NAHUM 1:1
Teks
Satu baris saja, dan di dalamnya sudah terkandung seluruh isi kitab: "Petaka Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkosh." Nahum tidak memulai dengan doa, tidak dengan riwayat raja yang sedang memerintah, tidak dengan panggilan pertobatan. Ia langsung menyebut nama kota yang paling ditakuti di dunia yang ia kenal, lalu meletakkan di atasnya sebuah kata berat yang dalam bahasa Ibrani berbunyi massa, "beban": ucapan ilahi yang dipikul seorang nabi seperti orang memikul karung di punggungnya. Sesudah itu ia menyebut dirinya, nama kampungnya, dan bentuk pewartaannya, yaitu penglihatan yang dituliskan menjadi kitab. Tiga unsur: sasaran, penerima, bentuk. Lebih ringkas dari ini hampir tidak mungkin, dan justru keringkasan itulah yang membuat ayat ini terasa seperti palu yang diangkat sebelum dipukulkan.
Inti
Yang pertama-tama dikatakan ayat ini tentang Allah adalah bahwa Dia berbicara tentang Niniwe. Bukan hanya tentang Yehuda, umat perjanjian-Nya, melainkan tentang ibu kota sebuah imperium yang tidak pernah menandatangani perjanjian apa pun dengan-Nya dan tidak merasa perlu. Asyur tidak mengakui kedaulatan TUHAN; itu tidak mengurangi sedikit pun kedaulatan TUHAN atas Asyur. Di sini terletak klaim yang jauh lebih radikal daripada yang biasa kita rasakan: kekuasaan politik tertinggi di muka bumi berdiri di bawah sebuah "beban" firman yang bahkan tidak didengarnya. Dan nama sang nabi, Nahum, berarti "penghiburan". Kitab yang diberi judul "petaka" dibawa oleh seorang bernama "penghiburan". Penghakiman atas penindas bukan lawan dari kasih Allah; bagi mereka yang diinjak, itulah bentuk kasih yang mereka butuhkan.
Benang Merah
Niniwe pernah mendengar firman sebelumnya. Yunus membawa ancaman ke kota itu dan menyaksikan hal yang paling tidak ia inginkan: pertobatan dan pengampunan. Seratus tahun kemudian, beban itu kembali, dan kali ini tidak ada jalan keluar. Kesabaran Allah panjang, tetapi bukan tak berbatas; itulah yang dikatakan Nahum dengan satu kata, massa.
Namun perhatikan ke mana kitab ini bermuara. Dari "petaka Niniwe" di ayat satu, Nahum berjalan sampai ke gunung-gunung tempat "berjalan orang yang membawa kabar baik, yang mengabarkan damai sejahtera" (1:15). Paulus kelak memakai gambaran utusan di atas gunung itu untuk melukiskan pemberitaan Injil. Kabar baik selalu mengandaikan bahwa ada kuasa penindas yang telah dipatahkan. Salib adalah tempat gandar itu diremukkan, dan beban yang dipikul Nahum di pundaknya dipikul Kristus di tubuh-Nya.
Cermin
Kita jarang berhadapan dengan tentara Asyur, tetapi kita tahu rasanya berhadapan dengan sesuatu yang terlalu besar untuk dilawan: atasan yang bisa mengakhiri karier Anda dengan satu surel, keluarga besar yang memutuskan segalanya tanpa Anda, sistem yang membuat Anda merasa seperti nomor. Dan diam-diam kita menyimpulkan bahwa Allah mungkin berkuasa atas hati kita, tetapi tidak atas kantor itu, tidak atas uang itu, tidak atas orang itu. Nahum 1:1 menolak pembagian wilayah semacam itu. Niniwe ada dalam daftar.
Hari ini: tulislah di secarik kertas nama satu kuasa yang membuat Anda merasa kecil, lalu tulis di atasnya kata "beban TUHAN", dan ucapkan dengan suara terdengar, "Engkau berbicara juga tentang ini."
Konteks
Kita berada di abad ketujuh sebelum Kristus. Asyur adalah imperium pertama yang benar-benar global di kawasan itu, dan Niniwe ibu kotanya: tembok berlapis, taman beririgasi, relief-relief istana yang dengan bangga menampilkan tawanan ditusuk sula dan kota-kota dibakar. Teror bukan ekses, melainkan kebijakan. Yehuda sudah lama menjadi negara upeti, membayar dari perbendaharaan Bait Allah agar dibiarkan hidup. Nahum menulis setelah Asyur menaklukkan Tebe di Mesir (pasal 3 menyebutnya) dan sebelum Niniwe jatuh pada tahun 612. Artinya: ia bernubuat ketika imperium itu masih tampak tak tergoyahkan. Dan ia sendiri? Seorang dari Elkosh, kampung yang lokasinya pun tidak lagi kita ketahui.
Profil
Bayangkan mendengar ini sebagai petani Yehuda yang anak sulungnya ikut rombongan kerja paksa dan tidak kembali. Anda sudah terbiasa menunduk. Anda sudah belajar bahwa nama-nama besar tidak disebut keras-keras di pasar. Lalu seorang kampungan dari Elkosh berdiri dan menyebut nama kota itu, bukan dengan bisikan, melainkan sebagai judul.
Yang mereka dengar bukan ceramah tentang keadilan secara umum, melainkan sebuah pengumuman resmi dari pengadilan yang lebih tinggi daripada istana Niniwe. Dan karena itu dituliskan sebagai kitab, bukan sekadar diteriakkan, nubuat ini bisa disimpan, dibacakan ulang, diuji oleh waktu. Mereka memegang dokumen yang kelak terbukti benar sebelum peristiwanya terjadi.
Pertanyaan
Bolehkah bersukacita atas kehancuran sebuah kota? Di Niniwe ada anak-anak, ada perempuan yang tidak pernah memegang tombak, ada budak yang nasibnya tidak lebih baik dari orang Yehuda. Nahum tidak membahas itu, dan kita tidak boleh berpura-pura ia membahasnya. Kitab ini keras, dan kekerasannya tidak bisa dihaluskan dengan penjelasan manis.
Yang bisa kita pegang hanyalah ini: Allah tidak membiarkan kejahatan menguap begitu saja, dan penghakiman itu selalu jatuh di suatu tempat. Di Niniwe ia jatuh atas kota. Di Golgota ia jatuh atas Anak. Mengapa yang satu menerima beban dan yang lain menerima Juru Selamat, itu tetap misteri yang tidak diberikan kepada kita untuk dibereskan.
Refleksi
Kuasa atau situasi apa dalam hidup Anda yang diam-diam Anda anggap berada di luar jangkauan firman Allah, dan apa yang berubah bila Anda menyebutnya sebagai "beban TUHAN"?
Jika nama Nahum berarti "penghiburan", penghiburan macam apa yang sesungguhnya Anda cari dari Allah: agar yang menindas dihentikan, atau agar Anda sendiri dibuat nyaman?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Nahum 1:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti NAHUM 1:1?
Tentang apakah NAHUM 1:1?
Apa konteks historis dari NAHUM 1:1?
Apa yang NAHUM 1:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana NAHUM 1:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Nahum 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
TUHAN adalah Allah yang cemburu dan pembalas," kalimat ini terasa menakutkan sampai kamu ingat kepada siapa ia diucapkan: Niniwe, kota yang menumpuk kekejaman atas bangsa-bangsa kecil. Allah yang tidak pernah marah berarti Allah yang tidak peduli pada darah yang tertumpah. Luka yang kamu kira tak ada yang lihat, Dia catat.
Kaki yang berdebu, napas terengah di punggung bukit, lalu suaranya terdengar: musuh itu sudah tidak ada lagi. Nahum menulis untuk orang yang bertahun-tahun hidup dengan rasa takut. Lalu datang perintah yang lembut: "Rayakanlah hari-hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu!" Ibadah yang sempat beku boleh hidup kembali. Adakah janji yang kautunda karena takutmu dulu?
Ucapan ilahi tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkosh." Nama Nahum berarti penghiburan. Dan kitab ini dibuka dengan kota penindas yang kejam. Bagi umat yang tertindas, kabar bahwa Allah melihat Niniwe adalah pelukan. Penderitaanmu tidak luput dari mata-Nya. Dia tahu nama kotamu, dan nama orang yang melukaimu.
Perhatikan di mana penghakiman itu jatuh: tepat di rumah ibadah Niniwe. "Dari rumah dewa-dewamu, Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan." Tempat yang mereka anggap paling aman justru menjadi tempat mereka runtuh. Apa yang kamu pegang sebagai jaminan hidupmu hari ini? Kalau itu bukan Tuhan, suatu saat ia tidak akan sanggup memegangmu kembali.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi