YESAYA 34
Teks
Pedang yang sudah kenyang di langit, lalu turun. Itu gambar pembukanya, dan itu tidak sopan sama sekali. Yesaya memanggil bangsa-bangsa, bahkan bumi dan segala isinya, untuk mendekat dan mendengar satu pengumuman: TUHAN murka terhadap semua bangsa, dan penghakiman itu nyata sampai ke tingkat bau mayat dan gunung yang dibanjiri darah. Langit sendiri digulung seperti gulungan kitab, dan daun-daun bintang berguguran seperti daun ara yang layu. Lalu kamera menyempit pada satu nama: Edom. Negeri itu dijadikan kurban sembelihan di Bozra, sungainya menjadi ter, tanahnya belerang yang membara tanpa padam. Yang tersisa hanyalah burung hantu, serigala, burung unta, hewan malam yang bersarang nyaman di reruntuhan istana. Dan semua itu, kata ayat 8, adalah "hari TUHAN untuk pembalasan, tahun pembalasan atas perkara Sion."
Inti
Yang mengganggu bukan kekerasannya, melainkan ketelitiannya. Allah membentangkan "tali kebingungan" dan "batu ukur kekosongan" atas Edom; alat tukang bangunan dipakai untuk membongkar, bukan mendirikan. Lalu Ia membuang undi dan membagi tanah itu dengan tali, persis seperti dahulu Israel menerima warisannya, hanya saja ahli warisnya kini burung hantu dan serigala. Penghakiman di sini bukan ledakan amarah yang kehilangan kendali, melainkan pekerjaan yang direncanakan, diukur, dicatat dalam kitab TUHAN. Dan alasannya disebut terang-terangan: "perkara Sion." Edom, saudara sedarah Israel yang bersorak ketika Yerusalem jatuh, tidak lolos. Inilah intinya: Allah tidak bersikap netral terhadap kekejaman. Darah yang tumpah tidak menguap begitu saja. Ada Pribadi yang mengingat, yang menghitung, yang suatu hari menagih. Itu menakutkan, dan bagi korban yang tak punya pembela, itu satu-satunya kabar baik yang tersisa.
Benang Merah
Edom bukan bangsa asing yang kebetulan lewat. Edom adalah keturunan Esau, saudara kembar Yakub, dan justru kedekatan itulah yang membuat pengkhianatannya menusuk. Ketika Babel meruntuhkan Yerusalem, Edom berdiri di pinggir jalan dan bersorak. Maka "perkara Sion" bukan sekadar urusan politik; itu luka keluarga yang dibawa ke pengadilan. Dan di sinilah benang merahnya terasa: pedang yang turun dari langit dalam pasal ini tidak pernah berhenti turun, sampai suatu hari ia jatuh pada Seseorang yang tidak bersalah. Kurban sembelihan di Bozra, dengan lemak dan darah domba jantan, adalah bahasa bait suci yang dipakai untuk melukiskan penghakiman. Salib memakai bahasa yang sama, tetapi membaliknya: Anak Domba yang disembelih bukan musuh yang dihukum, melainkan Allah sendiri yang menanggung. Hari pembalasan itu nyata. Pertanyaannya hanya: siapa yang berdiri di bawahnya.
Cermin
Jujurlah sebentar. Ada nama yang, kalau kabar buruk tentang dia sampai ke telingamu, membuat sesuatu di dadamu terasa hangat. Rekan kerja yang akhirnya dipindahkan. Mantan sahabat yang usahanya bangkrut. Saudara ipar yang anaknya bermasalah. Kamu tidak menyebabkannya, kamu bahkan berkata turut prihatin, tetapi dalam hati kamu berdiri di pinggir jalan seperti Edom dan menikmati pemandangan. Itulah dosa yang membuat seluruh pasal ini meledak. Bukan penyembahan berhala, bukan kekerasan langsung, melainkan sorak-sorai atas kejatuhan orang lain. Yesaya menunjukkan ke mana sikap itu bermuara: tanah yang tandus, istana yang ditumbuhi jelatang, burung hantu di kamar tidurmu. Sukacita atas penderitaan orang lain mengosongkan hati dengan tali ukur yang sama.
Hari ini juga, tulis satu nama itu di secarik kertas, ucapkan dengan suara keras, "Pembalasan itu milik Tuhan, bukan milikku," lalu doakan satu hal baik yang konkret untuk dia, dan buang kertasnya.
Intertekstual
Yohanes jelas membaca pasal ini. Dalam Wahyu 6, ketika meterai keenam dibuka, langit lenyap seperti gulungan kitab yang digulung, persis gambar ayat 4 di sini. Artinya: Yesaya tidak sedang bicara hanya tentang satu kerajaan kecil di sebelah tenggara Laut Mati. Edom menjadi nama bagi setiap kekuasaan yang membangun dirinya di atas penderitaan orang lain, dan hari itu belum selesai. Lalu Paulus dalam Roma 12 mengutip kalimat Perjanjian Lama tentang pembalasan sebagai milik Allah, dan menariknya ke arah yang tak terduga: justru karena Allah membalas, kamu tidak perlu. Pasal 34 bukan izin untuk menjadi kejam; itu alasan untuk meletakkan pedangmu. Orang yang percaya ada Hakim tidak perlu menjadi hakim.
Pertanyaan
"Asapnya akan naik untuk selama-lamanya." Kalimat itu tidak bisa dijinakkan. Ini bahasa puisi, ya, dan secara harfiah Edom hari ini bukan danau belerang yang menyala; ia padang batu yang sunyi. Tetapi menjadikan seluruhnya kiasan juga curang. Yesaya mau kita merasakan sesuatu yang permanen: ada pilihan yang tidak bisa dibatalkan, ada kehancuran yang tidak diikuti pemulihan. Kita ingin Allah yang pada akhirnya memeluk semua orang, dan harapan itu tidak jahat. Namun teks ini menolak memberi jaminan. Yang bisa saya katakan jujur: Allah tidak pernah menghukum lebih dari yang adil, dan Ia tidak pernah menikmatinya. Selebihnya saya tidak tahu, dan saya menolak menenangkanmu dengan jawaban yang tidak diberikan Yesaya.
Tokoh Utama
Allah dalam pasal ini bukan pengamat yang tenang. Ia "murka" dan "kesal"; kata kerjanya panas. Namun perhatikan apa yang Ia lakukan dengan amarah itu: Ia mengukur, membagi, membuang undi, mencatat dalam kitab-Nya sehingga tidak satu ekor burung pun luput dari daftar. Inilah potret Allah yang perasaannya dalam tetapi tangannya tidak gemetar. Ia marah karena Ia terikat; Sion adalah perkara-Nya, umat-Nya, lukanya luka-Nya. Allah yang tidak pernah marah bukanlah Allah yang penuh kasih, melainkan Allah yang tidak peduli. Dan itulah yang membuat pasal mengerikan ini, anehnya, menghibur: Pribadi yang begitu teliti mencatat kejahatan terhadap umat-Nya adalah Pribadi yang sama yang menghitung setiap air matamu.
Refleksi
Siapa yang kejatuhannya diam-diam kamu nikmati, dan apa yang hal itu ungkapkan tentang luka yang belum kamu serahkan?
Jika Allah benar-benar mencatat setiap ketidakadilan, apa yang berubah dari caramu menanggapi ketidakadilan yang kamu alami minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 34
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 34?
Tentang apakah YESAYA 34?
Apa konteks historis dari YESAYA 34?
Apa yang YESAYA 34 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 34 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 34
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, panggilan-Mu bukan hanya untuk segelintir orang, tapi untuk seluruh bumi dan semua yang ada di dalamnya. Bantu aku mendekat dan benar benar mendengar, bukan sekadar lewat begitu saja. Buat hatiku diam cukup lama untuk menangkap suara-Mu hari ini.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
