ROMA 3:10
Teks
Setelah membuktikan bahwa orang Yahudi maupun bukan Yahudi sama-sama "ada di bawah dosa," Paulus tidak melanjutkan dengan argumennya sendiri. Ia membuka Kitab Mazmur dan membiarkan Allah berbicara tentang umat-Nya: "Seperti ada tertulis, 'Tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.'" Jadi ayat 10 bukan kesimpulan seorang rasul yang sedang pesimis tentang manusia, melainkan kutipan dari nyanyian Israel sendiri, dipakai sebagai dakwaan resmi. Yang menarik: Paulus tidak berkata "tidak ada yang sempurna" atau "semua orang punya kelemahan." Ia memakai rumusan yang menutup semua celah, lalu mengulanginya dua ayat kemudian untuk memastikan tidak ada yang lolos lewat pintu belakang: "Seorang pun tidak!"
Inti
Kalimat ini melumpuhkan sebuah cara berpikir yang sangat manusiawi: bahwa di hadapan Allah kita berdiri di suatu tangga, sebagian lebih tinggi, sebagian lebih rendah. Paulus merobohkan tangga itu. Bukan karena tidak ada perbedaan moral di antara manusia, tentu ada; tetapi karena di hadapan kebenaran Allah perbedaan itu tidak lagi menentukan. Dan perhatikan urutannya. Ayat 10 tidak berdiri sendiri sebagai penghakiman; ia adalah ruang tunggu menuju ayat 21: "Akan tetapi sekarang, kebenaran Allah telah dinyatakan." Kata "tidak ada seorang pun" harus terdengar penuh sebelum kata "cuma-cuma" di ayat 24 berarti apa-apa. Injil bukan tawaran bantuan bagi orang yang hampir sampai. Injil adalah kebangkitan orang mati, dan karena itu dakwaan ini justru pembuka pintu, bukan penutupnya.
Benang Merah
Dalam bahasa Yunani, kata di ayat 10 adalah dikaios, "benar", dan itu bukan kata sembarangan: ia berasal dari keluarga kata yang sama dengan "dibenarkan" di ayat 24. Jadi Paulus sedang membangun sebuah jembatan lewat satu akar kata. Tidak ada seorang pun yang dikaios; lalu Allah sendiri menjadi "pembenar dari orang yang beriman kepada Yesus" (ayat 26). Yang tidak dapat dihasilkan manusia, diberikan Allah. Dan menarik bahwa Yesus sendiri pernah menolak disebut baik oleh seorang penguasa muda, dengan mengatakan bahwa hanya Allah yang baik. Ia berdiri di dalam kesaksian Mazmur 14 ini, bukan di luarnya. Satu-satunya yang benar masuk ke dalam barisan orang yang tidak benar, dibaptis bersama mereka, dihukum bersama mereka, supaya kebenaran-Nya menjadi milik mereka.
Cermin
Kita hampir tidak bisa hidup tanpa perbandingan. Anda tahu persis rekan kerja mana yang lebih malas, orang tua mana yang lebih kasar terhadap anaknya, orang percaya mana yang lebih munafik di rapat majelis. Perbandingan itu memberi rasa aman yang murah: selama ada seseorang yang lebih buruk, saya masih cukup. Ayat 10 mencabut selimut itu. Dan yang menyakitkan bukan tuduhannya, melainkan bahwa tuduhan itu diambil dari nyanyian ibadah, bukan dari catatan polisi. Dosa saya bukan urusan hukum pidana, melainkan urusan hati yang tidak mencari Allah sementara mulut menyanyikan nama-Nya. Hari ini, bacalah Roma 3:10-18 dengan suara pelan, tetapi setiap kali teks berkata "mereka", ucapkan "aku". Lima menit, dan berhentilah di situ tanpa membela diri.
Konteks
Paulus menulis kepada jemaat di Roma, sekitar pertengahan tahun lima puluhan, kepada orang-orang yang belum pernah ia temui. Jemaat itu campuran dan tegang: orang Yahudi Kristen yang baru kembali ke Roma setelah pengusiran di masa Kaisar Klaudius, dan orang bukan Yahudi yang sementara itu sudah mengisi kursi-kursi kepemimpinan. Siapa yang sebenarnya umat Allah? Siapa yang harus menyesuaikan diri dengan siapa soal makanan, hari, sunat? Ke dalam suasana itu Paulus membangun sebuah ruang pengadilan. Ayat 9 adalah dakwaan, ayat 10 sampai 18 adalah rangkaian saksi dari Kitab Suci sendiri, dan ayat 19 adalah ketukan palu: "supaya setiap mulut terkatup." Bukan supaya orang malu berbicara, tetapi supaya tidak ada lagi pembelaan yang perlu diucapkan.
Profil
Pendengar Yahudi di Roma mengenal Mazmur 14 luar dalam. Mereka juga tahu bagaimana mazmur itu biasa dipakai: "orang bebal" di sana adalah bangsa-bangsa penindas, penyembah berhala, para pemakan umat Allah. Mazmur itu adalah doa orang tertindas terhadap orang jahat, dan orang Yahudi berdiri di sisi yang benar. Lalu Paulus mengarahkan cermin itu seratus delapan puluh derajat dan berkata: ini tentang kita juga. Itu bukan sekadar teologi, itu penghinaan terhadap identitas. Sementara pendengar bukan Yahudi tidak punya ruang untuk bersorak, sebab ayat 9 sudah mengurung mereka lebih dulu. Keduanya dibuat diam di ruangan yang sama, dan justru di keheningan itu kata "cuma-cuma" di ayat 24 jatuh seperti air ke tanah kering.
Pertanyaan
Kalau benar "tidak ada seorang pun yang mencari Allah", bagaimana mungkin ada orang yang akhirnya percaya? Setiap penginjil memanggil orang untuk mencari Tuhan, tetapi teks ini berkata pencarian itu sudah mati sejak awal. Jawaban yang jujur: inisiatifnya bukan milik kita. Kita tidak menemukan Allah; Allah menemukan kita, dan bahkan kerinduan pertama yang kita rasa adalah pekerjaan-Nya, bukan prestasi kita. Itu melegakan sekaligus meresahkan, sebab lalu timbul pertanyaan mengapa Ia rupanya menemukan yang satu dan belum yang lain. Paulus akan bergumul dengan itu sampai pasal 11, dan berakhir bukan dengan sistem yang rapi melainkan dengan pujian. Saya tidak akan berpura-pura lebih pintar dari dia. Yang bisa kita pegang: kalau Anda hari ini masih ingin mencari Tuhan, keinginan itu sendiri sudah bukti bahwa Ia lebih dulu bergerak.
Refleksi
Di mana Anda paling sering diam-diam membandingkan diri, dan apa yang hilang dari Anda kalau perbandingan itu dicabut?
Kalau kebenaran Anda di hadapan Allah sepenuhnya pemberian, apa yang sebenarnya masih Anda pertahankan sebagai milik sendiri?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 3:10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 3:10?
Tentang apakah ROMA 3:10?
Apa konteks historis dari ROMA 3:10?
Apa yang ROMA 3:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 3:10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena kebenaran-Mu tetap kokoh sekalipun dustaku banyak. Kemuliaan-Mu tidak bergantung pada setiaku. Terima kasih juga Engkau tidak membiarkan dosa dibenarkan dengan alasan apa pun, melainkan memanggilku hidup jujur di hadapan-Mu.
Supaya setiap mulut dibungkam dan seluruh dunia berada di bawah penghakiman Allah." Perhatikan, Paulus tidak bilang setiap orang dihukum, tapi setiap mulut dibungkam. Kita memang ahli membela diri, selalu ada alasan, selalu ada perbandingan. Di hadapan Allah, semua itu habis. Dan justru saat kita berhenti membela diri, anugerah akhirnya punya ruang untuk bicara.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi