MATIUS 22:34
Nas
Kabar itu menyebar cepat di pelataran Bait Allah: orang-orang Saduki, kelompok imam yang berkuasa dan yang menolak kebangkitan, baru saja dibungkam oleh Yesus. Pertanyaan jebakan mereka tentang perempuan dengan tujuh suami berbalik menjadi teguran, dan orang banyak terheran-heran. Lalu Matius menulis satu kalimat yang terdengar nyaris seperti catatan pinggir: "Namun, ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki terdiam, mereka berkumpul bersama." Bukan untuk bersukacita bahwa lawan teologis mereka kalah, melainkan untuk menyusun serangan berikutnya. Satu ayat, tanpa kata-kata yang diucapkan, tanpa tindakan yang terlihat; hanya langkah kaki orang-orang yang berjalan saling mendekat di bawah bayang-bayang tiang Bait Allah, dan sebuah keputusan yang matang dalam diam.
Inti
Perhatikan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Farisi dan Saduki adalah seteru lama: yang satu percaya kebangkitan, malaikat, tradisi lisan; yang lain menolak semuanya. Secara wajar, Farisi mestinya bersorak. Yesus baru saja membela keyakinan mereka sendiri. Tetapi kebenaran yang membenarkan mereka tidak membuat mereka bersyukur, sebab kebenaran itu datang dari mulut yang salah. Inilah yang ditelanjangi ayat ini: hati manusia sanggup setuju dengan isi ajaran dan tetap menolak Sang Pengajar. Ketika Allah datang terlalu dekat, perbedaan di antara kita tiba-tiba menjadi tidak penting; yang penting adalah mempertahankan kendali. Kerajaan Surga tidak pertama-tama terbentur pada ateisme, melainkan pada orang-orang saleh yang berkumpul bersama untuk melindungi posisi mereka dari Allah yang hidup.
Benang Merah
Di sepanjang Kitab Suci ada pola yang berulang: utusan Allah datang, dan mereka yang seharusnya paling siap menerima justru paling keras menolak. Yesus baru saja menceritakannya sendiri beberapa menit sebelumnya, dalam perumpamaan tentang raja yang mengadakan pesta pernikahan bagi anaknya: "ia menyuruh para hambanya untuk memanggil orang-orang yang sudah diundang ke pesta itu, tetapi mereka tidak mau datang." Ayat 34 adalah perumpamaan itu yang sedang berubah menjadi sejarah di depan mata kita. Para undangan resmi, para ahli Taurat dan imam, sedang berkumpul, bukan untuk masuk ke pesta melainkan untuk menyingkirkan Sang Pengundang. Dan justru di situlah keselamatan bergerak maju: penolakan ini membawa Yesus ke salib, dan salib itu membuka jalan raya bagi "yang baik dan yang jahat" untuk duduk di meja perjamuan.
Cermin
Pertanyaannya bukan apakah Anda percaya ajaran yang benar. Farisi percaya ajaran yang benar. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi di dalam diri Anda ketika kebenaran itu datang lewat orang yang tidak Anda sukai, atau ketika kebenaran itu mengancam posisi yang sudah lama Anda pegang. Rekan kerja yang Anda anggap sombong ternyata benar soal keputusan itu. Anak remaja Anda menunjuk ketidakkonsistenan Anda, dan tangannya tepat. Seseorang di kelompok kecil Anda menyinggung hal yang Anda hindari selama bertahun-tahun. Reaksi pertama Anda adalah menyusun pembelaan, mencari sekutu, "berkumpul bersama" di kepala Anda sendiri. Itulah gerak yang sama persis. Hari ini: ingatlah satu orang yang baru-baru ini mengatakan sesuatu yang benar tentang Anda dan Anda tolak mentah-mentah; tulis namanya di kertas, dan ucapkan dengan suara keras, "Tuhan, ia benar."
Profil
Pembaca pertama Matius adalah orang-orang Yahudi percaya, banyak di antaranya baru saja terusir dari sinagoge dan kehilangan tempat di komunitas mereka sendiri. Mereka tahu persis siapa Farisi dan Saduki, bukan sebagai tokoh buku melainkan sebagai tetangga, guru, pemimpin yang dulu mereka hormati. Membaca ayat ini, mereka merasakan sesuatu yang kita lewatkan: perih. Sebab penolakan terhadap Yesus bukan dilakukan oleh orang asing, melainkan oleh yang paling tekun membaca Taurat. Bagi mereka yang sedang bertanya "apakah kami salah jalan, sebab para ahli menolak Dia?", Matius menjawab dengan menunjukkan bahwa penolakan itu sendiri sudah tertulis dalam pola Kitab Suci. Bait Allah yang penuh perdebatan itu, beberapa dekade kemudian, memang sudah menjadi reruntuhan.
Detail
Kata yang paling mudah terlewat adalah "berkumpul bersama". Dalam bahasa Yunani, kata kerjanya berakar sama dengan kata yang melahirkan "sinagoge": berhimpun, dikumpulkan menjadi satu. Ini adalah kata yang biasanya hangat, kata tentang umat yang berhimpun di hadapan Allah. Di sini ia dipakai untuk komplotan. Dan Matius mengulangnya di ayat 41: "sementara orang-orang Farisi berkumpul bersama, Yesus bertanya kepada mereka." Perkumpulan yang dimaksudkan untuk menjerat berakhir sebagai perkumpulan yang dijerat. Mereka datang bersama untuk menguji Dia; mereka pulang tanpa bisa menjawab satu kata pun. Berhimpun saja tidak menyelamatkan siapa pun. Pertanyaannya selalu: berhimpun untuk apa, dan di hadapan siapa.
Intertekstualitas
Mazmur 2 melukiskan gambar yang hampir identik: raja-raja bumi berunding bersama melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Matius sedang menunjukkan bahwa perundingan itu kini terjadi dalam skala kecil, di pelataran Bait Allah, di antara orang-orang beragama. Dan tidak lama kemudian Yesus sendiri mengutip Mazmur 110 kepada mereka: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Aku menempatkan musuh-musuh-Mu di bawah kaki-Mu." Dua mazmur yang sama-sama berbicara tentang perlawanan yang sia-sia terhadap Raja yang diurapi Allah. Yesus tidak bereaksi panik terhadap komplotan itu; Ia menjawabnya dengan mazmur yang sudah mengetahui akhir ceritanya.
Refleksi
Kapan terakhir kali Anda menolak kebenaran bukan karena isinya salah, melainkan karena sumbernya tidak Anda sukai?
Perkumpulan mana dalam hidup Anda, keluarga, gereja, pekerjaan, yang diam-diam berfungsi untuk melindungi posisi Anda dari suara Allah?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 22:34
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 22:34?
Tentang apakah MATIUS 22:34?
Apa konteks historis dari MATIUS 22:34?
Apa yang MATIUS 22:34 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 22:34 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 22
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tunjukkan kepada-Ku mata uang untuk membayar pajak itu." Lalu, mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Mereka datang dengan pertanyaan rohani, tapi Yesus minta melihat isi kantong mereka. Dan ternyata ada. Uang Kaisar itu mereka bawa ke mana-mana. Kadang hidup kita berbicara lebih jujur daripada pertanyaan kita. Apa yang ada di kantongmu hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi