Kitab 1 Yohanes: Kepastian Keselamatan dan Hidup dalam Kasih serta Terang
Kitab 1 Yohanes: Kepastian Keselamatan dan Hidup dalam Kasih serta Terang
Pendahuluan
Ada satu pertanyaan yang jarang diucapkan keras-keras di gereja, tetapi sering berbisik di kamar waktu lampu sudah dimatikan: "Apakah aku sungguh-sungguh milik Tuhan?" Kamu sudah dibaptis, kamu melayani, kamu hafal beberapa ayat. Tetapi hatimu tahu persis dosa yang kemarin kamu ulangi lagi, dan tiba-tiba semua kepastian itu terasa rapuh seperti kaca.
Surat 1 Yohanes ditulis untuk orang-orang seperti itu. Bukan untuk mahasiswa teologi, melainkan untuk jemaat yang baru saja ditinggalkan sekelompok orang yang mengaku lebih rohani, dan yang sekarang bertanya-tanya: jangan-jangan kamilah yang salah. Seorang tua yang pernah menyandarkan kepalanya di dada Yesus mengambil pena dan menulis supaya mereka tahu.
Di halaman ini kamu akan menemukan siapa penulisnya, kapan dan mengapa surat ini lahir, bagaimana ia dibangun, apa tema-tema besarnya, dan bagaimana membacanya tanpa pulang dengan rasa bersalah yang baru.
Sudut pandang panduan ini
Banyak orang membaca 1 Yohanes seperti daftar ujian: apakah aku cukup mengasihi, cukup taat, cukup bersih? Hasilnya bukan kepastian, melainkan kecemasan. Panduan ini membaca surat ini persis sebaliknya, sesuai maksud penulisnya sendiri dalam 1 Yohanes 5:13: ini adalah surat kepastian, bukan surat ujian masuk. Tanda-tanda yang Yohanes sebutkan, yaitu hidup dalam terang, pengakuan tentang Yesus, dan kasih kepada saudara, bukanlah syarat untuk menjadi anak Allah, melainkan denyut nadi dari seseorang yang sudah dilahirkan oleh Allah.
Tanda kehidupan, bukan syarat masuk.
Sudut pandang itu akan kembali di seluruh halaman ini, karena ia mengubah cara kita mendengar setiap kalimat Yohanes.
Apa kata Alkitab tentang Kitab 1 Yohanes?
Surat ini membuka diri dengan cara yang tidak biasa. Tidak ada salam, tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat. Yang ada hanyalah kesaksian seorang saksi mata yang hampir kehabisan napas karena kagum: "Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu" (1 Yohanes 1:1).
Perhatikan kata kerjanya: mendengar, melihat, menyaksikan, meraba. Ini bukan filsafat tentang Allah. Ini laporan tentang seseorang yang pernah duduk semeja, yang tangan-Nya pernah dipegang. Tradisi gereja yang kuat sejak Ireneus pada abad kedua menyebut penulis ini Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Efesus. Gaya bahasanya, kosakatanya, dan pasangan kata terang-gelap, hidup-maut, kasih-benci begitu mirip dengan Injil Yohanes sehingga sulit membayangkan tangan lain di baliknya. Kemungkinan besar surat ini lahir antara tahun 85 dan 95 Masehi, ketika generasi saksi mata nyaris habis dan generasi kedua mulai mendengar versi-versi lain tentang siapa Yesus.
Dari kesaksian itu lahirlah berita pertama: "Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan" (1 Yohanes 1:5). Terang di sini bukan sekadar soal moral; terang berarti Allah tidak menyembunyikan apa pun, tidak bermuka dua, tidak punya sisi gelap. Dan justru karena itu, hidup di dalam terang bukan berarti hidup tanpa cela, melainkan hidup tanpa topeng. Lihat bagaimana Yohanes merumuskannya: "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa" (1 Yohanes 1:7). Kalau hidup dalam terang berarti tidak berdosa, kalimat tentang darah yang menyucikan itu akan mubazir. Justru sebaliknya: orang yang berjalan dalam terang adalah orang yang dosanya terus-menerus dibersihkan, karena ia tidak lagi lari dari cahaya.
Maka pintu masuk ke dalam kepastian itu sangat rendah, cukup rendah untuk dilewati orang yang remuk: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yohanes 1:9). Dua kata itu menakjubkan. Bukan "Ia murah hati" atau "Ia berbelas kasihan", melainkan "setia dan adil". Setia pada janji-Nya, dan adil karena hutang itu sudah dibayar di Golgota. Pengampunan bukan kemurahan hati yang kebetulan; pengampunan adalah keadilan yang digenapi oleh salib.
Dan supaya tidak ada yang salah paham tentang mengapa ia menulis semua ini, Yohanes menyebutkan tujuannya dengan lugas menjelang akhir: "Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal" (1 Yohanes 5:13). Kata kerjanya adalah "tahu", bukan "berharap", bukan "mengusahakan". Seluruh surat ini adalah pekerjaan seorang gembala tua yang ingin anak-anak rohaninya tidur nyenyak.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Yohanes tidak sedang menciptakan tema baru. Terang, kasih, dan persekutuan adalah tiga sungai yang sudah mengalir sejak halaman pertama Alkitab.
Di Kejadian, firman pertama Allah adalah perintah agar terang jadi, dan sejak Adam bersembunyi di antara pohon-pohon, dosa selalu punya watak yang sama: ingin gelap, ingin tidak terlihat. Mazmur 27:1 menyanyikan, "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?" Yesaya menubuatkan bangsa yang berjalan dalam kegelapan melihat terang yang besar. Ketika Yohanes menulis bahwa Allah adalah terang, ia sedang meringkas seluruh kerinduan Perjanjian Lama akan Allah yang tidak lagi tersembunyi.
Begitu pula dengan kasih. Ulangan 6:5 memerintahkan, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu," dan Imamat 19:18 menambahkan, "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Tetapi hukum hanya bisa memerintahkan; ia tidak bisa menciptakan hati yang mengasihi. Karena itu Yehezkiel 36:26 menjanjikan hati yang baru dan roh yang baru, dan Yeremia 31:33 menjanjikan hukum yang dituliskan di dalam hati. Perjanjian Lama diakhiri dengan sebuah lubang: perintah yang benar tanpa daya untuk melakukannya.
Di situlah 1 Yohanes berdiri sebagai jawaban. Kasih bukan lagi sekadar tuntutan, melainkan pertama-tama sifat Allah sendiri: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). Dan kasih itu punya tanggal dan alamat dalam sejarah: "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yohanes 4:10). Yohanes tidak mendefinisikan kasih dengan perasaan, melainkan dengan salib.
Inilah yang membuat surat ini pas sekali di dalam kanon. Injil-injil menceritakan apa yang Yesus lakukan, Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana berita itu tersebar, surat-surat Paulus menjelaskan bagaimana orang berdosa dibenarkan, dan 1 Yohanes menjawab pertanyaan yang datang setelah semuanya itu: bagaimana aku tahu bahwa semua ini juga berlaku untukku? Jawabannya tetap sama, dan tetap bukan tentang prestasi kita: "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yohanes 4:19). Perintah lama yang tidak bisa kita penuhi kini mengalir keluar dari hidup baru yang Allah kerjakan di dalam kita. Tanda kehidupan, sekali lagi, bukan syarat masuk.
Struktur dan tema utama
Kalau kamu mencari kerangka yang rapi seperti surat Roma, kamu akan bingung. Yohanes tidak berpikir dalam garis lurus melainkan dalam lingkaran yang semakin dalam, seperti air yang berputar menuju pusat. Ia mengangkat tema terang, lalu kasih, lalu kebenaran tentang Yesus, lalu kembali lagi ke terang dari sudut yang baru. Meski begitu, bentuk besarnya dapat dikenali.
Bagian pembuka, 1 Yohanes 1:1 sampai 1:4, adalah prolog kesaksian saksi mata, kembaran kecil dari prolog Injil Yohanes, yang bermuara pada persekutuan dan sukacita yang penuh. Lalu dari 1 Yohanes 1:5 sampai pasal 2 ayat 27, Yohanes bergulat dengan tema terang dan dosa: tiga pengakuan palsu ("kita beroleh persekutuan dengan Dia", "kita tidak berdosa", "kita tidak berbuat dosa") dibongkar satu per satu, dan di tengahnya berdiri penghiburan terbesar surat ini, yaitu Yesus Kristus sebagai pengantara dan pendamaian (1 Yohanes 2:1-2). Di bagian ini juga muncul peringatan tajam tentang dunia, sebab orang yang sudah dibebaskan dari kegelapan gampang sekali jatuh cinta lagi kepadanya: "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1 Yohanes 2:15-17).
Bagian tengah, kira-kira dari 1 Yohanes 2:28 sampai 4:6, berpusat pada identitas sebagai anak-anak Allah dan pada ujian pengakuan iman. Di sinilah kalimat yang paling sering dihafal orang Kristen Indonesia itu berdiri: "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah" (1 Yohanes 3:1). Dan di sini pula Yohanes memberi kriteria yang sangat konkret untuk menguji guru-guru: setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia berasal dari Allah (1 Yohanes 4:2).
Bagian akhir, dari 1 Yohanes 4:7 sampai 5:12, adalah puncak tentang kasih Allah dan iman yang mengalahkan dunia, ditutup dengan kesaksian bahwa hidup kekal ada di dalam Anak. Lalu datang epilog, 1 Yohanes 5:13-21, yang diikat oleh satu kata yang diulang berkali-kali: "kita tahu". Surat ini yang dimulai dengan mata dan tangan yang menyaksikan, berakhir dengan jemaat yang boleh berkata: kami tahu.
Latar belakangnya menjelaskan nada tulisannya. Sekelompok orang telah memisahkan diri dari jemaat (1 Yohanes 2:19), mengajarkan bahwa yang ilahi tidak mungkin sungguh-sungguh menjadi daging, dan bahwa pengenalan rohani lebih penting daripada hidup yang kudus dan kasih yang nyata. Mereka pergi sambil membawa klaim bahwa merekalah yang maju. Yohanes menulis bukan terutama untuk menyerang mereka, melainkan untuk menenangkan yang tinggal.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat berikut adalah tiga pilar yang menopang seluruh bangunan surat ini.
Yang pertama, 1 Yohanes 3:1. "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia." Kata pertamanya adalah perintah untuk melihat, bukan untuk berusaha. Yohanes tidak berkata "jadilah anak Allah", ia berkata "memang kita adalah anak-anak Allah". Dan ia menambahkan sesuatu yang jarang kita sadari: justru karena kita anak Allah, dunia tidak mengenal kita. Rasa asing yang kadang kamu rasakan di kantor, di grup keluarga, di lingkungan pertemanan, bukan selalu tanda bahwa ada yang salah denganmu. Kadang itu justru tanda keluarga.
Yang kedua, 1 Yohanes 4:8. "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." Ini bukan kalimat romantis yang bisa dipakai untuk membenarkan apa saja atas nama cinta. Yohanes sendiri menjelaskan isi kata itu dua ayat kemudian: kasih adalah Allah yang mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Jadi kasih bukan sikap membiarkan, melainkan tindakan yang berkorban. Dan ayat ini menjadi semacam termometer: kalau pengenalanku akan Allah tidak pernah melembutkan caraku memperlakukan orang, maka yang kukenal mungkin baru gagasan tentang Allah, belum Allah sendiri.
Yang ketiga, 1 Yohanes 4:18. "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." Inilah ayat yang paling jelas membongkar cara baca yang salah terhadap surat ini. Kalau ujian-ujian Yohanes dimaksudkan untuk membuat kita gemetar, ayat ini mustahil ada di dalamnya. Ketakutan yang dimaksud adalah takut akan hukuman, takut bahwa suatu saat Allah akan menarik kembali penerimaan-Nya. Kasih yang sempurna, yaitu kasih Allah yang sudah tuntas dikerjakan di salib, mengusir ketakutan itu keluar dari rumah hati kita. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.
Panduan praktis membaca 1 Yohanes
Surat ini pendek, hanya lima pasal, dan bisa dibaca utuh dalam dua puluh menit. Justru karena itu cara terbaik memulainya adalah membaca seluruhnya dalam satu duduk, keras-keras kalau memungkinkan, sebab aslinya memang dibacakan di depan jemaat. Jangan dulu berhenti di ayat-ayat yang membingungkan. Rasakan nadanya lebih dahulu, dan perhatikan betapa sering Yohanes memanggil pembacanya "anak-anakku". Itu bukan basa-basi; itu kunci untuk mendengar seluruh surat dengan telinga yang benar.
Sesudah itu, bacalah lagi pelan-pelan dalam satu minggu dengan membagi lima bagian tadi: prolog dan tema terang, pengakuan-pengakuan palsu dan Yesus sang pengantara, peringatan tentang dunia dan tentang guru palsu, identitas sebagai anak Allah, lalu puncak tentang kasih dan kepastian. Setiap kali kamu bertemu kalimat yang terasa menghakimi, tanyakan satu pertanyaan sederhana: apakah ini dimaksudkan sebagai syarat atau sebagai tanda? Yohanes hampir selalu sedang memberi tanda, bukan memasang palang.
Ada satu kebiasaan membaca yang sangat menolong, yaitu menandai setiap kemunculan kata "kita tahu" dan "kutuliskan". Kedua ungkapan itu adalah sidik jari tujuan penulis. Kalau kamu mengumpulkannya, kamu akan melihat bahwa surat ini bergerak terus menuju satu titik, yaitu hati yang tenang di hadapan Allah, bahkan ketika hati itu menuduh diri sendiri (1 Yohanes 3:20).
Bacalah 1 Yohanes bersama Injil Yohanes kalau kamu ingin melihat kesinambungannya, dan bersama 2 Yohanes dan 3 Yohanes kalau kamu ingin melihat bagaimana ajaran yang sama diterapkan pada situasi jemaat yang sangat konkret. Dan simpanlah satu kalimat untuk dibawa pulang setiap hari, karena surat ini memang ditulis untuk dihafal hati, bukan hanya dipelajari kepala.
Terakhir, jangan baca surat ini sendirian terus-menerus. Tema besarnya adalah persekutuan, dan ada bagian-bagian yang baru terbuka ketika kamu mendiskusikannya dengan saudara seiman yang mengenalmu dan berani menanyakan hal-hal yang tidak nyaman.
Cermin
Sekarang izinkan saya berbicara langsung kepadamu.
Kamu mungkin orang yang rajin beribadah tetapi diam-diam menyimpan satu ruangan yang tidak pernah kamu buka di hadapan siapa pun. Mungkin itu kebiasaan di layar ponselmu yang kamu janjikan berhenti setiap bulan. Mungkin itu cara kamu bicara kepada pasanganmu ketika pintu kamar sudah tertutup. Mungkin itu angka-angka di pekerjaanmu yang kamu rapikan sedikit supaya aman. Dan setiap kali kamu membaca 1 Yohanes, kamu merasa dituduh.
Dengarkan baik-baik: surat ini tidak sedang menyuruhmu bersih dahulu sebelum boleh mendekat. Surat ini menyuruhmu keluar dari gelap. Hidup dalam terang bukan berarti kamu tidak punya dosa, melainkan kamu berhenti berpura-pura tidak punya. Di situlah darah Yesus bekerja, bukan di ruangan yang terkunci.
Mungkin yang mengganjal justru hal lain. Kamu bisa berkata "Allah adalah kasih" di depan kelas sekolah Minggu, tetapi ada satu nama yang kalau muncul di layar ponselmu, kamu biarkan berdering. Saudara yang pernah melukaimu. Keluarga yang tidak pernah minta maaf. Yohanes tidak memberi kita ruang untuk memisahkan cinta kepada Allah dari cinta kepada orang yang menyebalkan. Kasih baginya selalu punya wajah, nama, dan nomor telepon.
Atau mungkin kamu lelah. Waktumu habis untuk pekerjaan, tubuhmu tidak sekuat dulu, dan malam-malammu sepi. Untukmu ada kalimat ini: kamu disebut anak Allah bukan karena kamu produktif, melainkan karena Bapa memberikannya sebagai karunia. Ketika kamu tidak bisa melakukan apa-apa pun, statusmu tidak berubah sedikit pun.
Pertanyaannya hari ini bukan "apakah aku cukup baik", melainkan "apakah aku masih berjalan di dalam terang, atau sedang menata gelap supaya rapi".
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sebenarnya sangat mudah menangkap inti surat ini, karena mereka hidup dari rasa diterima. Untuk mereka, 1 Yohanes bisa diringkas menjadi tiga gambar sederhana.
Yang pertama, gambar lampu. Allah itu seperti terang yang tidak punya sudut gelap sama sekali. Kalau kita bersembunyi di bawah selimut karena takut ketahuan, kita malah jadi lebih takut. Tetapi kalau kita keluar dan berkata jujur, "Aku yang memecahkan gelasnya," ternyata kita justru dipeluk. Itulah yang dimaksud mengaku dosa.
Yang kedua, gambar keluarga. Anak-anak perlu mendengar bahwa Allah memanggil mereka anak-anak-Nya bukan karena nilai ulangan atau karena mereka paling penurut, melainkan karena Dia memang mau memanggil mereka begitu. Mereka bisa diajak memegang dada sendiri dan berkata pelan, "Aku anak Allah."
Yang ketiga, gambar pelukan yang mengusir rasa takut. Kalau seorang anak takut gelap dan lalu digendong ayahnya, takutnya berkurang bukan karena gelapnya hilang, melainkan karena ada yang memeluk. Itulah 1 Yohanes 4:18 dalam bahasa anak.
Setiap usia butuh pendekatan yang berbeda, dan di Faith.network tersedia penjelasan khusus untuk anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun yang berpusat pada gambar dan pengulangan, untuk anak sekolah dasar usia 7 sampai 12 tahun yang sudah bisa menelusuri ayat sendiri, serta untuk remaja usia 12 tahun ke atas yang mulai bergumul dengan pertanyaan tentang kepastian, keraguan, dan kemunafikan. Pilihlah sesuai usia anak yang kamu dampingi, dan biarkan mereka bertanya sebanyak-banyaknya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis kitab 1 Yohanes?
Surat ini tidak mencantumkan nama penulisnya, tetapi kesaksian gereja mula-mula sejak Ireneus pada abad kedua secara konsisten menyebut Yohanes, rasul dan murid yang dikasihi Yesus, yang di masa tuanya melayani di Efesus. Bukti internalnya kuat: penulis mengaku sebagai saksi mata yang mendengar, melihat, dan meraba Firman hidup (1 Yohanes 1:1), dan gaya bahasanya, kosakatanya, serta pasangan kata terang-gelap dan hidup-maut sangat mirip dengan Injil Yohanes. Nada kebapaannya yang berulang-ulang memanggil pembaca "anak-anakku" juga cocok dengan seorang pemimpin yang sudah sangat lanjut usia.
Kapan kitab 1 Yohanes ditulis?
Sebagian besar ahli menempatkannya antara tahun 85 dan 95 Masehi, kemungkinan besar dari Efesus di Asia Kecil. Penanggalan ini masuk akal karena ajaran sesat yang dilawan surat ini, yaitu penyangkalan bahwa Yesus sungguh-sungguh datang sebagai manusia, baru berkembang pada akhir abad pertama. Selain itu, perpecahan jemaat yang disinggung dalam 1 Yohanes 2:19 mengandaikan komunitas yang sudah cukup lama berdiri. Surat ini juga tampak menulis kepada generasi yang tidak pernah melihat Yesus secara langsung, sehingga kesaksian saksi mata perlu ditegaskan kembali dengan sangat kuat.
Apa tujuan utama kitab 1 Yohanes?
Penulisnya sendiri menyebutkannya dengan jelas: "Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal" (1 Yohanes 5:13). Tujuannya adalah kepastian, bukan kecemasan. Jemaat baru saja ditinggalkan sekelompok orang yang mengaku memiliki pengenalan rohani yang lebih tinggi, dan mereka yang tinggal mulai meragukan iman mereka sendiri. Yohanes menulis untuk meneguhkan: merekalah yang memiliki pengajaran para rasul, Roh Kudus, dan hidup kekal di dalam Anak Allah.
Apa arti "Allah adalah kasih" dalam 1 Yohanes 4:8?
Artinya kasih bukan sekadar sesuatu yang Allah lakukan sewaktu-waktu, melainkan hakikat diri-Nya. Namun Yohanes tidak membiarkan kata itu kosong; ia langsung mengisinya dengan salib, yaitu Allah yang mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1 Yohanes 4:10). Jadi kalimat ini tidak boleh dipakai untuk membenarkan apa pun atas nama cinta, dan juga tidak berarti Allah tidak peduli pada dosa. Justru karena Dia kasih, Dia menanggung sendiri harga dosa itu agar kita boleh hidup.
Apa maksud 1 Yohanes 3:9 bahwa orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa?
Ayat itu berbunyi, "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah." Bentuk kata kerja Yunaninya menunjuk pada kebiasaan yang berlangsung terus, bukan pada satu perbuatan. Yohanes sendiri sudah menulis bahwa orang yang mengaku tidak berdosa menipu dirinya sendiri (1 Yohanes 1:8). Maksudnya: orang yang dilahirkan Allah tidak lagi menjadikan dosa sebagai jalan hidupnya yang tenang dan dibela, sebab ada hidup baru yang melawan dari dalam.
Bagaimana saya tahu bahwa saya benar-benar diselamatkan?
Yohanes memberi tiga tanda yang saling melengkapi: percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang datang sebagai manusia, berjalan dalam terang dengan mengakui dosa alih-alih menyembunyikannya, dan mengasihi saudara seiman secara nyata. Tanda-tanda ini bukan syarat yang harus kamu penuhi agar diterima, melainkan denyut nadi yang menunjukkan bahwa hidup baru sudah ada. Kalau hatimu menuduh, ingat 1 Yohanes 3:20 bahwa Allah lebih besar daripada hati kita. Dasar kepastianmu bukan perasaanmu, melainkan darah Yesus dan janji Allah yang setia.
Apa itu dosa yang mendatangkan maut dalam 1 Yohanes 5:16?
Ini salah satu bagian tersulit dalam surat ini. Dalam konteksnya, Yohanes sedang berbicara tentang orang-orang yang meninggalkan jemaat dan secara sadar menolak Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang datang dalam daging. Penolakan yang keras kepala dan final terhadap satu-satunya sumber hidup itulah yang membawa maut, sebab barangsiapa tidak memiliki Anak Allah, ia tidak memiliki hidup (1 Yohanes 5:12). Kalau kamu takut telah melakukannya, ketakutan itu sendiri sudah menjadi petunjuk bahwa hatimu belum mengeras; orang yang sungguh menolak tidak peduli sama sekali.
Siapa antikristus yang disebut dalam 1 Yohanes?
Menariknya, Yohanes memakai kata itu dalam bentuk jamak: "sekarang telah bangkit banyak antikristus" (1 Yohanes 2:18). Baginya antikristus bukan hanya satu tokoh akhir zaman, melainkan setiap pengajar yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus dan bahwa Dia sungguh-sungguh datang sebagai manusia. Ujiannya sangat konkret dan tetap berlaku hari ini: ajaran apa pun yang mengecilkan keilahian atau kemanusiaan Yesus Kristus, atau yang membuat salib-Nya tidak perlu, bergerak dalam roh yang sama, betapapun rohani bunyinya.
Apa perbedaan antara Injil Yohanes dan surat 1 Yohanes?
Keduanya memakai bahasa dan tema yang sangat mirip, tetapi tujuannya berbeda dan saling melengkapi. Injil Yohanes ditulis supaya orang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan memperoleh hidup dalam nama-Nya. Surat 1 Yohanes ditulis kepada orang yang sudah percaya, supaya mereka tahu bahwa mereka memiliki hidup kekal itu. Yang satu mengundang masuk, yang lain meneguhkan yang sudah di dalam. Membaca keduanya berurutan adalah cara terbaik merasakan betapa utuh pelayanan Yohanes.
Apakah 1 Yohanes mengajarkan bahwa kita bisa kehilangan keselamatan?
Surat ini justru berdiri di arah sebaliknya. Tentang mereka yang pergi, Yohanes menulis bahwa mereka memang pernah berada di antara jemaat tetapi tidak sungguh-sungguh termasuk pada mereka, dan kepergian itu menjadi nyata supaya kelihatan siapa yang sungguh (1 Yohanes 2:19). Jadi kemurtadan tidak diartikan sebagai hilangnya keselamatan, melainkan sebagai tersingkapnya kenyataan yang selama ini tersembunyi. Nada keseluruhannya adalah jaminan: Allah yang melahirkan kita juga yang memelihara kita, dan hidup kekal itu ada di dalam Anak-Nya.
Mengapa 1 Yohanes 5:7 berbeda dalam beberapa terjemahan?
Dalam sebagian terjemahan lama terdapat tambahan kalimat tentang Bapa, Firman, dan Roh Kudus di sorga. Tambahan ini tidak ditemukan dalam naskah-naskah Yunani tertua dan baru muncul pada salinan yang jauh lebih kemudian, karena itu terjemahan modern umumnya menghilangkannya atau menempatkannya dalam catatan kaki. Yang perlu ditegaskan: ajaran tentang Tritunggal sama sekali tidak bergantung pada ayat itu. Seluruh Perjanjian Baru, termasuk 1 Yohanes sendiri, sudah berbicara jelas tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Apa artinya "mengasihi dunia" dalam 1 Yohanes 2:15?
Yang dimaksud bukan ciptaan Allah atau manusia yang perlu diselamatkan, sebab Allah sendiri mengasihi dunia dalam arti itu. "Dunia" di sini berarti sistem hidup yang berputar tanpa Allah, yang dirinci Yohanes sebagai keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Masalahnya bukan menikmati makanan, pekerjaan, atau keindahan, melainkan menaruh hati kita di sana sebagai sumber hidup. Alasannya sangat praktis: dunia ini sedang lenyap bersama keinginannya, sementara orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Bagaimana cara membaca 1 Yohanes untuk pertama kali?
Mulailah dengan membaca kelima pasalnya sekaligus dalam satu duduk, kalau bisa dengan suara keras, sebab surat ini memang ditulis untuk dibacakan di hadapan jemaat. Jangan berhenti lama di ayat-ayat sulit pada bacaan pertama. Setelah itu baca ulang pelan-pelan dalam seminggu, sambil menandai setiap kali Yohanes menulis "kita tahu" dan "kutuliskan". Dua ungkapan itu akan menunjukkan ke mana seluruh surat ini bergerak, yaitu kepada hati yang tenang dan yakin di hadapan Allah, bukan kepada daftar tuntutan yang baru.
Sebagai penutup
Surat 1 Yohanes adalah salah satu tulisan paling hangat dan sekaligus paling tajam dalam Perjanjian Baru. Tajam, karena ia tidak mengizinkan iman yang hanya ada di mulut sementara hidup berjalan ke arah lain. Hangat, karena setiap ketajamannya diucapkan oleh seorang tua yang memanggil pembacanya anak-anak, dan yang tangannya pernah menyentuh Firman hidup.
Tangan yang pernah meraba Firman hidup.
Kalau kamu selama ini membaca surat ini sebagai daftar ujian dan selalu pulang dengan rasa gagal, cobalah membacanya sekali lagi dengan telinga yang baru. Perhatikan bahwa setiap tanda yang Yohanes sebutkan selalu berdiri di atas dasar yang sama, yaitu Allah yang lebih dahulu mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian. Terang bukan sorotan interogasi; terang adalah tempat di mana darah Yesus menyucikan. Kasih bukan beban baru; kasih adalah bukti bahwa sesuatu yang baru sudah lahir di dalammu.
Lanjutkan dengan membaca Injil Yohanes untuk melihat akar kesaksian ini, lalu 2 Yohanes dan 3 Yohanes untuk melihat penerapannya dalam jemaat yang nyata. Dan simpanlah satu kalimat ini di dekat hatimu: kamu boleh tahu, bukan sekadar berharap, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.
