Penjelasan Alkitab

ROMA 1:17

Alkitab

Teksnya

Satu kalimat, dan seluruh surat Roma tergantung padanya: "Karena di dalamnya, kebenaran Allah dinyatakan dari iman kepada iman." Paulus baru saja berkata bahwa ia tidak malu akan Injil, sebab Injil itu kuasa Allah untuk keselamatan. Sekarang ia menjelaskan mengapa: di dalam berita itu sesuatu tersingkap, kebenaran Allah sendiri, yang diterima dan dijalani hanya lewat iman. Lalu ia mengunci pernyataan itu dengan kalimat tua seorang nabi: "Orang benar akan hidup oleh imannya."

Intinya

Bayangkan sebuah tirai yang disibakkan. Kata Yunani yang dipakai Paulus, apokalyptetai, berarti "disingkapkan", dan bentuknya menunjukkan sesuatu yang sedang terjadi, terus-menerus, setiap kali Injil diberitakan. Yang tersingkap bukan nasihat moral, melainkan kebenaran Allah: sekaligus sifat Allah yang setia pada janji-Nya dan status benar yang Ia berikan kepada orang yang percaya. Perhatikan apa yang tidak dikatakan Paulus. Ia tidak berkata bahwa Injil menyingkapkan cara manusia menjadi baik. Kebenaran itu milik Allah, datang dari luar kita, diserahkan kepada tangan yang kosong. Dan di ayat berikutnya kata kerja yang sama muncul lagi, kali ini untuk murka. Dua penyingkapan, satu tirai. Yang menentukan bukan usaha Anda, melainkan di sisi mana Anda berdiri.

Benang Merah

Kalimat yang dikutip Paulus lahir di tempat yang gelap. Nabi Habakuk berdiri di menara jaganya, menuntut jawaban dari Allah tentang mengapa bangsa Babel yang brutal dibiarkan menelan umat perjanjian. Jawaban yang ia terima bukan penjelasan, melainkan sebuah cara bertahan: yang benar akan hidup oleh imannya, yaitu oleh kesetiaan yang berpegang ketika semuanya runtuh. Ratusan tahun kemudian Paulus mengambil kalimat itu dan menempatkannya di bawah salib dan kubur kosong. Yang dinanti Habakuk sudah datang, "yang menurut daging lahir dari keturunan Daud," dan yang dinyatakan berkuasa "melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati." Iman yang dulu bertahan dalam kegelapan kini bertumpu pada nama.

Cermin

"Dari iman kepada iman" berarti tidak ada titik di mana Anda naik kelas dan berhenti bergantung. Itu melegakan dan sekaligus menjengkelkan. Melegakan, karena Anda tidak perlu menunggu sampai cukup rapi sebelum berani mendekat. Menjengkelkan, karena tidak ada yang bisa Anda tunjukkan sebagai bukti kemajuan: bukan konsistensi saat teduh Anda, bukan jabatan pelayanan Anda, bukan anak-anak Anda yang duduk manis di gereja. Dan ada rasa malu yang halus, yang Paulus tolak dengan tegas. Di ruang guru, di rapat kantor, di grup keluarga, Injil terdengar terlalu sederhana, terlalu kuno, terlalu memalukan untuk diucapkan tanpa tanda kutip. Paulus menyebutnya kuasa Allah. Pertanyaannya jujur saja: Anda malu, atau tidak?

Konteks

Sekitar tahun 57, Paulus mendiktekan surat ini dari Korintus kepada jemaat yang belum pernah ia temui. Roma adalah pusat dunia; di sanalah kata "kabar baik" biasa dipakai untuk mengumumkan kemenangan kaisar dan kelahiran ahli warisnya. Jemaatnya kecil, berkumpul di rumah-rumah petak, campuran budak, orang merdeka, pedagang Yahudi yang baru boleh kembali setelah pengusiran oleh Kaisar Klaudius. Ketegangan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi terasa di ruangan itu. Dalam budaya yang mengukur segalanya dengan kehormatan dan aib, Paulus mengirim surat tentang seorang Yahudi yang disalibkan, hukuman paling hina yang dikenal Roma, dan menyebutnya kuasa Allah. Kalimat "aku tidak malu" bukan basa-basi. Itu perlawanan.

Gema Kitab Suci

Kalimat Habakuk itu berdiri di belakang seluruh ayat ini, dan Paulus tidak sedang mengutip serampangan: ia sengaja memilih nabi yang bergumul dengan keadilan Allah, karena itulah persis pergumulan surat Roma. Bagaimana Allah bisa benar dan sekaligus membenarkan orang berdosa? Gema kedua terdengar lebih jauh lagi, pada Abraham di Kejadian 15, yang percaya kepada janji Allah di bawah langit berbintang tanpa memiliki apa pun selain janji itu, dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Paulus akan kembali ke sana dalam pasal 4. Artinya jelas: iman bukan penemuan Kristen yang baru. Ia adalah pola lama sejak awal.

Tokoh Utama

Yang bergerak dalam ayat ini adalah Allah. Ia bisa saja tetap tersembunyi; kebenaran-Nya bisa saja tinggal sebagai standar yang menghukum dari jauh. Tetapi Ia menyingkapkan diri, dan cara Ia menyingkapkan diri mengungkap watak-Nya: Ia tidak menuntut manusia mendaki, Ia sendiri yang turun dan menyerahkan kebenaran-Nya sebagai pemberian. Perhatikan bahwa Ia melakukannya melalui Injil, yaitu melalui berita yang diucapkan, sesuatu yang lemah dan mudah ditertawakan. Allah yang seperti ini memilih memakai mulut Paulus yang capai dan jemaat kecil di gang-gang Roma. Ia tidak malu memakai apa yang dianggap hina, karena Ia juga tidak malu disebut Bapa oleh orang-orang seperti kita.

Refleksi

Di mana dalam hidup Anda iman diam-diam sudah berubah menjadi prestasi, sesuatu yang Anda kerjakan sendiri agar layak di hadapan Allah?

Kapan terakhir kali Anda merasa malu akan Injil, dan apa sebenarnya yang Anda takutkan di momen itu?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 1:17

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti ROMA 1:17?
Satu kalimat, dan seluruh surat Roma tergantung padanya: "Karena di dalamnya, kebenaran Allah dinyatakan dari iman kepada iman." Paulus baru saja berkata bahwa ia tidak malu akan Injil, sebab Injil itu kuasa Allah untuk keselamatan. Sekarang ia menjelaskan mengapa: di dalam berita itu sesuatu tersingkap, kebenaran Allah sendiri, yang diterima dan dijalani hanya lewat iman.
Tentang apakah ROMA 1:17?
Bayangkan sebuah tirai yang disibakkan. Kata Yunani yang dipakai Paulus, apokalyptetai, berarti "disingkapkan", dan bentuknya menunjukkan sesuatu yang sedang terjadi, terus-menerus, setiap kali Injil diberitakan. Yang tersingkap bukan nasihat moral, melainkan kebenaran Allah: sekaligus sifat Allah yang setia pada janji-Nya dan status benar yang Ia berikan kepada orang yang percaya.
Apa konteks historis dari ROMA 1:17?
Kalimat yang dikutip Paulus lahir di tempat yang gelap. Nabi Habakuk berdiri di menara jaganya, menuntut jawaban dari Allah tentang mengapa bangsa Babel yang brutal dibiarkan menelan umat perjanjian. Jawaban yang ia terima bukan penjelasan, melainkan sebuah cara bertahan: yang benar akan hidup oleh imannya, yaitu oleh kesetiaan yang berpegang ketika semuanya runtuh.
Apa yang ROMA 1:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
"Dari iman kepada iman" berarti tidak ada titik di mana Anda naik kelas dan berhenti bergantung. Itu melegakan dan sekaligus menjengkelkan. Melegakan, karena Anda tidak perlu menunggu sampai cukup rapi sebelum berani mendekat.
Bagaimana ROMA 1:17 masih relevan hari ini?
Sekitar tahun 57, Paulus mendiktekan surat ini dari Korintus kepada jemaat yang belum pernah ia temui. Roma adalah pusat dunia; di sanalah kata "kabar baik" biasa dipakai untuk mengumumkan kemenangan kaisar dan kelahiran ahli warisnya. Jemaatnya kecil, berkumpul di rumah-rumah petak, campuran budak, orang merdeka, pedagang Yahudi yang baru boleh kembali setelah pengusiran oleh Kaisar Klaudius.
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang Romans 1

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Wawasan Editorial pada ayat 18

Sebab, murka Allah dinyatakan dari surga atas semua kefasikan dan kejahatan manusia, yang menindas kebenaran dengan kejahatan mereka." Perhatikan kata menindas. Artinya kebenaran itu ada, sudah kita tahu, tetapi kita menekannya supaya diam. Murka Allah bukan ledakan emosi tiba-tiba, melainkan tanggapan-Nya atas hati yang terus membungkam suara yang sebenarnya sudah didengar. Apa yang sedang kamu tahan hari ini supaya tidak bersuara?

Syukur Editorial pada ayat 15

Terima kasih untuk hati Paulus yang berkata, "aku sangat ingin memberitakan Injil kepada kamu juga yang ada di Roma." Karena kerinduan seperti itu, kabar baik terus berjalan sampai ke telingaku. Tanamkan kerinduan yang sama di hatiku hari ini.

Wawasan Editorial pada ayat 26

Tiga kali dalam pasal ini Paulus menulis kalimat yang sama: "Allah menyerahkan mereka." Bukan gambaran Allah yang meledak marah, melainkan Allah yang melepaskan genggaman-Nya. Ternyata hukuman paling menakutkan adalah dibiarkan mendapat persis apa yang kita mau. Adakah sesuatu yang kaupegang erat sekali, sambil diam-diam berharap Tuhan tidak pernah melepaskanmu?

Wawasan Editorial pada ayat 22

Meskipun mengaku diri berhikmat, mereka menjadi bodoh." Yang mengerikan bukan ketidaktahuan, melainkan rasa yakin bahwa kita sudah tahu. Kebodohan di sini lahir dari kesombongan yang menolak berterima kasih kepada Allah. Coba periksa: di bagian hidup mana kamu merasa paling tidak butuh nasihat siapa pun? Mungkin di situlah kegelapan mulai bekerja tanpa kamu sadari.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun penjelasan Alkitab. Meskipun kami berupaya menjaga ketepatan teologis, perangkat lunak ini dapat membuat kesalahan. Gunakanlah sebagai pelengkap, bukan pengganti, bagi penelaahan Alkitab pribadi Anda dan kehidupan bersama dalam persekutuan gereja.

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Perusahaan?