HOSEA 13
Teks Itu Sendiri
Efraim yang dahulu disegani kini mati karena Baal, dan tetap saja menambah dosa dengan patung-patung buatan pengrajin sendiri. Tuhan mengingatkan bahwa Dialah satu-satunya yang mengenal mereka di padang belantara, tetapi kekenyangan membuat mereka lupa; karena itu Ia datang bukan sebagai gembala melainkan sebagai singa, macan tutul, beruang yang kehilangan anaknya. Pasal ini ditutup dengan pertanyaan yang membingungkan tentang penebusan dari maut, lalu jatuh ke dalam gambaran kehancuran Samaria yang mengerikan.
Inti
Ada satu kalimat di pasal ini yang harus kita dengar pelan-pelan: "Akulah yang mengenalmu di padang belantara, di tanah yang kekeringan." Kata Ibrani yada, mengenal, di sini bukan sekadar tahu; itu kata yang dipakai untuk keintiman suami istri. Tuhan tidak berkata Ia melihat Israel dari jauh di gurun. Ia berkata Ia mengenal mereka justru di tempat di mana tidak ada apa-apa untuk dilihat. Dan persis di situlah letak lukanya: yang mengenal dalam kekeringan ditinggalkan ketika ada padang rumput. "Setelah kenyang, hati mereka menjadi sombong." Dosa Israel bukan pertama-tama kebodohan teologis, melainkan pengkhianatan terhadap Pribadi yang pernah menopang mereka ketika tidak ada siapa pun yang lain.
Benang Merah
Ayat 14 adalah salah satu ayat paling sulit dan paling terang dalam seluruh kitab nabi. "Hai maut, di manakah kekuatanmu? Hai dunia orang mati, di manakah sengatmu?" Dalam konteksnya ini terdengar seperti seruan Tuhan memanggil maut untuk datang, bukan menantangnya. Namun Paulus mengambil kalimat ini dan meletakkannya di mulut orang yang berdiri di sisi lain kubur yang kosong (1 Korintus 15:55). Bukan karena Paulus salah baca, melainkan karena di dalam Kristus ancaman itu berbalik arah. Sengat yang dilepaskan Allah atas Efraim akhirnya menghunjam Anak-Nya sendiri. Yang di Hosea masih menggantung sebagai pertanyaan tanpa jawaban, di Golgota memperoleh jawaban yang tidak pernah diduga siapa pun.
Cermin
Perhatikan urutannya sekali lagi: padang rumput, kenyang, sombong, lupa. Bukan penderitaan yang membuat Israel jauh, melainkan kecukupan. Ini menyentuh kita di tempat yang tidak nyaman. Gaji yang akhirnya stabil, anak-anak yang sehat, pekerjaan yang aman, semuanya baik, dan semuanya diam-diam bisa membuat doa terasa tidak mendesak lagi. Kita jarang memutuskan untuk melupakan Allah. Kita hanya berhenti membutuhkan-Nya secara sadar, dan itu berlangsung begitu halus sehingga tidak ada momen yang bisa kita tunjuk. Coba tanyakan pada diri sendiri: kapan terakhir kali Anda berdoa dengan sungguh-sungguh tanpa ada sesuatu yang sedang terancam? Jawabannya mungkin lebih memberi tahu daripada seluruh daftar dosa yang biasa kita akui.
Konteks
Kita berada di kerajaan utara pada dekade-dekade terakhirnya, sekitar tahun 730-an sebelum Masehi. Efraim, suku terbesar, sudah menjadi nama lain untuk seluruh kerajaan itu. Zaman kemakmuran di bawah Yerobeam II baru saja berlalu, dan yang tersisa adalah rentetan kudeta, raja-raja yang naik dan dibunuh, serta kebijakan luar negeri yang panik antara Mesir dan Asyur. Permintaan "Berikanlah kepadaku seorang raja dan pemimpin-pemimpin!" menggemakan kembali permintaan lama Israel kepada Samuel, dan Tuhan menjawab dengan getir: "Aku memberimu seorang raja dalam kemarahanku." Samaria akan jatuh pada 722. Ayat terakhir pasal ini menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan tentara Asyur terhadap kota yang ditaklukkan. Itu bukan hiperbola puitis.
Pertanyaan
"Belas kasihan tersembunyi dari mata-Ku." Bagaimana kita membaca kalimat itu dari mulut Allah yang di pasal berikutnya berkata Ia akan mengasihi mereka dengan sukarela? Ada yang buru-buru menjelaskan bahwa ini hanya retorika, atau bahwa Allah sebenarnya tidak berubah pikiran. Tetapi Hosea tidak memberi kita jalan pintas itu. Teks ini membiarkan kita berdiri di depan Allah yang belas kasihan-Nya, untuk sesaat, tersembunyi bahkan dari mata-Nya sendiri. Mungkin yang harus kita akui adalah bahwa kita tidak punya kategori untuk menampung Allah yang begitu terluka. Dan mungkin justru penolakan kita untuk mendiamkan ayat ini yang menjaga agar kasih karunia tidak berubah menjadi sesuatu yang murah.
Sang Tokoh Utama
Yang paling mengganggu dari pasal ini bukan singa atau macan tutul; itu gambar kekuasaan yang bisa kita pahami. Yang mengganggu adalah "beruang yang kehilangan anaknya." Itu bukan gambar penguasa yang menghukum bawahan. Itu gambar induk yang berduka, dan duka yang berubah menjadi amuk. Allah menggambarkan diri-Nya sebagai pihak yang kehilangan. Kemarahan-Nya di sini bukan ketenangan hakim yang menjatuhkan vonis, melainkan sesuatu yang keluar dari kasih yang dicampakkan. Lalu, di tengah ancaman itu, tiba-tiba: "Hai Israel, kamu dibinasakan tetapi Akulah penolongmu." Kalimat itu tidak pada tempatnya, dan justru karena itu ia benar. Inilah Allah yang tidak bisa berhenti menawarkan diri bahkan ketika Ia sedang mengumumkan penghakiman.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda sekarang sedang "kenyang", dan apa tanda-tanda halus bahwa kekenyangan itu mulai menumpulkan kebutuhan Anda akan Allah?
Jika Anda membaca "Akulah yang mengenalmu di padang belantara" sebagai ucapan Tuhan kepada Anda pribadi, padang belantara mana dalam hidup Anda yang sedang Ia maksudkan, dan apakah Anda masih mengingatnya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Hosea 13
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti HOSEA 13?
Tentang apakah HOSEA 13?
Apa konteks historis dari HOSEA 13?
Apa yang HOSEA 13 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana HOSEA 13 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Hosea 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Aku mengenal engkau di padang gurun, di negeri yang gersang." Allah tidak berkata Ia menolong dari jauh. Ia mengenal. Di tempat yang paling kering dalam hidupmu, Ia ada dan tahu namamu. Yang menyedihkan, ayat berikutnya berkata setelah kenyang, mereka lupa. Mungkin bukan gurun yang berbahaya bagi imanmu, melainkan masa senangmu.
Bapa, aku sering mencari pegangan di tempat yang salah: pada orang kuat, pada rencana sendiri, pada apa pun yang terlihat meyakinkan. Lalu semuanya goyah. Ampuni aku. Ajar aku kembali bahwa hanya Engkau yang sanggup menyelamatkan, dan itu cukup.
Samaria akan menanggung hukumannya, sebab dia telah memberontak terhadap Allahnya." Yang mengerikan dari ayat ini bukan hanya pedangnya, melainkan siapa yang ikut jatuh: bayi-bayi, perempuan hamil. Dosa Samaria terasa seperti urusan pribadi, tetapi akibatnya merembes ke orang-orang yang tak pernah memilihnya. Pemberontakanmu hari ini pun jarang berhenti padamu sendiri. Siapa yang sedang menanggung harganya?
Terima kasih, Tuhan, Engkau bukan buatan tangan tukang, bukan patung perak yang dibentuk "sesuai dengan pengertian mereka". Engkau hidup dan berbicara, bahkan saat Engkau menegur berhala yang diam-diam kami cium. Syukur Engkau tidak berdiam diri melihat hati kami menyimpang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
