Tokoh Alkitab

Siapa Abraham dalam Alkitab: Bapa Orang Beriman

Pendahuluan

Bayangkan seorang lelaki tua berdiri di depan tendanya di malam hari. Angin gurun dingin. Di tangannya tidak ada peta, tidak ada surat jaminan, tidak ada anak yang menjadi ahli warisnya. Yang ada hanyalah suara, suara yang berkata: "Pergilah." Dan ia pergi. Tanpa tahu ke mana.

Cerita Abraham dimulai dari titik itu, dan dari sanalah seluruh kisah keselamatan bergerak. Bukan dari sebuah kuil yang megah, bukan dari seorang raja yang perkasa, melainkan dari satu orang yang percaya pada janji Allah ketika tidak ada apa pun yang bisa dilihat.

Di halaman ini kita akan menelusuri hidup Abraham dari panggilan Allah atas dirinya di Haran sampai gunung Moria, dari kegagalan-kegagalannya sampai iman yang membuat Paulus dan penulis Ibrani menyebutnya bapa. Anda akan melihat mengapa ia disebut bapa orang beriman, dan mengapa gelar itu sesungguhnya menyangkut Anda juga.

Sudut pandang panduan ini

Banyak tulisan tentang Abraham menyajikan hidupnya sebagai daftar peristiwa: pindah, punya anak, diuji, mati. Panduan ini mengambil sudut berbeda. Kita akan membaca Abraham sebagai orang yang belajar percaya dalam kegelapan, bukan sebagai pahlawan iman yang tanpa cacat.

Justru dalam pergumulan, kebohongannya, kesabarannya yang habis, dan malam-malamnya yang panjang, kita menemukan mengapa Alkitab memanggilnya bapa orang beriman. Iman Abraham bukan iman yang sempurna, tetapi iman yang bertahan. Dan itulah warisan yang Tuhan berikan kepada kita: bukan kekuatan untuk tidak pernah goyah, melainkan janji yang lebih kuat dari kegoyahan kita.

Apa kata Alkitab tentang Abraham?

Abraham pertama kali muncul di akhir Kejadian 11, sebagai keturunan Sem, anak Nuh. Namanya semula Abram, yang berarti "bapa yang mulia". Ia tinggal di Ur-Kasdim, sebuah kota maju di Mesopotamia, sebelum keluarganya pindah ke Haran. Di sanalah, ketika ia sudah berumur tujuh puluh lima tahun, Allah memanggilnya.

Panggilan itu tercatat dalam Kejadian 12:1-3: "TUHAN berfirman kepada Abram, 'Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dan dari rumah ayahmu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan menjadikanmu bangsa yang besar. Aku akan memberkatimu dan membuat namamu masyhur, dan kamu akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkatimu, dan siapa yang mengutukmu akan Kukutuk. Melalui kamu, semua kaum di bumi akan diberkati.'"

Perhatikan strukturnya. Allah meminta Abraham melepaskan tiga hal: negerinya, sanak saudaranya, rumah ayahnya. Segala sesuatu yang memberi rasa aman kepada manusia kuno. Sebagai gantinya, Allah menawarkan tujuh janji. Bangsa, berkat, nama, perlindungan, dan yang paling mengejutkan: berkat untuk semua kaum di muka bumi. Sejak awal, panggilan Abraham tidak pernah hanya tentang Abraham. Sejak awal, ini tentang dunia.

Bertahun-tahun berlalu tanpa anak. Abraham tua, Sara mandul. Lalu datanglah malam yang mengubah segalanya. Allah membawa Abraham keluar dan menyuruhnya memandang bintang-bintang, berjanji keturunannya akan sebanyak itu. Dan kemudian ayat yang menjadi jantung seluruh Alkitab: "Abram percaya kepada TUHAN, dan Dia memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Kejadian 15:6)

Ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah kalimat yang akan dikutip Paulus untuk menjelaskan Injil itu sendiri. Abraham dibenarkan bukan karena ia berbuat baik, bukan karena ia disunat, bukan karena ia menuruti Taurat, tetapi karena ia percaya. Kebenaran itu diperhitungkan kepadanya sebagai anugerah.

Beberapa tahun kemudian, ketika Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun, Allah menampakkan diri lagi dan mengubah namanya. Kejadian 17:5 mencatat: "Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa."

Sebuah nama baru, sebuah identitas baru. Abram, "bapa yang mulia", menjadi Abraham, "bapa banyak bangsa". Nama itu diberikan sebelum Ishak lahir. Abraham berjalan-jalan selama bertahun-tahun dengan nama yang secara lahiriah adalah lelucon: bapa banyak bangsa, padahal ia belum punya satu anak sah pun. Tetapi nama itu adalah janji Allah yang harus ia percayai setiap kali orang memanggilnya.

Benang merah yang mengalir dalam Alkitab

Abraham tidak berdiri sendiri di halaman-halaman Kejadian. Ia adalah simpul yang mengikat seluruh cerita Alkitab menjadi satu.

Dalam Perjanjian Lama, seluruh Israel memahami identitas mereka sebagai "keturunan Abraham". Ketika Musa berhadapan dengan Firaun, Allah memperkenalkan diri sebagai "Allah Abraham, Ishak, dan Yakub". Ketika Daud memerintah, ia memerintah atas tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Ketika para nabi memanggil bangsa itu untuk bertobat, mereka mengingatkan umat pada perjanjian dengan Abraham. Seluruh sejarah Israel adalah pembentangan janji yang diberikan di Kejadian 12.

Tetapi ada masalah. Israel gagal. Berkali-kali. Mereka menjadi bangsa, ya, tetapi mereka tidak menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Mereka justru menjadi seperti bangsa-bangsa itu. Pembuangan ke Babel terasa seperti pembatalan janji Abraham.

Lalu datanglah Perjanjian Baru, dan segalanya menjadi jelas. Matius membuka Injilnya dengan kalimat: "Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham." Yesus adalah keturunan itu. Yesus adalah anak yang dinantikan. Dan dalam Dia, berkat kepada segala bangsa akhirnya mengalir.

Paulus menegaskannya dengan kekuatan penuh dalam Galatia 3:7: "Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham." Bukan darah yang menentukan siapa anak Abraham. Bukan tanah, bukan sunat, bukan Taurat. Melainkan iman.

Iman adalah paspor menuju keluarga Abraham.

Roma 4:3 mengulangi pola yang sama: "Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? 'Lalu percayalah Abraham kepada Allah, dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.'" Paulus dengan sengaja memilih Abraham untuk menjelaskan pembenaran oleh iman, karena Abraham hidup sebelum Taurat, sebelum sunat, sebelum Bait Suci. Ia dibenarkan murni oleh percaya pada janji. Dan itulah pola untuk semua orang percaya di segala zaman.

Ibrani 11 mengambil sudut lain. Di sana Abraham dilukiskan sebagai pengembara yang mencari kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Ibrani 11:8 berbunyi: "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui."

Inilah benang merah itu. Dari Ur ke Kanaan, dari Kanaan ke Kristus, dari Kristus ke Yerusalem yang baru. Abraham berjalan menuju sesuatu yang tidak pernah ia lihat sepenuhnya di bumi ini, dan setiap orang percaya berjalan mengikuti jejaknya.

Inti hidupnya

Ada tiga momen yang menjadi tiang penopang hidup Abraham. Bila kita memahami ketiganya, kita memahami mengapa ia disebut bapa orang beriman.

Momen pertama adalah panggilan di Haran. Abraham berumur tujuh puluh lima, sudah mapan, sudah berakar. Panggilan Allah menuntut ia meninggalkan segalanya menuju tempat yang bahkan belum disebutkan namanya. Ibrani 11:8 menekankan hal ini: ia berangkat "dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui". Iman di sini bukanlah keyakinan bahwa hasilnya akan baik. Iman adalah kesediaan untuk berjalan padahal jalannya belum terlihat. Di sinilah pola pemuridan Kristen sesungguhnya dibentuk: bukan berjalan setelah memahami segalanya, melainkan percaya di tengah ketidaktahuan.

Momen kedua adalah malam di bawah bintang-bintang, yang berpuncak di Kejadian 15:6. Abraham sudah menunggu bertahun-tahun. Ia bahkan sempat berpikir bahwa ahli warisnya adalah Eliezer, hambanya. Ia sudah lelah. Tetapi Allah tidak hanya mengulangi janji, Ia memperluasnya. Dan Abraham percaya. Dalam kegelapan, tanpa bukti fisik, ia mengikatkan hatinya pada firman Allah. Momen ini penting karena dari sinilah seluruh doktrin pembenaran oleh iman lahir. Bukan dari Perjanjian Baru, melainkan dari malam di padang gurun ini.

Iman lahir bukan di terang, tetapi di gelap.

Momen ketiga adalah gunung Moria. Kejadian 22:2 mencatat perintah yang paling menyayat: "Firman-Nya: 'Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.'" Perhatikan bagaimana Allah menumpuk kata-kata: anakmu, tunggalmu, yang engkau kasihi, Ishak. Setiap kata seperti pisau. Abraham telah menunggu dua puluh lima tahun untuk anak ini. Dan sekarang Allah memintanya kembali.

Yang mengejutkan adalah Abraham bangun pagi-pagi. Tidak menawar, tidak menunda. Ia berjalan tiga hari ke Moria bersama Ishak, membawa kayu, api, dan pisau. Ketika Ishak bertanya di mana anak dombanya, Abraham menjawab: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya." Kalimat ini bukan tipuan untuk menenangkan Ishak; itu adalah nubuat yang tidak sepenuhnya Abraham pahami sendiri.

Ketiga momen ini membentuk pola: panggilan, janji, pengorbanan. Dan pola itulah yang kelak digenapi di gunung lain, tidak jauh dari Moria, di mana Bapa surgawi tidak menahan Anak-Nya yang tunggal, yang Ia kasihi.

Yang kita pelajari dari Abraham

Pertama, iman adalah kepercayaan yang berjalan, bukan sekadar perasaan yang tenang. Abraham tidak diselamatkan karena ia merasa dekat dengan Allah. Ia diselamatkan karena ia mempertaruhkan hidupnya pada firman Allah. Bila hari ini Anda bertanya apakah Anda benar-benar percaya, jangan periksa perasaan Anda; periksa kaki Anda. Ke mana Anda berjalan? Apa yang Anda tinggalkan? Apa yang Anda pertaruhkan?

Kedua, kegagalan bukanlah akhir dari kisah iman. Abraham berbohong dua kali tentang Sara, mengaku bahwa ia adik, bukan istrinya, karena ia takut dibunuh. Ia tidur dengan Hagar karena tidak sabar menunggu janji Allah. Ia menertawakan Allah ketika mendengar bahwa Sara akan hamil di umur sembilan puluh. Alkitab tidak menyensor semua ini. Justru sebaliknya, Alkitab mencatatnya dengan jujur, supaya kita tahu bahwa bapa orang beriman pun rapuh. Dan bila Allah dapat memakai Abraham, Ia dapat memakai kita. Iman tidak dibatalkan oleh kegagalan; iman dimurnikan oleh kegagalan yang membawa kita kembali kepada Allah.

Ketiga, panggilan Allah selalu lebih besar dari diri kita sendiri. Abraham dipanggil bukan hanya untuk menjadi kaya atau punya anak. Ia dipanggil supaya melalui dia, semua bangsa diberkati. Bila Anda hari ini hanya berpikir tentang berkat Allah untuk hidup pribadi Anda, Anda hanya menangkap separuh dari cerita Abraham. Berkat yang Anda terima ada untuk mengalir keluar. Keluarga Anda, tetangga Anda, kota Anda, bangsa-bangsa yang belum mendengar Injil. Anda tidak diberkati untuk berhenti pada diri sendiri.

Dan mungkin pelajaran yang paling dalam: Abraham hidup dengan janji, bukan dengan penggenapan. Ia mati sebelum melihat keturunannya menjadi bangsa besar. Ia hanya memiliki sebidang kecil tanah di Kanaan, yaitu kuburan Sara. Tetapi ia mati dalam iman. Ibrani mengatakan mereka semua "mati dalam iman, tanpa memperoleh apa yang dijanjikan". Iman sejati sanggup mati di jalan, karena iman melihat lebih jauh dari mata.

Cermin

Bila Anda membaca sampai sejauh ini, ada baiknya berhenti sejenak. Karena Abraham tidak dimaksudkan hanya untuk dikagumi dari kejauhan.

Apa yang Allah minta Anda tinggalkan hari ini yang belum Anda tinggalkan? Mungkin bukan negeri atau rumah, tetapi rasa aman yang Anda genggam terlalu erat. Pekerjaan yang menjadi identitas Anda. Hubungan yang menahan Anda dari ketaatan. Rencana masa depan yang Anda susun rapi tanpa pernah bertanya kepada Allah. Panggilan Abraham dimulai dengan satu kata: pergilah. Kadang-kadang Allah masih memakai kata yang sama.

Dan Ishak Anda, siapa dia? Apa yang telah Allah berikan yang sekarang menjadi lebih penting daripada Sang Pemberi sendiri? Bisa jadi anak Anda, karier Anda, tabungan Anda, kesehatan Anda, reputasi Anda. Kejadian 22 tidak pernah nyaman dibaca, karena setiap orang percaya cepat atau lambat berjalan ke Moria versinya sendiri. Bukan karena Allah kejam, tetapi karena Ia tahu apa yang mudah menggantikan Dia di hati kita.

Mungkin hari ini Anda sedang berjalan bertahun-tahun dengan janji yang belum digenapi. Doa yang belum dijawab. Anak yang belum kembali. Penyakit yang belum sembuh. Panggilan yang belum jelas. Anda merasa Allah lambat. Ingatlah: Abraham menunggu dua puluh lima tahun. Dan pada akhirnya, Allah tidak terlambat satu hari pun.

Allah menepati janji-Nya di jam-Nya sendiri.

Iman Anda tidak diukur dari seberapa cepat Anda melihat hasilnya, tetapi dari apakah Anda masih berjalan ketika hasilnya belum kelihatan.

Dijelaskan untuk anak-anak

Cara paling sederhana menceritakan Abraham kepada anak-anak adalah begini: Abraham adalah seorang bapak yang sudah sangat tua yang belum punya anak. Suatu hari Tuhan berbicara kepadanya dan berkata, "Ikuti Aku, dan Aku akan memberikan kepadamu keluarga yang besar sekali, sebanyak bintang di langit." Abraham percaya, walaupun ia tidak tahu ke mana ia pergi. Dan bertahun-tahun kemudian, Tuhan benar-benar memberinya seorang anak bernama Ishak. Dari keluarga Abraham inilah kemudian lahir bangsa Israel, dan dari bangsa itulah kemudian lahir Tuhan Yesus.

Yang penting untuk ditekankan kepada anak: Abraham bukan pahlawan karena ia kuat atau pintar, melainkan karena ia percaya pada Tuhan. Percaya berarti mengikuti Tuhan meskipun kita belum tahu semuanya. Anak-anak sangat mudah memahami hal ini, karena mereka setiap hari mempercayai orang tua mereka tanpa mengerti semua alasan.

Kisah Abraham dapat dibawakan berbeda-beda tergantung usia. Untuk anak-anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun, kita menyorot gambar Abraham memandang bintang dan tersenyum, cerita sederhana tentang percaya kepada Tuhan yang setia. Untuk anak-anak sekolah dasar usia tujuh sampai dua belas tahun, kita dapat menambahkan kisah Ishak dan gunung Moria dengan hati-hati, menunjukkan bagaimana Tuhan menyediakan. Dan untuk remaja usia dua belas ke atas, kita bisa menghubungkan iman Abraham dengan Injil Yesus dan pembenaran oleh iman. Faith.network menyediakan penjelasan khusus untuk setiap tingkatan usia ini, sehingga Anda dapat memilih yang paling sesuai untuk anak-anak Anda.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa Abraham disebut bapa orang beriman?

Abraham disebut bapa orang beriman karena ia adalah orang pertama dalam Alkitab yang secara eksplisit dibenarkan oleh iman, bukan oleh perbuatan atau keturunan. Kejadian 15:6 mengatakan bahwa ia percaya kepada TUHAN dan hal itu diperhitungkan sebagai kebenaran. Paulus dalam Roma 4 dan Galatia 3 memakai Abraham sebagai contoh utama, menunjukkan bahwa setiap orang yang hidup dari iman, entah Yahudi atau bukan, adalah anak rohani Abraham. Ia adalah cetakan iman yang kelak ditawarkan kepada seluruh dunia dalam Kristus.

Berapa umur Abraham ketika dipanggil Tuhan?

Kejadian 12 mencatat bahwa Abraham berumur tujuh puluh lima tahun ketika ia meninggalkan Haran atas panggilan Tuhan. Ia sudah berada di puncak usia dewasa, sudah mapan, sudah punya kekayaan dan hamba-hamba. Panggilan itu bukan datang kepada seorang muda yang belum punya apa-apa, melainkan kepada seorang tua yang harus melepaskan segala yang telah ia bangun. Detail ini penting: ketaatan Abraham menuntut ia mempertaruhkan seluruh kehidupan yang sudah tersusun, bukan sekadar kehidupan yang belum dimulai.

Apa perbedaan antara Abram dan Abraham?

Abram berarti "bapa yang mulia", sedangkan Abraham berarti "bapa banyak bangsa". Perubahan nama terjadi di Kejadian 17:5 ketika Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun, sebagai tanda perjanjian yang Allah kokohkan dengannya. Dalam budaya Alkitab, perubahan nama menandakan perubahan identitas dan panggilan. Abraham diberi nama baru sebelum janji itu tampak digenapi, sehingga setiap kali orang memanggilnya, ia diingatkan pada janji Allah yang belum terlihat mata. Nama adalah iman yang dipakainya setiap hari.

Mengapa Allah menyuruh Abraham mengorbankan Ishak?

Kejadian 22 secara eksplisit mengatakan bahwa Allah menguji Abraham, bukan bahwa Ia benar-benar menginginkan pengorbanan manusia. Allah bahkan menghentikan Abraham sebelum Ishak dilukai dan menyediakan seekor domba jantan sebagai gantinya. Peristiwa ini menunjukkan sejauh mana Abraham percaya, dan sekaligus menjadi gambaran nubuat tentang Bapa yang kelak tidak menahan Anak-Nya sendiri di kayu salib. Peristiwa Moria bukan tentang Allah yang haus darah, melainkan tentang Allah yang menyediakan korban pengganti, sebagaimana kelak Kristus menjadi pengganti kita.

Apakah Abraham benar-benar tokoh sejarah atau hanya legenda?

Perjanjian Baru memperlakukan Abraham sebagai tokoh sejarah nyata, dan Yesus sendiri berbicara tentang Abraham sebagai orang yang benar-benar hidup. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa nama-nama, kebiasaan, dan gaya hidup yang dijelaskan dalam Kejadian sesuai dengan zaman perunggu di Mesopotamia. Meskipun tidak ada prasasti langsung yang menyebut nama Abraham, konteks budayanya sangat konsisten dengan periode itu. Bagi orang Kristen, kesaksian Alkitab dan Yesus sendiri sudah cukup untuk menerima Abraham sebagai orang yang benar-benar berjalan di bumi.

Berapa banyak anak Abraham?

Abraham memiliki delapan anak lelaki dari tiga perempuan. Dari Hagar lahir Ismael. Dari Sara lahir Ishak, anak perjanjian. Setelah Sara wafat, Abraham menikahi Ketura dan mendapat enam anak lagi: Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Yisybak, dan Suah. Namun Alkitab dengan jelas menyoroti Ishak sebagai anak perjanjian yang melaluinya keturunan yang dijanjikan akan datang. Ismael pun diberkati Allah dan menjadi bapa dua belas suku bangsa Arab, tetapi garis perjanjian Mesias mengalir melalui Ishak, Yakub, dan seterusnya sampai kepada Kristus.

Apakah orang Kristen adalah keturunan Abraham?

Menurut Paulus dalam Galatia 3:7, ya. Bukan secara darah, tetapi secara iman. Semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus dihitung sebagai anak rohani Abraham dan pewaris janji-janji yang diberikan kepadanya. Ini adalah salah satu kebenaran paling membebaskan dalam Perjanjian Baru: keluarga Allah tidak dibatasi oleh etnisitas atau garis keturunan biologis. Setiap orang percaya, dari suku dan bahasa mana pun, mewarisi janji yang sama yang Allah berikan kepada Abraham di bawah bintang-bintang di padang gurun ribuan tahun yang lalu.

Mengapa Abraham berbohong tentang Sara?

Dua kali Abraham berkata bahwa Sara adalah adiknya, bukan istrinya, karena takut dibunuh oleh raja setempat yang mungkin menginginkan Sara yang cantik. Ini terjadi di Mesir dengan Firaun dan kemudian di Gerar dengan Abimelekh. Kejadian mencatat kegagalan ini tanpa menutupinya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Abraham, meskipun disebut bapa orang beriman, tetaplah manusia yang penakut dan bisa berdosa. Justru inilah yang membuat kisahnya menjadi kabar baik: Allah setia kepada janji-Nya bukan karena Abraham sempurna, melainkan karena Allah setia pada diri-Nya sendiri.

Apa perjanjian Allah dengan Abraham?

Perjanjian Abraham mencakup tiga unsur utama: tanah, keturunan, dan berkat. Allah menjanjikan tanah Kanaan kepada keturunan Abraham, keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai, dan berkat bagi semua bangsa melalui keturunannya. Perjanjian ini bersifat sepihak, artinya Allah sendiri yang mengikatkan diri dan menjamin penggenapannya, seperti terlihat dalam Kejadian 15 ketika hanya Allah yang berjalan di antara potongan-potongan korban. Perjanjian ini digenapi puncaknya dalam Kristus, keturunan Abraham yang membawa berkat keselamatan kepada seluruh dunia.

Di mana Abraham dimakamkan?

Abraham dimakamkan di gua Makhpela di Hebron, tanah yang ia beli dari Efron orang Het setelah kematian Sara. Ini adalah satu-satunya sebidang tanah yang secara resmi dimiliki Abraham di negeri yang dijanjikan kepadanya. Sebuah ironi yang mendalam: bapa banyak bangsa hanya memiliki sepetak kuburan di tanah yang seluruhnya akan menjadi milik keturunannya. Namun justru inilah simbol imannya. Ia mati sambil berpegang pada janji yang belum digenapi, percaya bahwa Allah akan menyelesaikan apa yang Ia mulai, meskipun ia tidak hidup untuk melihatnya.

Bagaimana Abraham menjadi berkat bagi semua bangsa?

Janji dalam Kejadian 12:3 digenapi dalam Kristus, yaitu keturunan Abraham yang paling penting. Melalui Yesus, keselamatan yang semula diberikan kepada keluarga Abraham kini terbuka untuk setiap suku dan bangsa. Paulus dalam Galatia 3:14 menjelaskan bahwa berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi di dalam Kristus Yesus, sehingga oleh iman kita menerima Roh Kudus yang dijanjikan. Setiap kali Injil diberitakan dan orang bertobat, janji kepada Abraham sedang digenapi di depan mata kita.

Apa hubungan Abraham dengan Yesus?

Yesus adalah keturunan Abraham secara garis darah, seperti tercatat dalam silsilah di Matius 1. Tetapi jauh lebih dari itu, Yesus adalah penggenapan dari seluruh janji yang diberikan kepada Abraham. Ia adalah keturunan yang melaluinya semua bangsa diberkati, korban yang disediakan Allah di gunung yang menggantikan Ishak, dan pendiri keluarga baru yang dianggotai oleh iman, bukan darah. Yesus bahkan berkata dalam Yohanes 8:56 bahwa Abraham bersukacita melihat hari-Nya. Seluruh cerita Abraham menemukan puncaknya dalam pribadi Kristus.

Sebagai penutup

Abraham berjalan dari Ur ke kuburannya di Hebron sebagai seorang pengembara yang tidak pernah sepenuhnya sampai. Ia mati dalam iman, bukan dalam penggenapan yang lengkap. Dan justru karena itulah ia menjadi bapa kita. Karena setiap orang percaya berjalan dalam pola yang sama: percaya pada janji yang belum sepenuhnya kelihatan, berpegang pada firman ketika keadaan berteriak sebaliknya, meninggalkan yang aman demi yang benar.

Bila panduan ini meninggalkan satu hal pada Anda, biarlah itu ini: iman bukanlah kualitas heroik yang dimiliki oleh sedikit orang istimewa. Iman adalah keputusan sederhana untuk percaya bahwa Allah menepati janji-Nya, diulang lagi setiap pagi selama hidup Anda. Abraham gagal, ragu, tertawa, berbohong, dan tetap percaya. Dan Allah menepati.

Bacalah kembali Kejadian 12 sampai 25 dengan pelan. Bacalah Roma 4 dan Ibrani 11 sambil bertanya: di mana saya berdiri dalam cerita ini? Panggilan apa yang belum saya taati? Janji apa yang harus saya percayai lagi? Karena bapa orang beriman tidak menginginkan pengagum. Ia mencari anak-anak yang berani berjalan seperti ia berjalan, menuju kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri.

Bagikan halaman ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter
Ayat harian

Bacaan dan renungan di kotak masuk Anda setiap pagi

Setiap pagi Anda menerima bacaan Alkitab dengan renungan singkat untuk mengawali hari Anda. Sudah 5.679 orang membaca bersama.

Anda akan menerima email konfirmasi terlebih dahulu. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja dengan satu klik.

6.158
Bagian Alkitab yang dibuka bersama
Sudah 28 renungan baru hari ini

Dinding perenungan

Apa yang menyentuh Anda dalam Kitab Suci? Apa yang bisa kami doakan? Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan?

Wawasan Editorial pada 2 RAJA-RAJA 18:19

Pertanyaan itu dilontarkan untuk melumpuhkan: "Apakah kepercayaan yang kauandalkan ini?" Utusan Asyur ingin Hizkia ragu pada satu-satunya tempat ia bersandar.…

Doa Editorial pada YOEL 2:4

Tuhan, ada hal-hal yang datang seperti pasukan berkuda, cepat dan menakutkan, dan aku merasa kecil di hadapannya. Tolong aku berdiri…

Wawasan Editorial pada PENGKHOTBAH 4:12

Meskipun seseorang dapat dikalahkan oleh yang lain, dua orang dapat bertahan menghadapinya. Tali tiga lembar tidak mudah diputuskan." Perhatikan, ayat…

Syukur Editorial pada KEJADIAN 4:3

Terima kasih, Tuhan, karena tanah yang Engkau beri sungguh menghasilkan, sehingga seperti Kain yang membawa sebagian hasil tanah sebagai persembahan…

Wawasan Editorial pada PENGKHOTBAH 2:5

Aku membuat untuk diriku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanam di dalamnya segala macam pohon buah-buahan." Perhatikan dua kata kecil itu:…

Doa Editorial pada KELUARAN 23:11

Tuhan, ajari aku berani berhenti. Ada tanah dalam hidupku yang terus kupaksa berbuah, padahal Engkau memanggilnya untuk beristirahat. Bukakan tanganku…

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun studi Alkitab dan renungan. Seluruh isi dihasilkan dari teks Alkitab itu sendiri dan diperiksa setiap hari oleh kontrol mutu otomatis yang independen: sampel acak dari setiap situs bahasa dinilai berdasarkan kesetiaan pada Kitab Suci, kutipan Alkitab yang harfiah, bahasa dan kejelasan, serta hasilnya dipublikasikan tanpa disunting. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan yang tanpa cela dan kesalahan tetap dapat terjadi. Tidak ada yang di platform ini yang merupakan nasihat profesional, dan tidak ada hak yang dapat diturunkan dari isinya. Selalu uji apa yang Anda baca dengan Alkitab itu sendiri, dan gunakan Faith.network sebagai pelengkap, bukan pengganti, studi Alkitab pribadi, doa, dan kehidupan jemaat lokal Anda. Sanggahan lengkap dan Ketentuan Penggunaan kami berlaku. Lihat pemeriksaan mutu harian kami

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami
Perusahaan?