Siapa Samuel: Nabi dan Hakim yang Mendengar Suara Tuhan Sejak Kecil
Pendahuluan
Bayangkan sebuah ruangan remang di Silo. Pelita Allah belum padam, tabut perjanjian berdiri diam di balik tirai, dan seorang anak laki-laki tidur tidak jauh dari sana. Ia belum tahu banyak tentang teologi. Ia hanya tahu bahwa ibunya menitipkannya di tempat ini, dan bahwa imam tua yang hampir buta itu memanggilnya "anakku". Lalu terdengar suara memanggil namanya. Ia bangkit, berlari, dan salah alamat; tiga kali.
Dari kamar kecil itulah lahir salah satu tokoh paling menentukan dalam sejarah Israel: Samuel, nabi dan hakim yang menjembatani zaman para hakim dengan zaman raja-raja. Di halaman ini Anda akan menelusuri hidupnya dari awal sampai akhir, lengkap dengan kekuatannya yang mengagumkan dan kegagalannya yang menyakitkan, serta melihat bagaimana kisahnya menunjuk jauh ke depan, kepada Yesus Kristus.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca hidup Samuel dari satu sudut yang sering terlewat: telinga. Namanya sendiri bergema dengan kata "mendengar", kalimat pertamanya kepada Tuhan adalah kalimat seorang pendengar, dan kalimat terberat yang pernah ia ucapkan kepada seorang raja juga soal mendengar. Samuel bukan terutama orator ulung atau politikus ulung; ia adalah manusia yang dibentuk oleh telinganya sebelum dipakai oleh mulutnya. Dan justru di situlah letak tragedinya: nabi yang sepanjang hidup mendengar Tuhan harus melayani bangsa, anak-anak, dan seorang raja yang tidak mau mendengar. Sudut pandang itu akan kembali berulang kali di halaman ini.
Apa kata Alkitab tentang nabi Samuel?
Kisah Samuel tidak dimulai dengan Samuel, melainkan dengan air mata seorang perempuan. Hana, istri Elkana, mandul dan dipermalukan bertahun-tahun oleh madunya. Di Silo ia berdoa sampai bibirnya bergerak tanpa suara, sampai Eli si imam mengira ia mabuk. Ketika anak itu akhirnya lahir, Hana berkata dalam 1 Samuel 1:27, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya." Perhatikan kata kerjanya: aku berdoa, TUHAN memberikan. Hidup Samuel dimulai sebagai jawaban atas doa, dan Hana segera mengembalikan jawaban itu kepada Sang Pemberi. Ia menyerahkan anaknya untuk melayani di rumah Tuhan seumur hidup, lalu menyanyikan nyanyian tentang Allah yang merendahkan yang tinggi dan meninggikan yang rendah.
Masa kecil Samuel berlangsung di tempat yang rohaninya rapuh. Anak-anak Eli, Hofni dan Pinehas, merampas daging korban dan tidur dengan perempuan-perempuan yang bertugas di pintu Kemah Pertemuan. 1 Samuel 3:1 mencatat suasananya dengan satu kalimat yang getir: firman TUHAN jarang pada waktu itu, penglihatan-penglihatan pun tidak sering. Di tengah kemarau rohani seperti itulah Allah memanggil seorang anak. Setelah dua kali salah paham, Eli mengajarinya cara menjawab, dan terjadilah momen yang menjadi poros seluruh hidupnya, 1 Samuel 3:10: "Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: 'Samuel! Samuel!' Dan Samuel menjawab: 'Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.'"
Sejak saat itu Samuel bertumbuh dan "tidak ada satupun dari firmannya itu yang dibiarkannya gugur" (1 Samuel 3:19). Seluruh Israel, dari Dan sampai Bersyeba, tahu bahwa Samuel dipercayakan menjadi nabi Tuhan. Setelah tabut perjanjian dirampas orang Filistin dan Eli mati, Samuel memimpin pertobatan nasional di Mizpa. Israel membuang para Baal dan Asytoret, berpuasa, mengakui dosa, dan Tuhan mengguntur melawan musuh. Lalu Samuel melakukan sesuatu yang sangat khas dirinya, mendirikan sebuah batu peringatan. 1 Samuel 7:12 berbunyi: "Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: 'Sampai di sini TUHAN menolong kita.'" Batu itu bukan monumen kemenangan Samuel, melainkan pengingat agar generasi berikutnya mendengar cerita yang benar tentang siapa yang sebenarnya berperang.
Bertahun-tahun Samuel berkeliling sebagai hakim, dari Betel ke Gilgal ke Mizpa, dan selalu pulang ke Rama, kota kelahirannya, tempat ia mendirikan mezbah. Tetapi ketika ia tua, anak-anaknya sendiri, Yoel dan Abia, mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan. Para tua-tua datang meminta seorang raja "seperti pada segala bangsa-bangsa lain". Samuel tersinggung dan berdoa, dan Tuhan menjawab dalam 1 Samuel 8:7: "TUHAN berfirman kepada Samuel: 'Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.'"
Sisa hidupnya adalah pelayanan yang pahit sekaligus setia: mengurapi Saul, menegurnya, meratapinya, lalu mengurapi Daud yang masih bau domba. Samuel mati di Rama, diratapi seluruh Israel, dan dikuburkan di rumahnya sendiri (1 Samuel 25:1). Ia tidak pernah memerintah, tidak pernah memakai mahkota, tidak pernah memimpin pasukan besar. Ia hanya mendengar, lalu berbicara.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Samuel berdiri di persimpangan dua zaman. Kitab Hakim-hakim berakhir dengan kalimat kelam: setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Samuel adalah hakim terakhir, dan sekaligus nabi pertama dari barisan panjang para nabi. Petrus menegaskannya di Serambi Salomo: "Dan semua nabi, yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang hari-hari ini" (Kisah Para Rasul 3:24). Dengan kata lain, Perjanjian Baru membaca Samuel sebagai titik awal sebuah paduan suara kenabian yang seluruhnya mengarah kepada Kristus. Penulis Ibrani memasukkan namanya di antara para pahlawan iman: "Daud dan Samuel dan para nabi" (Ibrani 11:32).
Benang merahnya mulai terlihat sejak nyanyian Hana. Perempuan mandul yang dipermalukan itu menyanyi tentang busur para pahlawan yang dipatahkan dan orang lemah yang berikatpinggangkan kekuatan, tentang Tuhan yang mengangkat orang hina dari debu dan memberi kekuatan kepada raja-Nya serta meninggikan tanduk orang yang diurapi-Nya (1 Samuel 2:1-10). Berabad-abad kemudian seorang gadis desa dari Nazaret menyanyikan melodi yang sama: Allah menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah (Lukas 1:46-55). Hana adalah ibu rohani Maria. Dan sama seperti dicatat bahwa Samuel kecil makin besar dan makin disukai baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia (1 Samuel 2:26), demikian pula dicatat tentang Yesus di Nazaret (Lukas 2:52).
Lebih dalam lagi: Samuel memegang tiga jabatan sekaligus dalam bentuk yang belum sempurna. Ia melayani di tempat kudus seperti imam, memutuskan perkara seperti hakim, dan menyampaikan firman seperti nabi. Ketiga jabatan itu bertemu secara utuh hanya pada satu Pribadi. Yesus Kristus adalah Imam Besar yang mempersembahkan diri-Nya sendiri, Hakim yang adil atas orang hidup dan orang mati, dan Nabi yang bukan hanya menyampaikan firman tetapi adalah Firman itu sendiri.
Dan di sinilah sudut pandang panduan ini mencapai puncaknya. Musa pernah menjanjikan seorang nabi yang harus didengarkan bangsa itu (Ulangan 18:15). Samuel adalah cicipan dari janji itu, tetapi bukan penggenapannya. Di atas gunung yang tinggi, awan menaungi tiga murid yang ketakutan dan terdengarlah suara: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia" (Matius 17:5). Anak kecil di Silo pernah berkata, "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." Di Golgota, Bapa membalik arah kalimat itu kepada kita semua: Aku sudah berbicara, dalam Anak-Ku; sekarang dengarkanlah.
Inti hidupnya
Panggilan di Silo. Momen pertama yang menentukan adalah malam ketika seorang anak belajar membedakan suara. Yang mengharukan dari 1 Samuel 3 bukan hanya bahwa Allah berbicara, tetapi bahwa Samuel tidak langsung mengenali-Nya; "ia belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya" (1 Samuel 3:7). Mendengar Tuhan bukan bakat alami, melainkan sesuatu yang dipelajari, bahkan melalui bimbingan seorang imam yang gagal sebagai ayah. Dan pesan pertama yang harus disampaikan Samuel adalah penghukuman atas rumah Eli, guru dan pelindungnya sendiri. Pagi itu ia takut memberitahukan penglihatan itu. Ia tetap mengatakannya. Seorang nabi lahir bukan ketika ia mendengar, melainkan ketika ia berani mengulang apa yang didengarnya meski harganya mahal.
Permintaan akan seorang raja. Momen kedua terjadi ketika Samuel sudah beruban. Permintaan Israel menusuk hatinya secara pribadi, sebab alasannya adalah kegagalan anak-anaknya. Mudah sekali bagi Samuel membela diri. Yang ia lakukan justru membawa perkara itu kepada Tuhan, dan jawaban 1 Samuel 8:7 melegakan sekaligus menghancurkan: ini bukan tentang Samuel, ini tentang Allah yang ditolak. Ia memperingatkan bangsa itu tentang harga seorang raja; mereka tetap berkata, "Tidak, harus ada raja atas kami." Lalu dalam pidato perpisahannya, setelah bangsa itu menyadari dosanya dan ketakutan, Samuel mengucapkan kalimat yang mungkin paling indah dari seluruh hidupnya, 1 Samuel 12:23: "Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus." Ia ditolak, tetapi ia tidak berhenti berdoa. Ia menyebut berhenti mendoakan umat sebagai dosa.
Nabi sejati tidak membalas penolakan dengan diam.
Penolakan Saul dan pengurapan Daud. Momen ketiga adalah yang paling menyakitkan. Saul diperintahkan menumpas Amalek, tetapi ia menyisakan Agag dan ternak terbaik, lalu berdalih bahwa semuanya untuk korban bagi Tuhan. Jawaban Samuel dalam 1 Samuel 15:22 menjadi salah satu ayat paling tajam dalam Perjanjian Lama: "Tetapi jawab Samuel: 'Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.'" Ibadah yang meriah tidak pernah bisa menggantikan telinga yang taat. Setelah itu Samuel berkabung lama sekali, sampai Tuhan menegurnya: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul?" (1 Samuel 16:1). Di rumah Isai pun ia nyaris salah pilih, terpesona pada perawakan Eliab, sampai Tuhan berfirman dalam 1 Samuel 16:7, "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." Bahkan di usia tua, nabi yang hebat ini masih harus dikoreksi telinganya.
Yang kita pelajari dari Samuel
Pertama, mendengar adalah keterampilan rohani yang dilatih, bukan warisan otomatis. Samuel tidak lahir dengan antena khusus. Ia tinggal di dekat tempat kudus, melayani bertahun-tahun, dan tetap butuh seseorang yang berkata, "Jika Ia memanggil, katakanlah begini." Banyak orang Kristen hari ini cemas karena merasa tidak pernah mendengar suara Tuhan. Alkitab justru menenangkan: Allah bersabar dengan telinga yang masih belajar. Ia memanggil tiga kali. Tempat kita mulai bukanlah pengalaman mistik, melainkan sikap hati yang sama: Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar. Dan Ia paling jelas berbicara di halaman Kitab Suci yang terbuka.
Kedua, kesetiaan dalam pelayanan tidak otomatis menjadi keberhasilan di rumah. Ini bagian yang jujur dan menyakitkan. Samuel tumbuh melihat Eli gagal mendidik anak-anaknya, lalu mengulangi pola yang sama. Teks tidak pernah menyalahkan Samuel secara eksplisit, tetapi juga tidak menyembunyikan faktanya: anak-anaknya memutarbalikkan keadilan demi uang. Perjalanan pelayanan dari Betel ke Gilgal ke Mizpa mungkin membuat sang ayah lebih sering berada di jalan daripada di rumah. Pelajarannya bukan untuk menghakimi Samuel, melainkan untuk memeriksa diri: pelayanan yang dipuji banyak orang bisa berdiri di atas rumah yang sedang retak, dan Allah tidak menukar yang satu dengan yang lain.
Ketiga, orang yang ditolak dapat tetap mengasihi. Hidup Samuel dipenuhi penolakan: bangsanya ingin menggantinya dengan raja, raja pilihannya mengkhianatinya, anak-anaknya mempermalukannya. Namun ia menolak menjadi pahit. Ia berdiri di Mizpa mengurapi orang yang menggeser posisinya, ia berjalan jauh ke Betlehem dengan tabung minyak dan hati yang berat, dan ia berjanji tidak akan berhenti berdoa bagi orang-orang yang menyakitinya. Kalimat 1 Samuel 12:23 adalah antikesan terhadap setiap pelayan Tuhan yang mengancam akan mundur karena tidak dihargai.
Doa bagi yang menolak kita adalah tanda telinga yang sehat.
Cermin
Mari kita berhenti sebentar dan arahkan cerita ini kepada Anda. Kapan terakhir kali Anda duduk cukup diam sehingga Tuhan sempat menyelesaikan kalimat-Nya? Hari-hari kita penuh suara: notifikasi, rapat, podcast, suara orang yang menuntut, suara dalam kepala yang menghitung cicilan. Dalam kebisingan seperti itu kita gampang menjadi seperti Saul, bukan seperti Samuel. Kita masih beribadah, masih memberi persembahan, masih sibuk melayani, tetapi kita menyesuaikan perintah Tuhan dengan apa yang masuk akal secara finansial, secara karier, secara perasaan. Lalu kita mempersembahkan sisanya kepada Tuhan dan menyebutnya kesalehan. 1 Samuel 15:22 menolak kompromi itu dengan lembut dan tegas: mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan.
Mungkin Anda sedang berada di sisi lain cerita ini. Anda merasa seperti Samuel tua: sudah bertahun-tahun setia, tetapi tetap digeser, tidak dianggap, diganti oleh yang lebih muda dan lebih fotogenik. Atau Anda seorang ayah atau ibu yang menangis karena anak yang tumbuh di rumah yang doanya tidak pernah kering, namun kini berjalan jauh dari Tuhan. Samuel mengerti kedua luka itu. Dan ia menunjukkan satu-satunya jalan yang tidak membuat hati membatu: terus mendoakan mereka, terus mengajarkan jalan yang baik dan lurus, terus berkata "sampai di sini TUHAN menolong kita" walaupun belum tahu bagaimana kelanjutannya.
Dan jika Anda sedang menilai diri dengan kejam, merasa terlalu biasa, terlalu kecil, terlalu rusak untuk dipakai Allah, dengarkan 1 Samuel 16:7 sekali lagi. Manusia melihat apa yang di depan mata; Tuhan melihat hati. Itu kabar yang menakutkan sekaligus membebaskan. Menakutkan karena tidak ada yang bisa disembunyikan dari-Nya. Membebaskan karena Dia memilih berdasarkan kasih karunia, bukan berdasarkan penampilan yang berhasil Anda bangun.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak biasanya langsung jatuh cinta pada kisah ini, sebab tokoh utamanya seusia mereka. Untuk penjelasan paling sederhana, mulailah dari ibu yang sangat merindukan seorang anak dan berdoa sampai menangis. Tuhan mendengar doa itu, dan lahirlah Samuel, yang namanya mengingatkan bahwa Tuhan mendengar. Lalu ceritakan malam di rumah Tuhan: ada suara memanggil "Samuel! Samuel!", dan anak itu berlari kepada Eli sampai tiga kali, sebelum akhirnya ia menjawab, "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." Tutup dengan satu pesan yang mudah dipegang anak mana pun: Tuhan senang berbicara, dan kita bisa belajar mendengarkan Dia, bahkan sejak kecil.
Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa menambahkan kisah batu Eben-Haezer sebagai ajakan konkret: coba sebutkan tiga hal yang sudah Tuhan tolong tahun ini, lalu simpan sebuah batu kecil di kamar sebagai pengingat. Untuk remaja, pertanyaan tentang Saul dan Daud sangat relevan, karena menyentuh soal penampilan, popularitas, dan apa yang Tuhan lihat dari hati seseorang.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Samuel yang disusun untuk berbagai usia: versi untuk anak prasekolah (3 sampai 6 tahun) dengan bahasa yang sangat sederhana dan banyak gambaran, versi untuk anak sekolah dasar (7 sampai 12 tahun) yang mengikuti alur cerita lebih lengkap, serta versi untuk remaja (12 tahun ke atas) yang mengajak mereka bergumul dengan pertanyaan sulit tentang panggilan, penolakan, dan ketaatan. Pilih versi yang sesuai dan bacalah bersama, bukan sekadar menyerahkannya untuk dibaca sendiri.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa nabi Samuel dalam Alkitab?
Samuel adalah anak Elkana dan Hana yang lahir sebagai jawaban doa dan diserahkan ibunya untuk melayani Tuhan di Silo. Ia menjadi hakim terakhir Israel sekaligus nabi pertama dari barisan panjang para nabi, dan dialah yang mengurapi dua raja pertama Israel, Saul dan Daud. Pelayanannya menjembatani zaman para hakim dengan zaman kerajaan. Kisahnya dicatat terutama dalam 1 Samuel 1 sampai 25, dan namanya disebut kembali dalam Perjanjian Baru di Kisah Para Rasul 3:24, Kisah Para Rasul 13:20, dan Ibrani 11:32.
Apa arti nama Samuel?
Nama Samuel berkaitan erat dengan kata Ibrani yang berarti "mendengar" dan dengan nama Allah, sehingga sering dijelaskan sebagai "Allah mendengar" atau "diminta dari Allah". Hana sendiri menghubungkannya dengan permintaannya yang dikabulkan dalam 1 Samuel 1:27, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya." Menariknya, seluruh hidup Samuel memang berputar pada tema mendengar: ia yang mendengar suara Tuhan, dan ia yang memanggil bangsanya untuk mendengarkan suara itu juga.
Mengapa Tuhan memanggil Samuel sampai tiga kali?
Teks sendiri memberi alasannya dalam 1 Samuel 3:7, bahwa Samuel belum mengenal Tuhan dan firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya. Ia mengira suara itu berasal dari Eli, karena itulah suara otoritas yang ia kenal. Pengulangan itu menunjukkan kesabaran Allah terhadap telinga yang masih belajar, dan juga menunjukkan bahwa pengenalan akan suara Tuhan tumbuh melalui bimbingan orang lain. Eli, meskipun gagal sebagai ayah, masih dipakai untuk mengajar Samuel cara menjawab: "Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar."
Berapa umur Samuel ketika Tuhan memanggilnya?
Alkitab tidak menyebutkan angka pastinya. Teks hanya menyebut Samuel sebagai "anak" yang melayani Tuhan di bawah pengawasan Eli dan mengenakan baju efod dari kain lenan. Tradisi Yahudi memperkirakan usianya sekitar dua belas tahun, sementara banyak penafsir menduga antara sepuluh dan dua belas tahun. Yang lebih penting daripada angka adalah faktanya: Allah mempercayakan pesan yang berat, yaitu penghukuman atas keluarga Eli, kepada seorang anak. Usia muda bukan penghalang bagi Allah untuk berbicara dan untuk memakai seseorang.
Apakah Samuel seorang nabi, hakim, atau imam?
Ketiganya, dalam bentuk yang belum sempurna. Ia disebut hakim yang memerintah Israel seumur hidupnya dan berkeliling dari Betel ke Gilgal ke Mizpa untuk mengadili perkara. Ia disebut nabi yang perkataannya tidak satu pun gugur, dan Perjanjian Baru menyebutnya sebagai awal barisan para nabi. Ia juga mempersembahkan korban dan melayani di tempat kudus seperti seorang imam. Perpaduan tiga jabatan ini membuat Samuel menjadi gambaran samar dari Yesus Kristus, yang sepenuhnya adalah Nabi, Imam, dan Hakim bagi umat-Nya.
Apakah Samuel seorang Lewi atau orang Efraim?
1 Samuel 1:1 menyebut Elkana sebagai orang dari pegunungan Efraim, sedangkan 1 Tawarikh 6:33-38 menempatkan Samuel dalam silsilah keturunan Lewi dari keluarga Kehat. Keduanya tidak bertentangan: keluarga Lewi tidak memiliki wilayah sendiri dan tersebar di kota-kota di antara suku-suku lain, termasuk di wilayah Efraim. Jadi Samuel kemungkinan besar adalah keturunan Lewi yang tinggal di daerah Efraim. Ini juga menjelaskan mengapa ia dapat melayani di tempat kudus dan mempersembahkan korban tanpa dianggap melanggar hukum Taurat.
Mengapa anak-anak Samuel menjadi jahat?
Alkitab mencatat faktanya tanpa menjelaskan sebabnya secara rinci. 1 Samuel 8:3 mengatakan bahwa Yoel dan Abia tidak hidup seperti ayah mereka, melainkan mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan. Ironisnya, Samuel tumbuh besar menyaksikan kegagalan Eli mendidik anak-anaknya. Kisah ini mengingatkan bahwa iman tidak diwariskan secara otomatis dan bahwa pelayanan yang dihormati banyak orang tidak menjamin keutuhan rumah tangga. Sekaligus ini menjadi penghiburan jujur bagi orang tua yang anaknya menjauh dari Tuhan: bahkan Samuel mengalaminya.
Apa arti Eben-Haezer dalam 1 Samuel 7:12?
Eben-Haezer berarti "batu pertolongan". Setelah Tuhan mengguntur dan mengacaukan pasukan Filistin di Mizpa, Samuel mendirikan sebuah batu dan berkata, "Sampai di sini TUHAN menolong kita." Kalimat itu memandang ke belakang dengan syukur dan ke depan dengan harap, sebab kata "sampai di sini" mengakui bahwa perjalanan belum selesai. Batu itu bukan tugu kemenangan militer, melainkan alat pengajaran: agar anak-anak bertanya, dan orang tua menceritakan siapa yang sebenarnya menolong. Banyak orang percaya hari ini membuat "batu Eben-Haezer" pribadi dalam bentuk catatan syukur.
Mengapa Tuhan marah atas permintaan Israel akan seorang raja?
Masalahnya bukan institusi kerajaan itu sendiri, sebab Ulangan 17 sudah mengatur tentang raja, melainkan motifnya. Israel ingin raja supaya menjadi "seperti segala bangsa-bangsa lain", artinya mereka ingin keamanan yang terlihat dan bukan kepercayaan kepada Allah yang tidak terlihat. Karena itu Tuhan berkata dalam 1 Samuel 8:7 bahwa bukan Samuel yang mereka tolak, melainkan Dia sendiri. Tuhan tetap mengabulkan permintaan itu, lalu memakainya untuk membawa Daud dan akhirnya Yesus Kristus, Raja sejati dari keturunan Daud.
Apa maksud "mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan"?
1 Samuel 15:22 diucapkan setelah Saul menyisakan Agag dan ternak terbaik Amalek, lalu berdalih bahwa semuanya untuk dikorbankan bagi Tuhan. Samuel menyingkapkan logika yang salah: ibadah yang mahal tidak dapat menebus ketidaktaatan yang disengaja. Allah tidak kekurangan daging; Dia menginginkan hati yang tunduk. Ayat ini bergema dalam Mazmur 51, Yesaya 1, dan Hosea 6:6, serta dikutip prinsipnya oleh Yesus. Penerapannya tajam sampai hari ini: kehadiran rutin di gereja dan persembahan besar tidak bisa menggantikan ketaatan dalam hal-hal yang Tuhan minta secara spesifik.
Benarkah Samuel muncul kembali lewat pemanggilan arwah di En-Dor?
1 Samuel 28 menceritakan Saul yang putus asa mendatangi seorang pemanggil arwah, lalu teks menyebut bahwa Samuel muncul dan berbicara. Perempuan itu sendiri terkejut dan berteriak, yang menunjukkan bahwa yang terjadi di luar kendali dan kebiasaannya. Banyak penafsir ortodoks memahami bahwa Allah sendiri mengizinkan Samuel tampil sekali ini untuk menjatuhkan penghukuman terakhir atas Saul. Yang jelas, Alkitab sama sekali tidak membenarkan praktik pemanggilan arwah; Ulangan 18 melarangnya keras, dan 1 Tawarikh 10:13 justru menyebut perbuatan Saul itu sebagai salah satu sebab kematiannya.
Siapa yang menulis kitab 1 Samuel?
Kitab ini tidak menyebutkan penulisnya. Tradisi Yahudi menghubungkannya dengan Samuel, Natan, dan Gad, sejalan dengan 1 Tawarikh 29:29 yang menyebut riwayat Daud ditulis dalam catatan para pelihat itu. Karena kematian Samuel dicatat di 1 Samuel 25, jelas bagian selanjutnya ditulis orang lain. Dalam Alkitab Ibrani, 1 dan 2 Samuel aslinya merupakan satu kitab yang kemudian dibagi dua. Penamaannya diberikan bukan karena Samuel menulis seluruhnya, melainkan karena ia tokoh pembuka yang menentukan seluruh alur kisah kerajaan.
Apa pelajaran utama dari hidup nabi Samuel?
Bahwa hidup yang berdampak dibangun dari telinga yang terbuka, bukan dari posisi atau kharisma. Samuel tidak pernah menjadi raja, tidak memimpin pasukan besar, dan berulang kali ditolak oleh bangsanya, raja pilihannya, bahkan anak-anaknya sendiri. Namun ia mendengar Tuhan dan menyampaikan firman-Nya tanpa menguranginya, serta menolak menjadi pahit, seperti terlihat dalam 1 Samuel 12:23 ketika ia berjanji tidak akan berhenti mendoakan orang-orang yang menolaknya. Kesetiaan yang panjang dan sepi seperti itulah yang dipakai Allah untuk menyiapkan jalan bagi Daud dan akhirnya bagi Kristus.
Sebagai penutup
Jika Anda mengingat satu hal dari halaman ini, kiranya itu adalah gambar seorang anak yang bangun di tengah malam dan berkata, "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." Dari kalimat itu mengalir segala sesuatu yang membuat Samuel menjadi Samuel: keberaniannya menyampaikan pesan yang pahit kepada orang yang membesarkannya, batu Eben-Haezer yang mengajar generasi berikutnya mengingat pertolongan Tuhan, penolakannya terhadap ibadah yang menutupi ketidaktaatan, dan kesediaannya mengurapi penggantinya sendiri. Ia bukan manusia sempurna; rumahnya retak, dukanya berkepanjangan, matanya sempat tertipu oleh perawakan Eliab. Tetapi telinganya tetap terbuka sampai akhir.
Untuk melangkah lebih jauh, bacalah 1 Samuel 1 sampai 16 dalam satu rangkaian, sambil menandai setiap kali kata "mendengar" dan "suara" muncul; polanya akan mengejutkan Anda. Lalu bacalah nyanyian Hana berdampingan dengan nyanyian Maria di Lukas 1, dan akhiri dengan suara dari awan di Matius 17:5. Sebab seluruh kisah ini bermuara pada satu undangan yang masih berlaku pagi ini: dengarkanlah Dia.
