MATIUS 3:2
Teks
Seorang laki-laki berdiri di padang belantara Yudea, jauh dari Bait Allah, jauh dari kota, dan ia hanya mengucapkan satu kalimat pendek: "Bertobatlah karena Kerajaan Surga sudah dekat." Tidak ada uraian panjang, tidak ada penjelasan siapa Raja itu atau kapan tepatnya kerajaan itu tiba. Hanya sebuah perintah dan sebuah alasan, dirangkai begitu rapat sehingga yang satu tidak bisa dilepaskan dari yang lain. Yohanes tidak berkata: bertobatlah supaya Kerajaan datang. Ia berkata: bertobatlah karena Kerajaan itu sudah begitu dekat sehingga kalian tidak punya pilihan lain selain berbalik. Sesuatu sedang mendekat dari arah yang tidak kita kuasai, dan satu-satunya tanggapan yang masuk akal adalah menghadapkan wajah ke arah itu.
Inti
Kata yang dipakai Yohanes, metanoia, berarti perubahan cara berpikir yang begitu mendasar sampai seluruh arah hidup ikut berputar. Bukan sekadar penyesalan, bukan air mata semalam. Namun perhatikan urutannya, sebab di situlah letak anugerah yang mudah terlewat: pertobatan bukan syarat agar Allah mau mendekat, melainkan tanggapan atas kenyataan bahwa Ia sudah mendekat. Kerajaan itu tidak menunggu kita siap. Ia datang, dan kedatangannya sendiri yang menciptakan urgensi. Di sini Allah tampil bukan sebagai gagasan yang kita cari, tetapi sebagai Raja yang bergerak ke arah kita entah kita menginginkannya atau tidak. Pertanyaan yang tertinggal, dan yang sengaja dibiarkan terbuka oleh teks ini: jika Kerajaan itu memang sudah sedekat itu, mengapa hidup kita masih terasa begitu jauh dari-Nya?
Benang Merah
Ayat berikutnya menempatkan seruan ini dalam garis panjang: "Ada suara berseru-seru: 'Persiapkan jalan di padang belantara bagi TUHAN!'" Yohanes bukan penemu pesan ini; ia gema dari Yesaya, dari zaman ketika umat buangan menunggu Allah berjalan kembali kepada mereka melalui gurun. Yang mengejutkan adalah apa yang terjadi beberapa ayat kemudian: Yesus sendiri datang ke Yordan dan berdiri di antara orang-orang yang mengakui dosa mereka. Kerajaan yang "sudah dekat" itu ternyata punya kaki, punya tubuh, dan Ia berjalan masuk ke dalam air pertobatan bersama para pendosa, meski Ia tidak punya dosa untuk diakui. Seruan Yohanes membuka pintu; Yesus melangkah melewatinya dan kemudian meneruskan kalimat yang sama persis di Galilea. Pertobatan, ternyata, bukan jalan kita menuju Allah, melainkan tempat di mana Allah memilih berdiri.
Cermin
Kedekatan itu tidak selalu terasa nyaman. Kita membangun hidup dengan asumsi bahwa ada jarak: jarak antara apa yang kita tampilkan di gereja dan bagaimana kita berbicara kepada anak yang membuat kita kesal; jarak antara doa pagi dan cara kita menyusun anggaran; jarak antara pengakuan iman dan kebiasaan mengecek ponsel saat orang lain sedang bercerita. Seruan Yohanes menutup jarak itu. Kalau Kerajaan sudah dekat, maka tidak ada lagi ruang belakang yang tidak diawasi. Dan mungkin yang paling menohok: metanoia menuntut perubahan arah, bukan perbaikan kecepatan. Banyak dari kita sesungguhnya hanya ingin berjalan lebih rajin di jalan yang sudah kita pilih sendiri. Hari ini, sebutkan dengan suara keras, sendirian, satu arah hidup yang kautahu perlu diputar, lalu katakan kepada Allah: aku berbalik.
Konteks
Padang belantara Yudea bukan tempat netral. Tanah kering di antara Yerusalem dan Yordan itu adalah ruang ingatan bangsa: di sanalah nenek moyang mereka berjalan empat puluh tahun sebelum memasuki tanah perjanjian. Yohanes memanggil orang keluar dari kota, meninggalkan Bait Allah dengan segala imam dan korbannya, untuk memulai kembali dari titik nol. Itu kritik yang telanjang terhadap pusat keagamaan yang masih berfungsi penuh. Secara politik, Yudea berada di bawah Roma; secara religius, di bawah kaum Farisi dan Saduki yang tak lama kemudian datang dan disebut Yohanes "keturunan ular beludak". Kata "Kerajaan" di mulutnya karena itu berbahaya: siapa pun yang mengumumkan kerajaan baru sedang mengatakan bahwa yang lama akan berakhir.
Pertanyaan
Jika Kerajaan itu sudah dekat dua ribu tahun lalu, apa arti "dekat" sekarang? Yohanes sendiri tidak hidup untuk melihat kegenapannya; ia mati di penjara Herodes. Ia menubuatkan kapak yang sudah diletakkan di akar dan api yang tidak dapat dipadamkan, lalu Yesus datang dan tidak menebang siapa pun. Teks ini tidak menjelaskan ketegangan itu, dan saya kira kita tidak boleh menjelaskannya terlalu cepat. Mungkin "dekat" di sini bukan ukuran waktu di kalender, melainkan ukuran jarak: Allah sudah berada dalam jangkauan tangan, sudah cukup dekat untuk mengubah segalanya, namun belum sepenuhnya menyatakan diri. Kita hidup di ruang sempit itu, antara kedatangan yang sudah terjadi dan yang belum selesai. Ruang itu terasa seperti penantian, dan penantian selalu terasa lebih panjang daripada janji.
Intertekstual
Yesaya 40, yang dikutip Matius, dimulai dengan penghiburan bagi umat yang hukumannya sudah dijalani; suara di padang gurun itu awalnya kabar baik, bukan ancaman. Menempatkan Yohanes di sana berarti membaca seruan "Bertobatlah" sebagai bagian dari penghiburan, bukan lawannya. Sebaliknya, ketika Yesus mulai berkhotbah di Matius 4, Ia memakai kalimat yang sama kata demi kata. Pesan sang pendahulu dan pesan Sang Raja identik, dan itu penting: Injil tidak menggantikan tuntutan pertobatan dengan sesuatu yang lebih lembut. Injil hanya mengungkapkan siapa yang berdiri di balik tuntutan itu, dan bahwa Ia bersedia turun ke air bersama kita.
Refleksi
Ke arah mana sesungguhnya hidup saya sedang berjalan, dan kapan terakhir kali saya berani menanyakannya tanpa langsung membela diri?
Jika Kerajaan Surga benar-benar sudah sedekat itu, bagian mana dari hidup saya yang paling ingin saya jauhkan dari jangkauan-Nya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 3:2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 3:2?
Tentang apakah MATIUS 3:2?
Apa konteks historis dari MATIUS 3:2?
Apa yang MATIUS 3:2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 3:2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak diam. Lewat Yohanes Engkau memperingatkan tentang "murka yang akan datang", dan peringatan itu adalah kasih. Aku bersyukur Engkau menegur aku sebelum terlambat, memanggilku bertobat dan bukan membiarkanku berjalan terus tanpa sadar.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi