MARKUS 1
Teks
Markus tidak memulai dengan silsilah atau kisah kelahiran; ia membuka dengan sebuah pengumuman yang terdengar seperti proklamasi kerajaan: "Inilah permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah." Lalu segalanya bergerak cepat. Yohanes tampil di padang belantara, membaptis dan menunjuk kepada Dia yang lebih berkuasa; Yesus dibaptis, langit terbelah, Roh turun, suara Bapa terdengar. Roh mendorong-Nya ke padang belantara selama empat puluh hari, dan sesudah Yohanes ditangkap, Yesus mulai berseru: "Waktunya telah genap, dan Kerajaan Allah sudah dekat." Ia memanggil nelayan-nelayan, mengajar dengan kuasa di sinagoge Kapernaum, mengusir roh najis, menyembuhkan ibu mertua Simon dan orang sekota, menyingkir untuk berdoa, lalu menyentuh seorang kusta dan mentahirkannya. Satu pasal, dan dunia lama sudah retak.
Inti
Perhatikan kata kerjanya di ayat 10: langit terbelah. Markus memakai kata yang keras, bukan "terbuka" seperti pintu yang disibakkan sopan, melainkan dirobek. Sejak Yesaya, umat itu merindukan supaya Allah mengoyak langit dan turun, sebab jarak antara yang kudus dan yang najis terasa mutlak. Di Sungai Yordan jarak itu dirobek dari atas, dan yang turun bukan penghakiman melainkan Roh dan sebuah suara: "Engkau adalah Anak-Ku yang terkasih." Inilah inti teologis pasal ini. Kekudusan Allah tidak lagi bekerja dengan menjauh dari kenajisan, tetapi dengan mendatanginya. Karena itu tangan Yesus menyentuh kusta tanpa menjadi najis; justru si kusta menjadi tahir. Kerajaan Allah bukan sekadar ajaran baru, melainkan serbuan kasih karunia yang membalik arah penularan: bukan najis yang menjalar, melainkan kekudusan.
Benang Merah
Padang belantara bukan latar yang netral. Di sanalah Israel dibentuk empat puluh tahun, dan di sana pula mereka gagal. Markus menempatkan Yesus empat puluh hari di padang belantara, dicobai, "bersama dengan binatang-binatang liar", dan justru di titik itu Ia tidak jatuh. Yang satu berdiri di tempat yang banyak orang tumbang. Perhatikan juga urutannya: air, lalu Roh, lalu pengutusan. Itu pola keluaran dari Mesir yang diulang, tetapi kini dalam satu Pribadi. Dan gambaran binatang liar yang tidak melukai mengingatkan pada janji para nabi tentang damai ciptaan yang dipulihkan. Jadi yang dimulai di Yordan bukan sekadar karier seorang rabi, melainkan penciptaan kembali: Roh melayang, suara terdengar, dan sesuatu yang baru dipanggil keluar dari air.
Cermin
Kalimat si kusta itu jujur sampai menyakitkan: "Jika Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku." Ia tidak meragukan kuasa Yesus, ia meragukan kesediaan-Nya. Banyak dari kita persis di sana. Kita percaya Allah sanggup memulihkan pernikahan yang dingin, sanggup menyentuh anak yang menjauh, sanggup menanggung diagnosis yang baru kita terima. Yang diam-diam kita ragukan adalah apakah Ia sudi berurusan dengan orang seperti kita, dengan bagian hidup yang kita anggap terlalu kotor untuk dibawa ke doa. Jawaban Yesus hanya dua kata sebelum tangan-Nya bergerak: "Aku mau." Ia menyentuh lebih dahulu, baru penyakit itu hilang. Hari ini: tuliskan di secarik kertas satu hal yang paling Anda malu bawa kepada Allah, katakan dengan suara keras "Aku mau" sebagai jawaban-Nya, lalu robek kertas itu.
Teks-teks Terkait
Markus sendiri menunjuk ke Maleakhi dan Yesaya di ayat 2 dan 3, dan itu bukan hiasan. Maleakhi berbicara tentang utusan yang menyiapkan jalan bagi Tuhan yang tiba-tiba datang ke Bait-Nya untuk menyucikan; Yesaya 40 adalah suara penghiburan bagi umat buangan bahwa masa perhambaan berakhir dan Allah sendiri kembali memimpin umat-Nya pulang. Markus menumpuk keduanya pada Yesus, dan dengan itu ia mengatakan sesuatu yang berani: jalan yang disiapkan bagi TUHAN ternyata jalan bagi Yesus. Lalu ada aturan Imamat tentang kusta, yang mengharuskan si penderita menjauh dan berseru bahwa dirinya najis. Yesus menyuruh orang itu pergi kepada imam, tunduk pada hukum Musa, tetapi Ia sudah lebih dahulu melakukan yang dilarang hukum: menyentuh.
Profil
Pembaca pertama Markus kemungkinan besar orang percaya di jantung kekaisaran, hidup di bawah tekanan dan mungkin sudah mencium bau penganiayaan. Bagi telinga mereka, kata "Injil" tidak terdengar rohani melainkan politis: itu kosakata pengumuman kemenangan kaisar, kelahiran putra mahkota, berita baik dari medan perang. Menyebut Yesus "Anak Allah" pada baris pertama adalah tabrakan frontal dengan gelar yang dipakai penguasa Roma. Dan mereka membaca ini sambil tahu bahwa Yohanes, sang pendahulu, "ditangkap", dan bahwa Yesus sendiri berakhir di kayu salib. Injil ini tidak menjanjikan bahwa mengikut Dia itu aman. Yang dijanjikan adalah bahwa Dia yang memanggil memang benar-benar Raja, dan bahwa kuasa-Nya nyata bahkan atas apa yang tidak kelihatan.
Konteks
Galilea adalah pinggiran: tanah petani dan nelayan, jauh dari Bait Allah, dicurigai Yerusalem sebagai wilayah campuran. Di sanalah kerajaan itu dimulai, bukan di pusat keagamaan. Simon dan Andreas bekerja dengan jala; Yakobus dan Yohanes meninggalkan ayah mereka "di perahu dengan para buruh bayaran", tanda usaha keluarga yang cukup mapan. Meninggalkan perahu berarti meninggalkan penghasilan sekaligus melukai kewajiban terhadap orang tua, sesuatu yang serius dalam masyarakat itu. Di sinagoge Kapernaum orang terkejut bukan karena Yesus pandai, melainkan karena Ia mengajar "sebagai seorang yang mempunyai kuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat" yang selalu bersandar pada kutipan guru sebelumnya. Yesus tidak mengutip siapa pun. Itulah yang membuat orang bertanya, dan akhirnya membuat orang membenci-Nya.
Refleksi
Di mana dalam hidup Anda, Allah lebih Anda percayai sebagai yang sanggup daripada sebagai yang mau?
Yesus meninggalkan kota yang mencari-Nya untuk pergi memberitakan firman ke tempat lain. Apa yang harus Anda tinggalkan supaya taat, bukan sekadar supaya dibutuhkan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Mark 1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MARKUS 1?
Tentang apakah MARKUS 1?
Apa konteks historis dari MARKUS 1?
Apa yang MARKUS 1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MARKUS 1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Mark 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Sesudah menyentuh orang kusta itu, Yesus berkata, "Ingatlah, jangan katakan apa pun kepada siapa pun, tetapi pergilah, tunjukkan dirimu kepada imam." Yesus tidak berhenti pada kulit yang bersih. Ia mau orang itu pulang, diakui, duduk kembali di tengah keluarganya. Pemulihanmu pun tidak selesai di ruang doa. Ada meja, ada orang, ada pintu yang harus kamu ketuk lagi.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
