Siapa Yohanes Pembaptis: Nabi Perintis Jalan Tuhan
Pendahuluan
Bayangkan jalan berdebu keluar dari Yerusalem menuju lembah Yordan. Panas memantul dari batu. Namun orang tetap berjalan: ibu-ibu, pemungut cukai, tentara sewaan, para imam yang penasaran. Mereka tidak sedang menuju Bait Allah yang megah, melainkan menuju seorang laki-laki berjubah bulu unta yang berdiri di air keruh dan berseru bahwa hati mereka perlu dibongkar. Tidak ada mukjizat, tidak ada panggung. Hanya suara.
Beberapa tahun kemudian, laki-laki yang sama duduk di sebuah sel penjara di tepi Laut Mati, dan dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan yang mengguncang: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Matius 11:3).
Di halaman ini kita akan menelusuri hidup Yohanes Pembaptis dari kandungan sampai kematiannya, membaca kekuatan dan kerapuhannya dengan jujur, dan menemukan mengapa Yesus menyebutnya yang terbesar, sekaligus yang paling rela mengecil.
Sudut pandang panduan ini
Banyak tulisan menggambarkan Yohanes Pembaptis sebagai tokoh keras dengan jubah aneh dan menu belalang. Panduan ini membacanya dari sudut lain: sebagai suara yang dengan sukacita rela menjadi sunyi. Ia sendiri yang memilih kata itu untuk dirinya, "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun" (Yohanes 1:23). Suara ada untuk didengar, lalu hilang; Firman tetap. Seluruh hidup Yohanes adalah jari yang menunjuk ke arah lain, dan justru di sanalah letak kebesarannya. Sudut pandang ini penting, karena kita hidup di zaman yang mengajar kita membesarkan nama sendiri, sementara Injil mengajak kita menemukan sukacita dalam mengecil.
Apa kata Alkitab tentang Yohanes Pembaptis?
Kisahnya tidak dimulai di padang gurun, melainkan di ruang tersuci Bait Allah, di tengah asap kemenyan, pada seorang imam tua yang sudah lama berhenti berharap. Zakharia dan Elisabet tidak punya anak, dan usia mereka sudah lanjut. Di sanalah malaikat Gabriel berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari kandungan ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang yang tidak taat kepada pikiran orang-orang yang saleh, supaya dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang telah bersedia" (Lukas 1:13-17).
Perhatikan betapa banyak yang sudah ditentukan sebelum Yohanes menghirup udara pertama. Namanya diberikan Allah, bukan keluarganya. Gaya hidupnya ditetapkan: tanpa anggur, mirip seorang nazir. Kepenuhan Roh Kudus menyertainya sejak kandungan. Dan tugasnya dirumuskan dengan satu kata kerja yang menentukan seluruh hidupnya: mendahului. Ia berjalan di depan, bukan di tengah. Ia menyiapkan umat, bukan mengumpulkan pengikut untuk dirinya.
Janji itu langsung terbukti dalam tubuh yang belum lahir. Ketika Maria yang sedang mengandung Yesus mengunjungi Elisabet, bayi dalam kandungan Elisabet melonjak. Elisabet berkata: "Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan" (Lukas 1:44). Pelayanan Yohanes secara harfiah dimulai dengan sukacita atas kehadiran Yesus, bahkan sebelum ia bisa berbicara.
Setelah ia lahir, mulut Zakharia yang sempat dibungkam terbuka dan bernubuat tentang anaknya: "Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi, karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya" (Lukas 1:76). Lalu Lukas menutup masa kecilnya dengan satu ayat yang mengandung puluhan tahun sunyi: "Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel" (Lukas 1:80).
Allah membentuk suara-Nya di tempat yang tidak ada penonton.
Ketika waktunya tiba, Matius memperkenalkannya tanpa basa-basi: "Pada waktu itu datanglah Yohanes Pembaptis dan berseru di padang gurun Yudea: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya" (Matius 3:1-3). Dua hal menonjol di sini. Pertama, isi beritanya bukan program moral, tetapi kedatangan sebuah kerajaan: Raja sedang di ambang pintu, karena itu berbaliklah. Kedua, identitas Yohanes dijelaskan lewat Yesaya 40:3, teks penghiburan bagi umat buangan. Ia bukan sekadar pengkritik zaman; ia adalah tanda bahwa masa pembuangan rohani akan berakhir.
Pertobatan yang ia serukan sangat konkret. Kepada orang-orang beragama yang merasa aman karena garis keturunan, ia berkata: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat meluputkan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan" (Matius 3:7-8). Kepada orang banyak yang bertanya apa yang harus mereka lakukan, jawabannya menyentuh lemari dan dapur: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia memberikannya kepada yang tidak punya dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian" (Lukas 3:11). Pemungut cukai diminta berhenti memungut lebih dari tarif, tentara diminta berhenti merampas dan memeras. Baptisannya adalah tanda pertobatan, bukan upacara kosong.
Namun Yohanes tahu batas dirinya, dan ia mengumumkannya sendiri: "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api" (Matius 3:11). Suara mengumumkan; hanya Sang Firman yang bisa mengubah hati.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Yohanes berdiri persis di sambungan antara dua Perjanjian, dan hampir setiap unsur hidupnya mengutip Perjanjian Lama.
Maleakhi, kitab terakhir dalam susunan Perjanjian Lama kita, ditutup dengan janji tentang seorang pendahulu: "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!" (Maleakhi 3:1), dan kemudian, "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu" (Maleakhi 4:5). Empat ratus tahun kemudian, malaikat memakai bahasa itu untuk Yohanes: ia akan berjalan mendahului Tuhan "dalam roh dan kuasa Elia". Bukan kebetulan bahwa Markus melukiskan penampilannya seperti Elia: "Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan" (Markus 1:6). Pakaian itu adalah khotbah: nubuat lama sedang hidup kembali.
Padang gurun pun bukan pilihan estetika. Di padang gurun Israel dilahirkan sebagai umat, di padang gurun mereka diuji, dan lewat Yordan mereka masuk ke tanah perjanjian. Ketika Yohanes memanggil orang keluar dari kota, melewati Yordan, dan masuk kembali melalui air, ia sedang mengulang sejarah bangsanya dalam bentuk lambang: umat ini harus dilahirkan ulang, harus mulai dari awal, harus masuk sebagai orang yang dibersihkan.
Lalu ada gelar yang ia berikan kepada Yesus, kalimat paling tajam dan paling manis yang pernah keluar dari mulutnya: "Pada hari berikutnya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Dalam satu frasa ia merangkul seluruh Perjanjian Lama. Anak domba yang darahnya menyelamatkan rumah-rumah pada malam Paskah di Mesir. Anak domba yang setiap pagi dan senja dipersembahkan di Bait Allah, ribuan kali, tanpa pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Anak domba dalam Yesaya 53, yang dibawa ke pembantaian tanpa membuka mulut-Nya. Yohanes berkata: semua itu bertumpuk selama berabad-abad, dan sekarang berjalan ke arah kita dalam sosok seorang tukang kayu dari Nazaret. Bukan lagi dosa satu keluarga atau satu bangsa, melainkan "dosa dunia".
Di sinilah sudut pandang panduan ini terasa: seluruh Perjanjian Lama berfungsi seperti suara Yohanes, menunjuk ke depan dan kemudian mundur ketika yang ditunjuk tiba. Hukum, korban, bait, para nabi, semuanya jujur mengatakan, "Bukan aku." Yohanes adalah puncak dari kejujuran itu.
Yesus sendiri menegaskan tempat Yohanes dalam garis besar rencana Allah: "Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya" (Matius 11:11). Yohanes berdiri di ambang pintu, melihat Sang Mempelai, tetapi belum melihat salib, kubur yang kosong, dan Pentakosta. Kita yang paling sederhana pun hidup di sisi lain pintu itu, di dalam kegenapan yang hanya bisa ia tunjuk dari jauh. Kebesaran dalam Kerajaan Allah bukan soal prestasi, melainkan soal seberapa dekat kita dengan Kristus yang sudah datang.
Inti hidupnya
Tiga momen menentukan menjelaskan seluruh hidup Yohanes.
Yang pertama terjadi di air Yordan. "Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: Akulah yang perlu dibaptis olehmu, dan Engkau yang datang kepadaku? Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah. Dan Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Matius 3:13-17).
Keberatan Yohanes masuk akal. Baptisannya adalah baptisan pertobatan, dan Yesus tidak punya dosa untuk ditinggalkan. Tetapi Yesus tidak datang untuk mengaku dosa-Nya; Ia datang untuk berdiri di barisan orang berdosa, mengambil tempat mereka sejak hari pertama pelayanan-Nya. Salib sudah mulai kelihatan di air itu. Dan Yohanes, yang seumur hidupnya menunjuk ke arah lain, mendapat hadiah luar biasa: ia mendengar Bapa sendiri memperkenalkan Anak-Nya. Momen kepatuhan yang paling tidak nyaman baginya justru menjadi momen penyingkapan paling terang.
Yang kedua terjadi ketika popularitasnya menurun. Murid-muridnya gelisah karena orang mulai berpindah kepada Yesus. Jawaban Yohanes tidak defensif sama sekali. Ia memakai gambaran pernikahan: dirinya bukan mempelai, hanya sahabat mempelai yang berdiri di dekat pintu, mendengar suara mempelai laki-laki, lalu bersukacita. Kemudian keluarlah kalimat yang menjadi ringkasan hidupnya: "Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil" (Yohanes 3:30).
Ini bukan sikap rendah diri yang murung. Perhatikan kata "harus": ada keharusan ilahi di dalamnya, sebuah tatanan yang benar. Menyusut bukan kegagalan Yohanes, melainkan keberhasilannya. Sahabat mempelai yang berusaha menikahi pengantin adalah pengkhianat; sahabat mempelai yang tersenyum lalu melangkah ke samping sedang melakukan tepat apa yang seharusnya. Sukacita terdalam Yohanes lahir justru saat ia kehilangan panggung.
Yang ketiga terjadi di dalam sel penjara. Yohanes menegur Herodes karena mengambil isteri saudaranya: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" (Markus 6:18). Suara yang bebas di padang gurun akhirnya dikurung karena tidak mau melunak di depan istana. Dan di sanalah kekuatannya bertemu batasnya. "Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Matius 11:2-3).
Nabi yang pernah berseru "Lihatlah Anak domba Allah" kini bertanya apakah ia salah orang. Mungkin karena Yesus tidak membawa api penghakiman yang ia beritakan; mungkin karena Mesias yang menyembuhkan orang lain membiarkan pendahulu-Nya membusuk di penjara. Jawaban Yesus tidak menegur, melainkan mengarahkan pada bukti-bukti nubuat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, kabar baik diberitakan kepada orang miskin, "dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku" (Matius 11:6). Tidak lama sesudah itu, kepala Yohanes menjadi hadiah pesta ulang tahun. Ia mati tanpa pembebasan yang ia tanyakan, tetapi dengan pujian tertinggi dari mulut Tuhannya.
Yang kita pelajari dari Yohanes Pembaptis
Pertama, hidup sebagai suara membebaskan kita dari beban menjadi pusat. Yohanes tidak pernah berkata, "Aku Mesias." Ia berkata, "Aku bukan Mesias" (Yohanes 1:20). Ada kelegaan besar di dalam pengakuan itu. Kita tidak dipanggil untuk menyelamatkan keluarga kita, memperbaiki gereja kita, atau menanggung dunia di punggung kita. Kita dipanggil untuk menunjuk kepada Dia yang sanggup. Yohanes 1:8 mengatakan tentang dia: "Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu." Kalimat itu bisa menjadi deskripsi pekerjaan yang jujur bagi setiap orang percaya, setiap pengkhotbah, setiap orang tua, setiap pelayan Tuhan yang lelah karena diam-diam berusaha menjadi terang.
Kedua, pertobatan yang sejati menyentuh hal-hal yang bisa dihitung. Yohanes tidak pernah membiarkan orang pulang dengan perasaan religius yang hangat namun tanpa perubahan. Baju kedua diberikan. Tarif pajak dikembalikan pada yang seharusnya. Pemerasan dihentikan. Itulah yang dimaksud "hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan" (Matius 3:8). Buah bukan syarat agar Allah menerima kita; buah adalah tanda bahwa kita benar-benar sudah berbalik. Jika iman kita tidak pernah menyentuh rekening, jadwal, dan cara kita berbicara di rumah, mungkin kita baru mengagumi Yesus, belum berbalik kepada-Nya.
Ketiga, iman yang kuat tetap boleh bertanya di ruang yang gelap. Ini pelajaran yang paling menghibur. Yohanes bergumul, dan Yesus tidak mencabut gelarnya. Justru setelah pertanyaan dari penjara itu, Yesus memuji dia di depan orang banyak sebagai yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan perempuan. Allah tidak mengukur kita dari keteguhan perasaan kita, melainkan dari Kristus yang kita pegang, bahkan ketika pegangan itu bergetar. Ketika Anda bertanya di tengah kemoterapi, di tengah pernikahan yang dingin, di tengah doa yang seolah menabrak langit, Anda tidak sedang keluar dari barisan orang beriman. Anda sedang berdiri di samping Yohanes, dan Yesus mengirim jawaban kepada Anda juga: lihatlah apa yang Ia kerjakan, dan jangan berhenti percaya.
Cermin
Mari kita berhenti sejenak dari sejarah dan bicara tentang Anda.
Anda mungkin tidak pernah ingin menjadi Mesias bagi siapa pun. Tetapi periksa hati Anda sekali lagi. Bagaimana perasaan Anda ketika rekan kerja mendapat pujian atas ide yang sebenarnya Anda cetuskan? Apa yang terjadi di dalam ketika pelayanan orang lain di gereja tumbuh lebih cepat daripada milik Anda, ketika unggahan orang lain dibanjiri komentar sementara milik Anda sepi, ketika anak-anak Anda lebih terbuka kepada orang lain daripada kepada Anda? Kalimat "Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil" terdengar indah di kaus dan di dinding gereja, tetapi terasa seperti sayatan di ruang rapat dan di grup keluarga.
Yohanes mengecil tanpa kehilangan sukacita, karena identitasnya tidak dibangun dari perhatian orang. Ia tahu siapa dia: sahabat mempelai. Ia tahu suara siapa yang ia dengar. Dan bagaimana dengan Anda? Jika semua hal yang membuat Anda merasa berarti dilepaskan besok, jabatan, tubuh yang masih kuat, anak-anak yang membanggakan, pengaruh Anda, apa yang tersisa?
Ada juga sisi lain dari cermin ini, dan ini kabar baiknya. Mungkin Anda sudah merasa kecil, terlalu kecil. Anda merawat orang tua yang sakit tanpa ada yang melihat. Anda bekerja jujur sementara yang licik naik jabatan. Anda merasa hidup Anda terkurung, mirip sel Herodes, dan Anda mulai bertanya-tanya apakah Anda salah menaruh harapan. Ketahuilah bahwa Yohanes mati di dalam penjara itu, dan tetap disebut Yesus sebagai yang terbesar. Ukuran surga bukan ukuran ruang tamu manusia.
Anda tidak perlu menjadi terang. Anda hanya perlu menunjuk kepada-Nya, hari ini, dari tempat Anda berdiri sekarang.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak biasanya langsung tertarik pada Yohanes Pembaptis, karena ceritanya penuh gambar: jubah dari bulu unta, makanan belalang, sungai, suara yang berseru. Cara paling sederhana untuk menjelaskannya adalah dengan gambaran seseorang yang berjalan di depan tamu penting. Bayangkan seorang teman berlari lebih dulu ke rumah dan berkata, "Cepat, rapikan kamarmu, Yesus mau datang!" Itulah tugas Yohanes: menyuruh orang membereskan hati mereka, karena Yesus sudah dekat.
Untuk anak yang lebih kecil, tekankan dua hal: Yohanes sangat senang ketika Yesus datang, dan Yohanes suka menunjuk kepada Yesus, bukan kepada dirinya sendiri. Anda bisa mengajak anak menunjuk dengan jarinya sambil mengucapkan kalimat Yohanes, "Lihatlah Anak domba Allah." Untuk anak yang lebih besar, ceritakan juga bagian yang lebih berat: Yohanes berani mengatakan yang benar kepada raja, lalu dipenjara, dan bahkan pernah bertanya-tanya di dalam penjara. Anak yang sedang belajar bahwa hidup tidak selalu adil justru sangat dikuatkan oleh kejujuran cerita ini.
Hindari terlalu banyak detail kekerasan tentang kematiannya bagi anak kecil; cukup katakan bahwa Yohanes tetap setia sampai akhir dan sekarang bersama Tuhan. Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Yohanes Pembaptis untuk berbagai usia: untuk anak prasekolah (3 sampai 6 tahun) dengan bahasa yang sangat sederhana dan penuh gambar, untuk anak sekolah dasar (7 sampai 12 tahun) dengan alur cerita yang lebih lengkap, dan untuk remaja (12 tahun ke atas) yang siap mendiskusikan keberanian, keraguan, dan arti hidup untuk kemuliaan Allah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Yohanes Pembaptis dalam Alkitab?
Yohanes Pembaptis adalah nabi yang diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus Kristus. Ia anak imam Zakharia dan Elisabet, lahir secara ajaib ketika orang tuanya sudah lanjut usia, dan tinggal di padang gurun sampai ia mulai berkhotbah di lembah Yordan sekitar tahun 29 Masehi. Beritanya sederhana dan menusuk: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 3:2). Ia membaptis banyak orang sebagai tanda pertobatan, membaptis Yesus sendiri, memperkenalkan-Nya sebagai Anak domba Allah, lalu dipenjara dan dibunuh oleh Herodes karena menegur dosa raja itu secara terbuka.
Apakah Yohanes Pembaptis saudara sepupu Yesus?
Mereka memang berkerabat, meskipun Alkitab tidak menyebut istilah "sepupu" secara tepat. Malaikat berkata kepada Maria bahwa Elisabet adalah "sanakmu" (Lukas 1:36), jadi ibu mereka masih satu keluarga besar. Umur mereka hanya terpaut sekitar enam bulan. Menarik bahwa dalam Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis dua kali berkata, "aku sendiri pun tidak mengenal Dia" (Yohanes 1:31), yang berarti ia tidak mengenal Yesus sebagai Mesias sampai Allah menunjukkannya melalui turunnya Roh. Hubungan keluarga tidak otomatis berarti pengenalan rohani; itu selalu pemberian Allah.
Mengapa Yesus dibaptis padahal Ia tidak berdosa?
Yohanes sendiri kaget dan mencoba mencegah-Nya. Jawaban Yesus adalah, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Matius 3:15). Yesus tidak dibaptis untuk mengaku dosa, melainkan untuk mengambil tempat di antara orang berdosa yang Ia datang selamatkan, dan untuk memulai pelayanan-Nya dengan ketaatan penuh kepada rencana Bapa. Baptisan itu juga menjadi peristiwa pelantikan: Roh Kudus turun atas-Nya dan Bapa menyatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Matius 3:17).
Apa arti "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia"?
Kalimat dalam Yohanes 1:29 ini menyatukan seluruh sistem korban Perjanjian Lama dalam satu pribadi. Setiap anak domba Paskah dan setiap korban di Bait Allah hanya menutupi dosa untuk sementara dan harus diulang terus. Yohanes berkata bahwa Yesus adalah korban yang sesungguhnya, yang bukan menutupi tetapi menghapus dosa, dan bukan hanya bagi Israel melainkan bagi dunia. Kata "Lihatlah" penting: Yohanes tidak menyuruh orang berusaha lebih keras, ia menyuruh mereka memandang kepada Seseorang di luar diri mereka.
Apakah Yohanes Pembaptis adalah nabi Elia yang kembali?
Ketika ditanya langsung, Yohanes menjawab bahwa ia bukan Elia (Yohanes 1:21), maksudnya ia bukan Elia yang secara pribadi kembali ke bumi. Namun Yesus berkata tentang dia, "Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia" (Matius 17:12), dan murid-murid mengerti bahwa itu tentang Yohanes Pembaptis. Penjelasan malaikat dalam Lukas 1:17 menyatukan keduanya: Yohanes berjalan mendahului Tuhan "dalam roh dan kuasa Elia". Jadi ia menggenapi peran dan pelayanan Elia yang dijanjikan Maleakhi, bukan reinkarnasi tokohnya.
Mengapa Yohanes Pembaptis dipenjara dan dibunuh?
Karena ia menolak berdiam diri tentang dosa penguasa. Herodes Antipas mengambil Herodias, isteri saudaranya, dan Yohanes menegur dengan terus terang: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" (Markus 6:18). Herodes menahannya, sebagian karena tekanan Herodias, tetapi juga karena ia takut sekaligus tertarik pada Yohanes. Akhirnya, pada pesta ulang tahunnya, Herodes terpancing oleh sumpah gegabah setelah putri Herodias menari, dan meminta kepala Yohanes disajikan di sebuah talam. Ia mati sebagai martir kebenaran, bukan sebagai pemberontak politik.
Apa arti Matius 11:11 bahwa yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari Yohanes?
Yesus tidak sedang merendahkan Yohanes; Ia baru saja menyebutnya yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan perempuan. Yang dimaksud adalah soal posisi dalam sejarah keselamatan. Yohanes berdiri di ambang pintu dan hanya bisa menunjuk ke depan; ia mati sebelum salib, kebangkitan, dan pencurahan Roh Kudus. Orang percaya yang paling sederhana sekarang hidup di dalam kegenapan itu, mengenal pengampunan yang sudah selesai dikerjakan dan Roh yang tinggal di dalamnya. Kebesaran di dalam Kerajaan Allah diukur dari kedekatan dengan Kristus yang sudah datang, bukan dari prestasi rohani.
Apakah Yohanes Pembaptis kehilangan imannya di penjara?
Ia bergumul, tetapi ia tidak berhenti percaya. Buktinya justru arah pertanyaannya: ia mengirim murid-muridnya kepada Yesus, bukan menjauh dari Yesus. Pertanyaan "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Matius 11:3) menunjukkan seorang yang bingung karena harapannya tentang Mesias penuh api penghakiman tidak sesuai dengan kenyataan Yesus yang menyembuhkan dan mengasihi. Yesus menjawab dengan lembut, mengarahkan pada bukti nubuat yang tergenapi, lalu memuji Yohanes di depan orang banyak. Keraguan yang dibawa kepada Yesus tetap merupakan iman.
Apa bedanya baptisan Yohanes dan baptisan Kristen?
Baptisan Yohanes adalah tanda pertobatan yang mempersiapkan orang untuk menyambut Mesias yang akan datang. Paulus merangkumnya begitu: "Baptisan Yohanes adalah baptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak itu, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus" (Kisah Para Rasul 19:4). Baptisan Kristen dilakukan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan menandai persatuan dengan Kristus yang sudah mati dan bangkit. Karena itu di Efesus, orang-orang yang hanya mengenal baptisan Yohanes dibaptis kembali dalam nama Tuhan Yesus.
Apakah Yohanes Pembaptis benar-benar makan belalang dan madu hutan?
Ya, dan itu bukan gaya hidup eksentrik tanpa arti. Markus 1:6 mencatat jubah bulu unta, ikat pinggang kulit, belalang, dan madu hutan. Belalang termasuk makanan yang halal menurut hukum Taurat dan memang dimakan orang di daerah kering. Penampilan itu mengingatkan bangsa Israel pada nabi Elia dan menyampaikan pesan tanpa kata: Yohanes hidup di luar sistem kekuasaan dan kenyamanan Yerusalem, bebas dari kepentingan siapa pun, sehingga suaranya tidak bisa dibeli oleh istana maupun oleh para pemimpin agama.
Apa arti "Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil"?
Kalimat dalam Yohanes 3:30 ini muncul ketika murid-murid Yohanes cemas karena pengikutnya berpindah kepada Yesus. Yohanes menjawab dengan gambaran sahabat mempelai yang berbahagia mendengar suara mempelai laki-laki. Artinya, pengurangan dirinya bukan kekalahan melainkan tujuan; tugas sebuah suara memang selesai ketika Firman sudah didengar. Bagi kita, ini panggilan untuk melepaskan kebutuhan diakui dan dipuji, serta menemukan sukacita ketika Kristus, bukan nama kita, yang menjadi besar dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita.
Apakah Yohanes Pembaptis melakukan mukjizat?
Tidak satu pun tercatat, dan Injil Yohanes menyorotnya dengan jelas: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar" (Yohanes 10:41). Pengaruh Yohanes lahir dari kebenaran perkataannya, kekudusan hidupnya, dan ketepatan kesaksiannya tentang Yesus. Ini penghiburan besar bagi pelayanan yang tampak biasa: Anda tidak perlu hal spektakuler untuk dipakai Allah secara luar biasa. Kesetiaan menunjuk kepada Kristus sudah cukup untuk mengubah arah banyak hidup, bahkan berabad-abad sesudah Anda pergi.
Sebagai penutup
Yohanes Pembaptis mati muda, di dalam penjara, tanpa mukjizat, tanpa jabatan, tanpa melihat salib dan kubur yang kosong. Menurut hitungan manusia, hidupnya terputus di tengah. Menurut penilaian Yesus, tidak ada seorang pun yang lebih besar dari dia. Yang membuat perbedaan bukanlah pencapaiannya, tetapi arah jarinya. Sepanjang hidupnya ia berkata "bukan aku" dan "lihatlah Dia", dan ketika Sang Firman akhirnya berbicara, suara itu dengan sukacita menjadi sunyi.
Kalau Anda ingin melanjutkan perenungan ini, bacalah dua bagian secara berurutan dalam satu duduk: Lukas 1 dari awal sampai akhir, untuk melihat bagaimana Allah menenun pekerjaan-Nya jauh sebelum ada yang menyadarinya, lalu Yohanes 1 sampai 3, untuk mendengar sendiri bagaimana seorang nabi melepaskan pengikutnya kepada Kristus. Setelah itu tanyakan satu hal sederhana kepada Tuhan dalam doa: ke arah mana hidup saya sedang menunjuk hari ini? Jawaban yang jujur atas pertanyaan itu bisa lebih mengubah Anda daripada seratus rencana baru. Dan ingat, Anda tidak diminta menjadi terang. Anda diminta menunjuk kepada-Nya.
