LUKAS 13:34
Teks
Yesus berhenti di tengah perjalanan-Nya dan memanggil sebuah kota dengan namanya, dua kali: "Yerusalem, Yerusalem!" Lalu jatuh tuduhan yang keras, bahwa kota ini membunuh para nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadanya. Namun kalimat berikutnya bukan ancaman melainkan kerinduan: berulang kali Ia ingin mengumpulkan anak-anak kota itu seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Ayat ini berakhir dengan empat kata yang menahan segalanya: "kamu tidak mau." Bukan Allah yang menutup pintu lebih dulu; kehendak manusia yang menolak naungan. Dan yang berbicara bukan seorang nabi dari luar, melainkan Dia yang sedang berjalan menuju kota itu untuk mati di sana.
Inti
Perhatikan siapa yang berkata "berulang kali Aku rindu". Bukan seorang utusan yang baru tiba, melainkan Seorang yang mengaku telah merindukan kota ini sepanjang sejarahnya. Gambaran induk ayam dengan sayap terbentang bukan kiasan baru; itu bahasa Perjanjian Lama tentang Allah sendiri. Dalam Ulangan 32 Musa melukiskan Tuhan sebagai burung rajawali yang melayang di atas sarangnya dan membentangkan sayapnya atas Israel di padang gurun; Mazmur 91 menjanjikan perlindungan di bawah sayap-Nya. Yesus mengambil bahasa itu dan menempatkan diri-Nya di dalamnya. Inilah intinya: kasih Allah bukan strategi dingin melainkan kerinduan yang berulang dan ditolak berulang. Anugerah di sini tidak memaksa. Sayap terbentang, naungan tersedia, tetapi ada kata "tidak mau" yang sanggup berdiri menantang kerinduan Allah, dan itulah tragedi paling dalam dalam Alkitab.
Benang Merah
"Kamu membunuh para nabi dan merajam orang yang diutus kepadamu" bukan hiperbola. Dalam 2 Tawarikh 24 imam Zakharia dirajam di pelataran Bait Allah atas perintah raja, dan ia mati sambil berkata agar Tuhan menuntut balas. Itulah pembunuhan nabi terakhir dalam susunan Alkitab Ibrani; jadi Yesus sedang meringkas seluruh sejarah utusan yang ditolak. Dan Ia berdiri di ujung barisan itu, bukan sebagai nabi berikutnya melainkan sebagai Anak yang datang terakhir. Perumpamaan pohon ara beberapa ayat sebelumnya sudah menyiapkan nadanya: satu tahun lagi, digali, dipupuk, lalu ditebang jika tetap tanpa buah. Yerusalem adalah pohon ara itu. Dan tukang kebun yang memohon penundaan adalah Dia yang sekarang menangisi kota tersebut sambil terus berjalan ke arahnya.
Cermin
Kata "tidak mau" itu terlalu dekat untuk kita lewatkan. Kita jarang menolak Allah dengan pernyataan resmi; kita menolak dengan menunda. Ada percakapan dengan anak remaja yang sudah tiga bulan Anda hindari karena takut hasilnya buruk. Ada dosa dalam keuangan yang Anda sebut "pengaturan" supaya tidak perlu bertobat. Ada luka dari gereja yang Anda rawat diam-diam karena marah terasa lebih aman daripada naungan. Sayap itu terbentang, tetapi masuk ke bawahnya berarti mengakui bahwa Anda anak ayam, bukan elang. Itulah yang sulit. Hari ini, tuliskan pada secarik kertas satu hal konkret yang selama ini Anda tolak bawa kepada Tuhan, lalu ucapkan dengan suara keras: "Ini yang selama ini aku tidak mau serahkan." Lalu simpan kertas itu di Alkitab Anda.
Tokoh Utama
Yang mengejutkan dari Yesus di sini adalah gambar yang Ia pilih untuk diri-Nya. Seorang rabi Yahudi yang sedang ditolak oleh pusat kekuasaan agama tidak melukiskan diri sebagai singa atau hakim, melainkan sebagai induk ayam. Induk ayam tidak menakutkan siapa pun. Satu-satunya perlindungan yang ia punya adalah tubuhnya sendiri, yang dibentangkan di atas anak-anaknya ketika bahaya datang. Itu perlindungan yang hanya bekerja jika si induk bersedia terbakar lebih dulu. Dalam satu tarikan napas Yesus marah dan hancur: tuduhan tajam tentang nabi yang dirajam, lalu kerinduan yang berulang-ulang ditolak. Kemarahan dan kelembutan-Nya bukan dua suasana hati yang bergantian, melainkan satu kasih yang menolak berpura-pura bahwa penolakan tidak menyakitkan.
Profil
Lukas menulis untuk pembaca yang sebagian besar sudah tahu bagaimana kisah Yerusalem berakhir. Kalimat "rumahmu akan dikosongkan dan menjadi sunyi" terdengar berbeda bagi orang yang pernah mendengar kabar tentang Bait Allah yang terbakar. Bagi mereka, ayat ini bukan ramalan samar melainkan luka yang sudah jadi sejarah. Pembaca Yahudi juga langsung menangkap bahwa "di bawah sayapnya" adalah bahasa Bait Allah, tempat sayap kerub membentang di atas tabut. Naungan yang mereka cari di gedung itu ternyata sedang berdiri di jalan, dalam bentuk seorang Guru dari Nazaret. Dan kalimat penutup, "Diberkatilah Ia yang datang dalam nama Tuhan", adalah sapaan yang biasa dinyanyikan peziarah saat memasuki kota. Ucapan selamat datang itu ditunda, bukan dibatalkan.
Konteks
Kita berada di tengah perjalanan panjang menuju Yerusalem yang menjadi tulang punggung bagian ini dalam Lukas: "Dia mengajar dan terus berjalan menuju Yerusalem." Beberapa orang Farisi baru saja memperingatkan bahwa Herodes hendak membunuh-Nya, dan Yesus menyebut raja itu "rubah", binatang kecil yang licik, bukan predator yang layak ditakuti. Ancaman sesungguhnya bukan dari istana Herodes tetapi dari kota suci itu sendiri. Yerusalem adalah pusat ibadah, ekonomi ziarah, dan otoritas keagamaan; menolak nabi berarti menjaga sistem tetap utuh. Yesus tahu persis apa yang menunggu-Nya di sana, dan justru itulah arah kaki-Nya. Ratapan ini diucapkan bukan dari jarak aman, melainkan oleh Seseorang yang sedang berjalan masuk ke dalam bahaya.
Refleksi
Di bagian mana hidup saya, kalimat "kamu tidak mau" terdengar paling tepat, dan apa sebenarnya yang saya lindungi dengan penolakan itu?
Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai induk ayam, bukan sebagai pelindung yang kuat dan tak tersentuh. Apa yang berubah dalam cara saya berdoa jika perlindungan Allah berbentuk tubuh yang rela terbakar lebih dulu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 13:34
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 13:34?
Tentang apakah LUKAS 13:34?
Apa konteks historis dari LUKAS 13:34?
Apa yang LUKAS 13:34 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 13:34 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Luke 13?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi