Siapa Stefanus: Diaken Penuh Roh Kudus dan Martir Pertama Gereja
Pendahuluan
Bayangkan sebuah ruang sidang di Yerusalem. Tujuh puluh satu orang paling berpengaruh di Israel duduk setengah melingkar, para saksi sudah disiapkan, tuduhannya sudah dirumuskan rapi. Di tengah lingkaran itu berdiri seorang laki-laki muda yang beberapa minggu sebelumnya masih sibuk mengurus pembagian makanan untuk janda-janda miskin. Ia bukan rasul. Namanya tidak ada dalam daftar dua belas murid. Namun seluruh ruangan itu menatapnya, dan yang mereka lihat bukan ketakutan, melainkan wajah yang bersinar seperti wajah malaikat.
Stefanus adalah salah satu tokoh yang muncul singkat dalam Alkitab, hanya dua pasal, lalu lenyap di bawah lemparan batu. Tetapi kematiannya mengubah arah seluruh gereja mula-mula, dan seorang pemuda yang menjaga jubah para pembunuhnya kelak menulis sepertiga Perjanjian Baru. Di halaman ini kita akan menelusuri hidupnya dari awal sampai akhir, jujur tentang kekuatan dan sisi kerasnya, dan melihat mengapa darahnya menjadi benih bagi Injil yang sampai kepada kita.
Sudut pandang panduan ini
Kebanyakan tulisan tentang Stefanus berhenti pada label "martir pertama". Panduan ini mengambil sudut lain: Stefanus adalah orang yang melihat Allah yang tidak bisa dikurung. Ia melayani janda-janda yang terlupakan di pinggiran jemaat, ia berkhotbah bahwa Allah menampakkan diri kepada Abraham jauh di Mesopotamia dan kepada Musa di padang gurun Midian, dan ia mati di luar tembok kota sambil melihat langit terbuka. Itulah yang membuatnya dibunuh: ia menolak menempatkan Allah dalam gedung, dalam adat, dalam satu bangsa. Dan justru karena ia mati, Injil terlempar keluar dari Yerusalem ke seluruh dunia. Benang itu akan kita tarik sampai ke hidup kita sendiri.
Apa kata Alkitab tentang Stefanus?
Alkitab memperkenalkan Stefanus bukan lewat silsilah atau mukjizat kelahiran, melainkan lewat sebuah keluhan. Kisah Para Rasul 6:1 mencatat bahwa ketika jemaat makin bertambah, "timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari." Inilah krisis pertama gereja: bukan serangan dari luar, melainkan ketidakadilan di dalam. Ada kelompok yang merasa tidak terlihat.
Nama Stefanus sendiri adalah nama Yunani, Stephanos, yang berarti mahkota atau karangan bunga kemenangan. Ia hampir pasti seorang Yahudi berbahasa Yunani, bagian dari kelompok minoritas yang merasa dianaktirikan itu. Ketika para rasul meminta jemaat memilih tujuh orang "yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat" (Kisah Para Rasul 6:3), nama Stefanus disebut paling depan. Kisah Para Rasul 6:5 berbunyi: "Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia."
Perhatikan bagaimana ia digambarkan: penuh iman dan Roh Kudus. Bukan penuh talenta berbicara, bukan penuh pengalaman organisasi. Yang membuat jemaat mempercayakan uang dan makanan kepadanya adalah bahwa hidupnya jelas dikuasai Allah. Dan tugas pertamanya bukan berkhotbah di depan massa, melainkan memastikan seorang janda tua mendapat jatah rotinya. Allah yang tidak bisa dikurung ternyata hadir di meja makan, bukan hanya di mimbar.
Tetapi pelayanan praktis itu tidak memenjarakan dia. Kisah Para Rasul 6:8 melanjutkan: "Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak." Hanya para rasul yang sebelumnya digambarkan demikian. Di sini Lukas memberi isyarat halus bahwa Roh Kudus tidak terikat pada jabatan resmi. Seorang pengurus meja bisa penuh kuasa Allah seperti seorang rasul.
Pelayanan itu memicu perlawanan. Kisah Para Rasul 6:9 menyebut orang-orang dari rumah ibadat "orang Libertini", dari Kirene, Aleksandria, Kilikia, dan Asia, yang bersoal jawab dengan Stefanus. Mereka kalah berdebat: "tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara" (Kisah Para Rasul 6:10). Karena tidak bisa menang dengan argumen, mereka menang dengan fitnah. Saksi-saksi palsu dibayar untuk berkata bahwa Stefanus menghina Bait Allah dan hukum Taurat, bahwa ia mengatakan Yesus orang Nazaret akan merubuhkan tempat itu dan mengubah adat istiadat Musa.
Di tengah tuduhan itulah terjadi sesuatu yang aneh. Kisah Para Rasul 6:15 mencatat: "Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat." Wajah yang bersinar adalah bahasa Alkitab untuk orang yang baru saja berjumpa dengan Allah; Musa turun dari Sinai dengan wajah seperti itu. Pengadilan menuduh Stefanus menghina Allah, sementara kemuliaan Allah sedang memantul dari wajahnya.
Lalu datang khotbah terpanjang dalam Kisah Para Rasul, lima puluh tiga ayat sejarah Israel yang berujung pada tuduhan balik di Kisah Para Rasul 7:51, penglihatan di Kisah Para Rasul 7:55, dan doa pengampunan di Kisah Para Rasul 7:60. Setelah itu, Kisah Para Rasul 8:1 membuka babak baru gereja. Kepada bagian-bagian inilah kita akan masuk lebih dalam.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Khotbah Stefanus bukan improvisasi panik seorang terdakwa. Itu adalah pembacaan ulang seluruh Perjanjian Lama dengan satu pertanyaan di baliknya: di mana Allah sebenarnya tinggal, dan bagaimana umat-Nya selalu memperlakukan utusan-Nya?
Ia mulai dari Abraham, dan detailnya sengaja dipilih: "Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran" (Kisah Para Rasul 7:2). Allah berbicara di tanah kafir, jauh dari Kanaan, jauh dari Yerusalem, ratusan tahun sebelum ada Bait Allah. Lalu Yusuf: dijual oleh saudara-saudaranya sendiri karena iri hati, tetapi "Allah menyertai dia" di Mesir (Kisah Para Rasul 7:9). Lalu Musa: ditolak oleh bangsanya sendiri pada percobaan pertama, lari ke Midian, dan justru di sanalah, di padang gurun gunung Sinai, ia bertemu Allah dalam semak duri yang menyala. Tempat itu disebut tanah kudus, padahal letaknya di luar negeri.
Pola itu diulang dengan sabar. Kemah Suci berjalan bersama umat yang mengembara; baru Salomo yang membangun rumah batu. Dan tentang rumah itu Stefanus mengutip Yesaya: "Tetapi Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat tangan manusia" (Kisah Para Rasul 7:48). Dua tema bertemu di sini: Allah selalu lebih besar daripada tempat ibadah kita, dan umat Allah punya kebiasaan panjang menolak orang yang Dia utus.
Allah berjalan; manusia membangun tembok untuk menahan-Nya.
Di titik itulah segala sesuatu bermuara pada Kristus. Yusuf ditolak lalu menjadi penyelamat saudara-saudaranya. Musa ditolak lalu diutus kembali sebagai pembebas. Para nabi dianiaya. Semua itu adalah bayangan, dan Stefanus menyebut kenyataannya dengan terang di Kisah Para Rasul 7:52: "Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh." Yesus adalah puncak dari pola itu: Dia yang ditolak oleh milik-Nya sendiri justru menjadi keselamatan bagi dunia.
Dan Bait Allah? Yesus sendiri berkata tentang tubuh-Nya sebagai bait yang akan dirobohkan dan dibangun kembali dalam tiga hari. Stefanus hanya menarik kesimpulan yang logis: jika Allah sudah datang dalam daging dan kini duduk di sebelah kanan Bapa, maka pusat ibadah tidak lagi sebuah bangunan di Yerusalem. Itulah yang didengar Mahkamah Agama sebagai penghujatan, dan itulah yang membuat Perjanjian Baru selanjutnya berani berkata bahwa jemaat sendiri adalah bait Roh Kudus, dari Yerusalem sampai Roma.
Inti hidupnya
Hidup Stefanus yang tercatat berputar pada tiga momen, dan ketiganya terjadi dalam waktu yang mungkin kurang dari dua tahun.
Pertama, saat ia dipilih untuk mengurus meja. Ini momen yang paling mudah diremehkan, padahal di sinilah karakternya terbentuk. Jemaat sedang retak karena isu suku dan bahasa. Stefanus berasal dari pihak yang dirugikan, dan ia justru dipercayakan untuk membereskan ketidakadilan itu, bukan untuk membalasnya. Ia menerima pekerjaan yang tidak terlihat, tidak bergengsi, dan sangat rawan kritik. Hasilnya luar biasa: "Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya" (Kisah Para Rasul 6:7). Keadilan di meja makan membuka pintu bagi Injil. Allah yang tidak bisa dikurung ternyata bekerja lewat daftar nama janda dan karung gandum.
Kedua, saat ia berdiri di depan Mahkamah Agama. Di sinilah kita harus jujur, sebab banyak pembaca merasa tidak nyaman dengan nada khotbahnya. Setelah lima puluh ayat sejarah yang tenang, Stefanus tiba-tiba menyerang: "Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu" (Kisah Para Rasul 7:51). Tidak ada usaha diplomatis, tidak ada pembelaan diri atas tuduhan yang dialamatkan padanya. Apakah ini kekurangan Stefanus, kurang sabar, kurang strategis? Alkitab tidak pernah mencatat dosa Stefanus, tetapi juga tidak menjadikannya patung sempurna. Yang pasti, kalimat itu bukan ciptaannya sendiri; "tidak bersunat hati dan telinga" adalah bahasa Musa dan Yeremia. Ia sedang berbicara persis seperti para nabi berbicara kepada generasi yang sudah berkali-kali diperingatkan. Kadang kasih tidak terdengar lembut. Kadang kasih berbentuk kebenaran yang terakhir kali diucapkan sebelum pintu tertutup.
Ketiga, saat ia mati. Ketika amarah meledak, Stefanus tidak melihat ke bawah kepada batu-batu, tetapi ke atas. Kisah Para Rasul 7:55 mencatat: "Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah." Mereka menyeretnya ke luar kota dan melemparinya dengan batu. Ia berdoa, "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku," dan kemudian, menurut Kisah Para Rasul 7:60: "Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: 'Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!' Dan dengan perkataan itu meninggallah ia." Dua doa yang hampir menyalin doa Yesus di kayu salib. Orang yang paling keras berbicara tentang dosa bangsanya adalah juga orang yang mati sambil memohon pengampunan bagi mereka. Di situlah kita tahu kekerasannya bukan kebencian.
Yang kita pelajari dari Stefanus
Kepenuhan Roh Kudus tidak diukur dari panggung. Lima kali Alkitab menyebut Stefanus "penuh", dan penyebutan pertama terjadi saat pekerjaannya adalah membagi makanan. Banyak orang percaya menunda ketaatan karena merasa panggilannya terlalu kecil: ibu yang mengurus anak balita, karyawan yang menata gudang, relawan yang menyusun kursi sebelum ibadah. Stefanus membalikkan hitungan itu. Allah mengisi orang, bukan posisi. Dan Allah yang tidak bisa dikurung dalam gedung Bait Allah juga tidak bisa dikurung dalam struktur pelayanan kita; Ia memakai siapa saja yang terbuka bagi-Nya, di mana saja.
Keberanian lahir dari penglihatan, bukan dari watak. Stefanus tidak berani karena ia bertemperamen keras. Ia berani karena ia melihat. Kisah Para Rasul 7:55 menjelaskan urutannya: penuh Roh Kudus, lalu menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah. Baru setelah itu ia sanggup menghadapi batu. Ada detail yang sering dilewatkan di sini: di seluruh Perjanjian Baru Yesus digambarkan duduk di sebelah kanan Allah, tetapi di sini Ia berdiri. Seolah-olah Tuhan bangkit dari takhta-Nya untuk menyambut saksi-Nya pulang. Ketika Anda merasa sendirian dalam membela kebenaran, langit tidak sedang menonton dengan dingin.
Pengampunan adalah bukti paling meyakinkan bahwa Injil itu nyata. Doa terakhir Stefanus tidak masuk akal secara manusiawi. Ia sedang dibunuh, dan ia memohon supaya dosa itu tidak ditanggungkan kepada para pembunuhnya. Hanya orang yang sungguh tahu bahwa dirinya sendiri sudah diampuni dengan harga yang mahal bisa berdoa seperti itu. Dan doa itu dijawab: di antara orang-orang yang hari itu menyetujui kematiannya ada Saulus dari Tarsus. Pengampunan yang tampak sia-sia pada detik itu ternyata menjadi akar dari pertobatan terbesar dalam sejarah gereja.
Pengampunan adalah benih yang tumbuh di tanah yang paling keras.
Cermin
Mungkin Anda tidak pernah akan berdiri di depan Mahkamah Agama. Tetapi Anda punya meja Anda sendiri. Ada pekerjaan kecil yang tidak akan pernah diumumkan dari mimbar: merawat orang tua yang mulai pikun, menyelesaikan laporan dengan jujur padahal atasan Anda tidak akan tahu bedanya, mengirim uang kepada saudara yang tidak pernah berterima kasih, menemani anak yang sulit untuk kesekian kalinya. Stefanus memulai dari sana. Pertanyaannya bukan apakah pelayanan Anda besar, melainkan apakah Anda penuh. Penuh apa, sebenarnya? Penuh kesibukan, penuh kekesalan, atau penuh Roh Kudus?
Dan mungkin Anda juga punya Bait Allah Anda sendiri. Bukan bangunan batu, tetapi ruang aman yang Anda bangun untuk mengurung Tuhan supaya Dia tidak mengganggu bagian hidup yang lain. Dia boleh mengatur hari Minggu, tetapi jangan menyentuh cara saya mengelola uang. Dia boleh bicara soal doa, tetapi jangan soal bagaimana saya memperlakukan pasangan saya ketika pintu kamar tertutup. Dia boleh memiliki pelayanan saya, tetapi tidak kalender dan tubuh saya. Khotbah Stefanus membongkar semua pagar itu dengan satu kalimat: Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat tangan manusia.
Ada juga kemungkinan Anda sedang memegang batu. Bukan batu sungguhan, melainkan nama seseorang yang kesalahannya Anda simpan rapi, lengkap dengan tanggal dan kalimat persisnya. Stefanus berlutut dan memohon supaya dosa itu tidak diperhitungkan. Ia melakukannya bukan karena lukanya kecil, tetapi karena ia tahu persis siapa yang menanggung dosa di kayu salib. Anda tidak akan pernah bisa mengampuni dengan kekuatan yang berasal dari dalam diri Anda sendiri. Anda hanya bisa mengampuni sambil menatap ke langit.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kisah Stefanus bisa terasa berat bagi anak-anak karena berakhir dengan kekerasan. Tetapi justru di sini ada pelajaran yang sangat jelas dan hangat jika kita menceritakannya dengan benar.
Untuk anak-anak, intinya bisa diringkas begini: Stefanus adalah orang yang hatinya penuh dengan Tuhan. Ia mendapat tugas membagikan makanan kepada ibu-ibu tua yang tidak punya siapa-siapa, dan ia melakukannya dengan sukacita, meskipun tidak ada yang bertepuk tangan. Karena hatinya penuh dengan Tuhan, wajahnya bahkan bersinar. Ketika orang-orang marah kepadanya karena ia bercerita tentang Yesus, Stefanus tidak membalas marah. Ia melihat ke atas, dan Tuhan Yesus sedang berdiri menyambutnya. Hal terakhir yang ia katakan adalah doa supaya Tuhan mengampuni orang-orang yang menyakitinya. Dan Tuhan menjawab doa itu, karena salah satu orang di sana kemudian menjadi pengikut Yesus yang paling bersemangat.
Tiga hal yang bisa ditekankan kepada anak: tugas kecil itu berharga di mata Tuhan, berani bercerita tentang Yesus itu baik, dan mengampuni lebih kuat daripada membalas. Untuk anak usia dini, cukup sampai di gambar wajah yang bersinar dan Yesus yang berdiri menyambut. Anak yang lebih besar bisa diajak melihat hubungan antara Stefanus dan Paulus.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus yang disesuaikan untuk anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun, anak sekolah dasar usia 7 sampai 12 tahun, dan remaja usia 12 tahun ke atas, masing-masing dengan bahasa, kedalaman, dan pertanyaan renungan yang pas untuk usianya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Stefanus dalam Alkitab?
Stefanus adalah seorang Yahudi berbahasa Yunani yang menjadi pengikut Yesus pada masa gereja mula-mula di Yerusalem. Ia dipilih sebagai salah satu dari tujuh orang yang mengurus pembagian makanan bagi janda-janda dalam jemaat, dan Kisah Para Rasul 6:5 menggambarkan dia sebagai "seorang yang penuh iman dan Roh Kudus". Pelayanannya berkembang menjadi pemberitaan Injil yang disertai mujizat, sampai ia ditangkap, diadili oleh Mahkamah Agama, dan dirajam sampai mati. Ia dikenal sebagai martir pertama dalam sejarah gereja.
Apa arti nama Stefanus?
Nama Stefanus berasal dari bahasa Yunani Stephanos, yang berarti mahkota atau karangan bunga kemenangan, hadiah yang diberikan kepada pemenang pertandingan pada zaman itu. Namanya yang berbahasa Yunani menunjukkan latar belakangnya sebagai Yahudi Helenis, yaitu orang Yahudi yang hidup dan berbicara dalam budaya Yunani. Banyak pembaca Alkitab melihat kesesuaian yang indah antara arti nama itu dan hidupnya: ia kehilangan nyawanya di dunia, tetapi menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada mereka yang setia sampai mati.
Mengapa Stefanus disebut martir pertama gereja?
Karena ia adalah orang percaya pertama yang tercatat dalam Alkitab mati dibunuh secara khusus karena kesaksiannya tentang Yesus Kristus. Para rasul sebelumnya sempat ditangkap dan dicambuk, tetapi tidak dibunuh. Kata "martir" sendiri berasal dari kata Yunani untuk "saksi", dan Rasul Paulus kelak menyebutnya persis demikian ketika berbicara tentang "darah Stefanus, saksi-Mu itu" dalam Kisah Para Rasul 22:20. Kematiannya menjadi awal penganiayaan besar yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 8:1.
Apa isi khotbah Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7?
Khotbah itu adalah ringkasan sejarah Israel dari Abraham, Yusuf, Musa, sampai Salomo yang membangun Bait Allah. Dua pesan mengalir di dalamnya: Allah selalu menyatakan diri di luar tanah dan bangunan suci, misalnya kepada Abraham di Mesopotamia dan kepada Musa di padang gurun, dan umat Allah berulang kali menolak orang-orang yang diutus kepada mereka. Stefanus menutupnya dengan menyatakan bahwa generasi pendengarnya melakukan hal yang sama ketika mereka mengkhianati dan membunuh Yesus, "Orang Benar" itu.
Mengapa Stefanus dirajam sampai mati?
Secara resmi ia dituduh menghujat Bait Allah dan hukum Musa, tuduhan yang dibangun di atas kesaksian saksi-saksi palsu menurut Kisah Para Rasul 6:13. Sebenarnya, lawan-lawannya marah karena mereka kalah dalam perdebatan dan karena khotbahnya menuduh mereka sebagai pelanjut nenek moyang yang membunuh para nabi. Puncaknya adalah pernyataan bahwa ia melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah, yang bagi Mahkamah Agama terdengar sebagai penghujatan paling berat. Mereka menyeretnya keluar kota dan merajamnya, sesuai hukuman bagi penghujat dalam tradisi Taurat.
Apa artinya Yesus berdiri di sebelah kanan Allah?
Dalam Perjanjian Baru, Yesus hampir selalu digambarkan duduk di sebelah kanan Allah sebagai tanda bahwa karya keselamatan-Nya sudah selesai dan Ia memerintah. Namun dalam Kisah Para Rasul 7:55 Ia berdiri. Banyak penafsir melihat ini sebagai gambaran Tuhan yang bangkit dari takhta-Nya untuk membela dan menyambut saksi-Nya. Ketika pengadilan di bumi menjatuhkan hukuman mati, pengadilan di surga sedang berdiri memihak Stefanus. Itu adalah penghiburan bagi setiap orang percaya yang dihakimi dengan tidak adil.
Apakah Stefanus seorang rasul atau diaken?
Alkitab tidak pernah memakai kata "diaken" sebagai jabatan untuk Stefanus, meski kata kerja "melayani" yang dipakai di Kisah Para Rasul 6 berakar sama. Karena itulah ketujuh orang ini secara tradisional disebut diaken pertama. Ia jelas bukan salah satu dari dua belas rasul. Namun yang menarik, Kisah Para Rasul 6:8 memakai bahasa yang sebelumnya hanya dipakai untuk para rasul, yaitu penuh karunia dan kuasa serta mengadakan mujizat, yang menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak dibatasi oleh jabatan.
Apa hubungan Stefanus dengan Rasul Paulus?
Saulus dari Tarsus hadir pada hari kematian Stefanus. Kisah Para Rasul 8:1 membuka dengan kalimat: "Saulus juga setuju bahwa Stefanus mati dibunuh." Ia menjaga pakaian orang-orang yang melempar batu, dan bertahun-tahun kemudian ia mengakui keterlibatannya itu dengan penyesalan yang dalam. Sangat mungkin khotbah Stefanus tentang Allah yang melampaui Bait Allah dan tentang Yesus sebagai penggenapan sejarah Israel tertanam di benaknya, lalu meledak kembali setelah perjumpaannya dengan Kristus di jalan ke Damsyik.
Mengapa wajah Stefanus disebut seperti wajah malaikat?
Kisah Para Rasul 6:15 mencatat bahwa seluruh anggota Mahkamah Agama menatap dia dan melihat mukanya seperti muka seorang malaikat. Dalam Alkitab, wajah yang bersinar adalah tanda bahwa seseorang baru saja berjumpa dengan Allah, seperti Musa ketika turun dari Gunung Sinai. Jadi ini bukan sekadar gambaran bahwa Stefanus tampak tenang. Ini adalah kesaksian tak terucap bahwa orang yang dituduh menghujat Allah justru sedang memantulkan kemuliaan Allah di hadapan para penuduhnya.
Apakah kematian Stefanus sia-sia?
Secara manusiawi, kehilangan seorang pelayan yang penuh Roh Kudus di awal pertumbuhan jemaat terasa seperti bencana. Namun Kisah Para Rasul 11:19 menunjukkan bahwa penganiayaan setelah kematiannya justru menyebarkan orang-orang percaya sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia, dan dari Antiokhia itulah misi kepada bangsa-bangsa lain dimulai. Ditambah dengan pertobatan Saulus, kematian Stefanus menjadi titik balik yang mendorong Injil keluar dari Yerusalem. Apa yang tampak sebagai akhir ternyata adalah pintu yang Allah buka.
Bagaimana Stefanus bisa mengampuni orang yang membunuhnya?
Doanya dalam Kisah Para Rasul 7:60 jelas mengikuti pola doa Yesus di kayu salib. Stefanus mampu berdoa demikian bukan karena ia luar biasa kuat secara mental, melainkan karena ia penuh Roh Kudus dan karena matanya sedang tertuju pada Tuhan yang sudah lebih dulu mengampuni dia. Pengampunan seperti ini tidak lahir dari usaha menekan rasa sakit, tetapi dari keyakinan bahwa penghakiman ada di tangan Allah dan bahwa dosa sudah ditanggung oleh Kristus.
Di mana Stefanus dikuburkan dan apa yang terjadi setelah kematiannya?
Kisah Para Rasul 8:2 mencatat bahwa orang-orang saleh menguburkan mayatnya dan meratapinya dengan sangat; lokasi persisnya tidak disebut dalam Alkitab, dan tradisi-tradisi kemudian tentang penemuan makamnya tidak memiliki dasar dalam Kitab Suci. Yang jauh lebih penting bagi Lukas adalah akibatnya: penganiayaan hebat pecah atas jemaat di Yerusalem, orang percaya tersebar ke Yudea dan Samaria, dan Injil mulai diberitakan di tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah mendengarnya.
Apa yang bisa kita teladani dari Stefanus hari ini?
Tiga hal yang paling nyata adalah kesetiaan dalam pekerjaan kecil, keberanian untuk berkata benar meski berisiko, dan kesediaan mengampuni tanpa syarat. Stefanus menunjukkan bahwa kepenuhan Roh Kudus tidak diukur dari ukuran panggung, melainkan dari apakah hidup seseorang sungguh dikuasai Allah. Ia juga mengingatkan bahwa iman bukan sekadar urusan ibadah hari Minggu; iman yang sejati menyentuh keadilan bagi yang terlupakan, keberanian di hadapan kuasa, dan hati yang bebas dari dendam.
Sebagai penutup
Stefanus hanya mendapat dua pasal dalam Alkitab, tetapi dua pasal itu memuat seluruh pola hidup Kristen: dipenuhi Roh, melayani yang kecil, berbicara benar, menatap ke atas, dan mengampuni. Yang mengikat semuanya adalah keyakinan yang membuat ia dibunuh, bahwa Allah tidak bisa dikurung. Tidak oleh Bait Allah, tidak oleh batas bangsa, tidak oleh batu-batu yang dilemparkan kepada saksi-Nya, dan tidak oleh kematian itu sendiri. Justru ketika mereka berpikir telah membungkam dia, Allah memakai darahnya untuk mendorong Injil keluar dari Yerusalem menuju dunia, termasuk menuju kita.
Jika Anda ingin melangkah lebih jauh, bacalah Kisah Para Rasul 6 dan 7 sekali duduk, perlahan, lalu lanjutkan ke Kisah Para Rasul 8 dan 9 supaya Anda melihat sendiri bagaimana doa terakhir Stefanus dijawab dalam diri Saulus. Setelah itu, letakkan Alkitab Anda dan tanyakan satu hal dengan jujur: bagian hidup mana yang masih saya coba pagari dari Tuhan? Stefanus mati karena menolak mengurung Allah. Kita diundang untuk hidup dengan keyakinan yang sama.
