Kitab Daniel: Iman yang Teguh di Negeri Asing dan Nubuat Akhir Zaman
Pendahuluan
Bayangkan seorang remaja yang baru saja kehilangan segalanya. Kota tempat ia lahir dibakar, Bait Allah dijarah, keluarganya entah di mana, dan sekarang ia berdiri di ruang pelatihan istana Babel dengan nama baru yang bukan namanya. Semua yang pernah menjadi penopang identitasnya sudah runtuh. Di situlah ceritanya dimulai, bukan dengan pidato heroik, melainkan dengan satu keputusan kecil soal makanan.
Kitab Daniel sering dibicarakan sebagai kitab tanggal, tanduk, dan patung raksasa. Tetapi sebelum menjadi kitab nubuat, Daniel adalah kitab tentang bagaimana orang beriman bertahan ketika hidupnya diatur oleh kekuasaan yang tidak mengenal Tuhan.
Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulisnya, kapan dan di mana kitab ini lahir, bagaimana kedua bagiannya saling menopang, apa tema besarnya, ayat-ayat kuncinya, dan bagaimana kitab ini bermuara pada Yesus Kristus. Di bagian akhir tersedia panduan membaca yang bisa langsung Anda pakai.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Kitab Daniel dari meja makan dan kamar doa, bukan dari papan tulis kronologi akhir zaman. Enam pasal pertama memperlihatkan orang-orang buangan yang setia dalam hal-hal kecil; enam pasal berikutnya memperlihatkan mengapa kesetiaan itu masuk akal, karena ada takhta di atas semua takhta. Artinya, nubuat dalam Daniel tidak diberikan untuk memuaskan rasa penasaran, melainkan untuk menguatkan lutut yang gemetar. Setiap penglihatan tentang binatang dan kerajaan bertujuan satu: agar umat Tuhan berani berkata tidak kepada patung emas dan tetap berdoa dengan jendela terbuka. Itulah lensa yang akan kembali terus di sepanjang halaman ini.
Apa kata Alkitab tentang Kitab Daniel?
Kitab ini membuka dirinya dengan sebuah kalimat yang terdengar seperti kekalahan total: Yerusalem dikepung, dan perkakas Bait Allah diangkut ke Babel. Tetapi Daniel 1:2 menyisipkan satu keterangan yang mengubah segalanya, bahwa Tuhan sendirilah yang menyerahkan raja Yehuda ke tangan Nebukadnezar. Sejak ayat kedua, pembaca sudah diberi tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali. Sisa kitab ini hanya memperluas keyakinan itu ke ruang-ruang yang paling sempit.
Keyakinan itu pertama kali diuji bukan di lubang singa, melainkan di meja makan. "Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan minuman yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya" (Daniel 1:8). Perhatikan kata "berketetapan". Bahasa Ibraninya berbicara tentang meletakkan sesuatu di dalam hati, sebuah keputusan yang dibuat sebelum tekanan datang. Daniel tidak mengadakan demonstrasi; ia mengajukan permohonan dengan hormat. Ia tidak menuntut hak; ia menawarkan uji coba. Kesetiaan di negeri asing di sini tampak sebagai keberanian yang sopan dan bertulang.
Iman besar biasanya lahir dari keputusan-keputusan kecil.
Ujian berikutnya jauh lebih mahal. Ketika patung emas berdiri di padang Dura dan musik memerintahkan seluruh kerajaan bersujud, tiga pemuda Yahudi menjawab dengan salah satu pengakuan iman paling jujur dalam Alkitab: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu" (Daniel 3:17-18). Kalimat "tetapi seandainya tidak" adalah jantung kitab ini. Mereka setia bukan karena yakin akan diselamatkan, melainkan karena yakin Tuhan layak disembah entah mereka diselamatkan atau tidak.
Kesetiaan yang sama muncul dalam bentuk kebiasaan doa. Ketika surat perintah yang melarang doa sudah ditandatangani, Daniel tidak mengubah apa pun: "Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Di kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka menghadap ke Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya" (Daniel 6:11). Frasa penutup itu penting: seperti yang biasa dilakukannya. Yang menyelamatkan Daniel dari kompromi bukanlah semangat mendadak, melainkan rutinitas puluhan tahun.
Lalu mengapa mereka sanggup? Jawabannya diberikan lewat mimpi seorang raja kafir. Sesudah patung dengan kepala emas dan kaki bercampur tanah liat itu diremukkan oleh sebuah batu, Daniel menjelaskan: "Tetapi pada zaman raja-raja itu Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan itu dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya" (Daniel 2:44). Inilah logika kesetiaan di negeri asing. Kerajaan-kerajaan yang tampak megah punya tanggal kedaluwarsa; Kerajaan Tuhan tidak. Orang yang tahu ke mana sejarah bermuara bisa berkata tidak kepada tekanan hari ini.
Penulis, waktu, dan situasi kitab ini
Kitab ini menyebut dirinya sebagai kesaksian seorang bernama Daniel, salah satu pemuda bangsawan Yehuda yang dibawa ke Babel. Enam pasal pertama umumnya bercerita tentang Daniel dengan sudut pandang orang ketiga, seperti catatan istana; enam pasal berikutnya beralih ke suara pribadi, "aku, Daniel", laporan langsung dari orang yang melihat penglihatan itu dan gemetar karenanya. Tradisi Yahudi dan Kristen sejak awal membaca Daniel sebagai penulis, dan Yesus sendiri menyebut "Daniel, nabi itu" ketika berbicara tentang pembinasa keji dalam Matius 24:15. Nabi Yehezkiel, yang hidup pada masa yang sama, dua kali menyebut nama Daniel sebagai teladan kebenaran dan hikmat.
Rentang waktu kitab ini panjang sekali. Ia dimulai pada tahun ketiga pemerintahan Yoyakim, sekitar 605 sebelum Masehi, ketika gelombang pembuangan pertama terjadi, dan berakhir pada masa Koresh, raja Persia, sekitar 536 sebelum Masehi. Berarti Daniel melayani di bawah dinasti Babel dan kemudian di bawah pemerintahan Media-Persia, sekitar tujuh dekade. Ia masuk ke Babel sebagai remaja dan keluar dari halaman terakhir kitab ini sebagai orang yang sangat tua, masih menerima penglihatan, masih berdoa. Nama-nama raja yang muncul, Nebukadnezar, Belsyazar, Darius, Koresh, menempatkan kisah ini di jantung pergantian kekuasaan dunia kuno.
Situasinya perlu dirasakan, bukan hanya diketahui. Bagi orang Yahudi, Bait Allah adalah bukti bahwa Tuhan tinggal di tengah mereka, dan tanah Kanaan adalah bukti bahwa janji kepada Abraham nyata. Pembuangan menghancurkan kedua bukti itu sekaligus. Pertanyaan yang mengoyak hati mereka bukan "kapan kita pulang", tetapi "apakah Tuhan kalah". Ke dalam luka itulah Kitab Daniel diberikan.
Sebagian ahli modern menempatkan penulisan kitab ini pada abad kedua sebelum Masehi, pada masa Antiokhus IV, terutama karena pasal 11 begitu terperinci tentang peristiwa masa itu. Argumen dasarnya adalah asumsi bahwa nubuat sedetail itu mustahil. Kita membaca dari keyakinan yang berbeda: Tuhan yang menyatakan rahasia kepada Nebukadnezar dan Daniel sanggup juga berbicara tentang masa depan yang jauh. Ada pula pertimbangan yang wajar: salinan-salinan Daniel sudah ditemukan di antara naskah Qumran, jumlahnya banyak dan dihormati sebagai kitab suci, sesuatu yang aneh bila kitab itu baru saja ditulis. Bahasa Aramnya bercorak lebih tua daripada bahasa Aram abad kedua, dan pengetahuan kitab ini tentang adat istana Babel sangat rinci.
Satu hal lagi soal kanon. Dalam Alkitab Ibrani, Daniel tidak diletakkan di antara para nabi, melainkan di bagian Ketuvim, kelompok Tulisan, sebab Daniel adalah pejabat negara yang menerima penglihatan, bukan nabi yang berdiri di gerbang Bait Allah. Dalam Alkitab Kristen, ia ditempatkan sesudah Yehezkiel sebagai salah satu nabi besar, dan itu tepat, karena isi pesannya memang bernubuat tentang Kerajaan yang akan datang. Alkitab Katolik dan Ortodoks memuat tambahan dari tradisi Yunani, seperti kisah Susana serta Bel dan Naga; Alkitab Protestan memuat dua belas pasal dalam bahasa Ibrani dan Aram.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Daniel bukan pulau terpisah. Ia meneruskan janji lama dan memasok bahasa bagi Perjanjian Baru.
Ke belakang, Daniel berdiri di atas Musa dan para nabi. Pembuangan bukan kecelakaan sejarah, melainkan tepat seperti yang diperingatkan dalam Ulangan 28 bila perjanjian dilanggar. Karena itu doa Daniel di pasal 9 bukan protes, melainkan pengakuan dosa yang dipenuhi kutipan dari Taurat dan dari Yeremia. Daniel membaca nubuat Yeremia tentang tujuh puluh tahun, lalu ia tidak duduk menghitung tanggal, ia berpuasa dan mengaku dosa bangsanya. Nubuat mendorongnya ke doa, bukan ke spekulasi. Pola itulah yang ingin kitab ini tanamkan pada pembacanya.
Ke depan, Daniel memberi Perjanjian Baru dua hal yang sangat besar. Yang pertama adalah gelar favorit Yesus untuk diri-Nya sendiri. "Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang serupa anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah" (Daniel 7:13-14). Ketika Yesus menyebut diri-Nya Anak Manusia, Ia tidak sedang merendah, Ia sedang mengaku sebagai tokoh dari penglihatan ini. Di depan Mahkamah Agama, dengan hidup-Nya di ujung tanduk, Ia berkata bahwa mereka akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah awan-awan. Para imam mengerti persis apa yang Ia klaim, dan itulah sebabnya mereka mengoyakkan jubah.
Yang kedua adalah kerangka besar tentang Kerajaan. Ketika Yesus mulai berkhotbah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, telinga yang terlatih oleh Daniel langsung mengenali batu yang meremukkan kaki patung itu. Kerajaan itu datang tanpa tangan manusia, mulai kecil seperti biji sesawi, lalu memenuhi seluruh bumi. Kitab Wahyu kemudian dipenuhi bahasa Daniel: binatang-binatang yang keluar dari laut, takhta-takhta, kitab yang dibuka, Anak Manusia yang datang dengan awan, dan penghakiman terakhir.
Dan benang merah itu bermuara pada salib. Daniel 9:24 berbicara tentang mengakhiri dosa dan menghapuskan kesalahan; Ibrani menjelaskan bahwa Kristus telah menyatakan diri satu kali untuk selamanya guna menghapuskan dosa dengan korban-Nya. Daniel 12:2 berbicara tentang mereka yang bangun dari debu tanah; Yesus berkata bahwa Ia sendirilah kebangkitan dan hidup. Apa yang di Daniel masih berupa penglihatan yang membuat sang nabi jatuh lemas, di dalam Kristus menjadi kabar baik yang bisa dipeluk.
Struktur dan tema utama
Kitab ini tersusun dalam dua cara sekaligus, dan keduanya perlu dilihat agar tidak salah baca.
Pembagian pertama berdasarkan jenis tulisan. Pasal 1 sampai 6 adalah kisah: pelatihan di istana, mimpi patung raksasa, perapian yang menyala-nyala, kegilaan Nebukadnezar, tulisan di dinding pada malam pesta Belsyazar, dan lubang singa. Pasal 7 sampai 12 adalah penglihatan: empat binatang dan Anak Manusia, kambing jantan dan domba jantan, tujuh puluh kali tujuh masa, serta pergolakan panjang antara raja utara dan raja selatan yang berujung pada kebangkitan orang mati. Bagian pertama memperlihatkan iman yang bekerja; bagian kedua memperlihatkan alasan mengapa iman itu tidak sia-sia. Membaca pasal 7 sampai 12 tanpa pasal 1 sampai 6 menghasilkan orang Kristen yang sibuk dengan bagan akhir zaman tetapi lembek di kantor. Membaca pasal 1 sampai 6 tanpa pasal 7 sampai 12 menghasilkan cerita moral tentang anak baik-baik, bukan pengharapan.
Pembagian kedua berdasarkan bahasa, dan ini petunjuk yang cerdas. Daniel 1:1 sampai 2:4a berbahasa Ibrani, bahasa umat perjanjian. Lalu dari Daniel 2:4b sampai akhir pasal 7 kitab ini beralih ke bahasa Aram, bahasa internasional dunia saat itu. Sesudah itu, pasal 8 sampai 12 kembali ke bahasa Ibrani. Jadi bagian yang berbahasa Aram berbicara kepada dunia: inilah pesan tentang siapa yang sungguh berkuasa atas segala bangsa. Bagian yang berbahasa Ibrani berbicara ke dalam, kepada umat Tuhan: inilah pesan tentang dosa, doa, dan penebusan bangsamu.
Bagian Aram itu bahkan tersusun bercermin. Pasal 2 dan pasal 7 keduanya tentang empat kerajaan yang digantikan oleh Kerajaan kekal. Pasal 3 dan pasal 6 keduanya tentang penyelamatan dari kematian, di perapian dan di lubang singa. Pasal 4 dan pasal 5 keduanya tentang raja yang direndahkan karena kesombongan. Di tengahnya, di titik pusat, terletak keyakinan yang menopang seluruh kitab: yang mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang Ia kehendaki.
Dari sana muncul tema-tema besarnya. Pertama, kedaulatan Tuhan atas sejarah dan atas para penguasa; Daniel 2:21 berkata bahwa Dia mengubah zaman dan waktu, memecat raja dan mengangkat raja. Kedua, kesetiaan dalam hal-hal kecil, karena identitas dipertahankan di dapur, di jendela, dan di jadwal harian. Ketiga, doa sebagai jalan hidup, bukan pemadam kebakaran; doa Daniel yang panjang di pasal 9 adalah salah satu doa pengakuan dosa paling indah dalam Alkitab. Keempat, hikmat sebagai anugerah, bukan prestasi, sebab Tuhanlah yang menyingkapkan hal yang tersembunyi. Kelima, penghakiman dan pengharapan, karena buku-buku dibuka dan orang mati dibangkitkan. Keenam, kerendahan hati para raja, sebab bahkan Nebukadnezar akhirnya memuji Yang Hidup kekal itu.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat memikul beban teologis kitab ini, dan ketiganya menuntun kepada Kristus.
Yang pertama adalah Daniel 2:44 tentang Kerajaan yang tidak akan binasa. Dalam mimpi Nebukadnezar, sejarah manusia tampak seperti patung raksasa yang semakin ke bawah semakin rapuh, dari emas sampai campuran besi dan tanah liat. Semua kekuasaan manusia berakhir di kaki yang tidak sepadan. Lalu datang batu yang terungkit bukan oleh tangan manusia, dan batu itu menjadi gunung yang memenuhi seluruh bumi. Kata kunci ayat ini adalah "mendirikan": Kerajaan itu tidak dibangun oleh manusia, melainkan didirikan oleh Allah semesta langit. Inilah sebabnya orang percaya bisa hidup tenang di negeri asing. Kita tidak sedang mempertahankan kerajaan yang sedang tenggelam; kita adalah warga Kerajaan yang sedang tumbuh.
Yang kedua adalah Daniel 7:13-14 tentang Anak Manusia. Sesudah empat binatang yang mengerikan keluar dari laut, penglihatan berpindah ke ruang takhta. Yang Lanjut Usianya duduk, kitab-kitab dibuka, dan seorang serupa anak manusia dibawa ke hadapan-Nya untuk menerima kekuasaan kekal. Perhatikan kontrasnya: kerajaan-kerajaan dunia digambarkan sebagai binatang, sementara Kerajaan yang terakhir dipimpin oleh seorang yang manusiawi. Kekuasaan yang datang dari surga tidak menerkam, ia memulihkan. Dan kekuasaan itu diberikan, bukan direbut. Yesus mengambil gelar ini untuk diri-Nya sendiri, lalu menjalaninya secara mengejutkan, karena Anak Manusia yang menerima kerajaan kekal itu lebih dahulu menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Yang Lanjut Usianya tetap duduk ketika takhta lain berguncang.
Yang ketiga adalah Daniel 12:2, kalimat kebangkitan yang paling jelas di seluruh Perjanjian Lama: "Banyak orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan menjadi tawanan selama-lamanya." Ayat ini menutup kitab dengan jujur: tidak semua penderitaan berakhir baik di dunia ini. Ada orang setia yang mati di perapian, bukan keluar dari perapian. Karena itu penglihatan terakhir menarik garis melampaui kubur. Bagi orang buangan, ini berarti Tuhan tidak akan kehilangan satu pun anak-Nya, bahkan yang sudah mati. Bagi kita, ini berarti kesetiaan yang tampak sia-sia hari ini punya tempat penyimpanan yang aman.
Cermin
Anda mungkin tidak pernah berdiri di depan patung emas, tetapi Anda pasti pernah berdiri di depan sesuatu yang menuntut disembah. Target penjualan yang hanya bisa dicapai dengan sedikit membengkokkan angka. Rapat yang menunggu Anda tertawa atas lelucon yang melukai orang lain. Grup keluarga yang menyindir iman Anda sampai lebih mudah diam saja. Tekanan untuk terlihat berhasil, punya tubuh tertentu, punya rumah tertentu, punya anak yang berprestasi tertentu. Musik memainkan nada yang sama seperti di padang Dura: semua orang sujud, mengapa kamu tidak?
Yang menohok dari Daniel adalah tempat ia memulai. Bukan dengan keberanian besar di lubang singa, tetapi dengan menu makan siang. Ia menaruh ketetapan di dalam hatinya sebelum ujiannya datang. Pertanyaannya untuk Anda: keputusan apa yang belum Anda ambil di hati, sehingga setiap kali situasinya muncul, Anda selalu kalah? Soal kejujuran laporan keuangan, soal apa yang Anda tonton ketika sendirian, soal seberapa jauh Anda mengalah agar disukai. Iman yang tidak diputuskan lebih dulu akan selalu dinegosiasikan di tempat.
Dan lihat jendela Daniel yang tetap terbuka. Ia tidak menambah jam doa untuk melawan raja; ia hanya menolak mengurangi. Kesetiaan sehari-hari yang membosankan itulah yang menjadikannya tak tergoyahkan ketika hukum berubah. Doa Anda yang tiga menit setiap pagi, yang terasa kering dan tidak dramatis, sedang menempa sesuatu yang baru terlihat gunanya bertahun-tahun kemudian.
Lalu ada "tetapi seandainya tidak" itu. Mungkin Anda sudah lama berdoa dan pintu tetap tertutup. Penyakit tidak sembuh, pekerjaan tidak datang, anak tidak pulang. Daniel tidak menjanjikan bahwa perapian selalu memadam. Ia menjanjikan bahwa Ada Yang berjalan bersama Anda di dalamnya, dan bahwa mereka yang tidur di dalam debu tanah akan bangun. Itu cukup untuk bertahan satu hari lagi.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kitab Daniel adalah salah satu kitab yang paling mudah dicintai anak-anak, karena penuh gambar yang kuat: patung raksasa, api yang menyala, tulisan misterius di dinding, dan singa-singa yang tiba-tiba tidak mau makan. Justru karena itu, ada bahayanya. Kalau hanya diceritakan sebagai kisah petualangan, anak bisa menyimpulkan bahwa anak yang baik selalu diselamatkan, dan itu akan mematahkan hatinya ketika hidupnya sendiri tidak berakhir seperti itu.
Cara sederhana menjelaskannya: Daniel adalah anak yang dibawa jauh dari rumah ke negeri yang tidak mengenal Tuhan. Di sana ia tetap memilih apa yang benar, walaupun ia satu-satunya yang memilih begitu. Ia tetap berdoa setiap hari, walaupun berdoa jadi dilarang. Dan Tuhan tidak pernah meninggalkan dia, bahkan ketika keadaan terlihat menakutkan. Tuhan yang menutup mulut singa adalah Tuhan yang sama yang menemani kita di sekolah, di rumah sakit, atau ketika kita takut sendirian.
Untuk anak yang lebih besar, tambahkan satu lapis: Daniel juga melihat gambaran tentang Seseorang yang datang dari langit untuk memerintah selamanya, dan Seseorang itu adalah Yesus. Jadi kitab ini bukan hanya tentang keberanian Daniel, tetapi tentang Raja yang tidak akan pernah kehilangan takhta-Nya.
Tersedia penjelasan khusus sesuai usia di Faith.network: versi untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan cerita yang sangat sederhana, versi untuk anak sekolah tujuh sampai dua belas tahun dengan penekanan pada pilihan sehari-hari, dan versi untuk remaja dua belas tahun ke atas yang mulai menyentuh tekanan sosial, identitas, dan nubuat.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis Kitab Daniel?
Kitab ini dikaitkan dengan Daniel, seorang bangsawan muda Yehuda yang dibawa ke Babel sekitar tahun 605 sebelum Masehi dan kemudian menjadi pejabat tinggi di sana. Pasal 7 sampai 12 memakai sudut pandang orang pertama, "aku, Daniel", sebagai laporan langsung dari penerima penglihatan, sementara pasal 1 sampai 6 bercerita tentang dirinya dengan gaya kisah istana. Yesus sendiri menyebutnya "Daniel, nabi itu" dalam Matius 24:15, dan Yehezkiel, yang hidup pada masa yang sama, dua kali menyebut namanya. Bagi gereja, kesaksian kitab itu sendiri dan pengesahan Yesus sudah menjadi dasar yang kokoh.
Kapan Kitab Daniel ditulis?
Peristiwa-peristiwanya berlangsung dari sekitar tahun 605 sampai sekitar 536 sebelum Masehi, dari pembuangan gelombang pertama sampai tahun-tahun awal pemerintahan Persia. Penulisannya paling wajar ditempatkan pada akhir hidup Daniel, kira-kira pertengahan abad keenam sebelum Masehi. Sebagian ahli modern mengusulkan abad kedua sebelum Masehi karena pasal 11 begitu terperinci, tetapi keberatan itu bertumpu pada anggapan bahwa nubuat terperinci tidak mungkin terjadi. Kenyataan bahwa banyak salinan Daniel sudah beredar dan dihormati di Qumran justru mendukung usia yang lebih tua.
Mengapa Kitab Daniel ditulis dalam dua bahasa?
Daniel 1:1 sampai 2:4a dan pasal 8 sampai 12 berbahasa Ibrani, sementara Daniel 2:4b sampai 7:28 berbahasa Aram, bahasa internasional Timur Dekat pada masa itu. Pembagian ini bukan kecelakaan penyuntingan, melainkan tampak sengaja. Bagian berbahasa Aram menyampaikan pesan yang ditujukan kepada seluruh bangsa: Allah semesta langitlah yang mengangkat dan memecat raja. Bagian berbahasa Ibrani berbicara khusus kepada umat perjanjian tentang dosa, doa, penebusan, dan masa depan bangsa mereka. Dua bahasa, dua arah bicara, satu pesan tentang kedaulatan Tuhan.
Apa arti empat kerajaan dalam Daniel 2 dan Daniel 7?
Mimpi patung dan penglihatan empat binatang menggambarkan rangkaian kekuasaan besar yang menggantikan satu sama lain, dimulai dengan Babel yang secara eksplisit disebut sebagai kepala emas. Penafsiran yang paling luas diterima di gereja melihat urutan Babel, Media-Persia, Yunani, lalu Roma; ada juga yang membaca Media dan Persia sebagai dua kerajaan terpisah. Yang jauh lebih penting daripada pemetaan itu adalah kesimpulannya, sebagaimana Daniel 2:44 menegaskan bahwa Allah akan mendirikan kerajaan yang tidak akan binasa. Detail nama boleh diperdebatkan; arah sejarahnya tidak.
Apa maksud tujuh puluh kali tujuh masa dalam Daniel 9?
Daniel 9:24 menyebut "tujuh puluh kali tujuh masa" yang ditetapkan atas bangsa dan kota kudus untuk mengakhiri dosa, menghapuskan kesalahan, mendatangkan keadilan yang kekal, dan mengurapi yang maha kudus. Angka ini biasanya dihitung sebagai empat ratus sembilan puluh tahun sejak titah pemulihan Yerusalem. Ada beberapa aliran penafsiran mengenai perhitungannya, sebagian melihat penggenapan penuh dalam pelayanan dan kematian Yesus, sebagian menyisakan pekan terakhir untuk masa depan. Yang disepakati orang Kristen adalah bahwa keenam tujuan mulia dalam ayat ini digenapi oleh Kristus.
Siapa "seorang serupa anak manusia" dalam Daniel 7:13-14?
Ia adalah tokoh yang datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan kekal dari Yang Lanjut Usianya, sehingga segala bangsa mengabdi kepadanya. Datang dengan awan adalah gambaran ilahi, tetapi rupanya seperti manusia, sehingga sejak awal figur ini menyimpan misteri ilahi dan manusiawi sekaligus. Yesus mengambil gelar Anak Manusia sebagai sebutan utama bagi diri-Nya, dan di depan Mahkamah Agama Ia mengutip penglihatan ini secara terbuka. Para imam langsung menganggapnya hujat, karena mereka mengerti bahwa Ia sedang mengaku sebagai tokoh dari Daniel 7.
Mengapa Daniel menolak makanan raja?
Daniel 1:8 mengatakan ia berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan santapan dan minuman raja. Alasannya kemungkinan berkaitan dengan aturan makanan Taurat, dengan makanan yang telah dipersembahkan kepada dewa-dewa, dan dengan makna simbolis menerima meja raja sebagai tanda kesetiaan penuh kepadanya. Yang jelas, Daniel tidak menolak bekerja bagi Babel, tidak menolak belajar bahasa dan ilmu mereka, dan tidak memberontak. Ia menarik satu garis di titik yang menyangkut penyembahan. Kesetiaan Daniel bukan penolakan terhadap budaya, melainkan penolakan untuk kehilangan Tuhannya.
Apakah Kitab Daniel mengajarkan kebangkitan orang mati?
Ya, dan itu salah satu sumbangan terbesarnya bagi teologi Perjanjian Lama. Daniel 12:2 berbicara tentang banyak orang yang telah tidur di dalam debu tanah dan akan bangun, sebagian untuk hidup yang kekal dan sebagian untuk kehinaan selama-lamanya. Ini bukan sekadar harapan samar tentang kehidupan setelah kematian, melainkan pernyataan tegas tentang kebangkitan tubuh dan penghakiman dua arah. Perjanjian Baru meneruskan garis ini secara langsung, dan Yesus berbicara dengan nada yang sama tentang saat ketika semua orang di dalam kubur akan mendengar suara-Nya.
Apa hubungan Kitab Daniel dengan Kitab Wahyu?
Wahyu berbicara dengan kosakata Daniel. Binatang-binatang yang keluar dari laut, tanduk-tanduk, ruang takhta dengan kitab yang dibuka, Anak Manusia yang datang dengan awan, dan penghakiman terakhir semuanya bergema dari penglihatan Daniel. Keduanya juga ditulis untuk umat yang tertekan oleh kekuasaan yang menuntut penyembahan, dan keduanya menjawab dengan cara yang sama, bukan dengan jadwal terperinci, melainkan dengan membuka tirai ke ruang takhta. Membaca Daniel lebih dahulu membuat Wahyu jauh lebih mudah dipahami, dan keduanya berujung pada satu Raja.
Apakah Kitab Daniel berbicara tentang antikristus?
Kitab Daniel berbicara tentang penguasa-penguasa yang menyombongkan diri melawan Yang Mahatinggi, menindas umat Tuhan, dan menajiskan tempat kudus, terutama dalam pasal 7, 8, 9, dan 11. Banyak penafsir melihat penggenapan awal dalam diri Antiokhus IV yang menodai Bait Allah pada abad kedua sebelum Masehi, sekaligus gambaran tentang penentang terakhir yang disebut Perjanjian Baru sebagai antikristus atau manusia durhaka. Nada Daniel selalu sama: penguasa sombong itu punya batas waktu yang ditetapkan, dan penghakiman selalu jatuh di pihak Tuhan.
Apakah Daniel sungguh dimasukkan ke dalam lubang singa?
Kitab ini menceritakannya sebagai peristiwa nyata, lengkap dengan nama raja, prosedur hukum Persia yang tidak dapat dicabut, batu penutup, dan cap segel. Gereja sejak awal membacanya sebagai sejarah, bukan perumpamaan. Yang menarik, penekanan Daniel 6 bukan pada singa-singanya, melainkan pada kebiasaan doa Daniel dan pada pengakuan bahwa Allahnya sanggup melepaskan. Daniel 6:11 memperlihatkan bahwa ia tetap berdoa tiga kali sehari seperti biasa, walau tahu risikonya. Mukjizatnya besar, tetapi keteguhan hati sebelum mukjizat itulah pusat kisahnya.
Apa bedanya Kitab Daniel di Alkitab Protestan dan Katolik?
Alkitab Protestan memuat dua belas pasal Daniel yang berasal dari naskah Ibrani dan Aram. Alkitab Katolik dan Ortodoks mengikuti tradisi Yunani yang memuat tambahan, yaitu Nyanyian Tiga Pemuda di dalam pasal 3 serta kisah Susana dan kisah Bel dan Naga sebagai pasal 13 dan 14. Perbedaan ini menyangkut daftar kanon, bukan isi pokok pesannya. Semua tradisi Kristen membaca inti Daniel dengan cara yang sama: Tuhan berkuasa atas segala kerajaan, dan Anak Manusia akan menerima Kerajaan yang tidak akan musnah.
Panduan membaca Kitab Daniel
Dua belas pasal terasa pendek, tetapi Daniel bukan kitab untuk dilarikan dalam satu malam. Berikut cara membaca yang sudah terbukti membantu banyak orang.
Minggu pertama, bacalah pasal 1 sampai 3 dengan lambat, dan setiap kali Anda selesai satu pasal, tanyakan satu pertanyaan saja: di mana tekanan untuk menyerah, dan apa bentuk kesetiaannya. Perhatikan bahwa Daniel 1:8 terjadi jauh sebelum krisis besar, dan bahwa Daniel 3:17-18 tidak menuntut jaminan hasil.
Minggu kedua, bacalah pasal 4 sampai 6. Di sini Anda akan melihat dua raja yang direndahkan dan satu orang tua yang tetap berlutut. Bacalah Daniel 6:11 dengan pertanyaan pribadi: kebiasaan rohani apa yang sudah cukup dalam sehingga tidak bisa dihapus oleh perubahan keadaan.
Minggu ketiga, mulailah bagian penglihatan, tetapi mulailah dengan pasal 7 dan pasal 9, bukan dengan pasal 8 atau pasal 11. Pasal 7 memberi Anda Anak Manusia; pasal 9 memberi Anda doa. Bacalah doa Daniel 9:4 sampai 19 dengan suara pelan, seolah Anda ikut mendoakannya bagi bangsa Anda sendiri, lalu berhenti lama di Daniel 9:24 dan pikirkan bagaimana keenam tujuan itu digenapi di salib.
Minggu keempat, bacalah pasal 8, 10, 11, dan 12 sekaligus, tanpa berhenti untuk memecahkan setiap detail. Tujuannya adalah merasakan arus besarnya: kekuasaan datang dan pergi, umat Tuhan mengalami masa sesak, dan akhirnya debu tanah dibuka dalam Daniel 12:2. Baru sesudah itu, jika Anda mau, gunakan catatan Alkitab untuk menelusuri detail sejarahnya.
Beberapa rambu tambahan. Jangan mulai dari bagan akhir zaman buatan orang lain sebelum Anda membaca teksnya sendiri. Bacalah Daniel bersama Yeremia 29 dan Yeremia 25 untuk memahami latar pembuangannya, lalu bersama Markus 13 dan Wahyu 4 sampai 5 untuk melihat gemanya di Perjanjian Baru. Dan setiap kali Anda menemukan bagian yang tidak Anda mengerti, tanyakan apa yang bagian itu ingin lakukan pada hati Anda, bukan hanya apa artinya. Daniel sendiri mengaku ada penglihatan yang tidak ia pahami, dan ia tetap disebut orang yang sangat dikasihi.
Sebagai penutup
Kitab Daniel ditulis bagi orang-orang yang kalah. Kota mereka hancur, ibadah mereka terputus, dan hidup mereka diatur oleh kekuasaan yang menyembah patung. Ke tengah situasi itu Tuhan tidak mengirimkan jadwal terperinci tentang kapan semuanya berakhir. Ia mengirimkan penglihatan tentang takhta yang tidak berguncang, dan Ia memberi mereka orang-orang seperti Daniel dan tiga rekannya yang memperlihatkan bahwa kesetiaan sederhana masih mungkin.
Itulah sebabnya nubuat dan kesaksian hidup berjalan bersama dalam kitab ini. Anda tidak sedang diajak menebak angka; Anda sedang diajak berdiri tegak di tempat Anda ditempatkan hari ini, dengan hati yang sudah memutuskan lebih dulu, dengan jendela doa yang tetap terbuka, dan dengan keyakinan bahwa Anak Manusia telah menerima kekuasaan yang tidak akan lenyap.
Untuk langkah berikutnya, ambil satu ayat dari halaman ini dan tinggallah di dalamnya seminggu penuh, misalnya Daniel 3:17-18 atau Daniel 12:2. Lalu bacalah Injil Markus 13 dan 14 dengan mata yang baru; Anda akan mendengar Daniel bergema di mulut Yesus sendiri, dan Kerajaan yang dulu hanya terlihat dari kejauhan akan terasa dekat sekali.