Kitab Pengkhotbah: Ketika Hidup Terasa Sia-Sia, Apa Kata Alkitab?
Pendahuluan
Pukul sebelas malam, lampu kantor masih menyala. Laporan sudah selesai, tetapi besok akan ada laporan baru. Gaji naik, cicilan juga naik. Anak-anak tumbuh, dan tiba-tiba kamu sadar bahwa sepuluh tahun terakhir lewat seperti satu minggu. Lalu datang pertanyaan yang jarang berani kita ucapkan di persekutuan doa: sebenarnya, untuk apa semua ini?
Ada satu kitab di Alkitab yang tidak menegur kamu karena bertanya begitu. Kitab itu justru mengucapkan pertanyaan itu lebih keras dan lebih jujur daripada yang pernah kamu berani pikirkan. Namanya Kitab Pengkhotbah.
Di halaman ini kamu akan menemukan siapa penulisnya, kapan kitab ini lahir, bagaimana kitab ini disusun, apa tema-tema besarnya, dan mengapa kitab yang tampak paling gelap dalam Perjanjian Lama justru bisa menjadi kitab yang paling melegakan hati seseorang yang sedang lelah. Di bagian akhir ada panduan membaca yang bisa langsung kamu pakai.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini tidak membaca Kitab Pengkhotbah sebagai kitab orang pesimis yang perlu diselamatkan oleh ayat-ayat manis di pasal terakhir. Panduan ini membacanya sebagai pelatihan membuka genggaman.
Kata Ibrani yang diulang hampir empat puluh kali di kitab ini, hebel, berarti uap, napas, kabut pagi. Uap tidak bisa digenggam. Itulah persoalan kita: kita mencoba menggenggam hidup yang memang tidak dirancang untuk digenggam, lalu marah kepada Allah karena tangan kita kosong. Kitab Pengkhotbah membongkar satu per satu semua yang kita kepalkan: pekerjaan, uang, prestasi, bahkan hikmat. Bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan supaya tangan kita akhirnya terbuka dan bisa menerima hidup sebagai pemberian dari tangan Allah.
Siapa penulisnya, kapan, dan dalam situasi apa?
Kitab ini membuka diri dengan sebuah perkenalan yang langsung mengundang tanda tanya: "Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem" (Pengkhotbah 1:1). Kata "Pengkhotbah" adalah terjemahan dari kata Ibrani Qohelet, yang berarti "orang yang mengumpulkan", entah mengumpulkan orang untuk berbicara di hadapan mereka, entah mengumpulkan amsal dan pengamatan hidup. Ia bukan nama diri, melainkan sebuah jabatan atau gelar, semacam "Sang Pengumpul" atau "Sang Guru".
Tradisi Yahudi dan Kristen sejak lama mengaitkan kitab ini dengan Salomo. Alasannya masuk akal. Hanya Salomo yang bisa berkata bahwa ia lebih berhikmat daripada semua pendahulunya di Yerusalem, hanya dia yang mampu membangun istana, kebun, kolam, harem, dan kekayaan sebesar yang digambarkan di pasal 2. Eksperimen besar dalam Pengkhotbah 1:12 sampai 2:26 hanya mungkin dilakukan oleh orang dengan dompet raja. Kalau kitab ini memang lahir dari pena Salomo, waktunya sekitar abad kesepuluh sebelum Kristus, mungkin di akhir hidupnya, setelah ia sendiri merasakan pahitnya hati yang terbagi.
Namun kitab ini tidak pernah menyebut nama Salomo satu kali pun. Dan ada satu detail yang sering terlewat: di bagian penutup, Pengkhotbah dibicarakan sebagai orang ketiga, "Selain itu Pengkhotbah masih mengajarkan pengetahuan kepada orang banyak". Artinya, ada seorang narator atau penyusun yang membingkai perkataan Sang Pengumpul dan menutupnya dengan kesimpulan. Sebagian ahli juga menunjuk ciri-ciri bahasa Ibrani yang lebih muda dan beberapa kata serapan dari bahasa Aram, lalu menempatkan penyusunan akhirnya pada masa sesudah pembuangan, kira-kira abad kelima sampai ketiga sebelum Kristus.
Kita tidak perlu bertengkar sampai berdarah soal ini. Otoritas Kitab Pengkhotbah tidak bergantung pada apakah kita bisa memastikan tanggalnya, sebab Roh Kudus yang mengilhamkannya tidak menunggu persetujuan para ahli. Yang jelas, kitab ini datang dari dunia hikmat Israel, berdiri sejajar dengan Amsal dan Ayub, dan lahir dari pengalaman nyata seseorang yang sudah mencoba segalanya dan pulang dengan tangan kosong.
Latar rohaninya juga penting. Israel mewarisi janji-janji besar, tetapi hidup sehari-hari sering tidak terasa seperti janji besar. Orang jujur miskin, orang licik kaya. Orang bijak mati, orang bodoh juga mati, dan dalam dua generasi nama keduanya dilupakan. Ke dalam jurang antara teologi yang benar dan kenyataan yang pahit itulah Kitab Pengkhotbah berbicara. Orang Yahudi sampai hari ini membacanya pada Hari Raya Pondok Daun, perayaan panen yang penuh sukacita, sambil duduk di pondok-pondok yang rapuh dan sementara. Sukacita dan kerapuhan, dirayakan bersama. Itu bukan kebetulan; itu kunci membaca kitab ini.
Apa kata Alkitab tentang hidup yang terasa sia-sia?
Kitab ini tidak menunda-nunda. Ia langsung menaruh tesisnya di depan pintu: "Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia" (Pengkhotbah 1:2). Dalam bahasa Ibrani ini adalah bentuk superlatif yang paling kuat, semacam "uap dari segala uap". Bukan berarti hidup tidak punya nilai, melainkan hidup tidak bisa dipegang. Ia menguap di antara jari-jari kita, persis seperti napas pada pagi yang dingin: nyata, kelihatan sebentar, lalu hilang.
Untuk membuktikannya, Sang Pengumpul melakukan sesuatu yang berani. Ia tidak berkhotbah dari mimbar; ia turun ke laboratorium hidupnya sendiri. Ia mencoba hikmat sampai batas, mencoba kesenangan sampai muak, membangun proyek-proyek besar, mengumpulkan harta, penyanyi, kebun, dan segala yang diinginkan matanya. Lalu ia berdiri di puncak semua itu dan menuliskan salah satu ayat paling jujur dalam Alkitab: "Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kuusahakan, maka nyatalah bahwa semuanya itu kesia-siaan dan usaha menjaring angin, karena tidak ada keuntungan di bawah matahari" (Pengkhotbah 2:11).
"Menjaring angin." Kalimat itu menggambarkan hampir seluruh energi manusia modern. Kita mengejar sesuatu yang tidak bisa ditangkap, dengan alat yang tidak mungkin menangkapnya, lalu menyalahkan diri sendiri karena jaringnya kosong.
Perhatikan juga anak kunci yang muncul hampir tiga puluh kali: "di bawah matahari". Itu bukan hiasan gaya bahasa. Itu batas cakrawala. Selama pandangan kita hanya sejauh apa yang ada di bawah matahari, di dalam siklus kerja, makan, tidur, menua, dan mati, maka kesimpulan Pengkhotbah tidak bisa dibantah. Segalanya memang uap. Kitab ini sengaja memaksa kita hidup di dalam batas itu sampai kita kehabisan napas, supaya kita akhirnya menengadah ke atas matahari.
Dan di tengah semua itu, ada kalimat-kalimat yang mengubah segalanya. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya" (Pengkhotbah 3:1). Ini bukan puisi romantis untuk kartu ucapan. Ini pengakuan bahwa waktu bukan milik kita. Ada masa menanam dan masa mencabut, masa menangis dan masa tertawa, dan kita tidak memegang saklarnya. Lalu datang pengakuan yang lebih dalam lagi: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir" (Pengkhotbah 3:11).
Di sinilah diagnosis Pengkhotbah menjadi paling tajam. Allah menaruh kekekalan di dalam hati manusia, tetapi tidak memberikan mata untuk melihat keseluruhannya. Kita punya rasa rindu seukuran kekekalan di dalam tubuh yang berumur tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Itulah sebabnya rumah yang bagus tidak pernah cukup bagus, dan pencapaian yang besar terasa kosong dua minggu kemudian. Bukan karena ada yang salah dengan rumah dan pencapaiannya, tetapi karena tidak ada barang di bawah matahari yang bisa mengisi lubang seukuran kekekalan.
Kitab ini juga sangat konkret soal uang, dan kalimatnya terasa seperti ditulis untuk zaman kartu kredit: "Orang yang mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan orang yang mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun kesia-siaan" (Pengkhotbah 5:9). Bukan uangnya yang dihakimi, melainkan mencintainya. Cinta uang punya satu ciri khas: ia tidak pernah mengumumkan bahwa kamu sudah sampai.
Uap tidak bisa digenggam, hanya bisa dihirup.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Pengkhotbah tidak jatuh dari langit sebagai kitab yang aneh dan menyendiri. Ia berdiri di jantung cerita Alkitab.
Kembalilah ke Kejadian 3. Setelah manusia memberontak, tanah dikutuk, pekerjaan menjadi berat, dan manusia kembali menjadi debu. Kitab Pengkhotbah adalah laporan lapangan dari dunia pasca-Kejadian 3, ditulis oleh seseorang yang menolak berpura-pura. Semua tema kitab ini, kelelahan kerja, kematian yang merata, keadilan yang tertunda, adalah gema langsung dari kutuk itu. Menarik sekali bahwa nama anak Hawa yang dibunuh, Habel, adalah kata yang sama dengan hebel: uap. Kehidupan manusia yang benar pun bisa lenyap dalam satu pagi.
Di dalam kelompok kitab hikmat, Pengkhotbah berfungsi sebagai pasangan yang jujur bagi Amsal. Amsal mengajarkan pola: hidup benar biasanya menghasilkan berkat. Pengkhotbah dan Ayub berdiri di sampingnya dan berkata bahwa hidup tidak selalu mengikuti pola, dan iman harus cukup kuat untuk tetap berpegang ketika polanya patah. Mazmur-mazmur ratapan berbicara dengan nada yang sama; Mazmur 39 bahkan memakai gambaran uap untuk umur manusia.
Lalu Perjanjian Baru mengambil kata ini dan menempatkannya di tempat yang mengejutkan. Rasul Paulus menulis: "Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan" (Roma 8:20). Kata "kesia-siaan" di ayat itu adalah kata yang sama yang dipakai penerjemah Yunani untuk hebel dalam Pengkhotbah. Paulus mengakui diagnosis Sang Pengumpul sepenuhnya, lalu menambahkan empat kata yang tidak bisa ditemukan di bawah matahari: "tetapi dalam pengharapan". Kesia-siaan itu bukan takdir abadi, melainkan masa sementara yang di dalamnya Allah sedang mengerjakan pembebasan.
Yakobus melanjutkan bahasa yang sama: "Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap" (Yakobus 4:14). Dan Yesus Kristus sendiri menceritakan perumpamaan yang bisa dibaca sebagai Pengkhotbah 2 dalam bentuk cerita: seorang kaya yang lumbungnya penuh, rencananya rapi, hidupnya nyaman, lalu terdengar suara, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan itu, untuk siapakah nanti?" (Lukas 12:20). Itu persis keluhan Pengkhotbah 2:18-19 tentang harta yang harus ditinggalkan kepada orang yang belum tentu bijak.
Dan di sinilah semuanya bermuara kepada Kristus. Sang Pengumpul berkeluh bahwa kematian menghapus segalanya sehingga tidak ada keuntungan yang tersisa. Lalu satu Orang masuk ke dalam kematian dan keluar kembali. Karena kebangkitan itu, Paulus bisa menutup pasal terpanjangnya tentang kebangkitan dengan kalimat yang secara langsung membalik Pengkhotbah 2:11: "Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia" (1 Korintus 15:58). Jaring kita tetap tidak bisa menangkap angin. Tetapi tangan yang terbuka kepada Kristus tidak pulang kosong, karena Dia yang memegang kekekalan memegang juga pekerjaan kecil kita hari ini.
Struktur dan tema utama
Kitab Pengkhotbah terdiri dari dua belas pasal dan tersusun lebih rapi daripada yang tampak pada pembacaan pertama. Ia dibingkai oleh dua kalimat kembar: motto "kesia-siaan belaka" di Pengkhotbah 1:2 dan ulangannya di Pengkhotbah 12:8. Segala sesuatu di antaranya berada di dalam pelukan dua kalimat itu, seperti isi rumah di antara dua dinding.
Bagian pembuka, Pengkhotbah 1:1-11, memberi judul dan puisi tentang siklus alam: matahari terbit dan tenggelam, angin berputar, sungai mengalir ke laut yang tidak pernah penuh. Kesimpulannya terkenal: "Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" (Pengkhotbah 1:9). Roda berputar, dan kita hanya penumpang sesaat.
Bagian kedua, Pengkhotbah 1:12 sampai 2:26, adalah eksperimen kerajaan. Di sini semua genggaman kita diuji satu per satu dan dilepaskan satu per satu: hikmat, hiburan, pembangunan, kekayaan, warisan. Tetapi di ujung bagian yang paling kelam ini muncul kalimat pertama tentang sukacita yang diterima, bukan direbut: makan, minum, dan menikmati jerih payah adalah pemberian dari tangan Allah.
Bagian ketiga, kira-kira Pengkhotbah 3:1 sampai 6:12, bergerak dari waktu ke Allah. Ada puisi tentang masa dan waktu, pengakuan tentang kekekalan di dalam hati, pengamatan tentang penindasan dan kesepian, nasihat tentang persahabatan, peringatan tajam tentang ibadah yang banyak bicara tetapi sedikit takut, dan pembongkaran ilusi uang di pasal lima. Tema besarnya: kamu bukan Allah, dan itu kabar baik.
Bagian keempat, Pengkhotbah 7:1 sampai 11:6, adalah kumpulan hikmat praktis untuk hidup di dunia yang tidak bisa diprediksi. Di sini kita diajak ke rumah duka untuk belajar hidup, diperingatkan agar tidak terlalu yakin bisa membaca rencana Allah, diberi nasihat untuk bekerja dengan segenap tenaga sekarang, dan diingatkan bahwa kebijaksanaan lebih kuat daripada kekuatan, meskipun sering tidak dihargai.
Bagian kelima, Pengkhotbah 11:7 sampai 12:8, adalah puisi penutup tentang masa muda dan usia tua, salah satu gambaran paling indah dan paling menggetarkan tentang penuaan dalam seluruh sastra dunia: tangan yang gemetar, mata yang kabur, telinga yang tuli, dan akhirnya tali perak yang putus.
Dan bagian keenam, Pengkhotbah 12:9-14, adalah epilog dari sang narator: pujian bagi kerja keras Sang Pengumpul, peringatan bahwa membuat banyak buku melelahkan tubuh, lalu kesimpulan yang menaruh segala kesia-siaan pada tempatnya.
Tema utamanya bisa dirangkum dalam empat benang yang terus kembali: pertama, segala sesuatu di bawah matahari adalah uap dan tidak bisa digenggam; kedua, kematian meratakan semua perhitungan manusia; ketiga, sukacita sehari-hari adalah pemberian Allah yang harus diterima, bukan hasil yang harus direbut; keempat, takut akan Allah adalah satu-satunya pijakan yang tidak menguap.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Kalau kamu hanya punya waktu untuk tiga ayat, ambil ketiga ayat ini dan biarkan mereka bekerja di dalam hati.
Yang pertama, Pengkhotbah 3:11: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." Ayat ini menjelaskan kegelisahan kita dengan lebih baik daripada buku psikologi mana pun. Kamu tidak gelisah karena kurang bersyukur; kamu gelisah karena di dalam dirimu ada ruang seukuran kekekalan yang memang tidak bisa diisi oleh apa pun yang berumur pendek. Bagian kedua ayat ini sama pentingnya: kamu tidak akan bisa melihat gambar utuh rencana Allah. Kalau kamu menuntut penjelasan penuh sebelum mau percaya, kamu akan menunggu selamanya. Hidup dengan Allah selalu berarti hidup dengan potongan gambar di tangan dan percaya kepada Tangan yang memegang keseluruhannya.
Yang kedua, Pengkhotbah 12:1: "Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum datang hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang engkau tidak menyukainya." Ini bukan ancaman untuk menakut-nakuti remaja, melainkan undangan penuh kasih. "Ingatlah" dalam Alkitab bukan sekadar mengingat dalam kepala, tetapi memperhitungkan Dia dalam setiap keputusan. Dan kata yang dipakai bukan "Hakim" atau "Raja", melainkan "Penciptamu": Dia yang membuatmu, yang tahu untuk apa kamu dibuat. Waktu terbaik membangun hidup di atas fondasi itu adalah ketika tenaga masih ada, bukan ketika semuanya sudah runtuh. Banyak orang menemukan Allah di rumah sakit; betapa jauh lebih baik menemukan Dia di masa kuat.
Yang ketiga, Pengkhotbah 12:13: "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan peganglah perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." Setelah dua belas pasal membongkar segala genggaman, inilah satu-satunya hal yang tidak dibongkar. Takut akan Allah bukan rasa gemetar seorang budak, tetapi hormat yang membuat kamu berhenti berpura-pura menjadi pusat dunia. Dan perhatikan alasannya di ayat berikutnya: ada pengadilan. Justru karena ada pengadilan, hidup di bawah matahari tidak berakhir sebagai uap tanpa arti. Setiap perbuatan diperhitungkan oleh Allah, bahkan yang tersembunyi, dan bagi kita yang ada di dalam Kristus, perhitungan itu sudah ditanggung oleh Dia di kayu salib.
Panduan membaca Kitab Pengkhotbah
Mulailah dengan membaca seluruh kitab dalam satu kali duduk. Butuh sekitar empat puluh lima menit. Banyak orang tersandung di Pengkhotbah karena membacanya satu ayat sehari, lalu satu ayat itu terasa seperti tembok gelap tanpa jendela. Kitab ini dirancang sebagai satu perjalanan; dibaca utuh, nada putus asa di pasal-pasal awal terasa sebagai bagian dari argumen, bukan sebagai kesimpulan.
Sesudah itu, pakailah tujuh hari untuk memperlambat. Hari pertama, bacalah Pengkhotbah 1 dan 2 dan tanyakan: genggaman apa yang paling kuat di tanganku sekarang? Hari kedua, Pengkhotbah 3 dan 4, lalu duduk lama di Pengkhotbah 3:11 dan tulis satu kerinduan yang tidak pernah bisa dipuaskan oleh apa pun. Hari ketiga, Pengkhotbah 5 dan 6, dengan fokus pada ibadah dan uang; bacalah Pengkhotbah 5:9 sambil membuka catatan pengeluaranmu. Hari keempat, Pengkhotbah 7 dan 8, dan latih diri menerima bahwa kamu tidak harus memahami segalanya. Hari kelima, Pengkhotbah 9 dan 10, tentang kematian dan hidup yang tetap harus dijalani dengan sukacita. Hari keenam, Pengkhotbah 11 dan 12:1-8, dan bacalah Pengkhotbah 12:1 pelan-pelan, berapa pun umurmu. Hari ketujuh, Pengkhotbah 12:9-14, lalu langsung lanjutkan ke Roma 8:18-25 dan 1 Korintus 15:50-58. Biarkan Perjanjian Baru menjawab Perjanjian Lama.
Tiga kebiasaan akan sangat menolong. Pertama, tandai setiap kali kamu menemukan kalimat "di bawah matahari" dan sadari bahwa itu adalah batas cakrawala yang sengaja dipasang. Kedua, jangan mencabut satu ayat dari kitab ini untuk dijadikan doktrin sendiri; Pengkhotbah adalah percakapan panjang yang baru selesai di pasal dua belas. Ketiga, bacalah bersama satu orang lain, syukur kalau orang itu sedang lelah juga. Pengkhotbah adalah kitab yang tumbuh ketika dibicarakan berdua, seperti nasihatnya sendiri bahwa berdua lebih baik daripada seorang diri.
Kalau hatimu sedang sangat gelap, bacalah kitab ini bersama Injil Yohanes. Pengkhotbah memberi nama pada kekosonganmu; Yesus Kristus memberi jawaban atas kekosongan itu.
Cermin
Sekarang izinkan saya berhenti menjelaskan dan berbicara langsung kepadamu.
Kamu tahu adegan itu, bukan? Kamu bekerja keras, dan minggu depan pekerjaan itu sudah dilupakan orang. Kamu menabung, dan sebuah biaya rumah sakit menghapusnya dalam dua hari. Kamu merawat tubuhmu, dan tubuh itu tetap menua tanpa permisi. Kamu memberi seluruh hidupmu untuk anak-anakmu, dan mereka tumbuh lalu pergi, seperti seharusnya. Setiap kali kamu merasa akhirnya bisa menggenggam sesuatu, tanganmu terbuka lagi.
Pengkhotbah tidak datang untuk menghibur kamu dengan kalimat, "Sabar, nanti semuanya akan masuk akal." Ia datang untuk bertanya sesuatu yang lebih tidak nyaman: siapa yang bilang hidup ini memang boleh kamu genggam? Mungkin yang selama ini melelahkanmu bukan hidupmu, melainkan cengkeramanmu. Mungkin doamu bertahun-tahun ini pada dasarnya adalah permohonan supaya Allah membantu kamu mengontrol apa yang hanya Dia yang berhak pegang.
Ada kelegaan besar di balik pintu ini. Kalau hidup adalah uap, maka kamu tidak dipanggil untuk mengamankan seluruh masa depanmu. Kamu dipanggil untuk menerima hari ini dari tangan Allah: makan siang yang sederhana, pekerjaan yang tidak glamor, pasangan yang tidak sempurna, tubuh yang mulai sakit-sakitan, dan waktu yang terbatas. Terima semuanya sebagai pemberian, bukan sebagai hasil negosiasi.
Pengkhotbah tidak membunuh harapan; ia membunuh ilusi.
Jadi hari ini, di mana kamu paling mengepalkan tangan? Pada karier? Pada rekening? Pada penilaian orang tentangmu? Pada rencana yang kamu susun untuk sepuluh tahun ke depan? Bawa kepalan itu kepada Tuhan, dan minta Dia membuka jari-jarimu satu per satu. Bukan supaya kamu kehilangan segalanya, tetapi supaya tangan yang sama akhirnya bisa menerima, memberi, dan memegang tangan orang lain.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sebenarnya sangat dekat dengan tema kitab ini, jauh lebih dekat daripada yang kita sangka. Mereka tahu rasanya membangun benteng balok yang paling bagus, lalu benteng itu roboh. Mereka tahu rasanya menunggu hari ulang tahun berbulan-bulan, lalu pesta itu selesai dalam dua jam dan hati terasa aneh.
Cara paling sederhana menjelaskan Kitab Pengkhotbah kepada anak adalah dengan gelembung sabun atau napas di kaca. Tunjukkan bahwa gelembungnya indah, tetapi tidak bisa disimpan di dalam kotak. Lalu katakan: Alkitab punya satu kitab yang bilang banyak hal di dunia ini seperti gelembung itu. Bukan jelek, bukan tidak penting, tetapi tidak bisa kita simpan selamanya. Karena itu kita menikmatinya dengan gembira sambil berterima kasih kepada Allah, dan kita tidak menaruh seluruh hati kita pada gelembung, melainkan pada Allah yang tidak pernah hilang. Tutup dengan Pengkhotbah 12:1 dalam bahasa anak: ingatlah Allah yang membuatmu, mulai sekarang, selagi kamu masih kecil dan kuat.
Hindari membuat kitab ini terasa menakutkan. Nadanya bukan "semuanya sia-sia, jadi jangan terlalu senang", melainkan "semuanya pemberian, jadi nikmatilah dan pegang tangan Allah".
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus untuk berbagai usia: versi sederhana dengan gambar dan permainan untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun, versi cerita dan pertanyaan diskusi untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun, dan versi yang lebih jujur dan reflektif untuk remaja dua belas tahun ke atas, yang justru sering sangat tersentuh oleh kejujuran kitab ini. Pilih versi yang cocok dengan anak di depanmu, lalu bicarakan bersama.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa penulis Kitab Pengkhotbah?
Kitab ini memperkenalkan penulisnya sebagai "Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem" (Pengkhotbah 1:1), dan tradisi Yahudi serta Kristen sejak lama mengaitkannya dengan Salomo, terutama karena eksperimen kekayaan dan hikmat di pasal 1 dan 2 hanya mungkin dilakukan seorang raja sekaya dia. Namun nama Salomo tidak pernah disebut, dan bagian penutup berbicara tentang Pengkhotbah sebagai orang ketiga, sehingga banyak penafsir melihat adanya seorang penyusun yang membingkai perkataannya. Otoritas kitab ini tidak bergantung pada kepastian itu, sebab ia diterima sebagai firman Allah yang diilhamkan.
Apa arti kata "kesia-siaan" dalam Kitab Pengkhotbah?
Kata Ibraninya adalah hebel, yang secara harfiah berarti uap, napas, atau kabut. Kata ini muncul hampir empat puluh kali dan tidak terutama berarti "tidak ada gunanya", melainkan "tidak bisa dipegang, cepat lenyap, tidak bisa dikendalikan". Karena itu Pengkhotbah 1:2 sebaiknya dibaca bukan sebagai "hidup tidak ada artinya", tetapi sebagai "hidup itu seperti uap di tanganmu". Perbedaan ini besar sekali: yang pertama membuat kita putus asa, yang kedua membuat kita membuka tangan dan belajar menerima hidup sebagai pemberian Allah.
Apakah Kitab Pengkhotbah mengajarkan bahwa hidup tidak ada artinya?
Tidak. Kitab ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun hal di bawah matahari yang cukup besar untuk menjadi arti hidup kita. Itu sebabnya penulisnya membongkar hikmat, kesenangan, pekerjaan, dan kekayaan satu per satu, lalu mengakhiri seluruh kitabnya dengan pijakan yang tidak pernah menguap: "takutlah akan Allah dan peganglah perintah-perintah-Nya" (Pengkhotbah 12:13). Di tengah jalan pun ia berulang kali mengajak kita menikmati makanan, pekerjaan, dan sukacita sehari-hari sebagai pemberian dari tangan Allah. Itu bukan nada seorang nihilis.
Kitab Pengkhotbah ada berapa pasal?
Kitab Pengkhotbah terdiri dari dua belas pasal dan tergolong kitab yang cukup pendek, bisa dibaca seluruhnya dalam kurang dari satu jam. Ia termasuk kelompok kitab hikmat dalam Perjanjian Lama bersama Ayub, Mazmur, Amsal, dan Kidung Agung. Dalam susunan Alkitab Ibrani, kitab ini termasuk lima kitab yang dibacakan pada hari-hari raya, dan Pengkhotbah dibaca pada Hari Raya Pondok Daun. Karena pendek dan terstruktur, kitab ini sangat cocok dibaca utuh dalam satu kali duduk sebelum dipelajari bagian demi bagian.
Apa ayat paling terkenal dari Kitab Pengkhotbah?
Yang paling sering dikutip adalah Pengkhotbah 3:1 beserta lanjutannya: "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." Sering ayat ini dipakai sebagai penghiburan yang manis, padahal maksud aslinya lebih tajam: waktu bukan milik kita, dan kita tidak bisa memaksa musim datang lebih cepat. Ada masa menangis yang tidak bisa kita lewati, dan ada masa tertawa yang tidak bisa kita rencanakan. Ayat ini mengajar kita tunduk pada pengaturan waktu Allah, bukan menuntut agar hidup mengikuti jadwal kita.
Mengapa Kitab Pengkhotbah terasa pesimis padahal ada di dalam Alkitab?
Karena Alkitab tidak takut pada kejujuran. Allah memasukkan satu kitab yang berani mengucapkan keraguan, kelelahan, dan kemarahan kita terhadap ketidakadilan, supaya kita tahu bahwa iman tidak harus berpura-pura. Nada gelap pasal-pasal awal adalah bagian dari argumen, bukan kesimpulan akhirnya. Pengkhotbah membawa kita sampai ke dasar semua yang kita andalkan, lalu menunjukkan bahwa di dasar itu masih ada Allah. Banyak orang percaya justru menemukan kitab ini sebagai teman paling setia pada masa paling sulit dalam hidup mereka.
Apa arti ungkapan "di bawah matahari" dalam Kitab Pengkhotbah?
Ungkapan ini muncul hampir tiga puluh kali dan menandai sudut pandang yang dipakai penulis: kehidupan dilihat semata-mata dari dalam dunia ini, tanpa melihat ke atas dan ke depan. Selama kita berada di dalam batas itu, kesimpulan bahwa segalanya menguap memang tidak bisa dibantah, sebab semua yang di bawah matahari berakhir di kubur. Itu sebabnya Pengkhotbah 2:11 berkata tidak ada keuntungan di bawah matahari. Kitab ini sengaja membuat kita kehabisan napas di dalam batas itu, sampai kita mencari jawaban di atas matahari.
Apa perbedaan Kitab Pengkhotbah dengan Kitab Amsal?
Amsal mengajarkan pola normal kehidupan: hidup benar, rajin, dan berhikmat biasanya membawa berkah. Pengkhotbah berdiri di sampingnya dan mengakui pengecualian-pengecualian yang menyakitkan: orang jujur bisa miskin, orang licik bisa makmur, dan kematian mendatangi orang bijak dan orang bodoh sama saja. Keduanya sama-sama benar dan saling membutuhkan. Tanpa Amsal, kita menjadi sinis; tanpa Pengkhotbah, iman kita rapuh dan mudah runtuh begitu hidup tidak mengikuti rumus. Bersama-sama keduanya membentuk hikmat yang dewasa dan tahan cuaca.
Apakah Kitab Pengkhotbah membolehkan kita menikmati makan, minum, dan kesenangan?
Bukan hanya membolehkan, kitab ini justru memerintahkannya. Setidaknya tujuh kali Pengkhotbah menganjurkan agar kita makan, minum, dan menikmati hasil jerih payah kita, dan setiap kali ia menambahkan alasan teologisnya: itu pemberian dari tangan Allah. Bedanya dengan hedonisme sangat jelas. Hedonisme mengejar kesenangan untuk mengisi kekosongan; Pengkhotbah menerima kesenangan sederhana dari tangan Allah tanpa menuntut kesenangan itu menjadi juruselamat. Secangkir kopi, pekerjaan yang selesai, tawa bersama keluarga: semuanya karunia, bukan pengganti Allah.
Bagaimana Kitab Pengkhotbah menunjuk kepada Yesus Kristus?
Kitab ini adalah pertanyaan besar yang jawabannya baru datang di Perjanjian Baru. Sang Pengumpul mengeluh bahwa kematian menghapus segala keuntungan manusia; Yesus Kristus masuk ke dalam kematian dan bangkit, sehingga Paulus bisa menulis bahwa di dalam Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1 Korintus 15:58). Paulus juga mengakui bahwa seluruh ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan, tetapi menambahkan "dalam pengharapan" (Roma 8:20). Kekekalan yang ditanam Allah di dalam hati manusia menurut Pengkhotbah 3:11 menemukan rumahnya dalam Kristus, yang memberi hidup yang berkelimpahan.
Apakah Pengkhotbah 9:5 mengajarkan bahwa orang mati tidak sadar?
Ayat itu harus dibaca dalam kerangka kitabnya, yaitu pengamatan tentang apa yang terlihat "di bawah matahari". Dari sudut pandang orang hidup, orang mati memang tidak lagi ambil bagian dalam apa pun di dunia ini, tidak bekerja, tidak menerima upah, dan namanya pun terlupakan. Pengkhotbah sendiri tidak berhenti di situ, sebab ia menyatakan bahwa roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya dan bahwa Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan. Menjadikan satu ayat ini sebagai doktrin lengkap tentang keadaan orang mati berarti mengabaikan sudut pandang yang sengaja dipasang penulisnya.
Bagaimana cara membaca Kitab Pengkhotbah saat sedang lelah atau depresi?
Bacalah pelan dan jangan sendirian. Mulailah bukan dari pasal 1, melainkan dari pasal 3 dan pasal 11 sampai 12, agar kamu lebih dahulu mendengar suara penerimaan dan pengharapan sebelum masuk ke pembongkaran yang keras. Biarkan kitab ini menjadi izin untuk berhenti berpura-pura kuat; Allah sendiri memasukkan kejujuran ini ke dalam Alkitab. Lalu selalu pasangkan dengan Injil, misalnya undangan Yesus dalam Matius 11:28. Dan kalau kegelapan itu berat dan berkepanjangan, ceritakanlah kepada gembala, teman percaya, atau tenaga profesional. Itu bukan kurang iman, itu hikmat.
Sebagai penutup
Kitab Pengkhotbah adalah dua belas pasal pelatihan membuka tangan. Ia mengambil semua yang kita kepalkan, pekerjaan, uang, prestasi, kendali atas masa depan, bahkan hikmat kita sendiri, dan menunjukkan bahwa semuanya uap. Bukan tidak berharga, tetapi tidak bisa dipegang. Dan justru ketika tangan kita akhirnya terbuka, kita menemukan bahwa hidup memang selalu dimaksudkan untuk diterima, bukan direbut.
Yang sia-sia bukan hidupmu, melainkan genggamanmu.
Itulah sebabnya kitab yang kelihatan paling gelap ini berakhir dengan pijakan yang paling kokoh: takut akan Allah, pegang perintah-perintah-Nya, dan ingatlah Penciptamu selagi masih ada waktu. Di dalam Yesus Kristus, kalimat itu bukan lagi beban, melainkan pintu. Sebab Dia yang bangkit dari kubur telah memastikan bahwa pekerjaan kecil kita hari ini tidak hilang di dalam uap.
Langkah berikutnya sederhana. Ambil waktu satu jam minggu ini dan bacalah seluruh kitab ini dalam satu kali duduk, sambil menandai setiap kalimat "di bawah matahari". Lalu duduk diam sebentar dan tanyakan satu hal kepada Tuhan: jari mana yang perlu Engkau buka lebih dahulu?
