ROMA 6:23
Teks
Paulus menutup seluruh rangkaian argumennya tentang perbudakan dan kemerdekaan dengan satu kalimat yang tajam seperti pisau: "Sebab, upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Yesus Kristus, Tuhan kita." Dua hal diperhadapkan. Di sisi kiri ada upah, sesuatu yang dihitung, diperoleh, dibayarkan sesuai kerja; hasilnya maut. Di sisi kanan tidak ada upah sama sekali, melainkan pemberian cuma-cuma; hasilnya hidup yang kekal. Dan pemberian itu tidak melayang di udara sebagai gagasan rohani, melainkan punya alamat yang sangat jelas: di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita. Ayat ini bukan rumus penginjilan yang dikutip terburu-buru, melainkan kesimpulan dari pergulatan panjang tentang siapa sesungguhnya menjadi tuan atas hidup kita.
Inti
Perhatikan ketimpangan yang sengaja dibiarkan Paulus berdiri tanpa diperhalus. Ia tidak menulis "upah dosa adalah maut, upah kebenaran adalah hidup". Itu akan rapi, simetris, dan masuk akal bagi siapa pun yang pernah menerima gaji. Tetapi justru simetri itu dipatahkan. Dosa membayar; Allah memberi. Dosa punya sistem pengupahan yang jujur dan tak pernah menunggak, dan apa yang dibayarkannya persis sepadan dengan pekerjaannya. Allah tidak berada dalam sistem itu sama sekali. Yang Ia serahkan bukan imbalan atas prestasi rohani kita, melainkan karunia, sesuatu yang hanya bisa diterima dengan tangan kosong. Di sinilah letak keterkejutan yang sering hilang karena ayat ini terlalu sering kita dengar: kita boleh menuntut maut sebagai hak kita, tetapi hidup tidak pernah bisa kita tagih. Hidup hanya bisa diterima, dan hanya di dalam Satu Pribadi.
Benang Merah
Kalimat ini berdiri di ujung sebuah kisah yang jauh lebih tua. Sejak taman itu, firman yang terdengar adalah bahwa memakan berarti mati, dan sejarah manusia sesudahnya menjadi daftar panjang pembayaran upah yang tak pernah meleset. Paulus tahu itu. Tetapi ia juga tahu bahwa di tengah daftar itu Allah terus-menerus menyelipkan sesuatu yang tidak diperhitungkan: domba pengganti bagi Ishak, darah di ambang pintu, tanah yang dijanjikan kepada orang yang tidak membangunnya. Semua itu menunjuk ke satu titik. Ketika Paulus menutup dengan "di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita", ia sedang berkata bahwa karunia itu akhirnya punya tubuh, nama, dan kubur yang kosong. Yang dibicarakan sejak ayat 3 tentang dibaptis ke dalam kematian-Nya bermuara di sini: hidup yang kekal bukan benda yang dibagikan, melainkan Pribadi yang kita diami.
Cermin
Sebagian besar hidup kita dibangun di atas logika upah. Kita bekerja dan menunggu pengakuan; kita melayani di gereja dan diam-diam menghitung; kita bersikap baik kepada orang tua yang sulit dan merasa seharusnya ada imbalannya. Logika itu begitu dalam sehingga kita membawanya kepada Allah: doa lebih panjang, rasa bersalah yang kita bayarkan dengan menyiksa diri, kesibukan rohani yang sebetulnya tagihan terselubung. Ayat ini mencabut hak itu dari tangan kita, dan anehnya itu melegakan. Satu-satunya yang benar-benar bisa kita tagih adalah maut. Sisanya pemberian. Hari ini, sebutkan dengan suara keras satu hal yang diam-diam Anda harapkan membuat Allah berutang kepada Anda, lalu katakan sejujurnya: "Ini bukan upah. Hidupku karunia."
Pertanyaan
Mengapa upah dosa harus maut? Mengapa bukan teguran, bukan pemulihan bertahap, bukan sekadar konsekuensi yang mendidik? Teks tidak menjelaskannya. Paulus hanya menyatakannya sebagai fakta yang sudah diketahui, seperti orang menyebut hukum gravitasi. Dan ada yang menolak tenang di dalam diri kita mendengar itu, terutama ketika kita memikirkan orang-orang yang kita kasihi. Mungkin yang bisa kita katakan hanyalah ini: dosa bukan pelanggaran aturan, melainkan pemutusan hubungan dengan satu-satunya sumber hidup, dan terputus dari sumber hidup memang bernama maut. Tetapi itu pun belum menghapus kerasnya kalimat ini. Paulus tidak memperhalusnya. Mungkin karena hanya dengan kerasnya kalimat pertama, kalimat kedua terdengar sebagai kabar yang sungguh-sungguh baik.
Tokoh Utama
Tokoh dalam ayat ini bukan manusia, melainkan Allah yang memberi. Dan cara Ia memberi mengungkapkan siapa Dia. Ia tidak menegosiasikan harga, tidak menunggu kita cukup pantas, tidak membuat daftar syarat. Kata yang dipakai Paulus, charisma, berarti pemberian yang lahir dari kemurahan hati, bukan dari kewajiban. Allah seperti ini tidak dapat dikendalikan; Ia tidak bisa dibujuk atau dibeli, dan justru karena itu Ia dapat dipercaya. Yang menakjubkan, pemberian-Nya bukan sesuatu yang terpisah dari diri-Nya. Ia memberikan hidup dengan memberikan Anak-Nya. Dengan kata lain, Allah memberi dengan cara yang paling mahal yang mungkin ada: Ia memberikan diri-Nya sendiri, dan membiarkan upah itu jatuh pada-Nya.
Profil
Pembaca pertama surat ini tinggal di kota tempat perbudakan bukan metafora. Di Roma, seorang budak tahu persis apa itu opsonion, ransum atau gaji serdadu yang dibayarkan hari demi hari. Mereka hidup di bawah tuan yang membayar, dan mereka tahu bahwa tuan selalu menagih kepemilikan penuh. Ketika Paulus berkata bahwa dosa membayar upah, mereka mendengar sesuatu yang sangat konkret: ada majikan yang tak pernah lupa membayar, dan bayarannya kematian. Lalu ia menyebut Kristus "Tuhan kita", memakai gelar yang di Roma dilekatkan pada Kaisar. Bagi telinga mereka, itu bukan bahasa ibadah yang manis, melainkan pernyataan tentang siapa yang sebenarnya memiliki hidup mereka, dan siapa yang membebaskannya tanpa menuntut bayaran.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda masih bekerja untuk sesuatu yang sebenarnya hanya bisa diterima sebagai pemberian?
Jika hidup kekal itu ada "di dalam Yesus Kristus", apa artinya bagi hari Anda besok bahwa yang Anda terima bukan sebuah barang, melainkan sebuah hubungan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 6:23
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 6:23?
Tentang apakah ROMA 6:23?
Apa konteks historis dari ROMA 6:23?
Apa yang ROMA 6:23 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 6:23 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Romans 6?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi