YESAYA 54:9
Teks Itu Sendiri
Bayangkan bau lumpur yang baru surut, bangkai yang tersangkut di dahan, dan seorang lelaki tua berdiri di lereng gunung sambil menatap langit yang akhirnya diam. Ke sanalah Tuhan membawa umat-Nya yang remuk di pembuangan. Ia berkata: "Ini seperti zaman Nuh bagi-Ku, ketika Aku berjanji bahwa air bah pada zaman Nuh tidak akan meliputi bumi lagi; demikianlah Aku berjanji, bahwa Aku tidak akan lagi murka terhadap kamu, dan tidak akan menghardik kamu." Satu ayat, satu perbandingan, dan seluruh sejarah air bah dipakai sebagai jaminan. Yang dijanjikan bukan hidup tanpa badai, melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: murka itu sudah lewat, dan bentakan itu tidak akan terulang.
Inti
Yang mengejutkan di sini bukan bahwa Allah berjanji, tetapi apa yang Ia jadikan sandaran janji itu: sumpah-Nya sendiri kepada Nuh. Ia tidak berkata "asal kamu setia" atau "selama kamu berkelakuan baik." Sama seperti bumi tidak pernah diminta menjamin bahwa air bah tak akan datang lagi, umat ini pun tidak diminta menjamin apa pun. Beban janji sepenuhnya ada di pundak Allah. Perhatikan juga bahwa ayat sebelumnya tidak menyangkal murka itu; Ia mengakuinya, "Dalam murka yang meluap, Aku menyembunyikan wajah-Ku darimu untuk sesaat." Jadi ini bukan penghapusan sejarah, melainkan penutupannya. Murka Allah nyata, tetapi ia punya batas waktu; kasih setia-Nya tidak. Di situlah letak anugerah: yang kekal bukan kemarahan-Nya, melainkan belas kasihan-Nya.
Benang Merah
Perhatikan bahwa Allah memilih Nuh, bukan Abraham atau Musa. Perjanjian dengan Nuh adalah satu-satunya perjanjian yang dibuat bukan hanya dengan satu bangsa, melainkan dengan seluruh bumi dan segala yang bernapas, tanpa syarat apa pun dari pihak manusia. Dengan menariknya ke sini, Tuhan sedang berkata: yang Kuberikan kepadamu sekokoh itu. Dan janji ini menuntut penyelesaian. Sebab murka yang "meluap" itu tidak menguap begitu saja; ia harus punya tempat jatuh. Di kayu salib, air bah itu menimpa Satu Orang, dan bahtera-Nya adalah tubuh-Nya sendiri. Yesus berdiri di bawah bentakan yang seharusnya kita terima, supaya kalimat "tidak akan menghardik kamu" bukan sekadar penghiburan yang manis, melainkan keputusan hukum yang sudah dibayar lunas.
Cermin
Ada orang yang membaca ayat ini dan langsung merasa curiga. Anda mungkin salah satunya. Sebab pengalaman mengajarkan bahwa setelah keheningan selalu datang gelombang berikutnya: hasil pemeriksaan dokter, telepon dari sekolah tentang anak Anda, atasan yang memanggil ke ruangannya. Dan diam-diam Anda menafsirkan semuanya sebagai bentakan Allah, sebagai tagihan atas dosa lama yang belum Anda ampuni pada diri sendiri. Justru di situ ayat ini menusuk. Tuhan tidak berkata bahwa hidup Anda akan tenang; Ia berkata bahwa nada suara-Nya kepada Anda sudah berubah untuk selamanya. Kesulitan Anda bukan lagi hardikan. Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu kegagalan yang masih Anda pakai untuk menghukum diri sendiri, lalu ucapkan dengan suara terdengar di atasnya: "Tuhan tidak akan menghardik aku lagi." Setelah itu buang kertasnya.
Detail
Kata "menghardik" terlalu mudah dilewati. Dalam bahasa Ibrani, kata itu adalah ga'ar, sebuah bentakan keras yang biasanya dipakai untuk menaklukkan: Allah membentak laut dan laut mengering, membentak musuh dan mereka lenyap. Jadi ini bukan omelan orang tua yang lelah, melainkan suara yang meruntuhkan. Umat di pembuangan pernah mendengar suara itu diarahkan kepada mereka sendiri, dan Yerusalem runtuh. Kini Tuhan berjanji: suara yang sama tidak akan pernah lagi Kutujukan kepadamu. Bandingkan dengan ayat 11, di mana mereka disebut "yang tertindas, yang diterjang badai, dan yang tidak dihiburkan." Kepada orang yang masih basah oleh badai, Allah tidak berteriak. Ia berbisik tentang batu safir dan fondasi baru.
Profil
Yang mendengar ini adalah generasi yang tumbuh besar dengan cerita kekalahan. Bait Allah tinggal puing, kota tempat kakek mereka lahir sudah ditumbuhi rumput, dan di Babel mereka hidup sebagai minoritas yang lagu-lagunya terdengar aneh di telinga tetangga. Teologi mereka sederhana dan menyiksa: kami dihukum, dan kami pantas dihukum. Pertanyaan mereka bukan "apakah Allah ada," melainkan "apakah Allah masih mau memandang kami." Bagi telinga seperti itu, perbandingan dengan Nuh bukan ilustrasi indah, melainkan kelegaan yang mengguncang. Air bah pernah menghapus dunia, dan toh sesudahnya Allah mengikat diri-Nya sendiri untuk tidak mengulanginya. Kalau begitu, pembuangan pun punya garis akhir yang ditetapkan Allah, bukan oleh keberhasilan mereka bertobat.
Pertanyaan
Tetapi kalau Allah berjanji tidak murka lagi, mengapa sejarah umat ini sesudahnya masih penuh penderitaan? Yerusalem dibangun kembali, lalu dihancurkan lagi. Dan hidup Anda pun tidak menjadi mulus setelah Anda percaya. Jawaban yang jujur: ayat ini tidak menjanjikan ketiadaan penderitaan, melainkan perubahan hubungan. Yang dijanjikan adalah bahwa Allah tidak lagi berdiri di seberang Anda sebagai lawan. Namun harus diakui, dari dalam penderitaan perbedaan itu sering tidak terasa sama sekali, dan Alkitab tidak menyediakan alat untuk mengukurnya. Yang tersisa adalah sumpah, dan sumpah hanya sekuat yang bersumpah. Karena itu ayat 10 tidak menawarkan bukti, melainkan sandaran terakhir: "sekalipun gunung-gunung berpindah… kasih setia-Ku tidak akan beralih darimu."
Refleksi
Kalau Anda jujur, suara Allah dalam kepala Anda lebih sering terdengar seperti hardikan atau seperti janji? Dari mana suara itu sebenarnya Anda pelajari?
Apa yang berubah dalam cara Anda menghadapi kesulitan minggu ini, jika kesulitan itu bukan hukuman melainkan sesuatu yang Anda lewati sebagai orang yang sudah didamaikan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 54:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 54:9?
Tentang apakah YESAYA 54:9?
Apa konteks historis dari YESAYA 54:9?
Apa yang YESAYA 54:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 54:9 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Isaiah 54?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi