NAHUM 1:3
Teks
Tepat di tengah daftar sifat yang menakutkan, murka, pembalasan, cemburu, Nahum menyelipkan kalimat yang seolah-olah tidak pada tempatnya: TUHAN itu panjang sabar. Ayat ketiga ini menggabungkan tiga pernyataan yang jarang kita letakkan berdampingan. Pertama, Tuhan lambat marah dan besar kuasa-Nya. Kedua, Ia tidak sekali-kali membebaskan orang bersalah dari hukuman; kesabaran-Nya tidak pernah berubah menjadi amnesia. Ketiga, sebuah gambar yang membuat kita mendongak: "Ia berjalan dalam angin puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya." Badai yang menghancurkan kota dan membuat kapal karam hanyalah cuaca di sekitar langkah-Nya, dan awan raksasa di langit tidak lebih daripada debu yang beterbangan di belakang tumit-Nya.
Inti
Kita terbiasa memperlakukan kesabaran Allah sebagai kelemahan yang sopan, seolah-olah Ia menunggu karena belum tahu harus berbuat apa. Nahum mengikat kesabaran itu langsung pada kuasa: panjang sabar dan besar kuasa. Dalam bahasa Ibrani ungkapan itu berbunyi erekh appayim, harfiah "panjang hidung", sebuah gambaran tentang marah yang membutuhkan waktu lama sebelum mencapai permukaan. Artinya bukan Allah tidak sanggup bertindak, melainkan Ia sanggup menahan diri. Kesabaran adalah kuasa yang direm, bukan kuasa yang hilang. Karena itu kalimat berikutnya tidak membatalkan yang pertama: Ia tidak sekali-kali membebaskan orang bersalah. Penundaan bukan penghapusan. Di sinilah letak kabar baik sekaligus kabar yang menggetarkan: waktu yang Anda terima hari ini adalah waktu pinjaman dari kesabaran Allah, bukan bukti bahwa Ia tidak melihat.
Benang Merah
Dua kalimat Nahum berdiri berhadapan seperti dua orang yang tidak mau mengalah: Tuhan panjang sabar, dan Tuhan tidak sekali-kali membebaskan orang bersalah. Sepanjang Perjanjian Lama ketegangan itu tidak pernah benar-benar diselesaikan; ia hanya ditunda, dipikul, ditanggung. Allah menunggu Asyur bertobat, menunggu Yehuda kembali, dan setiap penundaan menumpuk utang yang belum dibayar. Di salib Yesus Kristus kedua kalimat itu akhirnya bertemu tanpa saling membatalkan. Di sana kesabaran Allah tidak berubah menjadi kelalaian, dan keadilan-Nya tidak menelan kasih-Nya. Orang bersalah tidak dibebaskan begitu saja; hukumannya dipikul. Siapa pun yang membaca Nahum tanpa Golgota akan berdiri gemetar; siapa pun yang membaca Golgota tanpa Nahum tidak akan pernah mengerti betapa mahalnya pengampunan itu.
Cermin
Mungkin ada seseorang yang pernah melukai Anda dan sampai hari ini hidupnya tampak baik-baik saja. Atasan yang mempermainkan laporan keuangan dan naik jabatan. Kerabat yang merusak nama Anda dalam keluarga besar, lalu duduk tenang di meja Natal. Dan Anda diam-diam menyimpulkan bahwa Allah terlalu lambat, atau terlalu sibuk, atau sebenarnya tidak terlalu peduli. Ayat ini membongkar kesimpulan itu: yang Anda sebut kelambatan adalah kuasa yang sedang direm.
Tetapi cermin ini berputar. Ada juga hal yang Anda sendiri lakukan dan sudah lama Anda anggap aman karena tidak ada yang terjadi. Kebiasaan yang Anda sembunyikan di layar ponsel. Kekerasan nada bicara kepada anak yang Anda sebut "mendidik". Diamnya langit bukan tanda persetujuan; itu ruang yang diberikan agar Anda berbalik.
Hari ini, keluarlah sebentar, pandanglah awan di langit, dan ucapkan dengan suara keras: "Awan adalah debu kaki-Mu." Lalu sebutkan satu nama atau satu perbuatan yang selama ini Anda simpan, lalu tinggalkan di sana.
Intertekstual
Kalimat Nahum bukan ciptaan baru. Ia mengutip pengakuan paling terkenal tentang karakter Allah dalam Perjanjian Lama, yang diucapkan kepada Musa di Gunung Sinai setelah bencana anak lembu emas: Tuhan yang panjang sabar, besar kasih setia-Nya, yang mengampuni, tetapi yang sekali-kali tidak membebaskan orang bersalah dari hukuman. Nahum mengambil rumusan yang dipakai Israel untuk menghibur diri dan mengarahkannya kepada Niniwe. Dan di situlah sengatnya, sebab seabad sebelumnya Yunus justru marah karena rumusan yang sama membuat Niniwe luput dari penghukuman. Dua kitab, satu kota, satu pengakuan iman tentang Allah: sekali menjadi pengampunan, sekali menjadi penghakiman. Yang berubah bukan Allah, melainkan respons manusia terhadap kesabaran-Nya.
Profil
Pendengar pertama Nahum adalah orang Yehuda di abad ketujuh sebelum Masehi, yang hidup di bawah bayang-bayang Asyur selama tiga generasi. Mereka membayar upeti yang mencekik, melihat Samaria jatuh dan penduduknya diangkut, mendengar cerita tentang tawanan yang dikuliti hidup-hidup dan kepala yang ditumpuk di depan gerbang kota. Bagi mereka, "panjang sabar" bukan kalimat yang menenangkan, melainkan kalimat yang menyakitkan: justru kesabaran Allah itulah yang terasa seperti penundaan keadilan yang terlalu lama. Ketika Nahum berkata bahwa Tuhan berjalan dalam angin puting beliung dan awan adalah debu kaki-Nya, ia sedang menyatakan sesuatu yang politis sekaligus pastoral: raja Asyur yang menyebut dirinya penguasa semesta ternyata hanya berdiri di bawah telapak kaki yang sedang melangkah.
Tokoh Utama
Allah di pasal ini sulit dijinakkan. Ia cemburu, Ia membalas, Ia menyimpan murka, Ia menghardik laut sampai kering. Tetapi perhatikan letak kata "panjang sabar": bukan di akhir sebagai permintaan maaf, melainkan di tengah, sebagai kunci yang membuka seluruh daftar. Kecemburuan-Nya bukan temperamen yang mudah tersinggung, melainkan kasih seorang yang terikat perjanjian dan tidak bersedia melepaskan milik-Nya. Murka-Nya bukan ledakan, melainkan keputusan yang lama ditahan. Dan beberapa baris kemudian suara yang sama berkata: "TUHAN itu baik. Ia adalah tempat perlindungan pada waktu kesesakan." Badai yang menghancurkan Niniwe dan tempat perlindungan bagi orang yang gemetar adalah Pribadi yang sama. Letak Anda terhadap Dia menentukan apa yang Anda rasakan dari langkah-Nya.
Refleksi
Ketidakadilan mana yang selama ini membuat Anda diam-diam menyimpulkan bahwa Allah tidak melihat, dan apa yang berubah jika kelambatan itu ternyata kuasa yang sedang direm demi memberi ruang untuk bertobat?
Jika kesabaran Allah terhadap Anda hari ini adalah waktu pinjaman dan bukan tanda persetujuan, hal apa yang paling mendesak untuk Anda bereskan sebelum minggu ini berakhir?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Nahum 1:3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti NAHUM 1:3?
Tentang apakah NAHUM 1:3?
Apa konteks historis dari NAHUM 1:3?
Apa yang NAHUM 1:3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana NAHUM 1:3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Nahum 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
TUHAN adalah Allah yang cemburu dan pembalas," kalimat ini terasa menakutkan sampai kamu ingat kepada siapa ia diucapkan: Niniwe, kota yang menumpuk kekejaman atas bangsa-bangsa kecil. Allah yang tidak pernah marah berarti Allah yang tidak peduli pada darah yang tertumpah. Luka yang kamu kira tak ada yang lihat, Dia catat.
Kaki yang berdebu, napas terengah di punggung bukit, lalu suaranya terdengar: musuh itu sudah tidak ada lagi. Nahum menulis untuk orang yang bertahun-tahun hidup dengan rasa takut. Lalu datang perintah yang lembut: "Rayakanlah hari-hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu!" Ibadah yang sempat beku boleh hidup kembali. Adakah janji yang kautunda karena takutmu dulu?
Ucapan ilahi tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkosh." Nama Nahum berarti penghiburan. Dan kitab ini dibuka dengan kota penindas yang kejam. Bagi umat yang tertindas, kabar bahwa Allah melihat Niniwe adalah pelukan. Penderitaanmu tidak luput dari mata-Nya. Dia tahu nama kotamu, dan nama orang yang melukaimu.
Perhatikan di mana penghakiman itu jatuh: tepat di rumah ibadah Niniwe. "Dari rumah dewa-dewamu, Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan." Tempat yang mereka anggap paling aman justru menjadi tempat mereka runtuh. Apa yang kamu pegang sebagai jaminan hidupmu hari ini? Kalau itu bukan Tuhan, suatu saat ia tidak akan sanggup memegangmu kembali.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi