Melayani dengan kasih dan kerendahan hati
Kasih yang melayani
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Roma 16:1, 1 Raja-raja 8:10-11, Kisah Para Rasul 9:25 and Kolose 3:12.
☀ Momen pagi
Aku menyerahkan saudari kita Febe, yang adalah pelayan jemaat di Kengkrea.
Roma 16:1
Gulungan itu terikat rapat di bawah jubahnya, terasa berat di tangan saat kapal merapat, debu pelabuhan Kenkrea masih menempel di kakinya. Phoebe berjalan membawa sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri: surat Paulus kepada jemaat di Roma, tulisan yang kelak dibaca ulang selama dua ribu tahun.
Dia bukan sekadar kurir. Paulus menyebutnya pelayan jemaat di Kenkrea, orang yang dipercaya bukan hanya untuk mengantar kertas, tetapi untuk hadir di depan jemaat asing, membacakan surat itu, dan mungkin menjawab pertanyaan tentang maksud Paulus. Perjalanan itu jauh, lintas laut, seorang perempuan sendirian membawa dokumen yang menyangkut iman banyak orang.
Itu ongkos yang tidak tertulis dalam suratnya sendiri: risiko di jalan, tanggung jawab menjaga kata-kata orang lain tetap utuh sampai tujuan. Phoebe dipercaya, dan dia berjalan.
Hari ini, di hari Tuhan, engkau juga akan berdiri di antara orang-orang yang membutuhkan sepatah kata baik, sepucuk penguatan, sebuah kabar yang menopang. Engkau tidak perlu menulis surat seperti Paulus. Engkau hanya perlu, seperti Phoebe, bersedia membawanya sampai ke tangan yang tepat.
Hari ini
Sebelum berangkat ke ibadah hari ini, tuliskan satu kalimat penguatan atau satu ayat singkat di secarik kertas, dan berikan langsung kepada satu orang yang engkau temui di sana.
✦ Momen siang
Pada waktu para imam keluar dari tempat kudus, ada awan yang memenuhi bait TUHAN. Para imam itu kemudian tidak tahan berdiri untuk melayani karena awan itu. Sebab, kemuliaan TUHAN memenuhi bait TUHAN.
1 Raja-raja 8:10-11
Tujuh tahun pembangunan berakhir dengan diam.
Setelah batu demi batu disusun, setelah kayu cedar diukir dan emas dilapiskan, para imam membawa tabut perjanjian ke ruang paling dalam, tempat kudus yang paling kudus. Mereka meletakkannya di bawah sayap kerub, lalu mundur untuk melanjutkan tugas mereka seperti biasa, membakar dupa, menyusun persembahan, menjaga ritme ibadah yang sudah mereka hafal.
Tapi ritme itu terhenti. Awan datang, memenuhi rumah itu sampai para imam tidak bisa lagi berdiri untuk melayani. Bukan karena mereka kurang siap atau kurang khusyuk, tetapi karena kemuliaan Yahweh sendiri yang mengambil alih ruangan itu. Pekerjaan manusia berhenti tepat di titik ketika kehadiran Allah mengisi semuanya.
Dari titik itu doa Salomo mengalir, rumah yang baru selesai dibangun langsung menjadi rumah tempat Allah didoakan oleh bangsa-bangsa. Bukan monumen kosong, tapi tempat yang penuh, sampai tugas manusia harus berhenti dulu supaya kehadiran-Nya bisa dirasakan.
Hari ini juga hari ketika umat berkumpul, bukan untuk mengisi ruang dengan kesibukan rohani, tetapi untuk berhenti sejenak dan membiarkan diri diisi. Ada sesuatu yang hanya terjadi kalau tangan berhenti bekerja.
Hari ini
Sebelum lanjut ke kegiatan berikutnya hari ini, berhentilah sepuluh menit penuh. Duduk tanpa melakukan apa pun, tanpa merangkai kata-kata doa, hanya diam dan sadari bahwa Dia hadir di ruangan itu juga.
◐ Momen sore
Akan tetapi, murid-murid Saulus membawanya pada waktu malam dan menurunkannya melalui sebuah tembok dengan mengulurkannya ke bawah di dalam sebuah keranjang.
Kisah Para Rasul 9:25
Jam dua siang ini, sisa pujian pagi masih menggantung di telinga, tapi kamu duduk sendirian di meja makan dan merasa lebih lemah daripada saat berangkat ke gereja pagi ini. Ibadah selesai, orang-orang sudah pulang, dan yang tersisa hanyalah kamu dengan rasa lelah yang tidak sempat kamu ceritakan pada siapa pun.
Di Damaskus, Paulus baru saja berbicara dengan berani di rumah-rumah ibadat, membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Tapi keberanian itu membuat orang-orang Yahudi menjaga pintu-pintu gerbang siang malam untuk membunuhnya. Paulus tidak bisa berjalan keluar dengan kepala tegak sebagai pemenang. Dia harus dimasukkan ke dalam keranjang.
Rumah-rumah di Damaskus sering dibangun menyatu dengan tembok kota, dengan jendela menghadap ke luar. Keranjang besar seperti itu biasanya dipakai untuk menurunkan barang dagangan, bukan manusia. Paulus, rasul yang baru bertemu Kristus sendiri di jalan itu, harus rela diperlakukan seperti muatan, diturunkan dalam gelap, oleh tangan murid-murid lain, tanpa bisa mengatur caranya sendiri.
Ini bukan cerita tentang kemenangan yang gagah. Ini cerita tentang seorang rasul besar yang keluar dari kota bukan dengan langkahnya sendiri, melainkan digantung di tali, dipegang orang lain, dalam kegelapan yang dia tidak pilih.
Pertanyaannya tetap terbuka sore ini: bisakah kamu menerima pertolongan yang tidak elegan itu, yang datang lewat tangan orang lain, tanpa kamu kendalikan arah dan waktunya?
Hari ini
Hubungi atau kirim pesan pada satu orang yang pernah menampung kelemahanmu, bukan kehebatanmu, dan ucapkan terima kasih dengan kata-kata yang jelas, sekarang, sebelum siang ini berlalu.
☾ Momen sore
Jadi, sebagai orang-orang pilihan Allah, yang kudus dan yang dikasihi, kenakanlah padamu belas kasih, keramahan, kerendahan hati, kelembutan, dan kesabaran.
Kolose 3:12
Kenakanlah. Kata ini terasa sederhana, tapi coba pikirkan lagi: ini bukan kata untuk perasaan, melainkan untuk tindakan tangan. Seperti mengambil baju dari lemari dan memasukkan lengan ke dalamnya. Paulus tidak menulis 'rasakanlah belas kasihan', ia menulis 'kenakanlah'.
Jemaat di Kolose sedang diguncang oleh ajaran-ajaran yang mencampur filsafat, aturan makanan, dan penyembahan malaikat, semuanya menjanjikan jalan pintas ke kedalaman rohani. Paulus menariknya kembali ke hal yang paling dasar: siapa mereka sebenarnya. Ia memakai gambaran baju karena pada masa itu orang yang baru dibaptis benar-benar menanggalkan pakaian lama mereka dan mengenakan jubah baru sebagai tanda hidup yang baru. Gambaran itu bukan hiasan, itu kenyataan yang mereka alami sendiri di air baptisan.
Yang menarik, sebelum kata kerja itu Paulus dulu menyebut siapa mereka: dipilih Allah, kudus, dikasihi. Identitas itu sudah diberikan, bukan hasil usaha. Tapi justru karena itu, tindakan mengenakan menjadi mungkin dan masuk akal, bukan beban, melainkan pilihan yang wajar bagi orang yang sudah tahu dirinya siapa.
Hari ini engkau berkumpul dengan orang-orang pilihan Allah yang lain, bernyanyi, berdoa, mendengar firman bersama. Malam ini, sebelum semuanya diserahkan pada tidur, satu pertanyaan tenang masih tersisa: apa yang akan engkau kenakan besok.
Hari ini
Saat engkau berganti baju malam ini, ucapkan satu sifat dari ayat ini, misalnya belas kasihan atau kerendahan hati, dan katakan dengan suara pelan sebagai doa singkat: 'Tuhan, kenakanlah ini pada aku besok.'
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
1Aku menyerahkan saudari kita Febe, yang adalah pelayan jemaat di Kengkrea.
10Pada waktu para imam keluar dari tempat kudus, ada awan yang memenuhi bait TUHAN.
11Para imam itu kemudian tidak tahan berdiri untuk melayani karena awan itu. Sebab, kemuliaan TUHAN memenuhi bait TUHAN.
25Akan tetapi, murid-murid Saulus membawanya pada waktu malam dan menurunkannya melalui sebuah tembok dengan mengulurkannya ke bawah di dalam sebuah keranjang.
12Jadi, sebagai orang-orang pilihan Allah, yang kudus dan yang dikasihi, kenakanlah padamu belas kasih, keramahan, kerendahan hati, kelembutan, dan kesabaran.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam