ROMA 5:1
Teks Itu Sendiri
"Oleh sebab itu, sejak kita telah dibenarkan melalui iman, kita berdamai dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Kristus Yesus." Satu kalimat, dan di dalamnya tersimpan seluruh perkara yang Paulus bangun selama empat pasal sebelumnya. Intinya begini: karena perkara hukum sudah diputuskan, karena vonis "benar" sudah jatuh atas orang yang percaya, maka keadaan antara manusia dan Allah berubah secara mendasar. Bukan perasaan kita yang berubah lebih dulu, melainkan hubungannya. Permusuhan berakhir. Dan yang mengakhirinya bukan usaha kita, bukan perbaikan diri, bukan masa percobaan yang akhirnya lulus, melainkan seorang Pribadi: Tuhan kita, Kristus Yesus. Perhatikan betapa Paulus tidak berhenti pada kata "damai" begitu saja; ia langsung menyebut melalui siapa damai itu datang.
Inti Pesannya
Kata "berdamai" baru punya bobot kalau kita berani jujur tentang kata yang tersirat di baliknya: perang. Paulus sendiri yang menyebutnya terang-terangan beberapa ayat kemudian, "ketika kita masih menjadi musuh." Bukan kesalahpahaman, bukan jarak yang canggung, melainkan permusuhan. Dan inilah yang mengguncang: yang memulai perdamaian adalah pihak yang disakiti. Allah tidak menunggu kita mengibarkan bendera putih; Ia sendiri yang datang dan menghentikan perang, dengan harga yang Ia tanggung sendiri. Di sinilah letak sesuatu yang tidak pernah habis direnungkan: pembenaran itu bersifat hukum, sebuah putusan, tetapi buahnya bersifat sangat pribadi, sebuah hubungan. Allah tidak puas hanya membebaskan kita dari tuntutan. Ia mau kita pulang. Pertanyaannya, beranikah kita percaya bahwa perang itu benar-benar sudah usai?
Benang Merah
Perdamaian bukan gagasan baru yang muncul tiba-tiba di surat Roma. Seluruh Perjanjian Lama bergerak di sekitar satu pertanyaan: bagaimana manusia berdosa bisa tinggal dekat dengan Allah yang kudus tanpa binasa. Tirai di Bait Allah, darah korban, imam yang masuk sekali setahun dengan gentar, semuanya adalah jawaban sementara yang sekaligus mengakui bahwa masalahnya belum selesai. Paulus mengatakan: sekarang selesai. Dan ia menyebut nama. Bukan sistem, bukan ritus yang disempurnakan, melainkan "Tuhan kita, Kristus Yesus." Benang merah itu tidak berakhir di pengampunan, tetapi di kedekatan. Perhatikan ke mana ayat ini bermuara beberapa baris kemudian: "kita bersukacita dalam Allah." Bukan dalam keselamatan kita, bukan dalam rasa aman kita. Dalam Allah sendiri. Itulah tujuan seluruh cerita.
Cermin
Yang paling sulit dari ayat ini bukan memahaminya, melainkan mempercayainya pada hari Selasa pukul dua siang, ketika Anda baru saja membentak anak Anda, atau menyimpan dendam pada rekan kerja yang mengambil kredit atas pekerjaan Anda, atau sekali lagi membuka hal yang Anda janjikan tidak akan Anda buka lagi. Di saat-saat seperti itu sesuatu dalam diri kita secara otomatis kembali ke mode perang: mencoba menenangkan Allah, menebus dengan ibadah yang lebih rajin, atau justru menjauh karena malu. Paulus tidak berkata damai itu tergantung performa hari ini. Ia memakai kata "sejak", sesuatu yang sudah terjadi dan terus berlaku. Hari ini, sebutlah dengan suara keras, sendirian di mobil atau di kamar: "Perang itu sudah selesai; aku berdamai dengan Allah karena Kristus Yesus." Ucapkan, jangan hanya pikirkan.
Profil
Jemaat di Roma adalah campuran yang rapuh: orang Yahudi yang baru kembali setelah pengusiran dari kota, dan orang bukan Yahudi yang selama itu sudah mengisi bangku-bangku jemaat. Dua kelompok dengan dua sejarah, dua rasa berhak. Di telinga mereka kata "damai" tidak terdengar manis; mereka hidup di jantung kekaisaran yang membanggakan pax Romana, damai yang dibeli dengan legiun dan salib. Damai di Roma berarti: musuh sudah ditaklukkan, tunduklah dan hidup tenang. Paulus mengambil kata itu dan membalikkannya. Damai yang ia maksud dibeli juga dengan salib, tetapi salib yang ditanggung oleh Raja itu sendiri, bukan ditimpakan pada yang kalah. Bagi jemaat yang terpecah, itu berarti satu hal yang tajam: tidak ada yang masuk lewat pintu prestasi, keduanya masuk lewat pintu yang sama.
Tokoh Utama
Dalam ayat ini Allah adalah pihak yang bertindak, meski kata kerjanya pasif: "kita telah dibenarkan." Pasif yang sopan, cara Paulus menyebut Allah tanpa menyebut Allah. Dan inilah potret-Nya: Ia tidak pasif menunggu, Ia tidak menuntut jaminan lebih dulu, Ia tidak membuat perdamaian bersyarat pada perbaikan perilaku. "Ketika kita masih lemah," tulis Paulus, dan "ketika kita masih menjadi pendosa." Dua kali kata "masih", seperti seseorang yang terus menegaskan hal yang sulit dipercaya. Lanskap batin Allah dalam ayat ini bukan kemarahan yang diredakan dengan susah payah, melainkan kasih yang mencari jalan dan menemukannya di dalam Anak-Nya. Allah yang berinisiatif adalah Allah yang paling sulit kita percayai, justru karena Ia tidak menuntut apa pun lebih dulu.
Detail
Berhentilah sejenak pada kata kecil "kita". Paulus tidak menulis "aku berdamai dengan Allah." Sepanjang ayat ini ia memakai bentuk jamak, dan itu bukan kebetulan gaya bahasa. Damai dengan Allah menempatkan Anda dalam satu barisan dengan orang-orang yang mungkin tidak Anda pilih sebagai teman: yang menyanyi terlalu keras, yang pernah menyakiti Anda, yang pendapat politiknya membuat Anda gatal. Mereka berdiri di atas anugerah yang sama, lewat pintu yang sama. Kita cenderung membaca keselamatan sebagai urusan pribadi antara aku dan Allah, dan ayat ini menolak dibaca begitu. Perdamaian vertikal yang sejati selalu punya konsekuensi horizontal. Siapa yang sulit Anda akui sebagai bagian dari "kita" itu?
Refleksi
Di bagian hidup mana saya masih bertindak seolah perang dengan Allah belum berakhir, dan apa sebenarnya yang membuat saya sulit percaya bahwa vonis itu sudah final?
Jika damai ini datang hanya "oleh karena Tuhan kita, Kristus Yesus", apa yang selama ini diam-diam saya tambahkan sebagai syarat kedua?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 5:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 5:1?
Tentang apakah ROMA 5:1?
Apa konteks historis dari ROMA 5:1?
Apa yang ROMA 5:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 5:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, terima kasih karena pintu menuju hadirat-Mu terbuka bukan karena kebaikanku, melainkan karena Yesus. Di sanalah aku berdiri hari ini, sering goyah, tetapi tetap dipegang. Tumbuhkan sukacita dan harapan dalam hatiku, bahkan saat jalanku belum jelas.
Oleh karena itu, sama seperti dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan kematian melalui dosa, demikianlah kematian menyebar kepada semua orang karena semua orang telah berdosa." Mudah sekali menunjuk Adam. Tetapi Paulus menutup pintu itu: kamu ikut berdosa. Dan justru di situ kabar baiknya dimulai, sebab jika satu orang bisa merusak semua, satu Orang juga sanggup menyelamatkan.
Sebab, ketika kita masih lemah, Kristus mati bagi orang-orang durhaka pada waktu yang tepat." Perhatikan waktunya: bukan setelah kita berbenah, tapi saat kita tak sanggup apa-apa. Kamu mungkin menunda datang kepada-Nya sampai merasa lebih layak. Padahal justru dalam keadaan itulah Dia sudah datang lebih dulu.
Perhatikan hitungannya. Satu pelanggaran sudah cukup untuk menghasilkan penghukuman, tetapi karunia Allah datang menutupi "banyak pelanggaran" dan menghasilkan pembenaran. Timbangannya tidak seimbang, dan itu justru berpihak padamu. Dosa yang kau hitung satu per satu semalaman tidak lebih berat daripada satu pemberian dari Kristus.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi