MATIUS 3:17
Teksnya
Air Yordan masih menetes dari tubuh Yesus ketika langit terbuka dan sebuah suara terdengar, bukan bisikan batin, melainkan pengumuman: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Roh Allah turun seperti merpati, hinggap di atas-Nya, dan Bapa menyebut nama hubungan itu di depan saksi: Anak, dikasihi, diperkenan. Tidak ada daftar prestasi yang mendahuluinya. Yesus belum berkhotbah sepatah kata pun, belum menyembuhkan siapa pun, belum memanggil seorang murid. Yang Ia lakukan hanyalah turun ke dalam air bersama orang-orang berdosa yang mengaku dosa mereka, dan justru di situ Bapa berkata bahwa Ia berkenan. Perkenanan itu diucapkan atas seseorang yang sedang berdiri dalam barisan yang salah, di antara orang-orang yang membutuhkan pertobatan, sementara Ia sendiri tidak membutuhkannya.
Intinya
Inilah yang membuat ayat ini tajam secara etis: suara dari surga tidak berkata "Inilah Anak-Ku yang telah berhasil," tetapi "yang Kukasihi." Kasih mendahului pekerjaan. Perkenanan Allah bukan upah atas produktivitas Yesus; itu dasar dari mana pelayanan-Nya berangkat. Dan karena Yesus adalah Anak yang diperkenan, semua yang bersatu dengan Dia mendengar kalimat yang sama diucapkan atas diri mereka. Itu membongkar seluruh ekonomi batin kita yang mengukur nilai diri dari hasil: rapor anak, angka penjualan, pujian di rapat, jumlah orang yang mengandalkan kita. Tetapi jangan cepat-cepat menjadikannya bantal. Kalimat ini juga menuntut: Anak yang dikasihi itu memakai perkenanan Bapa bukan untuk mengamankan diri, melainkan untuk melangkah ke padang belantara dan akhirnya ke salib. Identitas yang diberi adalah identitas yang dibelanjakan, bukan disimpan.
Benang Merah
Suara itu merangkai dua kalimat lama menjadi satu. "Anak-Ku yang Kukasihi" bergema dari mazmur pelantikan raja, di mana Allah mengangkat seorang raja sebagai anak-Nya; "kepada-Nyalah Aku berkenan" bergema dari nyanyian tentang Hamba yang akan menanggung penderitaan bagi banyak orang. Raja dan Hamba diucapkan dalam satu napas, di atas kepala satu orang yang basah oleh air sungai. Di sinilah seluruh rencana penyelamatan mengunci: Israel dipanggil keluar dari air menuju padang gurun dan gagal di sana; Yesus keluar dari air menuju padang belantara dan bertahan. Ia mengambil tempat umat yang gagal, lalu menjalani ketaatan yang tidak pernah mereka jalani. Perkenanan Bapa atas Dia menjadi jalan agar perkenanan itu sampai kepada kita.
Cermin
Perhatikan apa yang terjadi dalam diri Anda ketika seseorang yang lebih muda dipromosikan mendahului Anda, atau ketika kiriman foto keluarga orang lain membuat rumah Anda terasa kecil. Yang tergoncang bukan rekening, melainkan kalimat yang diam-diam Anda pakai untuk menamai diri sendiri. Kalau namanya "aku berguna selama aku menghasilkan", maka setiap kegagalan menjadi vonis, dan setiap keberhasilan menjadi candu yang harus diulang. Yesus menerima nama-Nya sebelum bekerja, dan itu membuat Ia bebas: bebas menolak jalan pintas di padang gurun, bebas menyentuh orang kusta yang tak bisa membalas jasa, bebas diam di hadapan Pilatus. Kebebasan yang sama ditawarkan kepada Anda, tetapi hanya jika Anda berhenti mencari suara itu dari atasan, orang tua, atau kolom komentar.
Hari ini, sebutkan dengan suara terdengar satu prestasi yang selama ini Anda pakai untuk membuktikan diri, lalu katakan: "Ini bukan namaku. Aku dikasihi di dalam Anak yang diperkenan." Lalu diam satu menit.
Konteks
Yohanes membaptis di Yordan, bukan di Bait Allah. Itu pilihan yang menusuk. Pengampunan resmi diurus imam di Yerusalem, dengan korban, biaya, dan hierarki; Yohanes memindahkannya ke padang belantara, gratis, terbuka, dan menuntut pengakuan dosa di depan umum. Orang Farisi dan Saduki datang ke sana, dan disambut sebagai "keturunan ular beludak" yang tidak boleh berlindung di balik garis keturunan Abraham. Di tengah antrean orang-orang yang mengakui dosa itulah Yesus berdiri. Bagi mata pengamat, Ia tampak seperti satu lagi orang Galilea yang bermasalah. Justru di titik terendah pengenalan publik itu langit terbuka. Perkenanan Allah diumumkan di tempat yang dianggap pinggiran, bukan di pusat kekuasaan agama.
Detailnya
Kata "berkenan" menyimpan nuansa yang mudah hilang: bukan sekadar menyetujui, melainkan menikmati, menaruh kesenangan pada. Bapa tidak sedang memberi nilai lulus; Ia sedang menyatakan kegembiraan. Dan bentuk kalimatnya menunjuk pada sesuatu yang sudah mantap, bukan yang baru saja diraih di air Yordan. Ini penting untuk cara Anda membayangkan wajah Allah. Banyak orang percaya hidup dengan gambaran Allah yang menerima mereka dengan berat hati, seperti pengawas yang mengangguk singkat lalu kembali ke berkasnya. Ayat ini menggambar wajah lain: Bapa yang senang. Kalau Anda sulit memercayai bahwa Allah menikmati kehadiran Anda, mulailah bukan dengan mengukur diri, melainkan dengan melihat kepada siapa kalimat itu pertama diucapkan.
Kaitan dengan Nas Lain
Suara yang sama terdengar lagi di gunung pemuliaan, dengan satu tambahan: dengarkanlah Dia. Perkenanan Bapa tidak berhenti sebagai penghiburan; ia berubah menjadi perintah untuk taat kepada Sang Anak, termasuk ketika Ia berbicara tentang salib. Bandingkan juga dengan kapak di akar pohon dalam khotbah Yohanes: pohon dinilai dari buahnya. Kedua hal itu tidak bertabrakan. Buah bukan syarat agar dikasihi, melainkan bukti bahwa kasih itu sudah masuk ke akar. Orang yang berusaha menghasilkan buah demi memperoleh nama akan lelah dan pahit; orang yang sudah menerima nama akan berbuah tanpa perlu menghitungnya.
Refleksi
Suara siapa yang paling menentukan perasaan Anda tentang diri sendiri minggu ini, dan apa yang suara itu tuntut agar Anda tetap berharga?
Jika perkenanan Allah atas Anda sudah pasti di dalam Kristus, keputusan berisiko apa yang sebenarnya bisa Anda ambil, tetapi selama ini Anda hindari?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 3:17
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 3:17?
Tentang apakah MATIUS 3:17?
Apa konteks historis dari MATIUS 3:17?
Apa yang MATIUS 3:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 3:17 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak diam. Lewat Yohanes Engkau memperingatkan tentang "murka yang akan datang", dan peringatan itu adalah kasih. Aku bersyukur Engkau menegur aku sebelum terlambat, memanggilku bertobat dan bukan membiarkanku berjalan terus tanpa sadar.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi