MATIUS 17:24
Teks
Yesus dan murid-murid-Nya baru tiba kembali di Kapernaum, kota tempat Yesus tinggal. Di sana para pengumpul pajak dua dirham, iuran tahunan untuk Bait Allah, tidak mendatangi Yesus sendiri melainkan Petrus, dan melontarkan pertanyaan yang terdengar sopan tetapi menyudutkan: "Apakah gurumu tidak membayar pajak 2 dirham?" Satu kalimat, satu pertanyaan, dan tiba-tiba nama Yesus tergantung di udara sebagai tanda tanya. Petrus, tanpa berkonsultasi lebih dulu, langsung menjawab: "Ya." Ayat ini hanyalah pintu masuk, tetapi seluruh ketegangannya sudah ada di sini: kehormatan Guru dipertanyakan, dan murid yang ditanya harus memutuskan sendiri, di tempat, apa yang akan ia katakan tentang Tuhannya.
Inti
Yang dipertaruhkan bukan uang, melainkan identitas. Pajak dua dirham adalah uang Bait Allah, rumah Bapa. Pertanyaan itu, tanpa disadari para penagih, sebenarnya berbunyi: apakah Yesus sekadar salah satu orang Israel yang berutang kepada rumah Allah, atau apakah Ia Anak yang memiliki rumah itu? Dua ayat kemudian Yesus sendiri membuka jawabannya: "Kalau begitu, anak-anaknya bebas." Di situlah inti teologisnya. Di gunung suara dari awan baru saja berkata, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi," dan sekarang Anak itu ditagih iuran di rumah Bapa-Nya sendiri. Allah yang kita sembah tidak berlindung di balik hak-Nya. Ia bebas, namun memilih membayar. Kemerdekaan sejati, menurut ayat-ayat ini, bukan berarti menolak tunduk, melainkan sanggup merendah tanpa kehilangan siapa diri kita.
Benang Merah
Iuran dua dirham berakar pada perintah lama: setiap orang Israel menyerahkan setengah syikal untuk pemeliharaan tempat kudus (Keluaran 30). Uang itu menopang rumah tempat Allah berdiam di tengah umat-Nya. Karena itu adegan di Kapernaum ini bukan sekadar urusan administrasi. Sepanjang Perjanjian Lama umat membayar agar rumah Allah tetap berdiri; sekarang Pemilik rumah itu berjalan masuk ke kota dan ditagih. Dan Ia membayar. Pola inilah yang menjalar ke seluruh kisah penyelamatan: Yang tidak berutang menanggung utang. Beberapa ayat sebelumnya Yesus baru berkata, "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Salib bukan kejutan yang mendadak muncul di Yerusalem; ia sudah berlatih di pos pajak, dalam keputusan kecil untuk tidak menuntut hak yang sah.
Cermin
Perhatikan bahwa mereka tidak bertanya kepada Yesus. Mereka bertanya kepada Petrus. Begitulah biasanya terjadi pada kita juga: bukan Tuhan yang dipojokkan di ruang rapat, melainkan Anda, dengan satu pertanyaan bernada sopan tentang uang, tentang kejujuran laporan pajak, tentang mengapa orang Kristen begitu aneh soal ini. Dan seperti Petrus, Anda menjawab cepat, sebelum berpikir, karena diam terasa seperti mengkhianati Guru. Yang dibongkar ayat ini adalah refleks kita untuk membela kehormatan Yesus dengan cara kita sendiri, padahal kita belum mendengar pendapat-Nya. Ada juga cermin yang lain: seberapa cepat Anda berkata "ini hak saya"? Yesus punya hak penuh untuk menolak, dan Ia tetap membayar demi tidak menyinggung orang. Kapan terakhir kali Anda melepaskan hak yang jelas-jelas milik Anda?
Konteks
Kapernaum adalah kota Yesus sendiri, kota pelabuhan kecil di tepi danau dengan pos bea dan pemungut pajak yang mengenal setiap wajah. Pajak dua dirham dipungut setahun sekali, biasanya menjelang Paskah, dari setiap lelaki Yahudi dewasa: bukan pajak Roma, melainkan iuran Bait Allah, ditagih oleh orang Yahudi sendiri. Menolak membayar berarti menempatkan diri di luar solidaritas umat. Pertanyaan itu diarahkan kepada Petrus, dan itu kode sosial yang khas: reputasi seorang rabi diuji melalui murid-muridnya. Waktunya pun tidak netral. Baru saja Yesus dimuliakan di gunung, baru saja para murid gagal di lembah, baru saja Yesus mengumumkan kematian-Nya. Di tengah semua itu, hidup sehari-hari mengetuk pintu dengan tagihan.
Tokoh Utama
Petrus di ayat ini adalah Petrus yang kita kenal: setia, cepat, dan sedikit terlalu percaya diri. Ia sudah mengaku Yesus sebagai Mesias, ia sudah menawarkan mendirikan tiga kemah di gunung, dan sekarang ia menjawab "Ya" tanpa bertanya. Jawaban itu tidak salah secara praktis, tetapi lahir dari refleks, bukan dari pengertian. Yang mengharukan adalah apa yang Yesus lakukan sesudahnya: "Yesus terlebih dahulu berbicara kepadanya." Bukan teguran, bukan sindiran, melainkan sebuah pertanyaan yang mengajar, "Bagaimana pendapatmu, Simon?" Yesus mengejar murid-Nya masuk ke dalam rumah untuk memberi dia pemahaman yang belum dimilikinya. Begitulah Tuhan memperlakukan orang yang tergesa-gesa membela-Nya: Ia meluruskan, tetapi tidak mempermalukan.
Gema Kitab Suci
Di dalam Matius sendiri gemanya paling jelas. Suara dari awan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi," berdiri persis di belakang kalimat "anak-anaknya bebas". Kalau Anda tidak mendengar pengakuan Bapa di gunung itu, pajak Bait Allah hanyalah persoalan uang; kalau Anda mendengarnya, Anda menyadari Siapa yang sedang ditagih di rumah-Nya sendiri. Gema kedua datang dari Paulus, yang berulang kali menolak menggunakan haknya sebagai rasul agar Injil tidak terhalang (1 Korintus 9). Ia tidak menciptakan sikap itu; ia mempelajarinya dari Tuhannya yang membayar dua dirham yang tidak Ia utangi. Kebebasan Kristen selalu berbentuk demikian: bebas, lalu memilih menahan diri demi orang lain.
Refleksi
Pertanyaan apa tentang iman Anda yang terakhir kali membuat Anda menjawab terlalu cepat, dan apa yang mungkin dikatakan Yesus kepada Anda "terlebih dahulu" seandainya Anda menunggu?
Hak apa yang sah Anda miliki, di rumah, di tempat kerja, dalam soal uang, yang mungkin justru Ia minta Anda lepaskan supaya tidak ada yang tersinggung?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 17:24
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 17:24?
Tentang apakah MATIUS 17:24?
Apa konteks historis dari MATIUS 17:24?
Apa yang MATIUS 17:24 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 17:24 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 17
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Dan ketika mereka mengangkat mata mereka, mereka tidak melihat siapa pun, kecuali Yesus sendiri." Musa pergi, Elia pergi, cahaya itu padam. Petrus sempat ingin menahan momen itu dengan tiga kemah, tapi yang tinggal cuma Yesus. Dan itu cukup. Saat pengalaman rohani yang megah memudar dari hidupmu, siapa yang masih kaulihat di sana?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi