FILIPI 4
Teks
Dua perempuan bertengkar di Filipi, dan seluruh gereja tahu. Paulus, dari sel penjaranya, menulis surat penuh sukacita yang justru berpuncak pada nasihat praktis: berdirilah teguh, berdamailah, bersukacitalah, jangan khawatir, pikirkan hal-hal yang mulia. Ia menutup dengan ucapan terima kasih yang hangat atas kiriman jemaat, dan pengakuan bahwa ia telah belajar, benar-benar belajar, merasa cukup dalam segala keadaan.
Inti
Bayangkan Paulus mendiktekan surat ini. Rantainya berdenting pelan setiap kali ia menggerakkan tangan. Ia baru saja menulis kalimat besar tentang kewargaan surgawi (pasal 3), dan sekarang, tanpa transisi yang halus, ia menyebut dua nama: Euodia. Sintikhe. Kita tidak tahu apa yang mereka perdebatkan. Paulus tidak menjelaskan. Ia hanya "sangat memohon" mereka "hidup rukun dalam Tuhan."
Inilah jantung pasal ini: sukacita yang Paulus khotbahkan bukanlah perasaan yang melayang di atas kenyataan. Sukacita itu turun ke dalam pertengkaran nyata antara dua perempuan yang pernah "bekerja keras bersamaku demi pelayanan Injil." Damai sejahtera Allah "yang melampaui segala pengertian" tidak berarti damai yang tidak dapat dimengerti. Artinya damai yang lebih besar daripada situasi yang tampak mustahil didamaikan. Damai itu memelihara, kata Paulus, "hati dan pikiranmu", seperti pasukan penjaga di gerbang kota.
Benang Merah
Perhatikan kalimat kecil di ayat 5: "Tuhan sudah dekat." Satu frasa, dua arah. Ia dekat dalam waktu, kedatangan-Nya kembali sudah di ambang pintu. Ia dekat dalam ruang, hadir sekarang, di antara kita, mendengar doa. Kedua makna itu berlaku, dan justru gabungan itulah yang menyalakan seluruh nasihat pasal ini.
Sukacita Paulus bukan optimisme Yunani, juga bukan Stoisisme meski sekilas mirip. Stoa mengajar mencukupkan diri melalui pengendalian batin; Paulus mengaku ia dapat menanggung segala sesuatu "melalui Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Perbedaannya seluas jurang. Kristus yang bangkit dan akan datang kembali adalah alasan mengapa kekhawatiran boleh dibongkar dan diserahkan. Di sini Perjanjian Lama bergema pelan: umat yang menantikan Tuhan, yang tidak khawatir tentang makanan besok karena manna cukup untuk hari ini.
Cermin
Anda mungkin tidak sedang berdebat dengan seseorang di gereja tentang pelayanan. Tetapi Anda tahu bagaimana rasanya membawa dendam ke bangku minggu pagi, menyanyikan lagu pujian sambil menghindari tatapan seseorang di seberang ruangan. Paulus tidak menyuruh Anda menekan konflik itu. Ia menyebut namanya di depan seluruh jemaat. Rekonsiliasi bukan urusan pribadi antara Anda dan Tuhan; jemaat ikut menanggung.
Dan kekhawatiran. Rekening yang menipis, hasil pemeriksaan medis yang belum keluar, anak yang menjauh dari iman. "Janganlah khawatir tentang apa pun juga" terdengar hampir kejam kalau dibaca tanpa kalimat berikutnya. Paulus tidak berkata: tenang saja, semua akan baik-baik. Ia berkata: pindahkan kekhawatiran itu ke tempat lain. Nyatakan. Mohon. Bersyukur. Ketiganya sekaligus.
Pertanyaan
Bagaimana mungkin Paulus, di penjara, tidak tahu apakah ia akan hidup atau mati, menulis "bersukacitalah selalu"? Bukankah ini menuntut sesuatu yang tidak manusiawi?
Saya pikir kita harus membiarkan pertanyaan ini menggantung sedikit. Paulus tidak berkata "berbahagialah". Sukacita, dalam pemahamannya, bukan suasana hati yang harus dipompa. Sukacita adalah orientasi: ke arah siapa saya berdiri? Ia berkata "bersukacitalah dalam Tuhan", dua kali, seakan-akan tahu bahwa perintah ini akan tergelincir kalau tidak diikat dengan tegas pada objeknya. Tetapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganggu di sini. Bagi orang yang sedang berduka, ayat ini bisa terasa seperti tuntutan yang mustahil. Mungkin justru itu inti mustahilnya: hanya Roh Kudus yang dapat menumbuhkannya, bukan tekad kita.
Tokoh Utama
Paulus dalam pasal ini sangat manusiawi. Ia menyebut jemaat Filipi "sukacita dan kebanggaanku" dengan kehangatan yang hampir memerah. Ia mengakui, dengan kejujuran yang jarang di antara para pemimpin, bahwa ia "telah belajar" merasa cukup, artinya dulu ia tidak bisa. Ada kurva pertumbuhan di baliknya. Kekurangan mengajarinya, kelimpahan mengajarinya. Keduanya sekolah.
Dan ada humor halus di ayat 17: "bukan bantuan itu yang aku cari." Ia buru-buru menjelaskan agar tidak terdengar seperti pengemis rohani. Namun kemudian, dengan bahasa liturgis, ia menyebut pemberian mereka "persembahan yang harum, kurban yang berkenan." Uang yang dikirim untuk seorang tahanan menjadi ibadah. Itulah cara Paulus melihat dunia: tidak ada tindakan kasih yang jatuh di luar altar Allah.
Detail
Frasa "buku kehidupan" di ayat 3 layak diperhatikan. Paulus menyebut Klemens dan rekan-rekan sekerjanya, "yang nama-namanya tertulis dalam buku kehidupan." Ini bukan kalimat ornamen. Di dunia Romawi, warga kota tercatat dalam daftar sipil. Kalau nama Anda ada di sana, Anda milik kota itu, Anda punya hak, Anda punya rumah.
Paulus, warga Roma yang sedang menunggu keputusan Kaisar, tahu betul apa artinya nama dalam daftar. Ia berkata: rekan-rekan pelayanan yang tidak kalian kenal namanya, yang mungkin tidak pernah masuk sejarah, nama mereka tercatat di daftar yang lebih tinggi. Ini menghibur perempuan-perempuan yang bertengkar itu juga. Perselisihan mereka tidak menghapus nama mereka. Tetapi justru karena nama itu tercatat, damai di antara mereka menjadi mendesak.
Refleksi
*Kekhawatiran manakah yang paling sulit Anda pindahkan dari benak ke doa, dan mengapa justru
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Philippians 4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti FILIPI 4?
Tentang apakah FILIPI 4?
Apa konteks historis dari FILIPI 4?
Apa yang FILIPI 4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana FILIPI 4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Philippians 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Euodia dan Sintikhe sedang berselisih, dan justru di situ Paulus menulis bahwa nama mereka "tertulis dalam Kitab Kehidupan." Pertengkaran mereka tidak menghapus nama itu. Mereka tetap disebut orang-orang yang berjuang bersamanya dalam Injil. Siapa saudara seiman yang sedang sulit kaudekati hari ini? Namanya pun ada di sana.
Terima kasih, Tuhan, karena sukacita yang Engkau berikan tidak bergantung pada keadaanku, tetapi pada diri-Mu yang tidak berubah. Aku bersyukur Engkau memanggilku "bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan", bahkan saat hatiku lelah, sebab Engkau sendirilah sumber sukacita itu.
Terima kasih, Tuhan, untuk salam sederhana yang menyeberangi jarak dan tembok penjara. Aku bersyukur Engkau menyebutku "orang kudus dalam Kristus Yesus", dan memberiku saudara-saudara yang mengingatku dalam doa serta menitipkan salam, supaya aku tahu bahwa aku tidak sendirian.
Perhatikan kata kecil ini: "Allahku akan memenuhi segala kebutuhanmu." Paulus tidak berkata "Allah" saja, tapi "Allahku". Ia bicara dari dalam penjara, tentang Pribadi yang ia kenal sendiri. Dan janji ini ia berikan kepada orang-orang yang baru saja memberi dari kekurangan mereka. Yang berani membuka tangan, dialah yang tahu betapa dalamnya kekayaan Allah.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
