MATIUS 13:44
Teks
Seseorang sedang bekerja di ladang yang bukan miliknya, mencangkul tanah orang lain, dan matanya menangkap sesuatu: harta terpendam. Ia tidak berteriak, tidak memanggil saksi. Ia menutupnya kembali, menimbunnya dengan tanah seperti semula, lalu pulang dan menjual seluruh yang ia punya untuk membeli ladang itu. Yesus menyebut satu hal yang menggerakkan seluruh tindakan itu: sukacita. Bukan perhitungan dingin, bukan ambisi, bukan rasa wajib. "Karena sukacitanya, ia pergi, menjual semua yang dipunyainya, dan membeli ladang itu." Satu kalimat panjang dalam bahasa Indonesia, satu kalimat pendek dalam bahasa Yunani, dan di dalamnya termuat seluruh logika Kerajaan Surga: menemukan, lalu melepaskan segalanya tanpa merasa rugi sedikit pun.
Inti
Perhatikan urutannya, karena di situ letak seluruh beratnya. Harta itu ditemukan lebih dulu, baru kemudian orang itu menjual. Ia tidak menabung bertahun-tahun untuk membeli ladang dengan harapan ada sesuatu di dalamnya. Kerajaan menyapa dia sebelum ia mencarinya; ia hanya sedang bekerja. Inilah anugerah dalam bentuk cerita: yang menentukan bukan usahanya, melainkan apa yang kebetulan ia temukan. Tetapi Yesus tidak berhenti di sana. Penemuan itu menuntut respons total, dan responsnya adalah penjualan seluruh milik. Bukan sebagian, bukan yang berlebih, bukan sepuluh persen. Semua. Kerajaan Surga tidak pernah menjadi tambahan pada hidup yang sudah tersusun rapi; ia menggeser pusatnya. Dan orang ini melakukannya sambil bersukacita, karena ia tahu persis apa yang ia dapatkan sebagai gantinya.
Benang Merah
Yang ganjil dalam perumpamaan ini adalah bahwa kita selalu membacanya dengan diri kita sebagai penemu harta. Tetapi Matius baru saja menceritakan seorang penabur yang menghambur-hamburkan benih, dan seorang pemilik ladang yang menabur benih baik di ladang yang adalah dunia. Dalam rangkaian itu ada satu Pribadi yang benar-benar menjual segala yang dipunyai-Nya untuk memperoleh sebuah ladang: Anak Manusia sendiri, yang datang bukan karena hitung-hitungan untung, tetapi karena sukacita yang terbentang di depan-Nya. Kerajaan Surga bukan sekadar objek yang kita temukan; ia lebih dulu datang mencari. Karena itu pelepasan kita tidak pernah heroik. Ia hanya gema kecil dari pelepasan yang mendahului kita, tanggapan orang yang sudah dibeli lebih dulu.
Cermin
Di sini teks ini mulai menggesek. Sebab yang menahan kita biasanya bukan ketidakpercayaan, melainkan kenyamanan yang sah. Promosi yang menuntut hari Minggu dan seluruh sisa tenaga Anda. Tabungan yang terus bertambah sementara nama-nama yang butuh bantuan Anda hafal betul. Waktu yang habis di layar setiap malam, sepuluh menit terakhir sebelum tidur yang seharusnya milik Allah. Kita ingin Kerajaan sebagai tambahan: satu kolom lagi dalam anggaran hidup yang sudah seimbang. Yesus berbicara tentang menjual semua. Dan Ia menyebut itu sukacita, bukan pengorbanan, yang berarti bila pelepasan Anda terasa seperti kehilangan belaka, mungkin Anda belum benar-benar melihat harta itu. Hari ini: buka catatan pengeluaran bulan ini, tunjuk satu pos yang sebetulnya bisa dilepas, dan berikan jumlah itu sekarang kepada satu orang atau pelayanan yang Anda kenal namanya.
Profil
Pendengar pertama Yesus adalah petani dan buruh upahan di Galilea, orang-orang yang tahu betul bahwa menimbun uang di tanah adalah praktik biasa di negeri yang berulang kali diinvasi. Cerita tentang harta terpendam bukan fantasi bagi mereka; itu harapan nyata seorang penggarap yang seumur hidup bekerja di ladang orang lain. Mereka juga mendengar sesuatu yang membuat kita gelisah: orang ini menyembunyikan temuannya dan membeli ladang tanpa memberi tahu pemiliknya. Mereka tidak tersandung pada etikanya, karena mereka mengerti gaya cerita rabi: satu titik, satu kejutan. Dan kejutannya jelas. Orang miskin yang menjual semuanya untuk satu ladang berbatu bukan orang bodoh, jika ia tahu apa yang ada di bawahnya.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan kita yang sudah menjual, tetapi tanpa sukacita? Yang setia ke gereja, memberi, melayani, dan merasakan lelah alih-alih gembira? Perumpamaan ini tidak menawarkan jalan keluar yang murah. Ia tidak berkata: usahakan lebih keras supaya merasa senang. Ia justru menelanjangi kemungkinan bahwa kita telah membeli ladang tanpa pernah sungguh melihat harta itu, bahwa iman kita adalah warisan sosial, bukan penemuan. Itu pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan dengan tekad. Yang bisa kita lakukan hanya kembali menggali di tempat yang sama: firman, doa, meja Perjamuan, sampai sesuatu berkilau lagi. Kadang sukacita itu datang terlambat, jauh setelah kepatuhan. Tetapi ia datang.
Intertekstual
Bandingkan dengan pemuda kaya dalam Matius 19. Yesus memintanya melakukan persis hal yang dilakukan penemu harta ini, menjual semua, dan ia pergi dengan sedih. Selisih antara kedua tokoh itu bukan besarnya harta yang dilepas, melainkan apakah mereka melihat apa yang mereka peroleh. Yang satu berduka, yang lain bersukacita, atas tindakan yang sama. Di sisi lain berdiri Paulus dalam Filipi 3, yang menyebut seluruh kredensialnya sebagai kerugian demi mengenal Kristus, dengan bahasa neraca dagang yang persis sama. Dan dalam pasal ini sendiri, mutiara berharga di ayat berikutnya mengulang pelajarannya untuk pencari profesional: entah Anda menemukannya kebetulan atau mencarinya seumur hidup, harganya tetap satu, yaitu segalanya.
Refleksi
Apa satu hal dalam hidup Anda yang, jika Anda jujur, tidak pernah Anda pertimbangkan untuk dilepas demi Kerajaan, dan mengapa justru hal itu?
Kapan terakhir kali iman Anda terasa seperti penemuan, bukan kewajiban? Apa yang sedang Anda lakukan ketika itu terjadi?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 13:44
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 13:44?
Tentang apakah MATIUS 13:44?
Apa konteks historis dari MATIUS 13:44?
Apa yang MATIUS 13:44 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 13:44 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau berkata, "Tidak," saat lalang itu hendak dicabut. Kesabaran-Mu menjaga gandum yang lemah, termasuk aku. Aku bersyukur Engkau tidak buru buru mencabut, melainkan memberi waktu untuk bertumbuh sampai musim menuai.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi