KISAH PARA RASUL 1:8
Teks
Sebelas orang itu berdiri di sebuah bukit di luar Yerusalem, masih dengan pertanyaan politik di mulut mereka tentang pemulihan kerajaan Israel. Jawaban Yesus memutar arah percakapan sepenuhnya: mereka tidak akan menerima jadwal, mereka akan menerima kuasa. Roh Kudus akan turun, dan hidup mereka akan menjadi kesaksian, dimulai dari Yerusalem, bergerak keluar melalui Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi.
Inti
Ayat ini adalah engsel yang menghubungkan kenaikan Yesus dengan kelahiran gereja, dan sekaligus peta jalan seluruh kitab Kisah Para Rasul. Yang perlu ditangkap: Yesus tidak menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Mereka bertanya tentang "kapan" dan "untuk Israel", Ia menjawab tentang "bagaimana" dan "untuk seluruh bumi". Kuasa yang dijanjikan bukan kuasa untuk berkuasa, melainkan kuasa untuk bersaksi. Itu perbedaan yang tajam. Roh Kudus tidak diberikan supaya para murid menjadi lebih kuat dalam pengertian duniawi, tetapi supaya mereka mampu berdiri sebagai saksi, kata yang dalam bahasa Yunani, martys, kelak akan berarti juga: martir. Kuasa dan kerentanan berjalan bersama.
Benang Merah
Panggilan "sampai ke bagian bumi paling ujung" bukan ide baru. Sejak Abraham, janji itu sudah ada: melalui keturunanmu semua bangsa di bumi akan diberkati. Israel dipanggil menjadi terang bagi bangsa-bangsa, tetapi berulang kali menutup diri. Kini Yesus menempatkan janji purba itu di pundak sebelas orang Galilea. Yerusalem, Yudea, Samaria, ujung bumi, itu bukan sekadar geografi, itu penghancuran tembok demi tembok: dari kota suci ke wilayah sendiri, lalu ke musuh lama (Samaria), lalu ke bangsa-bangsa kafir. Kisah Para Rasul akan mengikuti persis pola ini. Yang dijanjikan kepada Abraham, digenapi melalui Kristus, dan sekarang disebarkan oleh Roh.
Cermin
Kita gemar bertanya seperti para murid: kapan, Tuhan? Kapan situasi ini berubah, kapan anak itu kembali, kapan pekerjaan itu datang, kapan gereja dipulihkan? Yesus tidak memarahi pertanyaan itu, tetapi Ia menolak menjawabnya. Sebaliknya Ia berkata: kamu akan menerima kuasa, dan kamu akan menjadi saksi. Perhatikan pergeserannya. Dari kita yang menunggu Allah bertindak, menjadi kita yang diutus bertindak dalam kuasa-Nya. Ada kecenderungan halus untuk menjadikan iman sebagai spekulasi, menerka waktu Tuhan, sibuk menganalisis tanda-tanda zaman, sementara tetangga sebelah rumah belum pernah mendengar kabar baik dari mulut kita. Ayat ini menutup pintu spekulasi dan membuka pintu keluar.
Konteks
Bayangkan suasananya. Empat puluh hari setelah Paskah, jadi sekitar pertengahan Mei, matahari sudah terik di Yudea. Sebelas orang, kebanyakan nelayan dan bekas pemungut cukai, berdiri di Bukit Zaitun dengan pemandangan Yerusalem di bawah mereka. Kota itu masih dikuasai Roma. Bait Suci berdiri megah, tetapi imam besar tunduk pada Pilatus. Pemberontakan mesianik sudah beberapa kali gagal dan berakhir dengan salib. Ketika mereka bertanya tentang "memulihkan kerajaan bagi Israel", itu bukan pertanyaan teologis abstrak, itu pertanyaan politik yang sangat konkret: apakah sekarang Roma diusir? Samaria yang Yesus sebut adalah wilayah yang orang Yahudi hindari, mereka rela memutar jauh daripada melewatinya. Menyebut Samaria dalam napas yang sama dengan Yerusalem sudah cukup mengagetkan. Ujung bumi, bagi mereka, mungkin berarti Spanyol atau India, dunia yang tak terbayangkan.
Pertanyaan
Mengapa Yesus menolak memberi jadwal? Bukankah lebih mudah jika Ia sekadar berkata: seratus tahun lagi, atau dua ribu tahun lagi? Jawaban-Nya, "Bukanlah bagianmu untuk mengetahui", terdengar hampir seperti tamparan lembut. Ada sesuatu dalam sifat iman yang tidak bisa berjalan bersama kepastian waktu. Kalau kita tahu tanggalnya, kita tidak akan bersaksi hari ini, kita akan menghitung mundur. Mungkin di situ letak hikmatnya. Namun tetap ada sisa yang tidak nyaman: ada orang-orang yang mati tanpa pernah mendengar, ada orang percaya yang menantikan pemulihan sampai putus asa. Ayat ini tidak menyelesaikan ketegangan itu. Ia hanya mengalihkannya, dari pertanyaan tentang waktu Allah, ke panggilan bagi kita.
Tokoh Utama
Yesus dalam ayat ini berbicara sebagai seseorang yang tahu Ia akan pergi dalam hitungan menit. Perhatikan ketenangan-Nya. Tidak ada nada panik, tidak ada rasa terburu-buru. Ia telah bangkit, Ia telah menampakkan diri empat puluh hari lamanya, dan sekarang Ia mempercayakan misi kepada sekelompok kecil yang, kita tahu dari Injil, baru saja berlari ketakutan pada malam Ia ditangkap. Yang mengejutkan bukan bahwa Ia memberi mereka tugas besar, tetapi bahwa Ia mempercayai mereka dengan tugas itu. Dan Ia tidak mengirim mereka sendirian. Kuasa yang Ia janjikan adalah kuasa-Nya sendiri melalui Roh. Yesus di sini tampak sebagai raja yang tidak menggenggam, tetapi memberikan; yang mundur ke surga bukan untuk meninggalkan, melainkan untuk hadir lebih luas melalui saksi-saksi-Nya di setiap tempat.
Refleksi
Pertanyaan "kapan" apa yang sedang saya bawa kepada Tuhan, dan bagaimana ayat ini mengarahkan ulang pertanyaan itu?
Di mana batas "Yerusalem, Yudea, Samaria" dalam hidup saya sendiri, siapa "orang Samaria" yang paling sulit saya dekati dengan kabar baik?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 1:8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 1:8?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 1:8?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 1:8?
Apa yang KISAH PARA RASUL 1:8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 1:8 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Acts 1?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi