YESAYA 60
Teks
Sebuah kota yang tinggal puing diperintahkan berdiri dan memancarkan cahaya: "Bangkitlah, bersinarlah! Sebab, terangmu telah datang!" Di tengah dunia yang diliputi kegelapan pekat, Tuhan sendiri terbit atas Sion, dan bangsa-bangsa berjalan menuju terang itu, membawa anak-anak yang pulang, emas, kemenyan, kawanan ternak, kapal-kapal dari Tarsis. Tembok-tembok dibangun oleh orang asing, gerbang tidak pernah ditutup, kekerasan lenyap. Dan di ujungnya: matahari tidak lagi dibutuhkan, karena "TUHAN akan menjadi terangmu yang abadi."
Inti
Perhatikan urutannya, karena di situ seluruh teologi pasal ini tersimpan. Sion tidak disuruh menyalakan lampunya sendiri. Ia disuruh bersinar karena terang sudah datang kepadanya. Kata "kemuliaan" dalam bahasa Ibrani, kabod, berakar pada gagasan bobot, berat, sesuatu yang nyata dan menekan. Kemuliaan Tuhan bukan suasana hati rohani; ia hadir seperti massa yang mengubah gravitasi sekitarnya. Karena itu bangsa-bangsa bergerak, bukan karena Sion menjadi kuat secara militer atau menarik secara budaya, tetapi karena Allah bersinar atasnya. Umat Allah tidak pernah menjadi sumber terang; mereka menjadi permukaan yang memantulkan. Dan justru di situ letak kehormatan mereka: dilihat dunia bukan karena prestasi, melainkan karena kediaman Allah.
Benang Merah
Ketika orang-orang Majus datang dari timur membawa emas dan kemenyan kepada seorang Anak (Matius 2), Matius tidak sedang menceritakan kebetulan yang manis. Ia menempatkan Yesus di tempat yang Yesaya 60 janjikan: titik terang yang menarik bangsa-bangsa dan persembahan mereka. Hanya saja terangnya tidak lagi berupa kota, melainkan seorang Pribadi. Yesus berkata Dialah terang dunia, dan dengan itu Ia mengambil ke atas diri-Nya apa yang di sini dijanjikan kepada Sion. Lalu Wahyu 21 menutup lingkaran: kota yang gerbangnya tidak pernah ditutup, yang tidak memerlukan matahari, karena kemuliaan Allah dan Anak Domba menerangi. Yesaya melihat siluetnya; Kristus mengisi siluet itu dengan tubuh, darah, dan kebangkitan.
Cermin
Pasal ini menyentuh sesuatu yang jarang kita akui: kelelahan karena harus bersinar sendiri. Anda menyiapkan renungan, memimpin kelompok, menjaga rumah tangga tetap utuh, dan diam-diam mengira bahwa kalau Anda berhenti memproduksi terang, semuanya gelap. Yesaya membalik beban itu. Anda tidak diminta menjadi lampu, hanya diminta berdiri di tempat cahaya jatuh. Tetapi ada sisi yang menggores juga: kota ini tidak menutup gerbangnya, "baik siang ataupun malam." Kita justru pandai menutup gerbang, memilih siapa layak masuk ke meja kita, ke lingkaran pertemanan, ke gereja kita tanpa syarat tambahan.
Hari ini, kirim satu pesan ajakan makan atau minum kopi kepada seseorang yang biasanya berada di luar lingkaran Anda. Satu pesan, sekarang.
Konteks
Bayangkan Yerusalem sesudah pembuangan: tembok runtuh, Bait Allah masih bayangan dari kemegahan lama, penduduk sedikit, ekonomi rapuh. Kota yang dulu disebut kebanggaan kini "diabaikan dan dibenci, dan tidak seorang pun lewat." Dalam dunia kuno, kota tanpa tembok berarti kota tanpa kehormatan; gerbang yang terbuka malam berarti bunuh diri politik. Ke situlah kata-kata ini jatuh. Daftar nama dalam pasal ini, Midian, Efa, Seba, Kedar, Nebayot, Tarsis, adalah peta kekuasaan zaman itu: kafilah rempah dari Arab, kapal dagang dari ujung Laut Tengah. Yesaya menyebut pusat-pusat kekayaan dunia dan berkata: semua jalur perdagangan itu akan berujung di kota kecil yang terlupakan ini. Bagi pendengar pertama, ini nubuat yang hampir tidak masuk akal.
Pertanyaan
Ayat 12 sulit ditelan: "bangsa dan kerajaan yang tidak melayanimu akan binasa." Di samping gambaran gerbang terbuka dan kekerasan yang lenyap, kalimat ini terasa seperti ancaman dari dunia lain. Saya tidak mau memuluskannya. Yang bisa saya katakan: terang yang sungguh terang selalu menciptakan pemisahan, dan penolakan terhadap Allah bukan pilihan netral yang tanpa akibat. Namun teks yang sama menempatkan para penindas bukan di kuburan, melainkan sujud dan menyebut kota itu "Kota TUHAN". Jadi arah gerakannya bukan pembalasan, tetapi penaklukan yang berujung pengakuan. Di antara kedua kalimat itu ada ruang gelap yang Yesaya tidak terangi, dan saya tidak akan berpura-pura memilikinya.
Tokoh Utama
Yang bergerak di pasal ini hanyalah Allah. Perhatikan betapa sering Dia memakai kata "Aku": Aku akan memuliakan, Aku telah memukulmu, Aku telah berbelas kasihan, Aku akan membawa emas, Aku yang menanam. Dan Dia tidak menyembunyikan masa lalu-Nya dengan umat ini: "dalam murka-Ku, Aku telah memukulmu, tetapi dalam perkenanan-Ku, Aku telah berbelas kasihan kepadamu." Allah yang sama yang menghukum adalah yang memulihkan; tidak ada Allah kedua yang datang membereskan pekerjaan Allah pertama. Lanskap batin-Nya bukan kemarahan yang mereda karena bosan, melainkan kasih yang bertahan melewati penghakiman. Dan Ia menutup dengan kalimat yang menahan segala kesabaran kita: "Akulah TUHAN, yang akan melaksanakannya segera pada waktunya."
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda masih berusaha menghasilkan terang sendiri, padahal Anda hanya dipanggil berdiri di tempat cahaya Allah jatuh?
Gerbang mana yang Anda tutup, siang atau malam, yang menurut pasal ini seharusnya tetap terbuka?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 60
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 60?
Tentang apakah YESAYA 60?
Apa konteks historis dari YESAYA 60?
Apa yang YESAYA 60 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 60 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 60
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, Engkau berdaulat atas segala bangsa, dan tidak ada kuasa yang bertahan tanpa Engkau. Tolong aku hidup dengan hati yang tunduk, bukan hati yang keras. Ajar aku melayani Engkau bukan karena takut dihancurkan, tetapi karena Engkau layak menerimanya.
Kemudian, kamu akan melihat dan menjadi berseri-seri, hatimu akan bergetar dan meluap." Perhatikan urutannya: gemetar dulu, baru meluap. Umat yang lama hidup dalam reruntuhan tidak langsung percaya waktu berkat itu datang. Mungkin kamu juga begitu. Kalau hatimu gemetar menerima kebaikan Tuhan, itu bukan tanda iman yang kecil. Itu tanda kamu sedang benar-benar melihat.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
