MATIUS 3:1
Teks
Pasir, batu, panas yang memantul dari tebing kapur, dan di tengah lanskap yang tidak menghidupi siapa pun itu, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri dan berbicara. Matius menulisnya dengan hemat sekali: "Pada hari-hari itu, muncullah Yohanes Pembaptis, berkhotbah di padang belantara Yudea." Tidak ada silsilah panjang, tidak ada penjelasan dari mana ia datang, tidak ada istana atau mimbar. Hanya satu kata kerja yang seperti pintu dibanting terbuka: muncullah. Seorang laki-laki tampil di tempat yang paling tidak masuk akal untuk tampil, dan ia tidak menyanyi, tidak meramal, tidak menghibur. Ia berkhotbah. Suaranya memantul di jurang yang kosong, dan anehnya, orang-orang mulai berjalan ke sana untuk mendengarnya.
Inti
Perhatikan di mana Allah memulai lagi. Bukan di Bait Allah, yang berdiri megah hasil renovasi Herodes, dengan imam-imam dan jadwal kurban yang rapi. Bukan di Yerusalem, pusat kekuasaan agama. Melainkan di padang belantara, tanah yang tidak dimiliki siapa pun, tidak dikuasai siapa pun, tidak bisa dijadikan sumber penghasilan oleh siapa pun. Di situlah suara itu terdengar. Ini bukan detail geografis; ini pernyataan teologis. Allah datang dari luar sistem yang sudah mapan, dan Ia datang ke tempat di mana manusia tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Padang belantara adalah tempat Israel dulu dibentuk, diberi makan, diuji, dan dijadikan umat. Ketika Allah ingin memulai sesuatu yang baru, Ia sering membawa kita kembali ke tempat tangan kita kosong.
Benang Merah
Matius menaruh Yohanes tepat di celah antara dua zaman. Selama berabad-abad suara nabi di Israel seolah padam; yang terdengar hanyalah pengulangan, penafsiran, perdebatan. Lalu muncul seorang laki-laki di padang belantara, dan tiba-tiba cara bicara para nabi kembali hidup. Matius sendiri menjelaskannya dua ayat kemudian dengan mengutip Yesaya: "Ada suara berseru-seru: 'Persiapkan jalan di padang belantara bagi TUHAN!'" Yesaya mengucapkan itu kepada orang buangan yang menunggu pulang. Jadi kemunculan Yohanes bukan peristiwa lepas; ia adalah tanda bahwa pembuangan rohani Israel sedang berakhir dan Tuhan sendiri sedang berjalan mendekat. Yohanes bukan tujuan, ia adalah rambu. Seluruh hidupnya menunjuk ke depan, ke Satu Pribadi yang sandal-Nya pun ia merasa tak layak membawanya.
Cermin
Kita hampir selalu mencari Allah di tempat yang terorganisasi. Di gereja yang programnya rapi, di buku yang laris, di pemimpin yang karismatik, di musim hidup ketika semuanya tertata. Ayat ini mengusik kebiasaan itu. Suara Allah terdengar justru di tempat yang kosong: di masa menganggur setelah kehilangan pekerjaan, di ruang tunggu rumah sakit, di malam ketika pernikahan terasa dingin dan tak ada yang bisa kaulakukan untuk memperbaikinya. Bukan berarti penderitaan itu baik. Tetapi di padang belantara, tangan kita berhenti sibuk, dan telinga kita akhirnya terbuka. Pertanyaannya jujur saja: apakah kamu sedang menghindari tempat sunyi dalam hidupmu dengan terus mengisinya? Hari ini, matikan ponselmu selama sepuluh menit, duduk tanpa musik dan tanpa layar, dan katakan dengan suara keras: "Tuhan, aku mendengarkan."
Konteks
"Pada hari-hari itu" terdengar samar, dan memang begitu maksudnya; Matius baru saja menutup kisah masa kanak-kanak Yesus, lalu melompat sekitar tiga puluh tahun. Dunia yang kita masuki adalah Yudea di bawah Roma, dengan Herodes Antipas memerintah atas restu kaisar dan imam besar diangkat oleh kekuasaan asing. Padang belantara Yudea sendiri adalah jalur tandus yang turun curam dari Yerusalem ke Laut Mati, tempat para pemberontak bersembunyi dan para pertapa mencari kemurnian. Tampil di sana punya makna politis sekaligus rohani: ini wilayah di luar jangkauan Bait Allah dan istana. Orang yang berjalan ke sana harus keluar kota, turun berjam-jam, meninggalkan kenyamanan. Perjalanan itu sendiri sudah merupakan pengakuan bahwa yang di pusat tidak lagi mencukupi.
Pertanyaan
Mengapa Allah memakai cara yang begitu tidak efisien? Satu orang, di gurun, tanpa pengeras suara, tanpa jaringan. Kalau kerajaan sudah dekat, bukankah lebih masuk akal mengumumkannya di pelataran Bait Allah pada hari raya, ketika puluhan ribu orang hadir? Teks tidak menjelaskannya, dan saya tidak mau menambal lubang itu dengan hikmat murahan. Yang bisa kita katakan hanyalah ini: Allah tampaknya lebih peduli pada siapa yang bersedia berjalan keluar daripada pada berapa banyak yang kebetulan mendengar. Kebenaran yang harus kaucari dengan susah payah masuk lebih dalam daripada kebenaran yang disodorkan gratis. Tetapi tetap saja ada yang mengganggu di sini, dan sebaiknya kita biarkan mengganggu.
Tokoh Utama
Yohanes muncul tanpa diperkenalkan, dan itu cocok dengan dirinya. Ia manusia yang nyaris tidak memiliki apa-apa: pakaian bulu unta, ikat pinggang kulit, belalang dan madu hutan. Tidak ada tanda bahwa ia ingin dikenal atau bertahan lama. Seluruh keberadaannya adalah suara, dan suara menghilang begitu kata-katanya selesai diucapkan. Di situlah kebesarannya sekaligus kerelaannya. Orang yang sungguh tahu bahwa Allah sedang datang tidak lagi sibuk membangun namanya sendiri. Ada ketajaman di dalam dirinya, nanti kita dengar ia menyebut orang Farisi "keturunan ular beludak", tetapi ketajaman itu tidak lahir dari kepahitan melainkan dari kejelasan. Ia melihat terang yang sedang mendekat, dan karena itu ia melihat bayangan dengan sangat tegas.
Refleksi
Di bagian hidupmu yang mana tanganmu sedang kosong, dan apakah mungkin justru di sanalah Allah hendak memulai sesuatu?
Yohanes rela menjadi suara yang lenyap setelah kata-katanya diucapkan. Apa yang paling berat kaulepaskan jika kamu harus hidup seperti itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 3:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 3:1?
Tentang apakah MATIUS 3:1?
Apa konteks historis dari MATIUS 3:1?
Apa yang MATIUS 3:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 3:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yesus baru saja berdiri sebaris dengan orang-orang berdosa di sungai itu, dan justru di situ "langit terbuka". Bukan saat Dia mengajar, bukan saat mukjizat. Saat Dia merendahkan diri. Dan Roh datang seperti merpati, lembut, tidak menakutkan. Mungkin tempat terendahmu hari ini bukan tempat yang ditinggalkan Allah, melainkan tempat langit mulai terbuka.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak diam. Lewat Yohanes Engkau memperingatkan tentang "murka yang akan datang", dan peringatan itu adalah kasih. Aku bersyukur Engkau menegur aku sebelum terlambat, memanggilku bertobat dan bukan membiarkanku berjalan terus tanpa sadar.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi