KISAH PARA RASUL 13:20
The Text
Empat ratus lima puluh tahun, lalu satu kalimat: "Setelah itu, Allah menyerahkan kepada mereka hakim-hakim sampai pada masa Nabi Samuel." Paulus sedang berdiri di sinagoge Antiokhia di Pisidia, menyusuri sejarah Israel dari Mesir sampai Daud, dan di ayat ini ia merangkum satu rentang panjang yang di dalam Kitab Suci sendiri memakan berpuluh pasal penuh darah, pengkhianatan, dan pertobatan yang selalu setengah hati. Pemilihan nenek moyang, pembebasan dari Mesir, kesabaran di padang belantara, pembagian tanah Kanaan: semuanya dipadatkan menjadi angka. Lalu masa para hakim, yang bukan masa keemasan melainkan masa kacau, disebut sebagai pemberian Allah. Ia yang menyerahkan hakim-hakim itu. Dan nama Samuel menutup rentang itu seperti pintu yang pelan-pelan ditutup sebelum babak baru dibuka.
The Core
Yang mengusik dari ayat ini adalah kata kerjanya: Allah menyerahkan hakim-hakim kepada mereka. Zaman para hakim bukan jeda kosong di mana Allah menunggu sampai Israel cukup dewasa untuk punya raja. Itu pemberian-Nya, pemeliharaan-Nya, bentuk kehadiran-Nya yang berantakan dan tak rapi. Allah bekerja melalui Gideon yang penakut, melalui Simson yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, melalui lingkaran dosa dan penindasan dan jeritan dan pertolongan yang berulang sampai membosankan. Di sini tersembunyi sesuatu tentang karakter Allah yang jarang kita tanggung dengan jujur: Ia sabar dengan waktu dengan cara yang tidak kita mengerti. Empat ratus lima puluh tahun tanpa kemajuan yang jelas, dan Ia tetap di sana, menyerahkan pemimpin demi pemimpin, tidak pergi. Pertanyaannya bukan mengapa Allah lambat, tetapi mengapa kita yakin kita tahu apa yang disebut tepat waktu.
The Common Thread
Perhatikan ke mana kalimat ini mengalir. Para hakim diserahkan "sampai pada masa Nabi Samuel", lalu datang Saul, lalu Daud, dan kemudian Paulus mengucapkan kalimat yang menjadi tujuan seluruh ringkasan itu: "Dari keturunan orang ini, Allah, sesuai janji-Nya, membawa kepada Israel seorang Juru Selamat, yaitu Yesus." Para hakim adalah penyelamat kecil yang selalu habis masa berlakunya. Mereka membebaskan, lalu mati, dan bangsa itu jatuh lagi. Setiap pembebasan punya tanggal kedaluwarsa karena setiap pembebas punya kuburan. Itulah sebabnya Paulus kemudian menekankan bahwa Daud pun "mati, dan dibaringkan di antara nenek moyangnya, serta melihat kebinasaan". Seluruh rentang empat ratus lima puluh tahun itu adalah pelajaran panjang bahwa penyelamat yang fana tidak pernah cukup. Dan justru di dalam kegagalan berulang itulah kerinduan akan Penyelamat yang tidak mati ditanam, pelan-pelan, selama berabad-abad.
The Mirror
Kita ingin hidup kita dibaca seperti kisah keluaran: pembebasan dramatis, laut terbelah, tanggal yang bisa dilingkari. Yang kita dapat sering kali adalah zaman para hakim: dua belas tahun merawat orang tua yang pikun, satu dekade pernikahan yang tidak buruk tetapi juga tidak hidup, pekerjaan yang jalan di tempat, doa yang sama diulang sampai bosan sendiri. Rentang-rentang seperti itu tidak punya judul bab. Tidak ada yang akan meringkasnya dalam satu kalimat kecuali Allah. Dan ayat ini berani berkata bahwa di dalam rentang semacam itu Allah tidak absen, Ia menyerahkan, Ia memberi, Ia hadir dalam bentuk-bentuk yang tidak kita kenali sebagai pertolongan. Hari ini, ambil kertas dan tulis satu periode hidupmu yang terasa terbuang, lalu di bawahnya tulis satu nama orang yang Allah kirim kepadamu justru dalam periode itu, dan ucapkan nama itu dalam doa syukur.
The Detail
Satu kata kecil yang mudah terlewat: "kira-kira". Paulus tidak berkata empat ratus lima puluh tahun, ia berkata kira-kira. Seorang yang berdiri di sinagoge, berbicara kepada orang-orang yang hafal Taurat, memilih untuk tidak presisi. Dan Lukas membiarkannya berdiri begitu saja. Ada kelegaan aneh di sana. Sejarah keselamatan ternyata tidak disampaikan sebagai tabel kronologi yang rapi, melainkan sebagai kesaksian yang berani membulatkan angka karena yang penting bukan angkanya. Kita sering memperlakukan waktu Allah seperti jadwal kereta: kalau tidak sesuai menit, berarti ada yang salah. Teks ini justru longgar soal angka dan ketat soal pelaku. Berapa lamanya kira-kira; siapa yang bekerja di dalamnya, itu pasti.
The Question
Jika para hakim adalah pemberian Allah, mengapa pemberian itu begitu buruk hasilnya? Zaman itu berakhir dengan bangsa yang justru menuntut raja, dan Allah pun "memberi mereka Saul", lalu kemudian "menyingkirkan Saul". Apakah Allah memberi sesuatu yang Ia tahu akan gagal? Saya tidak punya jawaban yang bisa menutup pertanyaan ini dengan rapi. Yang bisa saya katakan: Allah tampaknya tidak keberatan bekerja melalui jalan yang panjang, berbelok, dan sering menyakitkan, dan Ia tidak pernah menjelaskan alasannya kepada Israel. Mungkin karena sebagian hal hanya bisa dipelajari dengan cara dijalani, bukan dijelaskan. Mungkin juga karena kesabaran Allah terhadap kegagalan kita adalah bentuk kasih yang belum kita mengerti. Biarkan pertanyaan itu terbuka; jangan buru-buru menambalnya.
The Main Character
Bacalah ulang seluruh ringkasan Paulus dan hitung siapa subjek kalimatnya. Allah memilih, Allah meninggikan, Allah memimpin keluar, Allah bersabar, Allah membinasakan, Allah mewariskan, Allah menyerahkan, Allah memberi, Allah menyingkirkan, Allah membangkitkan, Allah membawa Juru Selamat. Israel hampir tidak pernah menjadi pelaku dalam pidato ini; mereka adalah yang kepadanya sesuatu dilakukan. Itu bukan penghinaan terhadap manusia, itu pembebasan. Sejarah tidak bergantung pada mutu kepemimpinan Gideon atau kesetiaan generasi tertentu. Allah adalah tokoh utama yang tidak pernah keluar panggung, bahkan ketika layar seakan gelap selama empat setengah abad. Dan Allah yang sama itu, kata Paulus, baru saja melakukan hal paling menentukan dalam sejarah-Nya, di Yerusalem, beberapa tahun lalu.
Reflection
Rentang mana dalam hidupmu yang ingin kauringkas dengan satu kalimat karena terlalu menyakitkan atau terlalu membosankan untuk diceritakan utuh, dan apa yang terjadi jika kaubiarkan Allah yang meringkasnya?
Siapa "hakim" yang Allah serahkan kepadamu, orang yang tidak sempurna namun melaluinya pertolongan datang, dan sudahkah kau mensyukurinya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 13:20
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 13:20?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 13:20?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 13:20?
Apa yang KISAH PARA RASUL 13:20 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 13:20 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, di tengah banyak suara yang mengaku tahu kebenaran, tolong aku membedakan mana yang benar benar dari-Mu. Jagai hatiku supaya tidak mudah terpikat oleh hal hal yang terlihat menakjubkan tapi menjauhkan aku dari-Mu.
Terima kasih, Tuhan, karena jalan-jalan-Mu lurus dan tidak bisa diputarbalikkan oleh tipu daya siapa pun. Terima kasih Engkau menyingkapkan yang palsu dan memberi keberanian seperti pada Paulus untuk berdiri di pihak kebenaran, bahkan saat suara dusta terdengar lebih keras.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi