KISAH PARA RASUL 13:21
Teks
Paulus sedang menelusuri sejarah Israel di sinagoge Antiokhia di Pisidia, dan ia sampai pada satu titik belok: setelah masa hakim-hakim berakhir pada Samuel, bangsa itu meminta sesuatu. "Kemudian, mereka meminta seorang raja, dan Allah memberi mereka Saul, anak laki-laki Kish, orang dari suku Benyamin, selama empat puluh tahun." Satu kalimat saja, tanpa penilaian, tanpa celaan. Permintaan manusia, pemberian Allah, sebuah nama, sebuah silsilah, dan sebuah rentang waktu. Lalu Paulus bergerak terus, seolah empat puluh tahun itu hanyalah jeda napas di antara dua kalimat.
Inti
Perhatikan kata kerjanya: mereka meminta, dan Allah memberi. Bukan "Allah menolak" dan bukan juga "Allah merestui". Allah memberikan apa yang diminta, dan pemberian itu berlangsung empat puluh tahun penuh. Di sinilah teks ini menjadi sunyi dan menggetarkan: ada pemberian Allah yang sekaligus merupakan jawaban atas keinginan yang keliru. Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain, ingin raja yang kelihatan, tinggi, meyakinkan. Allah tidak menghancurkan mereka karena itu. Ia menyerahkan kepada mereka persis apa yang mereka kejar, lalu bekerja melaluinya, di bawahnya, dan akhirnya melampauinya. Kedaulatan Allah di sini tidak tampak sebagai palang yang menghalangi, melainkan sebagai ruang yang luas dan agak menakutkan, tempat kehendak manusia diizinkan berjalan sampai habis napasnya. Apa artinya bila doa kita dikabulkan?
Benang Merah
Paulus tidak berhenti pada Saul. Satu ayat kemudian ia berkata: "Setelah Allah menyingkirkan Saul, Allah membangkitkan Daud untuk menjadi raja mereka." Dan dari Daud, katanya, Allah "membawa kepada Israel seorang Juru Selamat, yaitu Yesus." Jadi empat puluh tahun Saul berdiri di tengah-tengah sebagai apa? Bukan jalan buntu, bukan pula jalan lurus. Lebih seperti jalan memutar yang ternyata tetap sampai. Israel meminta raja menurut ukuran mata mereka; Allah akhirnya memberi Raja menurut ukuran hati-Nya, dan Raja itu berakhir di kayu salib, bukan di atas takhta yang gemerlap. Benang merahnya bukan bahwa Allah memperbaiki kesalahan kita dengan cepat, melainkan bahwa Ia sabar menenunnya. Empat puluh tahun Saul, empat puluh tahun padang belantara di ayat 18, kesabaran yang sama, Allah yang sama.
Cermin
Ada doa-doa yang kita panjatkan dengan keras kepala. Pekerjaan itu. Rumah itu. Pernikahan itu. Pemimpin gereja yang karismatik, yang membuat kita akhirnya terlihat serius di mata orang lain. Dan kadang Allah memberikannya. Lalu kita hidup bertahun-tahun di dalam jawaban doa kita sendiri dan perlahan menyadari bahwa yang kita dapatkan ternyata bukan yang kita butuhkan. Teks ini tidak menertawakan kita karena itu. Teks ini hanya mencatat: mereka meminta, Allah memberi, empat puluh tahun. Pertanyaan yang ditinggalkannya di dada kita bukan "apakah Allah mendengar", melainkan "apakah saya berani meminta sesuatu yang mungkin tidak baik bagi saya". Hari ini, tuliskan di selembar kertas satu permintaan yang paling sering Anda ulang kepada Allah, lalu di bawahnya tulis dan ucapkan dengan suara terdengar: "Tuhan, saya tidak tahu apakah ini baik. Engkau tahu."
Profil
Orang-orang yang duduk di sinagoge Antiokhia di Pisidia hari itu tidak punya raja. Mereka punya prokonsul Romawi, pajak Romawi, tentara Romawi. Ketika Paulus menyebut Saul, Kish, suku Benyamin, ia sedang menyentuh luka lama sekaligus kerinduan yang masih hidup: kapan Israel punya rajanya sendiri lagi? Bagi mereka, kata "raja" bukan istilah teologis, melainkan politik yang berbahaya. Dan ada ironi yang mungkin mereka lewatkan, tetapi Paulus pasti tidak: ia sendiri bernama Saulus, dari suku Benyamin, keturunan orang-orang yang sama. Ia sedang berdiri di sana, Saul yang lain, yang disingkirkan dari jalannya sendiri di jalan ke Damsyik, dan kini diutus bukan untuk memerintah melainkan untuk memberitakan Raja yang lain.
Pertanyaan
Pemberian Allah atau penghakiman Allah? Teks ini menolak memilih. Dalam 1 Samuel 8, permintaan akan raja disebut penolakan terhadap Allah sendiri, namun Allah tetap mengabulkannya. Lalu empat puluh tahun itu: apakah itu waktu yang terbuang? Ada orang-orang yang lahir, menikah, dan mati di bawah pemerintahan Saul. Bagi mereka, itu bukan jeda, itu seluruh hidup mereka. Kita suka berkata bahwa Allah memakai segala sesuatu untuk kebaikan, dan itu benar, tetapi kalimat itu terlalu ringan untuk menampung empat puluh tahun. Mungkin yang jujur adalah ini: Alkitab tidak menjelaskan mengapa Allah mengizinkan sebuah kesalahan berlangsung selama satu generasi. Ia hanya memberi tahu kita bahwa Ia masih di sana ketika generasi itu berakhir.
Intertekstual
Kisah aslinya ada di 1 Samuel 8, ketika tua-tua Israel datang kepada Samuel dan meminta raja supaya mereka sama seperti segala bangsa. Samuel marah, Allah berkata bahwa bukan Samuel yang ditolak, melainkan Dia. Dan toh Ia berkata: dengarkanlah suara mereka. Bandingkan itu dengan bagaimana Paulus menceritakan ulang kisah yang sama di sini, tanpa satu pun kata celaan. Ia sedang berkhotbah tentang anugerah, bukan tentang kegagalan. Lalu bandingkan juga dengan Filipi 3, tempat Paulus menyebut dirinya dari suku Benyamin dan menghitung semua kebanggaannya sebagai kerugian. Dua Saul dari suku yang sama: yang satu diberikan karena manusia meminta, yang satu memberikan dirinya karena Kristus memanggil.
Refleksi
Apa yang sedang Anda minta kepada Allah dengan begitu gigih sehingga Anda tidak lagi berani bertanya apakah itu baik bagi Anda?
Jika ada "empat puluh tahun" dalam hidup Anda yang terasa seperti jalan memutar, apa yang berubah ketika Anda membacanya bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai kesabaran Allah yang sedang berjalan bersama Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 13:21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 13:21?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 13:21?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 13:21?
Apa yang KISAH PARA RASUL 13:21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 13:21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, di tengah banyak suara yang mengaku tahu kebenaran, tolong aku membedakan mana yang benar benar dari-Mu. Jagai hatiku supaya tidak mudah terpikat oleh hal hal yang terlihat menakjubkan tapi menjauhkan aku dari-Mu.
Terima kasih, Tuhan, karena jalan-jalan-Mu lurus dan tidak bisa diputarbalikkan oleh tipu daya siapa pun. Terima kasih Engkau menyingkapkan yang palsu dan memberi keberanian seperti pada Paulus untuk berdiri di pihak kebenaran, bahkan saat suara dusta terdengar lebih keras.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi