KISAH PARA RASUL 1:6
Teks
Empat puluh hari sudah Yesus yang bangkit itu berjalan keluar-masuk di antara mereka, berbicara tentang Kerajaan Allah, dan baru saja menjanjikan baptisan Roh Kudus "tidak lama dari sekarang." Lalu, ketika mereka berkumpul bersama, keluarlah pertanyaan yang sudah lama mengendap di dada: "Tuhan, apakah ini waktunya Engkau memulihkan kerajaan bagi Israel?" Satu kalimat, tetapi padat sekali. Ada pengakuan iman di dalamnya, sebab mereka menyebut Dia "Tuhan". Ada harapan nasional yang tua, tentang takhta Daud yang tegak kembali dan penjajah Romawi yang angkat kaki. Dan ada desakan waktu: apakah sekarang? Hari ini? Minggu ini? Mereka tidak bertanya apa yang harus mereka lakukan; mereka bertanya kapan Allah akan bertindak sesuai jadwal yang mereka bayangkan.
Inti
Yang menarik, Yesus tidak menertawakan pertanyaan itu. Pemulihan memang dijanjikan; Allah memang akan menegakkan kerajaan-Nya. Kesalahan para murid bukan pada isi harapan mereka, melainkan pada posisi diri mereka di dalamnya. Mereka menempatkan diri sebagai penonton yang menunggu tanggal, padahal Allah hendak menjadikan mereka pelaku yang diutus. Di sinilah teks ini menggigit secara etis: ada cara beriman yang kelihatan saleh tetapi sebenarnya pasif, yang terus-menerus menuntut kejelasan jadwal dari Allah supaya kita tidak perlu memulai apa-apa hari ini. Kerajaan Allah bukan peristiwa yang kita tunggu sambil melipat tangan, melainkan pemerintahan yang menuntut ketaatan sekarang, dalam pekerjaan, uang, dan relasi kita. Pertanyaan "kapan" sering menjadi tempat persembunyian yang nyaman dari pertanyaan "apa yang Engkau minta dariku sekarang".
Benang Merah
Harapan "memulihkan kerajaan bagi Israel" bukan khayalan para murid; itu nafas para nabi. Israel dijanjikan seorang Raja dari keturunan Daud yang memerintah dengan keadilan, dan bangsa-bangsa akan datang melihat terang itu. Yang tidak mereka duga adalah bentuk penggenapannya: Raja itu memerintah dari sebelah kanan Bapa, dan kerajaan-Nya meluas bukan lewat pedang tetapi lewat saksi-saksi yang bergerak dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Jawaban Yesus di ayat 8 tidak membatalkan harapan mereka, melainkan memperluasnya sampai pecah bingkainya. Pemulihan itu nyata, tetapi lebih besar dari satu bangsa dan lebih lambat dari satu generasi. Inilah pola khas karya Allah sepanjang Alkitab: janji digenapi, tetapi hampir selalu dengan cara yang membongkar bayangan kita sendiri tentang bagaimana seharusnya Allah bekerja.
Cermin
Pertanyaan para murid itu hidup juga dalam kita, hanya dengan kosakata yang berbeda. "Kapan Tuhan membuka jalan untuk pekerjaan yang lebih baik?" "Kapan anak saya kembali ke gereja?" "Kapan pernikahan ini terasa ringan lagi?" Semua pertanyaan itu sah, dan Yesus tidak mencelanya. Tetapi perhatikan apa yang sering kita lakukan sambil menunggu jawabannya: kita menunda. Menunda percakapan sulit dengan ayah sampai hati terasa siap. Menunda memberi sampai gaji naik. Menunda memperbaiki cara kita bicara kepada pasangan sampai keadaan membaik. Menunda melayani sampai jelas apa panggilan hidup kita. Yesus menolak memberi tanggal justru supaya kita berhenti menyandera ketaatan hari ini dengan kejelasan yang belum Ia berikan. Yang Ia janjikan bukan kalender, melainkan kuasa untuk bersaksi, hari ini, di tempat kita berdiri. Hari ini juga: tuliskan satu hal yang selama ini Anda tunda sambil menunggu kejelasan dari Tuhan, lalu kerjakan langkah terkecilnya sekarang, satu pesan, satu telepon, satu transfer.
Tokoh Utama
Yesus dalam adegan ini sangat sabar dan sangat tegas sekaligus. Empat puluh hari Ia menjelaskan Kerajaan Allah, dan murid-murid-Nya masih bertanya tentang kerajaan bagi Israel. Ia tidak menghela napas kecewa, tidak mempermalukan mereka di depan satu sama lain. Ia menerima panggilan "Tuhan" dari mulut orang-orang yang belum sepenuhnya mengerti apa yang mereka katakan. Tetapi Ia juga tidak memanjakan rasa ingin tahu mereka. Ada hal-hal yang Ia tahan di tangan Bapa, dan penahanan itu sendiri adalah kasih: andai mereka tahu jadwalnya, mereka mungkin mengatur hidup menurut jadwal itu, bukan menurut Dia. Inilah Gembala yang memberi persis apa yang dibutuhkan untuk langkah berikutnya, bukan peta lengkap yang membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan Dia.
Detail
Kata kecil "ini" dalam "apakah ini waktunya" menanggung beban seluruh ayat. Para murid sedang mengukur momen: kebangkitan sudah terjadi, Roh dijanjikan, mereka berkumpul lengkap. Semua tanda tampak cocok, maka pastilah sekarang. Begitulah cara kerja hati manusia yang saleh: kita menyusun bukti, menarik garis, lalu menyimpulkan bahwa Allah pasti sedang bergerak menuju apa yang kita harapkan. Dan sering kali kita memang sedang menyaksikan karya Allah, hanya saja menamainya salah. Memang "ini waktunya", tetapi waktu untuk dibaptis dengan Roh dan diutus, bukan waktu untuk duduk di singgasana. Jarak antara tafsiran kita dan maksud Allah bisa setipis satu kata, dan justru di situ iman diuji: apakah kita mau menerima pemberian-Nya ketika bentuknya tidak sesuai permintaan kita.
Profil
Pembaca pertama Lukas hidup puluhan tahun setelah percakapan ini, dan banyak dari mereka sudah tahu bagaimana ceritanya berlanjut: Yerusalem hancur, Bait Allah rata, takhta Daud tetap kosong, para rasul banyak yang mati. Bagi mereka pertanyaan "apakah ini waktunya" terasa pahit, bukan naif. Lukas sengaja mencatat jawaban Yesus untuk jemaat yang lelah menunggu dan mulai bertanya apakah mereka salah berharap. Pesannya: kalian tidak salah berharap, kalian hanya tidak diberi kalendernya. Yang diberikan adalah Roh dan tugas. Bagi orang Kristen minoritas di kota-kota Romawi, itu berarti kesaksian mereka yang kecil dan berisiko bukanlah pengisi waktu sambil menanti hal besar; itulah justru cara kerajaan itu datang.
Refleksi
Pertanyaan "kapan" mana yang paling sering Anda ajukan kepada Tuhan akhir-akhir ini, dan ketaatan apa yang sedang Anda tunda di baliknya?
Jika Tuhan hari ini memberi kuasa, bukan kejelasan, kepada siapa di lingkungan Anda kuasa itu paling dibutuhkan minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 1:6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 1:6?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 1:6?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 1:6?
Apa yang KISAH PARA RASUL 1:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 1:6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Sebidang tanah di pinggir kota, dan seluruh Yerusalem tahu ceritanya: "sehingga tanah itu disebut dalam bahasa mereka sendiri, Akeldama, yang artinya Tanah Darah." Dosa sering meninggalkan alamat yang susah dihapus. Tapi di kota yang sama ada bukit lain, dengan darah lain yang tertumpah, dan di sana kamu diberi nama baru.
Terima kasih, Tuhan, untuk janji yang jelas itu: Yesus yang terangkat ke surga "akan datang kembali dengan cara yang sama". Aku bersyukur kepergian-Nya bukan perpisahan, dan hidupku hari ini punya arah karena Engkau pasti menepati janji-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi