Kebangkitan Yesus Kristus: Bukti, Makna, dan Pengharapan bagi Orang Percaya
Pendahuluan
Bayangkan tiga perempuan berjalan di jalan berdebu sebelum matahari terbit. Mereka membawa rempah-rempah, bukan bendera kemenangan. Sepanjang jalan mereka sibuk memikirkan satu masalah praktis: siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi mereka? Perhatikan, mereka tidak sedang berjalan menuju mukjizat. Mereka sedang berjalan menuju sebuah tugas terakhir, merapikan jenazah seorang Guru yang sudah mati, menutup sebuah bab yang menyakitkan, lalu pulang dan belajar hidup tanpa Dia.
Yang mereka temukan pagi itu mengubah segalanya, dan bukan hanya bagi mereka. Kubur kosong. Batu tergulingkan. Dan sebuah kalimat yang sejak itu tidak pernah berhenti bergema di dalam sejarah.
Di halaman ini Anda akan menelusuri kebangkitan Yesus Kristus secara utuh: apa yang sungguh terjadi, bukti apa yang kita miliki, bagaimana benang ini sudah ditenun sejak Kejadian sampai Wahyu, kesalahpahaman apa yang perlu diluruskan, dan apa artinya bagi tubuh, pekerjaan, dukacita, serta pengharapan Anda hari Senin pagi nanti.
Sudut pandang panduan ini
Banyak tulisan memperlakukan kebangkitan sebagai akhir yang bahagia dari kisah Jumat Agung: Yesus mati, lalu Ia hidup lagi, selesai. Panduan ini membacanya sebagai permulaan, bukan penutup. Yohanes dengan sengaja menulis "hari pertama minggu itu", di sebuah taman, di mana Yesus yang bangkit mengembusi murid-murid-Nya seperti Allah mengembuskan nafas hidup kepada Adam. Itu bukan kebetulan sastra. Itu Kejadian 1 yang dimulai kembali. Kebangkitan bukan sekadar bukti bahwa Yesus benar; kebangkitan adalah hari pertama dari ciptaan baru, dan tubuh Anda termasuk di dalamnya. Sudut pandang itu akan kembali di sepanjang halaman ini.
Apa kata Alkitab tentang kebangkitan Yesus?
Alkitab tidak pernah menyajikan kebangkitan sebagai renungan batin atau simbol musim semi. Alkitab menyajikannya sebagai peristiwa, dengan tanggal, saksi, dan alamat. Malaikat di kubur tidak berkata "percayalah pada semangat Yesus yang tetap hidup". Ia berkata, dalam Matius 28:6, "Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring." Dua hal mencolok di sini. Pertama, undangan untuk memeriksa: mari, lihatlah. Iman Kristen sejak hari pertama mengundang orang datang dan memeriksa tempat kosong itu. Kedua, kalimat "sama seperti yang telah dikatakan-Nya". Kebangkitan bukan kejutan tak terduga bagi Allah; itu adalah janji yang ditepati.
Lukas mencatat hal yang senada namun dengan tekanan berbeda. Dalam Lukas 24:6 malaikat berkata, "Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea," lalu mereka diingatkan tentang penyaliban dan kebangkitan pada hari ketiga. Perhatikan kata kerjanya: ingatlah. Masalah para perempuan itu bukan kurang informasi, melainkan lupa. Mereka sudah pernah mendengar, tetapi dukacita membuat janji itu terkubur lebih dalam daripada tubuh Yesus. Betapa seringnya itu juga menjadi masalah kita.
Yesus sendiri sudah lebih dulu menyatakan siapa diri-Nya, berdiri di depan sebuah kubur lain, kubur Lazarus. Dalam Yohanes 11:25 kita membaca, "Jawab Yesus: 'Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,'". Ini bukan janji bahwa Ia akan membawa kebangkitan pada suatu hari nanti. Ia berkata bahwa Dia adalah kebangkitan. Hidup yang kekal bukanlah zat atau berkat yang terpisah dari Kristus; hidup itu adalah Pribadi-Nya sendiri, dan kita menerimanya dengan melekat kepada-Nya.
Lalu datanglah Paulus, yang menyusun semuanya dengan ketajaman seorang rabi dan kehangatan seorang gembala. Dalam 1 Korintus 15:20 ia menulis, "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." Istilah "yang sulung" diambil dari panen. Berkas pertama yang dibawa ke Bait Allah bukan sekadar hasil terbaik; berkas itu adalah jaminan bahwa seluruh ladang sebentar lagi akan dituai. Kebangkitan Yesus karena itu bukan pengecualian yang unik dan sendirian. Itu adalah berkas pertama dari panen besar. Di sinilah sudut pandang halaman ini mulai terasa: Paskah bukan garis akhir, melainkan pembukaan musim panen Allah.
Beberapa ayat sebelumnya Paulus bahkan berani bertaruh seluruh iman Kristen di atas fakta ini: "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1 Korintus 15:14). Dan dalam 1 Korintus 15:17 ia menambahkan, "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." Tidak ada agama besar lain yang menggantungkan seluruh bobotnya pada satu peristiwa yang bisa dibantah secara historis. Kekristenan melakukannya dengan sengaja.
Bukti yang diajukan Alkitab sendiri bersifat sangat manusiawi. Ada daftar saksi dalam 1 Korintus 15:3-8, termasuk lebih dari lima ratus orang sekaligus, sebagian besar masih hidup ketika surat itu ditulis, seolah Paulus berkata: silakan tanya mereka. Ada kubur kosong yang pertama kali ditemukan oleh para perempuan, sebuah detail yang tidak akan direkayasa oleh siapa pun di dunia kuno yang ingin karangannya dipercaya. Ada murid-murid yang kabur ketakutan pada Jumat malam dan tujuh minggu kemudian berdiri di tengah Yerusalem memberitakan kebangkitan dengan risiko nyawa. Dan ada Tomas, yang menolak percaya sampai ia menyentuh sendiri, lalu jatuh berlutut dan berkata dalam Yohanes 20:28, "Ya Tuhanku dan Allahku!"
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kebangkitan tidak muncul tiba-tiba di halaman terakhir Injil. Ia sudah menetes sejak awal, mula-mula seperti rembesan, lalu menjadi aliran, akhirnya menjadi sungai.
Sudah di Kejadian 3:15 ada janji tentang keturunan perempuan yang kepalanya akan menang meskipun tumitnya diremukkan: "keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Luka dan kemenangan sekaligus. Ketika Abraham mengangkat pisau di atas Ishak, penulis Ibrani menafsirkan hatinya begini: "Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati" (Ibrani 11:19). Ayub, di tengah reruntuhan hidupnya, bersaksi, "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu" (Ayub 19:25). Daud bernyanyi dalam Mazmur 16:10, "sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan," sebuah ayat yang dikutip Petrus di Pentakosta sebagai nubuat tentang Yesus.
Para nabi memperlebar sungai itu. Yesaya 53 berbicara tentang Hamba yang diremukkan, lalu secara mengejutkan berkata bahwa sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas. Hosea 6:2 berseru, "Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya." Yehezkiel dibawa ke lembah penuh tulang kering dan mendengar firman, "Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali" (Yehezkiel 37:5). Daniel 12:2 menyebut dengan terang kebangkitan tubuh: "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun." Bahkan Yunus di perut ikan selama tiga hari menjadi tanda yang dipakai Yesus sendiri untuk menubuatkan kuburnya (Matius 12:40).
Perhatikan apa yang diharapkan Israel: bukan jiwa yang melayang pergi dari tubuh, tetapi tubuh yang dibangunkan dari debu, bumi yang dipulihkan, umat yang hidup kembali di hadapan Allah. Harapan Perjanjian Lama selalu bersifat jasmani dan menyeluruh.
Semuanya bertemu di satu pagi. Yohanes 20:1 membuka dengan kalimat yang tampak hanya penanda waktu: "Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu." Hari pertama. Hari masih gelap. Lalu terang. Siapa pun yang mengenal Kejadian 1 akan merinding. Dan Maria, menurut Yohanes 20:15, menyangka Yesus sebagai penunggu taman. Para penafsir sering menyebut itu kekeliruan yang lucu, padahal Yohanes sedang tersenyum: memang ada Manusia di dalam sebuah taman lagi, Adam yang kedua, kali ini tidak jatuh. Dan ketika Ia menjumpai murid-murid-Nya, "Ia mengembusi mereka dan berkata: 'Terimalah Roh Kudus'" (Yohanes 20:22), persis seperti TUHAN Allah dahulu "menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya" (Kejadian 2:7).
Ciptaan yang lama tidak ditambal; ciptaan baru dimulai.
Alur ini berlanjut sampai halaman terakhir Alkitab. Kristus yang bangkit berkata dalam Wahyu 1:18, "Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut." Dan panen yang dimulai di taman itu berakhir di kota: "maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita" (Wahyu 21:4).
Kesalahpahaman yang umum
Pertama, anggapan bahwa kebangkitan hanya bersifat rohani atau simbolis. Sebagian orang berkata bahwa Yesus "hidup di hati para murid", bahwa kebangkitan adalah cara puitis untuk mengatakan bahwa kasih lebih kuat daripada maut. Terdengar indah, tetapi bukan itu yang dikatakan Alkitab, dan bukan itu yang membuat orang rela mati. Yesus yang bangkit berkata dalam Lukas 24:39, "Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Ia makan ikan bakar. Tomas diundang menyentuh luka-Nya. Kalau kebangkitan hanya metafora, maka menurut Paulus sendiri iman kita sia-sia dan kita masih hidup dalam dosa kita. Kekristenan tidak menawarkan gagasan yang menghibur, melainkan kubur yang kosong.
Kedua, anggapan bahwa kebangkitan Yesus sama seperti kebangkitan Lazarus. Lazarus dibangunkan untuk kembali ke hidup yang lama; ia tetap harus mati sekali lagi. Yesus tidak dikembalikan, Ia dibangkitkan ke dalam jenis hidup yang baru sama sekali. "Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia" (Roma 6:9). Tubuh-Nya nyata dan dapat disentuh, tetapi tidak lagi tunduk pada kelemahan, kebusukan, dan batas yang lama. Inilah sebabnya Ia disebut "yang sulung": bukan satu-satunya yang pernah dibangunkan, melainkan yang pertama memasuki hidup yang tidak bisa mati lagi.
Ketiga, anggapan bahwa kebangkitan hanya urusan nanti sesudah kita meninggal. Banyak orang Kristen Indonesia mengerti kebangkitan sebagai tiket ke surga, sesuatu yang baru berguna di ujung hidup. Namun Roma 6:4 berkata lain: "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." Hidup yang baru itu dimulai sekarang, bukan hanya nanti. Karena itu Paulus memerintahkan dalam Kolose 3:1, "Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah." Kebangkitan bukan hanya pengharapan masa depan, melainkan tenaga masa kini.
Keempat, anggapan bahwa orang percaya yang sungguh beriman tidak boleh lagi berduka atau menderita. Justru Paulus, rasul kebangkitan itu, menulis: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya" (Filipi 3:10). Kuasa dan penderitaan berjalan bersama di dalam satu kalimat. Maut masih ada; hanya saja ia sudah dikalahkan dan sedang dihabisi. "Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut" (1 Korintus 15:26). Kepada jemaat yang kehilangan orang terkasih, Paulus tidak berkata jangan menangis, melainkan "supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan" (1 Tesalonika 4:13). Air mata orang Kristen tetap asin, tetapi tidak lagi tanpa ujung.
Menghidupinya hari ini
Kalau kebangkitan adalah hari pertama dari ciptaan baru, maka ia menyentuh hal-hal yang sangat konkret, bukan hanya hari Minggu pagi.
Mulailah dari tubuh. Iman Kristen tidak memandang tubuh sebagai penjara yang kelak ditinggalkan. Tubuh Yesus bangkit, dan tubuh kita akan menyusul: "akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu" (Roma 8:11). Itu berarti cara Anda memperlakukan tubuh, tidur Anda, kebiasaan makan, kemurnian seksual, dan bagaimana Anda merawat tubuh yang mulai menua atau sakit, semuanya punya martabat. Seorang ibu yang setiap pagi memandikan ayahnya yang terkena stroke sedang menghormati sesuatu yang akan dibangkitkan.
Lalu pekerjaan. Paulus menutup pasal besar tentang kebangkitan dengan kalimat yang mengejutkan karena sangat praktis: jerih payah kamu tidak sia-sia di dalam Tuhan (1 Korintus 15:58). Perhatikan logikanya. Karena ada kebangkitan, pekerjaan Anda yang kelihatan kecil, laporan yang dikerjakan jujur, kelas yang diajar dengan sabar, sawah yang digarap bertahun-tahun, tidak lenyap seperti asap. Dunia yang Anda layani bukan dunia yang akan dibuang, melainkan dunia yang akan dibarui.
Kebangkitan juga mengubah cara kita menghadapi kegagalan. Ingat, orang pertama yang mendapat pesan khusus dari kubur kosong adalah Petrus, lelaki yang baru saja menyangkal Yesus tiga kali. Kebangkitan bukan hanya pembenaran bagi yang benar; ia adalah pintu pemulihan bagi yang hancur. Bila Anda sedang membawa kegagalan yang memalukan, dengarlah: batu itu digulingkan bukan supaya Yesus bisa keluar, melainkan supaya kita bisa melihat ke dalam dan tahu bahwa yang terburuk telah dilalui.
Dan kebangkitan menyembuhkan cara kita memandang waktu dan kesepian. Orang yang tidak punya pengharapan harus memeras seluruh makna hidupnya dari beberapa dekade yang pendek, dan itu melahirkan kepanikan, ambisi yang rakus, atau kepahitan karena kesempatan yang terlewat. Orang yang percaya pada kebangkitan bisa bersabar. Ia bisa melayani tanpa dilihat, memberi tanpa dibalas, menunggu tanpa putus asa, sebab ia tahu bahwa yang menunggunya bukan kekosongan melainkan Pribadi yang berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup".
Inilah yang dimaksud Petrus ketika ia menulis dalam 1 Petrus 1:3, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,". Kelahiran baru kita tidak dipicu oleh tekad kita, melainkan oleh peristiwa di luar diri kita, pada satu pagi di Yerusalem. Pengharapan Kristen bukan optimisme karakter; ia adalah hasil dari sebuah kubur yang kosong.
Cermin
Sekarang saya ingin berbicara langsung kepada Anda.
Anda mungkin sudah hafal cerita ini sejak sekolah minggu, dan justru di situlah bahayanya. Pertanyaannya bukan apakah Anda percaya Yesus bangkit, melainkan apakah hidup Anda akan terlihat berbeda seandainya Ia tidak bangkit. Kalau jawabannya tidak banyak berbeda, maka kebangkitan baru menjadi keyakinan, belum menjadi tenaga.
Lihatlah di mana Anda masih hidup seolah kubur itu belum kosong. Anda bekerja mati-matian karena diam-diam percaya bahwa kalau Anda berhenti, semuanya runtuh, seakan Allah tidak sanggup membangkitkan apa pun tanpa Anda. Anda menggenggam uang begitu erat karena hidup ini terasa satu-satunya kesempatan. Anda menyimpan kemarahan pada seseorang di keluarga selama bertahun-tahun, karena memaafkan terasa seperti kematian kecil, padahal di tangan Yesus setiap kematian kecil adalah benih kebangkitan. Anda memandang tubuh Anda yang melemah, bekas operasi, rambut yang memutih, dengan rasa malu, seolah tubuh itu hanya sedang menuju pembuangan, bukan menuju kemuliaan.
Dan mungkin Anda sedang duduk dalam kesepian yang tidak diketahui siapa pun, dengan doa yang sudah berhenti terasa berguna. Bagi Anda, kalimat malaikat itu bukan hiburan murah: "Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu". Anda tidak perlu informasi baru. Anda perlu mengingat.
Kebangkitan menggesek kita karena ia menolak membiarkan kita hidup kecil dan takut. Tetapi ia juga membebaskan, sebab artinya tidak ada satu pun kehilangan Anda yang punya kata terakhir. Anak yang Anda kuburkan, pernikahan yang Anda tangisi, tahun-tahun yang terbuang, tubuh yang mengkhianati Anda; semuanya berada di dalam jangkauan Dia yang memegang kunci maut. Dia tidak menjanjikan bahwa semuanya kembali seperti dulu. Dia menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar: segala sesuatu dijadikan baru.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sering lebih cepat menangkap kebangkitan daripada orang dewasa, asal kita tidak menenggelamkannya dalam istilah. Untuk seorang anak, inti ceritanya bisa disampaikan begini: Yesus benar-benar mati, dan itu sungguh membuat teman-teman-Nya sangat sedih. Mereka menaruh tubuh-Nya di sebuah gua batu dan menutupnya dengan batu besar. Tetapi pada hari Minggu pagi, batu itu sudah bergeser dan gua itu kosong. Yesus hidup lagi! Dan bukan hidup yang lama, Ia tidak akan pernah mati lagi. Teman-teman-Nya bisa melihat Dia, berbicara dengan Dia, bahkan makan bersama Dia.
Yang penting bagi anak adalah menambahkan satu kalimat lagi: karena Yesus hidup, kematian bukan lagi akhir bagi orang yang mengasihi Dia. Banyak anak sudah pernah bertemu kematian, lewat kakek yang meninggal, atau kucing peliharaan yang mati, atau berita di televisi. Mereka berhak mendengar bahwa ada Seseorang yang lebih kuat daripada kematian.
Hindari dua hal. Jangan membuat ceritanya terlalu manis sehingga Jumat Agung hilang; tanpa salib, kubur kosong kehilangan maknanya. Tetapi jangan pula menakut-nakuti dengan detail kekerasan yang belum sanggup mereka cerna. Gunakan gambar yang nyata: biji yang ditanam lalu tumbuh, kepompong yang pecah, pagi yang mengganti malam.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus yang disusun menurut usia, untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan bahasa cerita yang sangat sederhana, untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun dengan ayat dan pertanyaan diskusi, serta untuk remaja dua belas tahun ke atas yang mulai bertanya soal bukti sejarah dan keraguan mereka sendiri. Pilihlah yang sesuai, lalu bacalah bersama, bukan sekadar menyerahkannya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati?
Bukti utamanya bersifat historis dan saling menguatkan: kubur yang kosong di kota tempat musuh-musuh Yesus bisa dengan mudah menunjukkan jenazah-Nya bila masih ada, daftar saksi mata yang ditulis sangat awal dalam 1 Korintus 15:3-8 termasuk lebih dari lima ratus orang sekaligus, laporan bahwa para perempuan menjadi penemu pertama padahal kesaksian perempuan kurang dihargai pada zaman itu, dan perubahan drastis para murid dari pengecut menjadi pemberita yang rela mati. Tidak satu pun dari ini memaksa iman, tetapi semuanya membuat iman masuk akal.
Mengapa kebangkitan Yesus begitu penting bagi iman Kristen?
Karena tanpanya tidak ada apa-apa yang tersisa. Paulus menulis dalam 1 Korintus 15:17, "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." Kebangkitan adalah tanda terima dari Allah Bapa bahwa korban Yesus di salib sungguh diterima dan cukup. Kalau Yesus tetap di dalam kubur, Ia hanyalah satu lagi orang baik yang dihancurkan oleh kejahatan. Karena Ia bangkit, pengampunan menjadi nyata, hidup baru menjadi mungkin, dan maut menjadi musuh yang kalah.
Apa arti "yang sulung" dalam 1 Korintus 15:20?
Istilah itu berasal dari upacara panen Israel, ketika berkas pertama dibawa kepada Tuhan sebagai jaminan bahwa seluruh ladang akan segera dituai. Ketika Paulus berkata bahwa Kristus dibangkitkan "sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal", ia bermaksud bahwa kebangkitan Yesus bukan kejadian terasing, melainkan permulaan dari kebangkitan semua milik-Nya. Jenis hidup yang sudah dimiliki Yesus sekarang adalah jenis hidup yang akan kita terima nanti. Panen besar itu sudah dimulai.
Berapa lama Yesus berada di dalam kubur, dan mengapa disebut tiga hari?
Yesus mati pada hari Jumat sore, berada di dalam kubur sepanjang hari Sabat, dan bangkit pada pagi hari pertama minggu itu. Dalam cara menghitung Yahudi, bagian dari satu hari dihitung sebagai satu hari penuh, sehingga Jumat, Sabtu, dan Minggu disebut tiga hari. Karena itu ungkapan "pada hari yang ketiga" dan "tiga hari tiga malam" dalam Matius 12:40 tidak saling bertentangan; keduanya memakai cara hitung yang lazim pada zaman itu dan menekankan kepastian, bukan ketepatan jam.
Apakah mungkin murid-murid mencuri tubuh Yesus?
Tuduhan ini sudah beredar sejak hari pertama dan dicatat jujur dalam Matius 28:11-15. Masalahnya, tuduhan itu tidak menjelaskan apa pun yang kita ketahui. Murid-murid adalah orang-orang yang baru saja lari ketakutan; sulit membayangkan mereka tiba-tiba berani menantang pengawal. Lebih sulit lagi membayangkan puluhan orang rela disiksa dan dibunuh demi sesuatu yang mereka tahu sendiri sebagai kebohongan. Orang bisa mati untuk kekeliruan yang dipercaya sungguh, tetapi jarang untuk penipuan yang mereka rancang sendiri.
Mengapa keempat Injil tampak berbeda dalam menceritakan pagi Paskah?
Perbedaan itu menyangkut sudut pandang dan pilihan detail, bukan inti peristiwa. Keempatnya sepakat bahwa Yesus mati, dikuburkan, bahwa kuburnya ditemukan kosong pada hari pertama minggu itu, bahwa para perempuan datang lebih dulu, dan bahwa Yesus yang hidup menampakkan diri. Satu penulis menyebut satu malaikat, yang lain menyebut dua; satu menyebut satu perempuan, yang lain menyebut beberapa. Justru keragaman semacam ini khas kesaksian saksi mata yang tidak disamakan lebih dulu, bukan ciri sebuah karangan yang dirapikan bersama.
Apa perbedaan antara kebangkitan Yesus dan kebangkitan Lazarus?
Lazarus dibangunkan kembali ke dalam hidup yang sama seperti sebelumnya dan pada akhirnya tetap mati. Yesus dibangkitkan ke dalam hidup yang baru sama sekali, tubuh yang nyata namun tidak lagi dapat binasa. Roma 6:9 menegaskan, "Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia." Kebangkitan Lazarus adalah mukjizat penundaan; kebangkitan Yesus adalah permulaan ciptaan baru yang kekal.
Seperti apa tubuh kebangkitan orang percaya nanti?
Paulus menjelaskannya dengan perbandingan benih dan tanaman dalam 1 Korintus 15:35-44. Ada kesinambungan, sebab yang dibangkitkan adalah tubuh yang sama, tetapi juga perubahan besar, sebab yang ditaburkan dalam kebinasaan dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Tubuh kita kelak serupa dengan tubuh kebangkitan Kristus: nyata, dapat dikenali, dapat makan dan disentuh, namun bebas dari sakit, penuaan, dan kematian. Bukan roh tanpa wujud, melainkan manusia seutuhnya yang akhirnya benar-benar hidup.
Apakah kebangkitan Yesus sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama?
Ya, dan Yesus sendiri menegaskannya kepada dua murid di jalan ke Emaus. Mazmur 16:10 berbicara tentang Orang Kudus yang tidak dibiarkan melihat kebinasaan, Yesaya 53 tentang Hamba yang diremukkan namun kemudian melihat terang dan menjadi puas, Hosea 6:2 tentang dibangkitkan pada hari yang ketiga, dan Yunus di perut ikan dipakai Yesus sebagai tanda kuburnya. Karena itu malaikat berkata bahwa semuanya terjadi "sama seperti yang telah dikatakan-Nya"; kebangkitan adalah janji lama yang ditepati, bukan jalan keluar darurat.
Apa hubungan baptisan dengan kebangkitan menurut Roma 6:4?
Roma 6:4 berbunyi, "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." Baptisan menggambarkan persatuan kita dengan Kristus: hidup lama dikuburkan bersama Dia, hidup baru dimulai bersama Dia. Karena itu kekudusan bukan usaha menjadi orang lain, melainkan hidup sesuai dengan siapa diri kita sekarang di dalam Kristus.
Bagaimana kebangkitan Yesus menolong saya yang sedang berduka?
Kebangkitan tidak menghapus kesedihan, tetapi mengubah arahnya. Paulus tidak melarang air mata, ia hanya melarang dukacita tanpa pengharapan. Yesus sendiri menangis di depan kubur Lazarus sebelum berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,". Perpisahan itu nyata dan menyakitkan, namun bukan selamanya. Bagi orang yang mati di dalam Kristus, kuburan bukan titik akhir melainkan tempat menunggu, dan Dia yang memegang kunci maut sudah pernah membuka pintunya dari dalam.
Apakah saya harus percaya kebangkitan tubuh untuk diselamatkan?
Alkitab memasukkannya sebagai bagian inti dari iman yang menyelamatkan. Roma 10:9 berkata, "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." Namun perlu dibedakan antara keraguan yang jujur dan penolakan yang keras hati. Banyak orang percaya pernah bergumul seperti Tomas, dan Yesus tidak mengusirnya, melainkan mengulurkan tangan-Nya yang berluka. Bawalah keraguan Anda kepada Dia, bukan menjauh dari Dia.
Sebagai penutup
Para perempuan itu berangkat untuk menutup sebuah bab, dan mereka pulang membawa pembukaan sebuah dunia. Itulah sebabnya halaman ini sejak awal menolak memperlakukan kebangkitan sebagai akhir cerita yang manis. Yohanes menulis "hari pertama minggu itu" dengan sengaja, dengan taman, dengan kegelapan yang berganti terang, dengan nafas yang dihembuskan ke wajah murid-murid. Allah tidak sedang memperbaiki yang lama. Dia sedang memulai yang baru, dan Ia memulainya di dalam tubuh seorang Manusia dari Nazaret yang kini tidak dapat mati lagi.
Kalau Anda ingin menggali lebih jauh, bacalah 1 Korintus 15 dengan tenang dari awal sampai akhir, lalu Yohanes 20 dan 21 sambil memperhatikan setiap gema dari Kejadian. Catat di mana hidup Anda masih bergerak seolah batu itu belum tergulingkan, lalu bawalah daftar itu dalam doa.
Kubur kosong bukan akhir berita, melainkan alamat pertama ciptaan baru.
Dan hari ini, di tengah pekerjaan yang biasa dan luka yang belum sembuh, kalimat malaikat itu tetap berdiri: Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit.
