanya satu dari keduanya yang masih manusia.
Renungan
Di mana dalam hidup Anda kata "efisien" atau "realistis" sedang dipakai untuk menutupi sesuatu yang sebenarnya tidak jujur?
Percakapan sulit mana yang sudah lama Anda tunda dengan alasan kasih, padahal sesungguhnya karena takut?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Samuel 18
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 SAMUEL 18?
Tentang apakah 2 SAMUEL 18?
Apa konteks historis dari 2 SAMUEL 18?
Apa yang 2 SAMUEL 18 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 SAMUEL 18 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Samuel 18
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena namaku tidak bergantung pada tugu batu seperti yang Absalom dirikan di Lembah Raja. Engkau mengingat aku tanpa aku harus mengukir namaku sendiri. Aku bersyukur boleh hidup tenang, sebab Engkau yang menyimpan namaku.
Prajurit ini tidak punya nama dalam catatan Alkitab, tapi telinganya menyimpan pesan raja: "Jagalah Absalom, orang muda itu, demi aku." Seribu keping perak pun tidak bisa membeli ketaatannya. Yang berpangkat justru lupa, yang biasa saja justru ingat. Apa yang sedang menawar hatimu hari ini supaya kamu "lupa" perintah yang jelas kamu dengar?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
