Siapa Salomo: Raja Terhikmat yang Jatuh karena Hatinya Menyimpang
Pendahuluan
Bayangkan seorang anak muda berdiri di Gibeon, jauh dari istana, di antara asap dari seribu korban bakaran. Ia baru saja mewarisi takhta ayahnya. Tangannya masih terasa asing memegang tongkat kerajaan. Malam itu Allah menampakkan diri dalam mimpi dan menawarkan sesuatu yang tak pernah ditawarkan kepada raja mana pun: mintalah apa saja. Ia bisa meminta umur panjang, kekayaan, nyawa musuh-musuhnya. Ia meminta hati yang mengerti.
Empat puluh tahun kemudian, laki-laki yang sama duduk tua di Yerusalem, dikelilingi emas, kuda, dan seribu perempuan, dengan mezbah-mezbah bagi Kamos dan Molokh berdiri di bukit sebelah timur kota. Hati yang dulu meminta hikmat kini sudah menyimpang.
Halaman ini menelusuri seluruh perjalanan itu, dari kelahiran Salomo sampai kejatuhannya, dan menunjukkan mengapa kisahnya justru mengarahkan kita kepada Raja yang jauh lebih besar.
Sudut pandang panduan ini
Kebanyakan tulisan tentang raja Salomo berhenti pada kekagumannya: orang terpandai sepanjang zaman, pembangun Bait Allah, kaya raya. Panduan ini membaca hidupnya dari sudut yang lain, yaitu dari kata yang paling sering muncul dalam kisahnya: hati. Salomo meminta hati, Allah memberinya hati, Salomo berkhotbah tentang hati, dan Salomo akhirnya kehilangan hati. Kejatuhannya bukan kegagalan kecerdasan, melainkan pergeseran kasih yang berjalan pelan selama puluhan tahun. Kita akan mengikuti benang "hati" itu dari 2 Samuel sampai Pengkhotbah, sebab di situlah letak peringatan sekaligus penghiburan terbesar bagi kita yang tahu banyak tentang Allah namun belum tentu mengasihi Dia sepenuh hati.
Apa kata Alkitab tentang raja Salomo?
Kisah Salomo dimulai bukan dengan mahkota, melainkan dengan air mata. Ia lahir setelah tragedi paling gelap dalam hidup Daud: perzinahan dengan Batsyeba, pembunuhan Uria, dan kematian anak pertama mereka. Di tengah puing-puing itu, Alkitab mencatat: "Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia. Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamakan dia Salomo. TUHAN mengasihi anak ini" (2 Samuel 12:24). Perhatikan kalimat terakhir itu. Sebelum Salomo melakukan apa pun, sebelum ia berdoa, memerintah, atau membangun, Allah sudah mengasihi dia. Nabi Natan bahkan memberinya nama kedua, Yedidya, "yang dikasihi TUHAN". Seluruh hidup Salomo berdiri di atas anugerah yang datang lebih dulu.
Nama Salomo sendiri berakar pada kata syalom, damai. Ia adalah anak perjanjian yang dijanjikan kepada Daud dalam 2 Samuel 7, keturunan yang akan mendirikan rumah bagi nama Tuhan. Namun jalan menuju takhta tidak damai. Ketika Daud sekarat, kakaknya Adonia memproklamasikan diri sebagai raja, dan hanya karena campur tangan Batsyeba serta Natan, Salomo diurapi di mata air Gihon. Tahun-tahun pertama pemerintahannya penuh perhitungan politik yang keras: Adonia dihukum mati, Yoab dibunuh di samping mezbah, imam Abyatar dibuang, Simei dieksekusi. Kerajaan pun kokoh di tangannya.
Lalu datanglah malam di Gibeon. Allah bertanya apa yang ia inginkan, dan Salomo menjawab dengan doa yang sampai hari ini menjadi salah satu doa paling indah dalam Alkitab: "Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (1 Raja-raja 3:9). Yang ia minta secara harfiah adalah "hati yang mendengar". Bukan otak yang tajam, melainkan batin yang peka terhadap suara Allah dan jeritan rakyat.
Allah menjawab melampaui permintaannya: "maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau" (1 Raja-raja 3:12). Kekayaan dan kemuliaan ditambahkan sebagai bonus. Segera sesudahnya, hikmat itu diuji dalam perkara dua perempuan sundal yang memperebutkan seorang bayi, dan seluruh Israel menyadari bahwa hikmat Allah ada pada raja mereka.
Puncak pemerintahannya adalah pembangunan Bait Allah selama tujuh tahun. Pada hari pentahbisan, Salomo berlutut dan mengucapkan kalimat yang mengejutkan untuk seorang pembangun: "Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini" (1 Raja-raja 8:27). Ia tahu batu tidak dapat mengurung Allah.
Setelah itu, kemegahan datang bertubi-tubi. Kapal-kapal dari Tarsis, emas dari Ofir, ratu negeri Syeba yang datang menguji dan pulang kehabisan napas. Alkitab meringkas: "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat" (1 Raja-raja 10:23). Satu pasal kemudian, semuanya runtuh: "Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya" (1 Raja-raja 11:4).
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Salomo tidak muncul dari ruang kosong. Ia adalah penggenapan setengah jadi dari janji kepada Daud. Allah berjanji akan membangkitkan keturunan Daud yang mendirikan rumah bagi nama-Nya dan takhtanya dikokohkan selama-lamanya. Salomo memang mendirikan rumah itu, tetapi takhtanya tidak bertahan. Dalam Alkitab, setiap penggenapan separuh selalu menjadi tanda panah ke arah penggenapan penuh.
Jauh sebelum Salomo lahir, Taurat sudah memberi peringatan yang hampir terdengar seperti ramalan tentang dirinya. Tentang raja Israel kelak, Musa menulis: "Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; juga perak dan emas janganlah ia kumpulkan terlalu banyak" (Ulangan 17:17). Tiga hal dilarang bagi raja: banyak kuda, banyak istri, banyak emas. Salomo melanggar ketiganya dengan rekor dunia. Kitab Raja-raja sengaja menyusun daftar kuda, emas, dan perempuan itu berurutan supaya pembaca Yahudi berteriak dalam hati: ini persis yang dilarang Allah.
Ironi yang paling menusuk terletak di doa Salomo sendiri. Pada akhir pentahbisan Bait Allah ia menasihati bangsanya: "Maka hendaklah kamu berpaut kepada TUHAN, Allah kita, dengan sepenuh hatimu dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya seperti pada hari ini" (1 Raja-raja 8:61). Puluhan tahun kemudian, penulis Raja-raja memakai kata-kata yang nyaris sama untuk menghukumnya: ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan. Salomo dinilai dengan khotbahnya sendiri.
Kita selalu dihakimi oleh kebenaran yang kita ajarkan kepada orang lain.
Perjanjian Baru mengambil Salomo dan meletakkannya di samping Yesus, selalu dengan hasil yang sama. Dalam silsilah Matius 1, ia disebut sebagai anak Daud "dari isteri Uria", sebuah pengingat bahwa garis Mesias mengalir melalui dosa yang diampuni. Yesus menyinggung kemegahan Salomo dan berkata bunga bakung di padang berpakaian lebih indah dari dia. Dan tentang ratu Syeba, Yesus berkata: "Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!" (Matius 12:42).
Di situlah seluruh benang merah bertemu. Salomo membangun bait yang bisa dibakar; Yesus berkata tentang tubuh-Nya sendiri bahwa bait itu akan dirobohkan dan dibangkitkan dalam tiga hari. Salomo memiliki hikmat; Kristus adalah hikmat, sebab "di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:3). Salomo membawa damai untuk satu generasi; Kristus adalah Raja Damai yang kerajaan-Nya tidak berkesudahan. Salomo kehilangan hatinya; Kristus memberikan hati-Nya sampai terkoyak di kayu salib, supaya kita menerima hati yang baru.
Inti hidupnya
Tiga momen menentukan seluruh arah hidup Salomo, dan ketiganya adalah momen hati.
Yang pertama adalah malam di Gibeon. Di sini kita melihat Salomo pada saat terbaiknya. Ia baru saja membereskan musuh-musuh politiknya dengan tangan besi, tetapi di hadapan Allah ia menyebut dirinya "seorang anak yang masih sangat muda" yang tidak tahu keluar masuk. Kerendahan hati itu tulus. Namun Alkitab jujur, bahkan pada puncak ini ada retakan halus: "Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan" (1 Raja-raja 3:3). Kata "hanya" itu kecil sekali. Tetapi bukit-bukit pengorbanan itulah yang empat puluh tahun kemudian dipenuhi berhala. Kompromi yang kita anggap sepele di usia muda biasanya tumbuh menjadi pohon besar di usia tua.
Yang kedua adalah doa pentahbisan Bait Allah dalam 1 Raja-raja 8. Ini adalah momen paling mulia dalam hidupnya dan salah satu doa terpanjang dalam Alkitab. Salomo berlutut di depan seluruh jemaah, mengangkat tangannya ke langit, dan berulang kali memohon satu hal: apabila umat-Mu berdosa dan kembali dengan segenap hati mereka, dengarlah dan ampunilah. Ia sudah tahu bahwa bangsanya akan gagal. Ia bahkan berdoa untuk orang asing yang datang dari negeri jauh. Dan ia menolak untuk berpikir kecil tentang Allah: langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Dia (1 Raja-raja 8:27). Teologinya benar, doanya besar, hatinya saat itu lembut. Namun mengetahui kebenaran tentang Allah ternyata bukan jaminan untuk tetap mengasihi Dia.
Yang ketiga adalah kemerosotan pelan di usia tua. Tidak ada satu hari dramatis di mana Salomo memutuskan meninggalkan Tuhan. Yang ada adalah rangkaian pernikahan politik, satu demi satu, masing-masing sangat masuk akal secara diplomatik. Setiap istri membawa allahnya sendiri, dan setiap allah minta tempat. Salomo membangunkan mereka bukit pengorbanan, mungkin sambil berkata pada dirinya sendiri bahwa hatinya tetap milik Tuhan. Tetapi Allah menilai sebaliknya: "Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya" (1 Raja-raja 11:9). Akibatnya diumumkan: kerajaan akan dikoyakkan, sepuluh suku diberikan kepada Yerobeam, dan hanya karena Daud, satu suku disisakan bagi keturunannya. Salomo mati sebagai raja terkaya di bumi dan sebagai raja yang hatinya terbelah.
Yang kita pelajari dari Salomo
Hikmat adalah pemberian, bukan kekebalan. Allah benar-benar memberi Salomo hati yang penuh hikmat dan pengertian (1 Raja-raja 3:12), dan pemberian itu tidak pernah ditarik kembali; sampai tua ia tetap orang paling bijak di dunia, sanggup menulis tiga ribu amsal. Tragedinya justru di situ. Ia menulis "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan" (Amsal 4:23) dan tidak melakukannya. Karunia rohani yang besar tidak sama dengan kedekatan rohani yang hidup. Seseorang bisa berkhotbah dengan kuasa, memimpin pelayanan yang bertumbuh, menjawab pertanyaan teologi yang rumit, sementara hatinya perlahan pindah ke tempat lain. Hikmat yang kita miliki berbeda dengan hikmat yang memiliki kita.
Kemunduran hati selalu dimulai dari yang kecil dan masuk akal. Salomo tidak bangun pagi dan memutuskan menyembah Molokh. Ia menikah demi stabilitas, mengumpulkan emas demi kemakmuran, membangun mezbah demi menyenangkan istri yang dicintainya. Setiap langkah dapat dibela dengan alasan bagus. Dosa jarang datang sebagai pemberontakan terbuka; ia datang sebagai penyesuaian kecil yang wajar. Karena itu pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan "apakah saya sedang melakukan dosa besar", melainkan "ke arah mana hati saya sedang condong selama lima tahun terakhir".
Akhirnya, hanya satu hal yang tersisa. Pengkhotbah membaca seperti catatan seorang tua yang sudah mencoba segalanya: kesenangan, proyek raksasa, kekayaan, pengetahuan, dan menemukan semuanya sia-sia, usaha menjaring angin. Namun kitab itu tidak berhenti dalam keputusasaan. Kesimpulannya justru sederhana dan telanjang: "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang" (Pengkhotbah 12:13). Sesudah semua eksperimen hidup gagal memuaskan, yang tinggal adalah takut akan Allah. Itulah yang sejak awal disebut Amsal sebagai permulaan hikmat, dan Salomo sampai ke sana dengan cara paling mahal yang bisa dibayangkan: dengan kehilangan hampir segalanya lebih dahulu.
Cermin
Anda mungkin membaca kisah ini sambil merasa aman, karena Anda tidak punya seribu istri dan tidak membangun mezbah bagi Kamos. Tetapi tanyakan ini pada diri Anda: apa yang lima belas tahun lalu tidak pernah Anda izinkan, dan sekarang sudah menjadi hal biasa dalam hidup Anda? Salomo tidak jatuh karena satu keputusan bodoh. Ia jatuh karena ratusan keputusan masuk akal yang pelan-pelan memindahkan pusat kasihnya.
Mungkin Anda masih rajin ke gereja, tetapi Alkitab di rumah sudah lama tidak dibuka karena akhir pekan habis untuk pekerjaan. Mungkin Anda bisa menjelaskan doktrin anugerah dengan rapi, sementara pasangan Anda sudah setahun tidak mendengar Anda berdoa bersamanya. Mungkin uang yang dulu Anda kejar untuk bertahan hidup kini Anda kejar untuk dikagumi. Mungkin Anda menoleransi relasi yang Anda tahu sedang menarik Anda menjauh dari Tuhan, dan Anda membela diri dengan kalimat yang sama seperti Salomo: hati saya tetap milik Tuhan.
Perhatikan kata yang dipakai Alkitab tentang dia: hatinya mencondong. Bukan melompat, bukan berlari. Condong. Seperti rumah yang miring beberapa derajat setiap tahun, tidak terasa sampai pintu tidak bisa ditutup lagi.
Tetapi ada kabar baik dalam kisah ini, dan itu bukan kabar tentang Salomo. Allah mengasihi anak itu sebelum ia melakukan apa pun (2 Samuel 12:24), dan Allah tetap memelihara garis keturunan itu sampai lahir seorang Anak Daud yang hati-Nya tidak pernah menyimpang sedetik pun. Anda tidak dipanggil untuk menjadi Salomo yang lebih baik. Anda dipanggil untuk datang kepada Dia yang lebih besar dari Salomo dan meminta apa yang dulu diminta Salomo: hati yang mendengar. Doa itu masih dijawab hari ini.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak menyukai kisah Salomo karena ada bayi, pedang, emas, dan seekor unta yang penuh rempah-rempah. Tetapi inti yang perlu mereka tangkap bukan kepintarannya, melainkan pilihannya.
Cara paling sederhana untuk menjelaskannya begini. Salomo adalah anak Raja Daud yang menjadi raja ketika ia masih muda dan merasa takut. Pada suatu malam Allah berkata kepadanya, "Mintalah apa saja yang kauinginkan." Salomo bisa meminta uang, mainan, atau umur panjang. Tetapi ia berkata, "Tuhan, saya tidak tahu cara memimpin. Berilah saya hati yang bisa mendengar Engkau dan tahu mana yang benar dan mana yang salah." Allah senang sekali dengan permintaan itu, dan Dia memberikan hikmat kepada Salomo, ditambah hal-hal yang tidak ia minta. Salomo lalu membangun rumah yang sangat indah untuk Tuhan.
Bagian sedihnya juga perlu diceritakan, dengan lembut. Ketika Salomo sudah tua, ia mulai mencintai banyak hal lain lebih daripada Tuhan, dan hatinya berpindah pelan-pelan. Ia tahu banyak tentang Allah, tetapi ia lupa tetap dekat dengan Allah. Pesannya untuk anak-anak: pintar itu baik, tetapi hati yang mengasihi Tuhan jauh lebih penting, dan hati perlu dijaga setiap hari.
Faith.network menyediakan penjelasan khusus sesuai usia untuk kisah ini, yaitu versi untuk anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun dengan bahasa yang sangat sederhana, versi untuk anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun dengan lebih banyak detail cerita, dan versi untuk remaja dua belas tahun ke atas yang berani membahas kompromi, godaan, dan pertanyaan tentang kekayaan serta relasi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa sebenarnya raja Salomo dalam Alkitab?
Salomo adalah putra Raja Daud dan Batsyeba, raja ketiga Israel, yang memerintah kira-kira empat puluh tahun pada abad kesepuluh sebelum Masehi. Ia dikenal sebagai raja paling bijaksana dan paling kaya pada zamannya, pembangun Bait Allah pertama di Yerusalem, dan penulis sebagian besar kitab Amsal serta Pengkhotbah dan Kidung Agung. Masa pemerintahannya adalah puncak kejayaan politik Israel, tetapi juga awal keruntuhannya, sebab pada akhir hidupnya hatinya menyimpang kepada allah-allah lain dan kerajaan pun terbelah sesudah ia mati.
Apa arti nama Salomo dan mengapa ia juga disebut Yedidya?
Nama Salomo berakar pada kata Ibrani syalom yang berarti damai atau keutuhan, sangat cocok bagi raja yang memerintah tanpa perang besar. Nama kedua diberikan Allah sendiri melalui nabi Natan sesaat setelah ia lahir, yaitu Yedidya, yang berarti "yang dikasihi TUHAN", sesuai catatan 2 Samuel 12:24 yang menegaskan bahwa Tuhan mengasihi anak ini. Dua nama itu berbicara tentang anugerah: seorang anak yang lahir dari keluarga yang baru saja hancur oleh dosa, tetapi sejak menit pertama sudah dikasihi Allah.
Mengapa Salomo meminta hikmat dan bukan kekayaan?
Karena ia sadar akan keterbatasannya. Dalam 1 Raja-raja 3:9 ia meminta "hati yang faham menimbang perkara", secara harfiah hati yang mendengar, supaya sanggup menghakimi umat Allah yang sangat besar. Permintaan itu lahir dari rasa takut yang jujur, bukan dari ambisi. Ia menyebut dirinya anak muda yang tidak tahu keluar masuk. Allah berkenan justru karena Salomo memikirkan kepentingan umat, bukan dirinya sendiri, dan karena itu Allah menambahkan kekayaan serta kemuliaan yang tidak ia minta.
Benarkah raja Salomo mempunyai tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik?
Ya, 1 Raja-raja 11:3 mencatat angka itu secara harfiah, dan sebagian besar merupakan pernikahan politik untuk mengikat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan tetangga. Alkitab tidak pernah menyajikannya sebagai prestasi, melainkan sebagai pelanggaran langsung terhadap Ulangan 17:17 yang melarang raja memiliki banyak istri "supaya hatinya jangan menyimpang". Persis itulah yang terjadi, sebab 1 Raja-raja 11:4 mencatat bahwa istri-istrinya mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain. Poligami di sini digambarkan sebagai jalan kehancuran, bukan teladan.
Apa dosa terbesar raja Salomo?
Bukan kekayaan, bukan juga jumlah istrinya semata, melainkan penyembahan berhala yang mengikuti keduanya. Ia membangun bukit-bukit pengorbanan bagi Kamos, allah Moab, dan Molokh, allah bani Amon, di gunung sebelah timur Yerusalem, tepat di depan Bait Allah yang ia bangun sendiri. Alkitab menyebut akarnya dengan jelas: hatinya menyimpang dari Tuhan, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya. Dosa Salomo adalah dosa kasih yang berpindah, bukan sekadar dosa perbuatan yang salah.
Apakah Salomo bertobat sebelum meninggal dan apakah ia diselamatkan?
Alkitab tidak memberi jawaban yang tegas, dan kita sebaiknya tidak lebih berani daripada firman Tuhan. Kitab Raja-raja menutup hidupnya tanpa catatan pertobatan. Namun banyak pembaca sepanjang sejarah gereja melihat kitab Pengkhotbah sebagai suara seorang tua yang sudah melihat kesia-siaan segalanya dan kembali kepada kesimpulan dalam Pengkhotbah 12:13, yaitu takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya. Yang pasti, keselamatan Salomo tidak pernah bergantung pada hikmatnya, melainkan pada kasih Allah yang lebih dulu memilih dia.
Apakah benar Salomo menulis Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung?
Alkitab mencatat bahwa Salomo mengucapkan tiga ribu amsal dan seribu lima nyanyian, dan sebagian besar kitab Amsal secara eksplisit dikaitkan dengan namanya, meskipun pasal-pasal terakhir menyebut penulis lain seperti Agur dan Lemuel. Kidung Agung dan Pengkhotbah juga dihubungkan dengan dirinya, dengan Pengkhotbah memperkenalkan penulisnya sebagai anak Daud, raja di Yerusalem. Ada diskusi akademis tentang penyuntingan akhir kitab-kitab ini, tetapi tradisi gereja sejak awal membaca ketiganya dalam terang hidup Salomo.
Mengapa kerajaan Israel terpecah setelah Salomo mati?
Karena penghakiman Allah atas penyembahan berhala Salomo, sebagaimana dinyatakan dalam 1 Raja-raja 11, dan karena kebijakan kerja paksa serta pajak berat yang menumpuk selama pemerintahannya. Ketika Rehabeam, anaknya, menolak meringankan beban rakyat dan malah mengancam akan memperberatnya, sepuluh suku di utara memisahkan diri di bawah Yerobeam. Kemegahan yang dibangun dengan menindas rakyat sendiri ternyata rapuh. Hanya suku Yehuda dan Benyamin yang tersisa bagi keturunan Daud, semata-mata karena janji Allah kepada Daud.
Apa perbedaan hikmat Salomo dan hikmat Yesus Kristus?
Salomo menerima hikmat sebagai pemberian dari luar dirinya, dan pemberian itu bisa ia abaikan; Yesus adalah hikmat itu sendiri, sebab menurut Kolose 2:3 di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Salomo mengajar orang lain untuk menjaga hati, tetapi tidak menjaga hatinya sendiri; Kristus hidup taat sempurna sampai mati. Karena itu Yesus berkata, "yang ada di sini lebih dari pada Salomo" (Matius 12:42). Hikmat Salomo bisa membuat kita kagum; hikmat Kristus menyelamatkan kita.
Apa yang terjadi dalam kisah dua perempuan dan satu bayi?
Dua perempuan tinggal serumah dan sama-sama melahirkan; bayi salah satu dari mereka mati pada malam hari, lalu ia menukarnya dengan bayi yang hidup. Keduanya menghadap raja tanpa saksi. Salomo memerintahkan supaya bayi yang hidup dibelah dua dengan pedang, dan ibu yang sesungguhnya langsung merelakan anaknya diberikan kepada perempuan lain asal tetap hidup. Dengan satu ujian, Salomo membongkar isi hati kedua perempuan itu. Kisah ini sengaja ditempatkan sesudah 1 Raja-raja 3:12 sebagai bukti nyata bahwa Allah benar-benar menjawab doanya.
Siapa ratu negeri Syeba dan mengapa ia datang?
Ia adalah penguasa sebuah kerajaan makmur di selatan, kemungkinan besar di wilayah Arabia atau Afrika Timur, yang mendengar kabar tentang hikmat Salomo dan datang menempuh perjalanan jauh untuk mengujinya dengan teka-teki. Setelah melihat semuanya, ia mengakui bahwa yang diceritakan orang belum setengah dari kenyataannya dan memuji Tuhan yang mendudukkan Salomo di atas takhta. Kunjungannya menjadi puncak kemasyhuran Salomo, dan Yesus kelak memakai sosoknya sebagai teguran bagi generasi yang menolak mendengar hikmat yang jauh lebih besar.
Mengapa Salomo berkata "segala sesuatu adalah sia-sia" padahal ia sangat kaya?
Justru karena ia sangat kaya. Dalam Pengkhotbah ia menguji semua yang bisa diuji manusia: proyek bangunan raksasa, kebun anggur, penyanyi, harta, dan pengetahuan, lalu menyimpulkan bahwa semuanya adalah usaha menjaring angin. Kata Ibrani yang diterjemahkan "kesia-siaan" berarti uap atau embusan napas, sesuatu yang nyata tetapi tidak bisa digenggam. Pesannya bukan bahwa hidup tidak berarti, melainkan bahwa hidup tidak akan pernah memuaskan bila dilepaskan dari Allah. Kesimpulan kitab itu mengarahkan kita kembali kepada takut akan Allah.
Apa pentingnya Bait Allah yang dibangun Salomo?
Bait itu menjadi tempat kediaman simbolis Allah di tengah umat-Nya, pusat korban dan doa selama hampir empat ratus tahun sampai dihancurkan oleh Babel pada tahun 586 sebelum Masehi. Namun Salomo sendiri sudah mengingatkan bahwa Allah tidak bisa dikurung di dalamnya, sebab langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Dia (1 Raja-raja 8:27). Karena itu bait tersebut selalu bersifat sementara dan menunjuk ke depan, kepada Kristus yang menyebut tubuh-Nya sendiri sebagai bait, dan kepada umat-Nya yang kini menjadi tempat kediaman Roh Kudus.
Sebagai penutup
Kisah raja Salomo adalah kisah sebuah hati yang meminta, menerima, mengajar, dan akhirnya menyimpang. Ia memulai dengan doa yang paling tepat yang pernah diucapkan seorang penguasa dan mengakhiri hidupnya dengan mezbah berhala di seberang Bait Allah yang ia dirikan sendiri. Di antara kedua titik itu tidak ada satu pun pemberontakan besar, hanya kompromi-kompromi kecil yang tidak pernah ditangani. Kemunduran rohani hampir selalu berjalan tanpa suara.
Itulah sebabnya kisah ini tidak boleh dibaca hanya sebagai potret orang paling pintar dalam Alkitab. Bacalah sebagai undangan untuk memeriksa arah kasih Anda sendiri hari ini, dan sebagai undangan yang lebih besar lagi untuk berpaling kepada Dia yang lebih dari Salomo. Sebab Yesus Kristus bukan hanya memberi hikmat, Dia adalah hikmat kita, dan Dia tidak pernah kehilangan hati-Nya bagi Bapa maupun bagi kita.
Jika Anda ingin melanjutkan, bacalah 1 Raja-raja 3 dan 1 Raja-raja 11 berurutan dalam satu duduk, lalu tutuplah dengan Pengkhotbah 12:13. Tiga bacaan itu akan mengajarkan lebih banyak tentang penjagaan hati daripada seratus nasihat.
