Penjelasan Alkitab

FILIPI 3

Alkitab
Pasal ini hadir berkat JL Group

Nas

Bayangkan Paulus di sel, tangan berbekas rantai, mendiktekan surat kepada jemaat yang dicintainya di Filipi. Ia memperingatkan mereka terhadap guru-guru palsu yang mengagungkan sunat lahiriah, lalu tiba-tiba membuka lemari lamanya sendiri: daftar prestasi keagamaan yang dulu menjadi kebanggaannya. Semua itu, katanya, kini ia anggap sampah, karena hanya satu yang berharga: mengenal Kristus, disatukan dengan penderitaan dan kebangkitan-Nya, dan berlari terus menuju panggilan surgawi.

Inti

Yang terjadi dalam pasal ini bukan sekadar Paulus menceritakan pertobatannya. Ia sedang membongkar seluruh sistem nilai manusia religius. Di baris ke tujuh ada satu kata yang menjadi engsel: "sekarang kuanggap rugi karena Kristus." Ini bahasa akuntansi. Paulus sedang menghitung ulang neraca hidupnya, dan ternyata semua yang ada di kolom aset, keturunan yang benar, ketaatan yang tanpa cacat, semangat yang membara, harus dipindahkan ke kolom kerugian. Bukan karena hal-hal itu buruk pada dirinya sendiri, tetapi karena begitu Kristus muncul di neraca, segala sesuatu yang lain kehilangan bobotnya. Kebenaran tidak lagi diproduksi, ia diterima.

Benang Merah

Paulus tidak sedang membuang perjanjian lama; ia sedang menunjukkan ke mana perjanjian itu selalu menunjuk. "Kitalah orang-orang bersunat yang sejati," katanya, mengambil tanda perjanjian Abraham dan memindahkannya dari daging ke hati, dari pisau ke Roh. Ini bukan pengkhianatan terhadap Musa; ini penggenapan. Sepanjang Perjanjian Lama sudah ada isyarat bahwa Tuhan mencari sunat hati, bukan sekadar sunat kulit. Kristus adalah orang yang benar itu, dan siapa yang bersatu dengan Dia mewarisi kebenaran-Nya. Garis besarnya jelas: Israel, Taurat, sunat, semuanya berpuncak pada satu Pribadi. Barangsiapa memiliki Dia, memiliki seluruh cerita.

Cermin

Kita jarang membanggakan sunat, tetapi kita punya daftar sendiri. Gelar akademis. Jumlah pengikut. Anak yang berhasil. Rekening yang aman. Bahkan hal-hal rohani: berapa lama sudah menjadi Kristen, berapa sering melayani, seberapa dalam pemahaman Alkitab kita. Paulus menaruh cermin di depan wajah kita dan bertanya: apa isi kolom aset Anda? Lalu ia bertanya lagi, lebih tajam: apakah Anda sanggup memindahkan semua itu ke kolom kerugian demi mengenal Kristus? Bukan menghancurkannya, tetapi merelakannya kehilangan bobot menentukan. Kebanyakan dari kita ingin Kristus ditambahkan pada daftar, bukan menggantikan daftar. Di situlah pasal ini menggores.

Detail

Perhatikan ayat 13: "aku melupakan apa yang di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku." Gambar yang dipakai Paulus adalah pelari di stadion. Seorang pelari yang menoleh ke belakang kehilangan kecepatan, kehilangan garis, kadang jatuh. Yang menarik: yang harus dilupakan bukan hanya dosa masa lalu, tetapi juga prestasi masa lalu. Keduanya sama-sama berbahaya kalau kita terus menoleh. Rasa bersalah membekukan, kebanggaan membuat kita puas terlalu cepat. Paulus, yang punya masa lalu penuh keduanya, penganiaya jemaat sekaligus Farisi tanpa cacat, memilih untuk tidak menoleh. Ia berlari. Iman bukan menoleh ke belakang; iman adalah tubuh yang condong ke depan.

Profil

Jemaat Filipi hidup di kota kolonial Romawi. Warganya bangga akan status kewarganegaraan Romawi mereka, sebuah kehormatan yang memberi hak hukum, perlindungan, identitas. Ketika Paulus menulis di ayat 20, "kewarganegaraan kita adalah di surga," ia sedang memakai kosakata politik yang mereka pahami sampai ke tulang. Ia tidak berkata "kita akan pergi ke surga suatu hari nanti." Ia berkata: kartu identitas utama kalian dikeluarkan oleh pemerintahan lain, dan Raja kalian akan datang. Di kota yang setiap tahun merayakan kaisar sebagai juruselamat, kalimat "kita menanti-nantikan Juru Selamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus" adalah pernyataan yang berani, bahkan berbahaya. Kesetiaan tertinggi mereka bukan lagi kepada Roma.

Intertekstualitas

Dua gema layak didengar. Pertama, Yeremia 9:23-24: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya… tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku." Paulus sedang menghidupkan kalimat itu. Semua bahan bermegah dijatuhkan, tinggal satu yang sah: mengenal Tuhan. Kedua, kontrasnya dengan ayat 19 tentang mereka yang "allahnya adalah perut mereka". Ini bergema dengan Esau yang menjual hak kesulungannya demi semangkuk sup. Selalu ada dua jenis manusia dalam Alkitab: mereka yang menukar warisan kekal demi kepuasan segera, dan mereka yang membuang segalanya demi mutiara yang satu itu. Paulus tidak menyisakan kategori ketiga.

Refleksi

Kalau Anda jujur menulis daftar hal-hal yang membuat Anda merasa layak dan berharga, apa yang tertulis di sana, dan mana yang paling sulit Anda pindahkan ke kolom "rugi karena Kristus"?

Paulus menulis dengan air mata tentang mereka yang menjadi musuh salib karena "allah mereka adalah perut mereka". Kenyamanan mana dalam hidup Anda yang diam-diam sudah mulai menempati kursi yang seharusnya milik Kristus?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Philippians 3

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti FILIPI 3?
Bayangkan Paulus di sel, tangan berbekas rantai, mendiktekan surat kepada jemaat yang dicintainya di Filipi. Ia memperingatkan mereka terhadap guru-guru palsu yang mengagungkan sunat lahiriah, lalu tiba-tiba membuka lemari lamanya sendiri: daftar prestasi keagamaan yang dulu menjadi kebanggaannya.
Tentang apakah FILIPI 3?
Paulus tidak sedang membuang perjanjian lama; ia sedang menunjukkan ke mana perjanjian itu selalu menunjuk. "Kitalah orang-orang bersunat yang sejati," katanya, mengambil tanda perjanjian Abraham dan memindahkannya dari daging ke hati, dari pisau ke Roh. Ini bukan pengkhianatan terhadap Musa; ini penggenapan.
Apa konteks historis dari FILIPI 3?
Perhatikan ayat 13: "aku melupakan apa yang di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku." Gambar yang dipakai Paulus adalah pelari di stadion. Seorang pelari yang menoleh ke belakang kehilangan kecepatan, kehilangan garis, kadang jatuh. Yang menarik: yang harus dilupakan bukan hanya dosa masa lalu, tetapi juga prestasi masa lalu.
Apa yang FILIPI 3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Dua gema layak didengar. Pertama, Yeremia 9:23-24: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya... tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku." Paulus sedang menghidupkan kalimat itu. Semua bahan bermegah dijatuhkan, tinggal satu yang sah: mengenal Tuhan.
Bagaimana FILIPI 3 masih relevan hari ini?
Paulus menulis dengan air mata tentang mereka yang menjadi musuh salib karena "allah mereka adalah perut mereka". Kenyamanan mana dalam hidup Anda yang diam-diam sudah mulai menempati kursi yang seharusnya milik Kristus?
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang Philippians 3

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Wawasan Editorial pada ayat 7

Paulus tidak berkata bahwa asal usulnya, pendidikannya, dan kesalehannya itu sampah sejak awal. Ia berkata, "Akan tetapi, apa pun yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang aku anggap kerugian demi Kristus." Itu bahasa pembukuan. Ia memindahkan daftar kebanggaannya dari kolom untung ke kolom rugi. Apa yang masih kamu catat di kolom untung, yang diam diam menyaingi Kristus?

Doa Editorial pada ayat 16

Tuhan, aku sering sibuk memikirkan langkah besar berikutnya sampai lupa menjalani yang sudah Kau tunjukkan hari ini. Tolong aku setia pada hal kecil yang kumengerti sekarang, berjalan terus bersama-Mu tanpa berhenti di tengah jalan.

Doa Editorial pada ayat 21

Tuhan, tubuh ini sering terasa lemah dan cepat lelah, dan aku tidak selalu tahu bagaimana menerimanya. Tapi aku percaya Engkau sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih indah daripada yang kulihat sekarang. Kuatkan aku menunggu hari itu dengan harapan, bukan keluhan.

Wawasan Editorial pada ayat 3

Paulus punya daftar yang mengesankan: keturunan, pendidikan, ketaatan yang rapi. Semua itu ia sebut perkara lahiriah. Katanya, kita adalah mereka "yang bermegah dalam Kristus Yesus, dan yang tidak menaruh kepercayaan pada hal-hal lahiriah." Kalau hari ini semua yang bisa kamu tunjukkan kepada orang lain dicabut, masih ada sesuatu yang membuatmu tenang di hadapan Allah?

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi