Siapa Nabi Elia: Nabi Api yang Berani Melawan Penyembahan Berhala
Pendahuluan
Bayangkan seorang laki-laki berjubah kasar, berjalan masuk ke istana termegah di Samaria tanpa diundang, tanpa gelar, tanpa pengawal. Di hadapannya duduk Ahab, raja yang menikahi putri Sidon dan membawa Baal ke jantung Israel. Baal, kata orang Kanaan, adalah dewa hujan, dewa badai, dewa yang membuat tanah subur. Dan laki-laki asing dari kampung terpencil di Gilead itu membuka mulutnya untuk mengumumkan bahwa langit akan terkunci; bukan oleh Baal, bukan oleh musim, melainkan oleh satu kata dari mulutnya sendiri.
Itulah perkenalan pertama kita dengan Elia. Tidak ada kisah masa kecil, tidak ada silsilah panjang, tidak ada pendidikan khusus. Ia muncul seperti kilat.
Di halaman ini Anda akan mengikuti hidup Elia dari awal sampai kereta berapi itu: kemenangannya yang menggelegar, keruntuhannya yang memilukan, dan satu suara lembut yang mengubah segalanya.
Sudut pandang panduan ini
Elia biasanya diingat karena api. Namun kalau Anda membaca 1 dan 2 Raja-raja dengan teliti, yang menggerakkan hidupnya bukan api, melainkan firman: "firman TUHAN datang kepada Elia" adalah kalimat yang berulang-ulang menjadi engsel setiap babak hidupnya. Ia tidak merancang strategi besar; ia hidup dari satu perintah ke perintah berikutnya. Dan puncak pengalamannya dengan Allah justru terjadi bukan dalam angin, gempa, atau api, tetapi dalam bunyi yang hampir tak terdengar. Panduan ini membaca Elia sebagai nabi yang harus belajar bahwa Allah lebih besar daripada cara-Nya yang paling spektakuler. Karena itu kisahnya bukan kisah pahlawan super, melainkan kisah kasih karunia atas seorang manusia biasa.
Apa kata Alkitab tentang nabi Elia?
Elia tampil pertama kali di 1 Raja-raja 17:1: "Lalu Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, berkata kepada Ahab: "Demi TUHAN yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.""
Perhatikan tiga hal dalam satu ayat itu. Pertama, ia menyebut Tuhan "yang hidup", tepat di negeri yang sedang menyembah dewa yang mati. Kedua, ia memperkenalkan diri sebagai hamba: "yang kulayani", secara harfiah "yang di hadapan-Nya aku berdiri". Ketiga, kekeringan itu bukan bencana alam acak, melainkan tindakan hukum perjanjian. Ulangan 11 sudah memperingatkan: kalau Israel berbalik kepada allah lain, langit akan tertutup. Jadi Elia bukan sedang berimprovisasi; ia sedang mengumumkan bahwa Allah menepati janji-Nya, termasuk janji yang menyakitkan.
Setelah itu Allah menyembunyikan nabi-Nya. Di tepi sungai Kerit burung gagak memberinya makan, binatang yang dianggap najis membawa roti bagi nabi yang kudus. Lalu sungai itu kering juga, dan Elia diutus ke Sarfat, kota di wilayah Sidon, kampung asal Izebel. Ia tinggal di rumah seorang janda miskin, numpang hidup dari tepung segenggam dan minyak setitik yang tidak pernah habis. Ketika anak janda itu mati, Elia menelungkupi tubuh anak itu dan berdoa, dan anak itu hidup kembali. Pengakuan perempuan itu menjadi kesimpulan seluruh babak ini: "Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar" (1 Raja-raja 17:24).
Tahun ketiga kekeringan membawa adegan paling terkenal: Gunung Karmel. Di sana Elia menantang rakyat yang mau dua-duanya: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia" (1 Raja-raja 18:21). Empat ratus lima puluh nabi Baal berteriak sepanjang hari dan menoreh diri sampai berdarah, dan langit tetap bisu. Lalu Elia memperbaiki mezbah TUHAN yang runtuh, menyiram korban dengan air sampai paritnya penuh, dan berdoa singkat sekali, doa yang isinya bukan "buktikan aku benar" melainkan "jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah". Jawabannya langsung: "Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya" (1 Raja-raja 18:38). Api itu tidak membakar rakyat, tetapi korban. Penghakiman jatuh pada mezbah, bukan pada manusia; sebuah gambar kecil tentang Golgota yang masih jauh.
Api itu menjawab doa, bukan menjawab keberanian seorang manusia.
Hari itu juga Elia berdoa tujuh kali sampai awan sebesar telapak tangan muncul di laut, dan hujan turun kembali. Lalu, di puncak kejayaannya, ancaman Izebel membuat ia berlari ratusan kilometer ke selatan, duduk di bawah pohon arar dan berkata: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek-nenekku" (1 Raja-raja 19:4). Allah tidak menegurnya. Allah memberinya roti, air, dan tidur, dua kali, lalu menuntunnya empat puluh hari ke Gunung Horeb, gunung Musa.
Di sanalah terjadi perjumpaan yang paling menentukan: "Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi yang sunyi senyap" (1 Raja-raja 19:11-12). Nabi api dijumpai Allah dalam kesenyapan. Ia merasa tinggal sendiri; Allah memberitahu bahwa masih ada tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal, dan memberinya tiga tugas baru, termasuk memanggil Elisa sebagai penggantinya.
Sisa hidupnya lebih sunyi tetapi tidak kurang tajam. Ia berdiri di kebun anggur Nabot dan memanggil Ahab "musuhku" karena perampasan dan pembunuhan itu (1 Raja-raja 21). Ia berhadapan dengan Ahazia, anak Ahab, yang mencari petunjuk kepada Baal-Zebub di Ekron (2 Raja-raja 1). Dan akhirnya: "Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, maka tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai" (2 Raja-raja 2:11). Ia tidak dikuburkan. Ia hanya pergi, bersama Allah.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Elia berdiri di tengah-tengah Perjanjian Lama seperti gema Musa dan sekaligus nubuat tentang Yohanes Pembaptis. Empat puluh hari di padang gurun, perjumpaan di Horeb, air yang terbelah supaya ia menyeberang, semuanya sengaja mengingatkan pembaca pada Musa. Pesannya jelas: Allah yang mengikat perjanjian di Sinai belum berubah pikiran, meskipun Israel sudah lama melupakannya. Elia tidak membawa ajaran baru; ia memanggil umat kembali kepada firman yang sudah mereka miliki.
Lalu kitab terakhir Perjanjian Lama menutup dengan nama Elia: "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu" (Maleakhi 4:5). Perjanjian Lama berakhir dengan sebuah pintu yang dibiarkan terbuka, dengan harapan yang menggantung. Pelayanan Elia, ternyata, belum selesai; ia menjadi tanda bahwa Allah akan datang sendiri untuk membereskan hati umat-Nya.
Perjanjian Baru menangkap benang itu dan mengikatkannya pada Kristus. Tentang Yohanes Pembaptis dikatakan bahwa ia berjalan mendahului Tuhan "dalam roh dan kuasa Elia" (Lukas 1:17), dan Yesus sendiri berkata tentang Yohanes, "Elia sudah datang dan mereka tidak mengenal dia" (Matius 17:12). Yohanes berpakaian kasar seperti Elia, hidup di padang gurun seperti Elia, dan menghadapi raja serta ratu yang marah seperti Elia. Namun ia menunjuk kepada Seseorang yang lebih besar.
Di gunung pemuliaan, Musa dan Elia muncul berbicara dengan Yesus tentang kepergian-Nya di Yerusalem (Lukas 9:30-31). Hukum dan para nabi berdiri di sana bukan sebagai saingan, melainkan sebagai saksi, lalu menghilang sehingga tinggal Yesus seorang diri dan suara dari sorga: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." Api Karmel menjawab satu doa; salib menjawab seluruh dosa dunia.
Yesus juga memakai Elia untuk hal yang mengejutkan. Di Nazaret Ia mengingatkan bahwa pada zaman Elia ada banyak janda di Israel, tetapi nabi itu diutus kepada seorang janda di Sarfat, perempuan bukan Yahudi (Lukas 4:25-26). Kasih karunia Allah sejak awal sudah melimpah melewati batas bangsa. Dan ketika Yakobus dan Yohanes ingin memanggil api dari langit untuk membakar sebuah desa Samaria, Yesus menegur mereka (Lukas 9:54-55). Roh Elia yang sejati bukan kegemaran menghanguskan, melainkan kerinduan agar hati manusia berbalik kepada Allah. Paulus pun memakai keluhan Elia di Horeb untuk menegaskan bahwa Allah selalu memelihara sisa umat-Nya oleh kasih karunia (Roma 11:2-4).
Inti hidupnya
Ada tiga momen yang menjadi tulang punggung hidup Elia, dan ketiganya bergantung pada firman, bukan pada bakat sang nabi.
Yang pertama adalah kamar makan di rumah janda Sarfat. Kita cenderung melewatkannya dan langsung melompat ke Karmel, padahal urutannya penting: sebelum Allah memakai Elia di depan ribuan orang, Allah melatihnya hidup dari persediaan yang hanya cukup untuk sehari. Tiga tahun ia tersembunyi, diberi makan oleh gagak, lalu oleh seorang perempuan asing yang lebih miskin daripada dia. Seorang nabi yang mengunci langit harus belajar bahwa ia sendiri pun tidak bisa menurunkan sesuap roti. Di sanalah dibentuk ketergantungan yang nanti membuatnya sanggup berdiri sendirian melawan sebuah negara.
Yang kedua, jelas, adalah Karmel. Namun inti dari Karmel bukan pertunjukan kuasa, melainkan sebuah pertanyaan: mau ikut siapa? Israel tidak menolak TUHAN secara terbuka; mereka hanya menambahkan Baal, berjaga-jaga, dua kaki di dua perahu. Elia menyebut itu "berlaku timpang". Api yang turun pada 1 Raja-raja 18:38 bukan hiburan rohani; api itu membakar kemungkinan untuk netral. Sesudah itu rakyat sujud dan berseru bahwa TUHAN itu Allah. Tetapi, dan di sini kisahnya menjadi jujur, pertobatan massal itu tidak mengubah Izebel, tidak mengubah Ahab untuk waktu lama, dan ternyata juga tidak membuat Elia kebal. Mukjizat terbesar sekalipun tidak otomatis melahirkan iman yang tahan lama.
Yang ketiga adalah mulut gua di Horeb. Elia sampai di titik yang jarang kita akui dari seorang hamba Tuhan: ia ingin mati, dan ia merasa gagal total. Dua kali ia mengucapkan keluhan yang sama, "hanya aku seorang dirilah yang masih hidup" (1 Raja-raja 19:10). Allah tidak menjawab dengan khotbah tentang kekuatan diri. Allah memberinya makanan, tidur, perjalanan, lalu bunyi yang sunyi senyap, lalu pekerjaan baru dan seorang rekan bernama Elisa. Kesepian Elia dipatahkan dengan dua cara: kebenaran bahwa ada tujuh ribu orang lain, dan karunia seorang sahabat yang akan berjalan bersamanya. Pemulihan Allah selalu konkret.
Dan akhirnya, kereta berapi di 2 Raja-raja 2:11. Elia tidak pensiun, tidak dimakamkan, tidak membangun monumen. Ia pergi, meninggalkan jubahnya di tangan orang lain. Pelayanannya ternyata bukan miliknya.
Yang kita pelajari dari Elia
Pelajaran pertama datang dari Perjanjian Baru, dari kalimat yang seolah ingin mencegah kita menaruh Elia terlalu tinggi: "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan" (Yakobus 5:17). Yakobus menulis itu bukan untuk mengecilkan Elia, tetapi untuk membesarkan doa. Tidak ada kategori "manusia rohani kelas satu" yang doanya didengar dan "orang biasa" yang doanya diabaikan. Elia punya saraf yang sama, rasa takut yang sama, depresi yang sama seperti kita. Yang membedakan bukan materinya, melainkan kepada siapa ia berseru. Kalau Anda merasa doa Anda terlalu kecil, ayat ini sedang berbicara kepada Anda.
Pelajaran kedua: Allah tidak terikat pada cara-Nya sendiri. Elia mengenal Allah dalam api, dan itu benar. Tetapi ketika ia hancur, Allah justru datang dalam bunyi yang hampir tidak terdengar (1 Raja-raja 19:11-12). Banyak orang percaya hari ini mengukur kedekatan dengan Allah lewat intensitas pengalaman: ibadah yang menggetarkan, jawaban doa yang dramatis, perasaan yang meluap. Padahal Allah yang sama sering bekerja lewat Alkitab yang dibaca dengan tenang, lewat roti dan tidur, lewat seorang saudara yang menemani. Jangan menyimpulkan bahwa Allah pergi hanya karena langit sedang hening.
Pelajaran ketiga: pelayanan yang setia pun bisa berakhir dengan kelelahan, dan itu bukan dosa yang memalukan. Elia berlari karena takut, lalu minta mati. Tanggapan Allah terhadap nabi yang rapuh adalah kelembutan, bukan ancaman. Allah memberi makan nabi-Nya sebelum memberi perintah baru. Kalau Anda sedang menolong banyak orang sementara jiwa Anda sendiri kosong, kisah ini memberi izin untuk berhenti, makan, tidur, dan membiarkan Allah memulihkan Anda tanpa syarat. Dan kemudian, tanpa tergesa, Ia akan menyebut nama Anda lagi.
Cermin
Pertanyaan Elia di Karmel masih menusuk hari ini: berapa lama lagi Anda mau berlaku timpang? Kita jarang menukar Tuhan dengan berhala secara terbuka. Kita menambahkan. Kita tetap beribadah, tetap berdoa, tetapi keputusan besar soal uang kita ambil berdasarkan rasa aman, bukan berdasarkan firman. Kita bilang percaya Tuhan memelihara, lalu bekerja tujuh hari seminggu karena diam-diam kita yakin hanya penghasilan kita yang menjamin masa depan. Kita berjanji menjaga keluarga, lalu memberi sisa tenaga kepada mereka dan energi terbaik kita kepada pekerjaan yang memuji kita. Baal selalu menjanjikan hal yang sama: kesuburan, hasil, kendali. Dan kita sering lebih percaya pada hasil yang kelihatan daripada pada Allah yang berfirman.
Namun kalau Anda hari ini merasa lebih mirip Elia di bawah pohon arar daripada Elia di atas Karmel, dengarkan ini dengan hati-hati. Allah tidak menghampiri nabi yang patah itu dengan daftar kesalahan. Ia bertanya, "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?", lalu membiarkannya mengeluh dua kali, lalu memberi makan, lalu berbicara dengan lembut. Allah tidak menuntut Anda tampil kuat sebelum Anda layak didekati. Mungkin tubuh Anda sedang habis, tidur Anda buruk, dan hati Anda berkata bahwa tidak ada yang peduli dan Anda sendirian dalam kesetiaan Anda. Elia yakin ia tinggal satu-satunya. Ia salah hitung tujuh ribu orang.
Jadi hari ini pertanyaannya dua: ada mezbah apa di rumah Anda yang perlu dirobohkan, dan di mana Anda perlu berhenti dan membiarkan Allah merawat Anda? Keduanya ditangani oleh satu Pribadi yang sama, yang kemudian berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat."
Dijelaskan untuk anak-anak
Kalau anak Anda bertanya siapa Elia, mulailah dengan gambar yang bisa mereka lihat. Elia adalah utusan Tuhan yang berani. Pada zaman itu banyak orang menyembah patung bernama Baal, dan mereka percaya patung itu bisa memberi hujan. Elia berkata, "Hanya Tuhan yang hidup!" Lalu hujan berhenti turun selama bertahun-tahun, dan Tuhan menjaga Elia dengan cara yang lucu: burung-burung membawakan makanan untuknya setiap hari. Kemudian ada ibu miskin yang tepungnya tidak pernah habis, dan anaknya yang dihidupkan kembali oleh Tuhan.
Puncaknya adalah hari di gunung ketika Elia berdoa dan api turun dari langit. Anak-anak biasanya langsung menyukai bagian ini. Tetapi jangan berhenti di situ. Ceritakan juga bahwa sesudah hari yang hebat itu, Elia menjadi sangat takut dan sangat sedih, dan Tuhan menolongnya dengan memberi roti, air, dan tidur. Lalu Tuhan berbicara kepadanya dengan suara yang sangat pelan. Itu pelajaran besar untuk hati kecil: Tuhan kadang berbicara dengan lembut, dan Dia tidak marah ketika kita lelah atau takut.
Untuk anak-anak yang lebih kecil, cukup tiga hal: Tuhan menjaga, Tuhan berkuasa, Tuhan menyayangi Elia saat Elia sedih. Anak usia sekolah bisa diajak membandingkan Baal yang bisu dengan Tuhan yang menjawab. Remaja biasanya tertarik pada sisi yang jujur: seorang hamba Tuhan yang sukses lalu ambruk, dan bagaimana Allah memulihkannya. Di Faith.network tersedia penjelasan khusus untuk tiga kelompok usia, yaitu balita 3 sampai 6 tahun, anak sekolah 7 sampai 12 tahun, dan remaja 12 tahun ke atas, sehingga Anda bisa memilih versi yang paling cocok untuk anak di depan Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa nabi Elia dalam Alkitab?
Elia adalah nabi Israel yang melayani sekitar abad kesembilan sebelum Kristus, pada masa pemerintahan Raja Ahab dan anaknya Ahazia di Kerajaan Israel utara. Ia berasal dari Tisbe di wilayah Gilead, di seberang Sungai Yordan, dan Alkitab tidak menyebut nama orang tuanya maupun masa mudanya. Tugas utamanya adalah memanggil umat Allah kembali dari penyembahan Baal kepada TUHAN yang hidup. Pelayanannya ditandai mukjizat besar, tetapi intinya selalu sama: menegakkan firman Tuhan di tengah bangsa yang sudah melupakannya.
Di kitab mana kisah nabi Elia ditemukan?
Kisah utamanya ada di 1 Raja-raja 17 sampai 2 Raja-raja 2, ditambah sebuah surat peringatan kepada Raja Yoram yang dicatat dalam 2 Tawarikh 21. Setelah itu namanya muncul lagi di akhir Perjanjian Lama, dalam Maleakhi 4:5, sebagai nubuat tentang utusan yang akan datang mendahului hari TUHAN. Dalam Perjanjian Baru ia disebut berkali-kali, antara lain dalam Matius 17, Lukas 1, Lukas 4, Lukas 9, Roma 11, dan Yakobus 5. Jadi kisahnya membentang dari Raja-raja sampai surat-surat rasuli.
Apa arti nama Elia?
Nama Elia dalam bahasa Ibrani berarti "TUHAN adalah Allahku" atau "Allahku adalah TUHAN". Itu bukan kebetulan kecil, karena justru itulah seluruh pesan hidupnya. Ketika ia berdiri di Gunung Karmel dan menantang bangsa Israel untuk memilih antara TUHAN dan Baal, ia sedang mengkhotbahkan namanya sendiri. Jawaban rakyat setelah api turun, bahwa TUHAN itu Allah, adalah nama Elia yang diucapkan oleh ribuan mulut sekaligus. Sejak ayat pertamanya di 1 Raja-raja 17:1 sampai akhir, hidupnya adalah pembelaan atas satu kalimat itu.
Apakah nabi Elia pernah mati?
Alkitab tidak mencatat kematian maupun penguburan Elia. Menurut 2 Raja-raja 2:11 ia diangkat ke sorga dalam angin badai, dengan kereta berapi dan kuda berapi memisahkan dia dari Elisa. Bersama Henokh, ia adalah satu dari dua tokoh Perjanjian Lama yang digambarkan pergi kepada Allah tanpa melalui kematian biasa. Ini bukan berarti Elia menjadi ilahi atau layak disembah; ia tetap manusia biasa, seperti ditegaskan Yakobus. Pengangkatannya adalah tanda bahwa Allah berkuasa atas hidup dan mati, dan bahwa kematian bukan kata terakhir.
Mengapa nabi Elia disebut nabi api?
Julukan itu muncul karena api berulang kali hadir dalam kisahnya. Api TUHAN menyambar korban di Gunung Karmel menurut 1 Raja-raja 18:38, api turun atas pasukan yang dikirim Raja Ahazia dalam 2 Raja-raja 1, dan ia sendiri diangkat dengan kereta berapi. Tetapi penting diingat bahwa justru di Gunung Horeb Allah menegaskan bahwa Ia tidak berada dalam api itu, melainkan berbicara dalam bunyi yang sunyi senyap. Api adalah salah satu cara Allah bekerja, bukan ukuran kehadiran-Nya, dan bukan sumber kuasa Elia.
Mengapa Elia ingin mati setelah kemenangan di Karmel?
Setelah hari paling berhasil dalam pelayanannya, Izebel mengancam membunuhnya, dan Elia melarikan diri sampai ke padang gurun lalu meminta Tuhan mengambil nyawanya. Penyebabnya berlapis: kelelahan fisik yang ekstrem, rasa takut, dan kekecewaan karena mukjizat sebesar itu ternyata tidak mengubah pemerintahan. Ia juga merasa benar-benar sendirian. Yang menolong adalah bahwa Allah tidak menghardiknya, melainkan memberi makanan, tidur, perjumpaan pribadi, kebenaran bahwa masih ada tujuh ribu orang yang setia, dan seorang rekan pelayanan bernama Elisa.
Apa bedanya nabi Elia dan nabi Elisa?
Elia adalah guru, Elisa adalah muridnya dan penerusnya. Elia dipanggil untuk masa konfrontasi: melawan Ahab, Izebel, dan para nabi Baal secara terbuka, sering dalam kesendirian dan di padang gurun. Elisa melayani lebih lama, lebih banyak di tengah masyarakat, dan mukjizatnya umumnya bersifat menolong dan menyembuhkan. Elisa meminta dua bagian dari roh Elia, yang merupakan bahasa hak anak pertama atas warisan, bukan permintaan kuasa dua kali lipat. Keduanya melayani Allah yang sama dalam musim yang berbeda.
Apakah Yohanes Pembaptis adalah Elia yang dijanjikan?
Ketika ditanya langsung, Yohanes Pembaptis menjawab bahwa dirinya bukan Elia, karena ia bukan Elia yang kembali secara pribadi. Namun Yesus berkata tentang dia, "Elia sudah datang dan mereka tidak mengenal dia", dan malaikat bernubuat bahwa ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia menurut Lukas 1:17. Jadi Yohanes menggenapi Maleakhi 4:5 dalam fungsinya: ia memanggil umat bertobat dan menyiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Penggenapan itu berpusat bukan pada tokohnya, melainkan pada Kristus yang ia perkenalkan.
Apa arti nubuat dalam Maleakhi 4:5 tentang kedatangan Elia?
Maleakhi 4:5 berbunyi: "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu." Ayat ini menutup Perjanjian Lama dengan janji bahwa Allah akan mengirim seorang nabi bergaya Elia untuk memulihkan hati, khususnya hubungan antara bapa dan anak, sebelum hari penghakiman. Perjanjian Baru melihat penggenapannya dalam pelayanan Yohanes Pembaptis. Sebagian orang percaya juga menantikan penggenapan lanjutan pada akhir zaman, tetapi inti pesannya tetap sama: Allah selalu mengirim panggilan pertobatan sebelum Ia datang menghakimi.
Mengapa Elia muncul bersama Musa di gunung pemuliaan?
Dalam Lukas 9 dan Matius 17, Musa dan Elia tampak berbicara dengan Yesus tentang kepergian-Nya yang akan digenapi di Yerusalem. Musa mewakili hukum Taurat, Elia mewakili para nabi; keduanya bersama-sama menjadi saksi bahwa seluruh Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus. Keduanya juga pernah berjumpa Allah di gunung yang sama, Horeb atau Sinai. Yang menentukan adalah penutup adegan itu: mereka menghilang, Yesus tinggal sendiri, dan suara dari sorga memerintahkan para murid untuk mendengarkan Dia. Hukum dan nabi memberi jalan bagi Sang Anak.
Apa makna doa Elia menurut Yakobus 5:17?
Yakobus 5:17 berkata: "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan." Yakobus memakai Elia bukan sebagai pengecualian, melainkan sebagai contoh yang bisa diikuti. Kuncinya bukan kesalehan luar biasa, melainkan doa yang sungguh-sungguh dan sejalan dengan kehendak Allah. Karena itu orang percaya yang paling sederhana pun boleh berdoa dengan keyakinan, sebab yang menjawab adalah Allah yang sama yang menjawab Elia.
Bagaimana memahami pembunuhan para nabi Baal oleh Elia?
Peristiwa di 1 Raja-raja 18 harus dibaca dalam konteks hukum perjanjian Israel, di mana nabi yang memimpin umat kepada allah lain dianggap melakukan pengkhianatan terhadap Allah sendiri, dan di mana para nabi Baal itu sendiri terlibat dalam pembunuhan nabi-nabi TUHAN. Ini adalah penghakiman dalam sebuah bangsa perjanjian pada waktu tertentu, bukan izin bagi orang percaya untuk memakai kekerasan hari ini. Yesus justru menegur murid-murid-Nya yang ingin memanggil api atas sebuah desa, dan memerintahkan kita mengasihi musuh serta mendoakan mereka.
Sebagai penutup
Kalau Anda hanya mengingat satu hal tentang Elia, jangan ingat apinya; ingat firman yang datang kepadanya. Setiap babak hidupnya dibuka dengan Allah berbicara lebih dulu: pergi ke Kerit, pergi ke Sarfat, pergilah menampakkan diri kepada Ahab, keluarlah dan berdiri di atas gunung, urapilah Hazael dan Yehu dan Elisa. Elia besar bukan karena ia luar biasa, tetapi karena ia hidup dari mulut Allah. Dan ketika ia tidak sanggup lagi, Allah mendekat bukan dengan badai, melainkan dengan bunyi yang sunyi senyap, roti hangat, dan seorang sahabat.
Itulah sebabnya kisahnya tidak berhenti di 2 Raja-raja. Dari Maleakhi ke Yohanes Pembaptis, dari gunung pemuliaan ke salib, semuanya mengalir kepada Yesus Kristus, yang bukan hanya membawa firman, tetapi adalah Firman itu sendiri. Langkah selanjutnya sederhana: bacalah 1 Raja-raja 17 sampai 19 dalam satu kali duduk, dan tandai setiap kali Allah berbicara. Lalu tanyakan satu hal dengan jujur, apakah hati Anda sedang timpang, dan apa yang perlu dirobohkan supaya nama Elia menjadi doa Anda juga: TUHAN, Engkaulah Allahku.
