HOSEA 2:19
Teks
Setelah belasan ayat berisi tuduhan, ancaman, dan penelanjangan di depan umum, TUHAN tiba-tiba berbicara seperti seorang pengantin pria yang sedang mengucapkan janji nikah: "Aku akan menjadikanmu istri-Ku untuk selama-lamanya." Bukan sekadar memaafkan, bukan sekadar menerima kembali dengan syarat masa percobaan, melainkan menikahi ulang perempuan yang baru saja disebut pezina. Dan pernikahan itu diberi empat mas kawin yang disebutkan satu per satu: kebenaran, keadilan, kasih setia, belas kasih. Perhatikan siapa yang membayar. Bukan Israel yang harus menyetor bukti perbaikan diri lebih dahulu; TUHAN sendiri yang menyerahkan keempatnya sebagai mahar. Ayat ini adalah akad nikah sepihak, diucapkan di padang belantara, kepada seseorang yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain riwayat pengkhianatannya sendiri.
Inti
Yang mengejutkan bukan pengampunannya, melainkan bentuknya. Allah tidak memulihkan hubungan ini sebagai majikan yang mengampuni budak, atau hakim yang menangguhkan hukuman. Ia mengikat diri-Nya dengan janji yang tidak bisa Ia tarik kembali, "untuk selama-lamanya," dan dengan itu Ia mempertaruhkan nama-Nya sendiri pada kesetiaan umat yang terbukti tidak setia. Keempat mas kawin itu penting justru karena bukan hanya perasaan. Kebenaran dan keadilan adalah kata-kata pengadilan; kasih setia dan belas kasih adalah kata-kata rahim dan perjanjian. Artinya: kasih Allah tidak menutup mata terhadap dosa, tetapi juga tidak menunggu sampai kita layak. Dan karena mahar selalu menentukan seperti apa rumah tangga itu akan dijalani, keempat hal ini menjadi mata uang hidup kita juga: orang yang dinikahi dengan keadilan tidak bisa hidup curang.
Benang Merah
Hosea menikahi perempuan yang mengkhianatinya karena Allah menyuruhnya memerankan apa yang Ia sendiri lakukan terhadap Israel. Dan gambaran ini tidak berhenti di Hosea. Seluruh Alkitab bergerak menuju sebuah pesta pernikahan, dengan Kristus sebagai mempelai laki-laki yang, kata Paulus, menyerahkan diri-Nya bagi jemaat supaya jemaat itu dikuduskan. Di situlah keempat mas kawin Hosea akhirnya dibayar tunai: kebenaran dan keadilan tidak diabaikan, melainkan ditanggung di salib; kasih setia dan belas kasih tidak sekadar diucapkan, melainkan berdarah. Yang menarik, ayat 15 menyebut "Lembah Akhor menjadi pintu gerbang pengharapan," lembah tempat penghukuman Akhan dahulu. Tempat penghakiman diubah menjadi pintu masuk. Itu pola yang persis sama dengan Golgota.
Cermin
Mahar menentukan corak rumah tangga. Kalau kamu dinikahi dengan keadilan, kamu tidak bisa menyimpan laporan pengeluaran yang dibengkokkan sedikit di kantor dan menyebutnya lumrah. Kalau kamu dinikahi dengan belas kasih, kamu tidak bisa menyimpan dendam bertahun-tahun terhadap saudara yang pernah menipumu soal warisan, lalu menyebutnya prinsip. Ayat ini menelanjangi satu kebanggaan yang halus: anggapan bahwa karena kita sudah diampuni, kita boleh selesai dengan urusan etika. Justru sebaliknya. Israel jatuh bukan karena tidak beribadah, melainkan karena lupa siapa yang memberi gandum dan perak (ayat 8). Kita pun paling sering berselingkuh bukan dengan patung, melainkan dengan rasa aman finansial.
Hari ini, tulis satu nama orang yang minggu ini kamu perlakukan tidak adil, lalu kirim kepadanya satu kalimat berisi pengakuan, tanpa pembelaan diri.
Profil
Pendengar pertama Hosea hidup di Kerajaan Utara pada masa makmur, ketika lumbung penuh dan perdagangan lancar. Justru kemakmuran itu membuat ibadah kepada Baal masuk akal: Baal dianggap dewa kesuburan, pemberi hujan dan panen. Menyembahnya terasa seperti strategi ekonomi yang bijak. Lalu mereka mendengar kalimat ini. Dalam hukum Israel, seorang suami yang telah menceraikan istrinya tidak boleh mengambilnya kembali. Apa yang TUHAN ucapkan di sini bukan sekadar kemurahan hati, melainkan pelanggaran terhadap kepatutan hukum mereka sendiri. Dan mahar biasanya dibayar kepada keluarga mempelai perempuan yang terhormat, bukan kepada seorang pezina yang baru saja dipermalukan di depan umum. Mereka mendengar skandal, bukan sekadar penghiburan.
Detail
Kata terakhir dalam daftar mahar itu, "belas kasih," dalam bahasa Ibrani adalah rachamim, yang berakar pada kata rahim. Ini bukan belas kasihan sopan seorang atasan, melainkan gejolak perut seorang ibu terhadap anak yang keluar dari tubuhnya sendiri. Dan kata itu bukan dipilih secara acak. Anak kedua Hosea diberi nama Lo-Ruhama, "yang tidak dikasihani," sebuah nama yang setiap hari harus diteriakkan di halaman rumah sebagai vonis berjalan. Di ayat 23, nama itu dicabut: "Aku akan menunjukkan kasih kepada Lo-Ruhama." Jadi mahar keempat ini adalah pembatalan nama anak sendiri. Allah membayar dengan tepat apa yang paling hilang dari keluarga itu.
Pertanyaan
Bagaimana mulut yang sama bisa mengancam menelanjangi, membuat tandus, dan membunuh dengan kehausan, lalu beberapa ayat kemudian mengucapkan janji nikah? Jujur saja: bahasa ayat 3 sampai 13 terasa kasar, dan kita tidak boleh memperhalusnya. Gambaran itu diambil dari cara masyarakat kuno mempermalukan perempuan yang berzina, dan Alkitab tidak pernah menjadikannya izin bagi suami mana pun untuk meniru. Yang terjadi di sini adalah pembalikan: pihak yang berhak menuntut justru membayar. Tetapi ketegangannya tidak hilang. Kasih Allah bukan kasih yang lembek, dan penghakiman-Nya nyata. Kita tidak diberi rumus untuk mendamaikan keduanya, hanya diberi arah ke mana keduanya bermuara: padang belantara, suara lembut, dan sebuah janji yang tak ditarik kembali.
Refleksi
Di bagian hidupmu yang mana kamu paling sulit percaya bahwa Allah mengikat diri "untuk selama-lamanya," dan apa yang kamu lakukan untuk mengamankan diri sendiri di situ?
Kalau keadilan adalah mas kawin yang dibayarkan atasmu, siapa orang terdekatmu yang paling merasakan akibatnya, dan apakah ia benar-benar merasakannya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Hosea 2:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti HOSEA 2:19?
Tentang apakah HOSEA 2:19?
Apa konteks historis dari HOSEA 2:19?
Apa yang HOSEA 2:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana HOSEA 2:19 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Hosea 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Setelah semua pengkhianatan itu, Allah tidak berkata, "Cukup." Dia justru melamar ulang, dan janji-Nya berakhir di satu kalimat: "engkau akan mengenal TUHAN." Perhatikan urutannya. Kesetiaan-Nya lebih dulu, baru pengenalanmu akan Dia. Kamu tidak mengenal Allah karena berhasil setia, tetapi karena Dia setia duluan. Hari ini mungkin yang kamu butuhkan bukan usaha yang lebih keras, melainkan keberanian percaya bahwa Dia masih mau mengikat janji denganmu.
Aku akan merusak pohon anggurnya dan pohon aranya, yang telah dikatakannya, 'Ini adalah upahku yang diberikan kepadaku oleh para kekasihku.'" Yang Allah ambil bukan sesuatu yang asing, melainkan pemberian-Nya sendiri yang salah kauberi nama. Mungkin ada hal baik dalam hidupmu yang kausebut hasil usahamu. Apa jadinya jika itu hilang? Siapa yang kaucari lebih dulu?
Sebab itu, ketahuilah, Aku akan membujuknya dan membawanya ke padang belantara, lalu berbicara kepada hatinya." Istri yang berkhianat itu tidak diusir, tetapi diajak pergi berdua. Padang gurun memang sunyi, tanpa hiburan, tanpa kekasih lain yang bisa dikejar. Mungkin kekeringan yang kamu rasakan sekarang bukan tanda Dia membuangmu, melainkan cara-Nya merebut kembali hatimu.
Aku akan pergi mengikuti para kekasihku, yang memberiku roti dan air, bulu domba dan lenanku, minyak dan minumanku." Perhatikan daftar itu: semuanya pemberian Tuhan, tetapi dicatat atas nama orang lain. Di situlah luka-Nya. Bukan hanya kau pergi, tetapi kau berterima kasih kepada yang salah. Hari ini, siapa yang kausebut sumber berkatmu?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi