YESAYA 43:10
Teks
Di tengah sidang pengadilan yang dibayangkan Yesaya, di mana bangsa-bangsa diminta mengajukan bukti dan tak satu pun sanggup, TUHAN menoleh kepada umat-Nya dan berkata: "Kamu adalah saksi-Ku." Mereka yang baru saja disebut buta dan tuli (ayat 8) justru dipanggil naik ke kursi saksi, bukan karena mereka pandai bersaksi, melainkan karena mereka telah mengalami sesuatu. Dan tujuan pemanggilan itu disebutkan dengan jelas: supaya mereka sendiri mengetahui, percaya, dan memahami bahwa "Akulah Dia", Allah yang tidak didahului siapa pun dan tidak akan digantikan siapa pun.
Perhatikan urutannya. Bukan: karena kamu sudah mengerti, maka bersaksilah. Melainkan: bersaksilah, supaya kamu mengerti. Ada sesuatu dalam ayat ini yang menolak logika kita yang rapi.
Inti
Siapa yang pernah berpikir bahwa pengenalan akan Allah bisa datang lewat jalan belakang, lewat tugas yang diberikan sebelum kita siap? Teks ini menempatkan pengetahuan, kepercayaan, dan pemahaman bukan sebagai syarat masuk, tetapi sebagai buah dari dipilih dan dipakai. Allah tidak menunggu umat-Nya menjadi saksi yang kredibel; Ia menyatakan mereka saksi, lalu dari situ sesuatu terbuka dalam diri mereka.
Dan apa yang harus mereka ketahui? Bukan serangkaian doktrin, melainkan satu kalimat yang hampir terlalu sederhana: "Akulah Dia." Tanpa pelengkap, tanpa penjelasan. Allah yang tidak punya pendahulu dan tidak punya pengganti. Di dunia yang penuh allah-allah yang "dibentuk", kata itu menyengat: yang lain dibuat, Dia tidak. Pertanyaannya tinggal menggantung di udara ruang sidang itu, juga di ruang tamu kita: apakah kita sungguh percaya ada Allah yang tidak kita bentuk sendiri?
Benang Merah
Israel dipanggil menjadi saksi, tetapi sejarah mereka justru memperlihatkan saksi yang tersandung. Beberapa pasal kemudian suara yang sama berbicara tentang seorang Hamba yang sungguh-sungguh melakukan apa yang Israel gagal lakukan. Dan ketika Yesus berdiri di depan murid-murid-Nya sebelum terangkat ke surga dan berkata bahwa mereka akan menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi, Ia mengambil kalimat Yesaya ini dan meletakkannya di pundak sekelompok orang yang baru saja ragu-ragu.
Pola itu tidak berubah. Allah tetap memilih saksi-saksi yang belum selesai. Dan "Akulah Dia" yang menggema di ruang sidang Yesaya terdengar lagi dari mulut Yesus, kali ini berwajah, bertubuh, bisa disentuh. Kesaksian Gereja bukan tentang pengalaman kita; ia tentang Dia yang tidak dibentuk oleh siapa pun.
Cermin
Ada kelegaan yang aneh di sini, dan juga tuntutan. Kelegaannya: kamu tidak perlu menunggu sampai imanmu rapi sebelum membuka mulut. Orang tua yang bingung menjawab pertanyaan anaknya tentang penderitaan, guru yang imannya terasa lebih tipis daripada tahun lalu, pemimpin kelompok kecil yang menyiapkan bahan sambil diam-diam bertanya apakah ia sendiri masih percaya: kalian semua tetap dipanggil saksi.
Tuntutannya: saksi berbicara tentang apa yang ia lihat, bukan tentang apa yang ia rasakan. Dan itu menelanjangi kebiasaan kita menjadikan iman soal suasana hati. Juga menelanjangi allah-allah kecil yang kita bentuk sendiri, yang bentuknya selalu pas dengan kebutuhan kita.
Tulislah hari ini satu kalimat di kertas atau catatan ponselmu: satu hal konkret yang Allah lakukan dalam hidupmu yang tidak bisa kamu jelaskan dengan usahamu sendiri. Lalu ucapkan kalimat itu keras-keras, sekali saja.
Profil
Pendengar pertama adalah orang-orang buangan di Babel, generasi yang lahir di sana atau dibawa ke sana sebagai anak-anak. Mereka hidup di kota yang penuh patung dewa, dengan arak-arakan keagamaan yang megah dan kekaisaran yang tampaknya tak terkalahkan. Kesaksian mereka tentang TUHAN terdengar seperti lelucon: Allah yang bait-Nya hancur, yang umat-Nya tinggal di tanah asing.
Maka kalimat "Kamu adalah saksi-Ku" terdengar nyaris mustahil di telinga mereka. Mereka tahu diri mereka buta dan tuli; mereka telah mendengar tuduhan itu dua ayat sebelumnya. Yang mereka dengar di sini bukan pujian, melainkan rehabilitasi: Allah mengembalikan martabat kepada orang-orang yang telah kehilangan segala alasan untuk merasa berarti.
Konteks
Yesaya 40 sampai 55 berbicara ke dalam situasi pembuangan, kira-kira satu setengah abad setelah zaman Yesaya sendiri, ketika Yerusalem sudah jatuh dan Babel berkuasa. Pasal 43 dibingkai sebagai sidang pengadilan: bangsa-bangsa berkumpul, para dewa diminta mengajukan bukti bahwa mereka pernah memberitahukan sesuatu sebelumnya dan menggenapinya. Tidak ada yang bersuara.
Di dunia kuno, dewa yang kalah perang dianggap dewa yang lemah. Secara politik, Israel seharusnya sudah selesai. Justru di titik itu TUHAN tidak membela diri dengan kekuatan militer, melainkan dengan ingatan: Mesir, laut yang terbelah, umat yang ditebus. Bukti-Nya adalah umat-Nya sendiri, yang masih ada padahal seharusnya sudah lenyap.
Tokoh Utama
Yang paling mencolok dari Allah di ayat ini bukan kemarahan-Nya, melainkan keinginan-Nya untuk dikenal. Ia memilih saksi bukan karena membutuhkan pembelaan; Ia sanggup berdiri sendiri. Tujuan yang disebutkan justru berbalik ke arah umat: "supaya kamu dapat mengetahui dan percaya kepada-Ku."
Ada semacam kelembutan yang tersembunyi dalam klaim keagungan itu. Allah yang tidak punya pendahulu dan pengganti menundukkan diri untuk menjelaskan diri-Nya kepada orang buangan yang tuli. Ia tidak menuntut mereka mengerti dulu. Ia memberi nama, memberi tugas, dan menunggu pemahaman tumbuh di jalan.
Itulah wajah Allah yang kita temui lagi di Golgota: Dia yang membuktikan diri bukan dengan menghancurkan, melainkan dengan menyerahkan.
Refleksi
Kapan terakhir kali kamu mengatakan sesuatu tentang Allah yang belum sepenuhnya kamu pahami sendiri, dan apa yang terjadi di dalam dirimu sesudahnya?
Allah mana yang diam-diam kamu bentuk sendiri, dan di titik mana "Akulah Dia" menolak untuk masuk ke dalam bentuk itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 43:10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 43:10?
Tentang apakah YESAYA 43:10?
Apa konteks historis dari YESAYA 43:10?
Apa yang YESAYA 43:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 43:10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 43
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Perhatikan urutannya: Allah lebih dulu menyebut mereka saksi, lalu berkata "supaya kamu mengetahui dan memercayai Aku". Jadi saksi-saksi-Nya adalah orang yang masih sedang belajar percaya. Israel waktu itu di pembuangan, bukan contoh iman yang hebat. Tetapi mereka punya satu hal: pengalaman hidup bersama Allah. Kamu juga.
Terima kasih, TUHAN, Allahku, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatku. Engkau rela membayar harga yang mahal untuk menebus aku, seolah bangsa-bangsa pun Kauberikan sebagai gantiku. Betapa berharganya aku di mata-Mu, padahal aku sering merasa tak layak. Hatiku tenang karena Engkau memegangku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi