ROMA 4
Teks
Paulus membawa Abraham ke ruang sidang. Jika bapa leluhur bangsa Yahudi itu dibenarkan karena perbuatannya, ia punya alasan bermegah, tapi tidak di hadapan Allah. Kitab Suci sendiri berkata: Abraham percaya, dan itu diperhitungkan sebagai kebenaran, jauh sebelum ia disunat, jauh sebelum ada Hukum Taurat. Maka janji Allah menjangkau siapa saja yang percaya, Yahudi maupun bukan, dan berpuncak pada Yesus yang dibangkitkan demi pembenaran kita.
Inti
Yang Paulus lakukan di pasal ini lebih tajam daripada kelihatannya. Ia tidak sekadar berkata bahwa iman itu penting. Ia mengambil satu ayat pendek dari Kejadian 15:6, "Abraham percaya kepada Allah dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran," lalu mengurai seluruh logika keselamatan dari sana. Kata kuncinya adalah logizomai, "diperhitungkan", istilah pembukuan. Kebenaran bukanlah saldo yang kita kumpulkan lewat perbuatan baik lalu ditagih dari Allah sebagai hak. Kebenaran adalah sesuatu yang Allah catatkan ke rekening orang yang sebenarnya tidak punya apa-apa untuk disetor. Itulah kasih karunia: bukan upah, melainkan hadiah.
Benang Merah
Paulus sedang membaca Perjanjian Lama dengan sangat teliti. Ia memilih Abraham sebelum sunat (Kejadian 15 mendahului Kejadian 17) untuk membuktikan bahwa iman lebih dahulu daripada tanda lahiriah. Lalu ia menyandingkan Abraham dengan Daud dari Mazmur 32, "Diberkatilah orang yang dosanya tidak diperhitungkan oleh Tuhan." Dua saksi besar Perjanjian Lama, seorang bapa bangsa dan seorang raja, bersaksi tentang hal yang sama: Allah membenarkan orang berdosa. Dan benang itu tidak berhenti sampai di Golgota. Ayat 25 mengikat semuanya pada Yesus, "yang diserahkan karena pelanggaran-pelanggaran kita, dan yang dibangkitkan demi pembenaran kita." Iman Abraham kepada Allah yang menghidupkan yang mati kini menjadi iman kita kepada Allah yang membangkitkan Yesus.
Cermin
Pasal ini menelanjangi sesuatu yang halus dalam diri kita: keinginan untuk memiliki alasan bermegah. Bukan kemegahan kasar seperti orang yang menyombongkan uang atau prestasi, melainkan kemegahan rohani yang lebih licin. Kita ingin merasa bahwa doa pagi kita, kesetiaan ke gereja, atau pengorbanan diam-diam bagi keluarga sedikit banyak membuat kita layak. Ketika hidup terasa berat, kita diam-diam menagih Allah, seolah Ia berutang. Paulus memotong urat itu. Bacalah ayat 5 pelan-pelan: "Kepada orang yang tidak bekerja, tetapi yang percaya kepada Dia yang membenarkan orang tidak benar." Yang dibenarkan Allah bukan orang yang setengah baik, melainkan "orang tidak benar". Itu Anda dan saya, tanpa cadangan.
Pertanyaan
Lalu untuk apa perbuatan baik? Jika iman saja yang diperhitungkan, mengapa masih bergumul mengejar kekudusan? Paulus tidak menjawabnya di pasal 4, dan itu penting untuk diakui. Ia sengaja menunda jawabannya sampai pasal 6, di mana ia berkata bahwa orang yang telah dibaptis ke dalam kematian Kristus tidak mungkin lagi hidup dalam dosa. Tapi di sini, di pasal 4, ia membiarkan ketegangan itu terbuka. Dan mungkin memang harus begitu. Sebab setiap kali kita terburu-buru menyeimbangkan iman dengan perbuatan, kita cenderung menyelundupkan kembali sedikit kemegahan. Ada saatnya kita hanya perlu berdiri di hadapan ayat 5 tanpa syarat pengaman.
Konteks
Surat Roma ditulis kepada jemaat campuran, Yahudi dan bukan Yahudi, yang saling curiga. Orang Yahudi Kristen membawa warisan sunat, Taurat, dan Abraham. Orang bukan Yahudi merasa terancam dianggap warga kelas dua. Dengan mengangkat Abraham, Paulus menyentuh titik paling sensitif: siapa pemilik sah janji Allah? Jawabannya mengejutkan pembaca Yahudi. Abraham dibenarkan ketika ia masih "kafir", belum bersunat, belum punya Taurat karena Taurat baru datang berabad kemudian lewat Musa. Jadi bapa iman ini secara kronologis lebih dulu menjadi bapa orang bukan Yahudi daripada bapa orang Yahudi. Ini bukan trik retoris. Ini pembacaan Kejadian yang cermat, dan ia mengubah peta identitas umat Allah.
Detail
Perhatikan ayat 17: Allah "yang memberi hidup kepada yang mati dan yang memanggil sesuatu yang belum ada menjadi ada." Dua deskripsi ini bukan hiasan puitis. Yang pertama menggemakan kebangkitan; yang kedua menggemakan penciptaan. Paulus sedang mengatakan bahwa iman Abraham berdiri di antara Kejadian 1 dan Paskah. Ketika Abraham memandang tubuhnya yang "sudah hampir mati" dan rahim Sara yang mandul, ia percaya kepada Allah yang bekerja persis di titik ketiadaan itu. Ayat 19 tidak menyembunyikannya: Abraham melihat kenyataan biologis dengan jujur, tetapi tidak menjadi lemah. Iman di sini bukan penyangkalan atas fakta yang keras, melainkan pengakuan bahwa Allah lebih besar daripada fakta. Kita percaya kepada Allah yang sama, sekarang dengan bukti kubur kosong di belakang kita.
Refleksi
Di titik mana dalam hidup Anda diam-diam masih mencoba mengumpulkan "hak" di hadapan Allah, bukan menerima "hadiah"?
Apa artinya bagi Anda hari ini bahwa Allah "memanggil sesuatu yang belum ada menjadi ada", di ruang mana Anda perlu mempercayai Dia justru karena tidak ada yang bisa Anda pegang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 4?
Tentang apakah ROMA 4?
Apa konteks historis dari ROMA 4?
Apa yang ROMA 4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus menutup pasal 4 dengan kalimat yang menakjubkan tentang Yesus, "yang telah diserahkan karena pelanggaran-pelanggaran kita dan yang telah dibangkitkan untuk pembenaran kita."
Perhatikan: salib dan kebangkitan tidak bisa dipisahkan. Kalau Yesus hanya mati, dosamu tertutup, tapi kamu tidak akan pernah tahu apakah Bapa menerima pembayaran itu. Kebangkitan adalah tanda terima Allah. Utangmu sudah lunas, dan Bapa sendiri yang menandatanganinya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
