LUKAS 6
Teks
Dua bentrokan pada hari Sabat membuka pasal ini: murid-murid yang memetik gandum karena lapar, dan seorang laki-laki dengan tangan kanan yang lumpuh disuruh berdiri di tengah sinagoge, tepat di depan mata para pengamat yang sedang mencari alasan untuk menuduh. Yesus menjawab keduanya bukan dengan perdebatan hukum yang panjang, melainkan dengan sebuah klaim: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." Sesudah semalaman berdoa di bukit, Ia memilih dua belas rasul, lalu turun ke tanah datar dan mengajar orang banyak tentang berkat bagi yang miskin dan celaka bagi yang kenyang, tentang mengasihi musuh, tidak menghakimi, pohon yang dikenal dari buahnya, dan dua rumah yang diuji banjir.
Inti
Pertanyaan yang sesungguhnya di pasal ini bukan "apa yang boleh dilakukan pada hari Sabat", melainkan "siapa yang berhak menentukannya". Yesus tidak melonggarkan hukum; Ia menempatkan diri-Nya sebagai Tuan atas hukum itu, dan seluruh khotbah di tanah datar mengalir dari klaim tersebut. Karena itu ucapan-ucapan berkat bukan nasihat moral yang bisa dipetik lepas dari Dia. Yang miskin diberkati bukan karena kemiskinan itu suci, tetapi karena Raja Kerajaan itu kini berdiri di tengah mereka dan membagikan milik-Nya. Dan mengasihi musuh bukan strategi hidup yang cerdas, melainkan keluarga: "kamu akan menjadi anak-anak Yang Mahatinggi, sebab Allah itu baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang jahat." Kemurahan Allah lebih dahulu ada; kita hanya menyerupainya.
Benang Merah
Perhatikan pembelaan Yesus: Ia tidak mengutip ayat hukum, Ia menceritakan sebuah kisah tentang Daud. Daud sudah diurapi tetapi belum bertakhta, sedang dikejar Saul, lapar, bersama sekelompok orang yang setia kepadanya, dan ia mengambil roti kudus yang hanya boleh dimakan para imam. Tidak ada penghakiman atas Daud dalam kisah itu. Yesus sedang berkata: ada saat ketika raja yang sah, meskipun ditolak, berjalan bersama orang-orangnya dalam kelaparan, dan kehadirannya mengubah cara kita membaca aturan. Lalu Ia melangkah lebih jauh daripada Daud. Daud membutuhkan roti; Yesus menyebut diri-Nya Tuan atas hari Sabat. Sabat, hari istirahat yang ditanam Allah dalam penciptaan dan diikat pada pembebasan Israel dari perbudakan, kini punya wajah. Istirahat itu bukan lagi sekadar jadwal, melainkan Pribadi yang berdiri di ladang gandum.
Cermin
Bagian paling tidak nyaman dari pasal ini bukan soal Sabat, melainkan ayat 27 sampai 35, karena di situ Yesus menyentuh orang-orang yang namanya masih membuat perut Anda mengencang. Rekan kerja yang mengambil kredit atas pekerjaan Anda. Saudara yang bersikap tidak adil soal warisan dan sampai sekarang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mantan teman yang menceritakan hal yang tidak benar tentang Anda, dan reputasi Anda memang rusak sedikit. Yesus tidak berkata bahwa itu tidak apa-apa. Ia justru mengasumsikan tamparan, jubah yang dirampas, kutukan yang diucapkan. Yang Ia larang adalah menutup pintu, menjadikan orang itu sekadar musuh dan bukan lagi manusia. Dan alasannya bukan psikologis, melainkan silsilah: begitulah Bapa memperlakukan orang yang tidak tahu berterima kasih, termasuk kita.
Hari ini juga: sebutkan satu nama di hadapan Allah, dengan suara terdengar, orang yang paling ingin Anda hindari, lalu doakan satu hal baik yang konkret untuk hidupnya. Bukan doa agar ia berubah. Doa agar ia diberkati.
Konteks
Kita berada di Galilea, awal pelayanan Yesus, ketika Ia masih diterima oleh orang banyak tetapi sudah diawasi. Kaum Farisi bukan sekelompok orang munafik berjubah hitam; mereka adalah kaum awam yang serius, yang ingin seluruh Israel hidup kudus supaya Allah memulihkan bangsa itu. Sabat adalah tanda identitas yang mereka pertahankan dengan harga darah pada zaman penindasan Yunani. Karena itu pertanyaan mereka masuk akal. Yang mengubah suasana adalah tatapan: ayat 7 mengatakan mereka "mengamati Yesus", bahasa pengintaian, mencari bahan tuduhan. Di sinagoge kecil, semua orang saling kenal, dan kehormatan adalah mata uang sosial. Ketika Yesus menyuruh orang lumpuh itu berdiri di tengah, Ia menolak menyembuhkan diam-diam. Konfrontasi itu publik, disengaja, dan mahal harganya: ayat 11 mencatat rapat pertama tentang bagaimana menyingkirkan Dia.
Detail
Lukas menyebutkan satu hal yang tidak dicatat penulis Injil lain: yang lumpuh adalah tangan kanan. Bagi seorang tukang atau petani, itu bukan cacat kosmetik melainkan hilangnya nafkah, hilangnya kemampuan menyalami orang, hilangnya tempat dalam ekonomi desa. Ia bisa hidup, sehingga menurut penafsiran umum saat itu tidak ada alasan darurat untuk menyembuhkannya pada hari Sabat; tunggu saja besok. Justru itulah yang ditolak Yesus. Dan perintah-Nya nyaris kejam: "Ulurkanlah tanganmu." Persis hal yang tidak bisa dilakukan orang itu. Ia harus bergerak sebelum ada bukti bahwa gerakan itu mungkin. Kesembuhan datang di dalam ketaatan, bukan sebelumnya. Seluruh khotbah yang menyusul bekerja dengan logika yang sama: kasihilah musuhmu, ampunilah, berilah. Semuanya hal yang tidak sanggup kita lakukan, sampai kita mulai melakukannya atas perintah-Nya.
Tokoh Utama
Yesus dalam pasal ini bergerak di antara dua kutub yang jarang bertemu dalam diri manusia: kelembutan dan ketajaman. Ia berdoa semalaman di bukit sebelum memilih dua belas orang, dan salah satu yang dipilih-Nya setelah malam doa itu adalah "Yudas Iskariot yang menjadi pengkhianat". Lukas menuliskannya tanpa penjelasan. Doa yang panjang tidak menghasilkan tim yang aman. Lalu Ia turun ke tanah datar, berdiri setara dengan orang banyak, dibiarkan disentuh oleh kerumunan yang sakit dan kerasukan. Namun mulut yang sama mengucapkan empat kali "celakalah". Ia tidak membagi manusia menjadi baik dan jahat berdasarkan kelompok; Ia membongkar kenyamanan sebagai bahaya rohani. Dan Ia sendiri kelak akan menjadi yang miskin, yang lapar, yang dibenci dan dicemarkan nama baiknya, yang menawarkan pipi-Nya yang lain.
Interteks
Kisah Daud yang dikutip Yesus berasal dari 1 Samuel 21, dan konteksnya penting: Daud sedang melarikan diri, raja yang diurapi namun ditolak. Yesus memilih justru episode itu, bukan episode kejayaan Daud, dan dengan begitu Ia menempatkan diri-Nya dalam garis raja yang ditolak sebelum dimuliakan. Sisi lain terlihat dalam surat Petrus yang pertama, di pasal dua, ketika Petrus menggambarkan Yesus yang tidak membalas ketika dicaci dan tidak mengancam ketika menderita, melainkan menyerahkan diri kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Petrus, yang namanya disebut pertama dalam daftar dua belas di pasal ini, ternyata mendengar khotbah tentang pipi yang lain dan puluhan tahun kemudian menulis bahwa Gurunya sendiri yang pertama-tama melakukannya. Ajaran itu tidak melayang di udara; ia berdiri di atas salib.
Profil
Lukas menulis untuk pembaca yang sebagian besar bukan Yahudi, hidup di kota-kota kekaisaran, dalam jemaat yang bercampur secara ekonomi: ada budak, ada buruh harian, ada pemilik rumah yang cukup kaya untuk menampung pertemuan. Bagi mereka, "Diberkatilah kamu yang miskin" bukan puisi. Mereka tahu rasa lapar yang disebut ayat 21. Mereka juga mengenal kata "mengucilkanmu" dari pengalaman: dikeluarkan dari perkumpulan, kehilangan pelanggan, dijauhi keluarga karena menyebut Yesus Tuhan. Ketika mereka mendengar bahwa dalam dua belas rasul ada Matius si pemungut cukai dan Simon orang Zelot, kolaborator Roma dan pembenci Roma dalam satu lingkaran, mereka mengerti bahwa Kerajaan ini memang menyatukan orang yang seharusnya saling membunuh. Jemaat mereka sendiri adalah bukti kecil dari hal itu.
Pertanyaan
Lalu, apakah saya termasuk yang "celaka"? Lukas tidak memberi jalan keluar yang halus. Ia tidak menulis "yang miskin di hadapan Allah" seperti Matius; ia menulis miskin, lapar, menangis, dan lawannya adalah kaya, kenyang, tertawa. Kebanyakan kita yang membaca ini punya lemari es yang penuh. Godaannya adalah segera merohanikan: yang dimaksud tentu sikap hati. Sebagian benar, karena Yesus sendiri berkata pohon dikenal dari buahnya dan hati menentukan mulut. Tetapi menjadikan seluruh ucapan ini sekadar soal batin adalah cara paling licin untuk lolos. Perhatikan alasan yang diberikan: "sebab kamu telah mendapatkan kenyamanan hidup". Bahayanya adalah kepuasan yang sudah tercapai, sesuatu yang membuat Kerajaan terasa tidak mendesak. Saya tidak bisa mengubah ini menjadi kabar yang nyaman. Yang bisa saya katakan: Dia yang mengucapkan "celakalah" adalah Dia yang mati dalam kemiskinan total supaya orang kaya pun punya jalan pulang.
Refleksi
Di titik mana dalam hidup Anda, aturan yang baik justru dipakai untuk menunda kebaikan yang bisa dilakukan hari ini?
Jika kenyamanan membuat Kerajaan terasa tidak mendesak, tanda-tanda apa yang mulai terlihat dalam cara Anda memakai uang dan waktu?
Rumah Anda dibangun di atas apa: mendengar ajaran Yesus, atau melakukannya, dan kapan terakhir kali perbedaan itu terlihat oleh orang lain?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 6?
Tentang apakah LUKAS 6?
Apa konteks historis dari LUKAS 6?
Apa yang LUKAS 6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, aku masih belajar dan sering jatuh. Terima kasih Engkau sabar membentukku, sedikit demi sedikit, sampai caraku hidup makin mirip dengan cara-Mu. Ajar aku hari ini, dan beri aku hati yang mau diajar.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
