Kitab Ulangan: Pesan Terakhir Musa dan Panggilan untuk Mengasihi Tuhan
Pendahuluan
Bayangkan seorang pria berusia seratus dua puluh tahun berdiri di dataran Moab. Di belakangnya ada padang gurun yang menelan satu generasi penuh. Di depannya, di seberang Sungai Yordan, ada tanah yang sudah empat puluh tahun ia rindukan, dan ia tahu dengan pasti bahwa kakinya tidak akan pernah menjejak tanah itu. Ia tidak akan ikut. Dan justru di titik itu, dengan umat yang berkerumun di sekitarnya, Musa membuka mulutnya dan berkhotbah. Bukan mengeluh, bukan mengundurkan diri dengan pahit, melainkan memanggil umat yang akan hidup tanpa dia untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati.
Kitab Ulangan adalah khotbah itu. Dan di halaman ini Anda akan menemukan bagaimana kitab yang sering dianggap "kitab aturan yang membosankan" sebenarnya adalah salah satu kitab paling hangat di seluruh Perjanjian Lama: kitab yang diajarkan Yesus, dikutip Yesus, dan dihidupi Yesus.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini tidak membaca Ulangan sebagai kumpulan pasal hukum, melainkan sebagai pesan terakhir seorang gembala yang tahu ia akan ditinggalkan di tepi batas. Itu mengubah segalanya. Nada kitab ini bukan nada pengacara yang menuntut, melainkan nada seorang ayah tua yang mendesak anak-anaknya: jangan lupa, jangan keraskan hati, jangan tukar Tuhan dengan tanah yang Ia berikan. Dari sudut pandang itu, perintah "kasihilah" bukan beban tambahan di atas hukum, melainkan jantung yang memompa darah ke seluruh hukum. Dan setiap kali Musa berkata "ingatlah", ia sedang melawan penyakit yang paling mematikan dalam hidup beriman, yaitu lupa.
Hukum yang diucapkan dengan suara seorang yang mencintai.
Apa kata Alkitab tentang Kitab Ulangan?
Kitab Ulangan memperkenalkan dirinya sendiri sebagai "perkataan-perkataan yang disampaikan Musa kepada seluruh orang Israel di seberang sungai Yordan". Jadi sejak baris pertama, kitab ini mengaku sebagai kumpulan pidato, bukan arsip undang-undang. Nama Indonesianya, "Ulangan", berasal dari judul Yunani Deuteronomion, artinya "hukum yang kedua" atau "hukum yang diulang". Dalam bahasa Ibrani kitab ini disebut Devarim, "kata-kata", mengikuti kata pembukanya. Dua nama itu sudah merangkum isinya: kata-kata yang mengulang, demi generasi yang belum pernah mendengarnya sendiri.
Keadaan historisnya sangat spesifik. Israel sudah keluar dari Mesir, sudah menerima hukum di Sinai, sudah gagal memasuki tanah perjanjian karena ketidakpercayaan di Kadesh, dan sudah mengubur hampir seluruh generasi pertama di padang gurun. Yang berdiri di hadapan Musa sekarang adalah anak-anak dan cucu-cucu mereka. Mereka tidak melihat Laut Teberau terbelah. Mereka tidak mendengar guntur di Sinai dengan telinga sendiri. Mereka hanya mendengar cerita. Karena itu Musa mengulang: supaya iman yang diwarisi menjadi iman yang dimiliki.
Secara tradisional, Musa diakui sebagai penulis utama kitab ini, sesuai kesaksian kitab itu sendiri dan kesaksian Perjanjian Baru, termasuk Yesus yang menyebut tulisan Musa sebagai otoritas. Penutupnya, khususnya kisah kematian dan penguburan Musa di pasal 34, jelas ditulis oleh tangan lain, mungkin Yosua atau seorang penyunting kemudian yang diilhami Allah untuk menambahkan epilog. Pengakuan sederhana ini sudah lama dipegang orang Kristen ortodoks tanpa merusak otoritas kitab sama sekali. Tanggalnya terkait erat dengan Keluaran: entah sekitar abad kelima belas sebelum Kristus (bila 1 Raja-raja 6:1 dihitung secara harfiah) atau sekitar abad ketiga belas, dan dalam kedua kasus latarnya sama, yaitu bulan-bulan terakhir hidup Musa di dataran Moab.
Lalu apa pesan intinya? Inti Ulangan terdengar paling jernih dalam Ulangan 6:4, "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" Ayat ini dikenal sebagai Shema, dari kata Ibrani "dengarlah", dan menjadi doa pengakuan Israel sepanjang sejarah. Yang dituntut bukan pertama-tama kepatuhan, melainkan perhatian: dengarlah. Sebab satu-satunya Allah yang benar adalah Allah yang berbicara.
Dan apa akibat dari pengakuan itu? Ulangan 6:5 langsung menjawab, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu." Inilah yang membuat Ulangan unik di antara kitab-kitab hukum dunia kuno: perintah tertingginya bukan "bayarlah pajak" atau "persembahkan korban", melainkan "kasihilah". Allah perjanjian tidak hanya ingin tangan kita, Ia ingin hati kita.
Rangkumannya diulang lagi dalam Ulangan 10:12, "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu." Perhatikan susunannya: takut, berjalan, mengasihi, beribadah. Hormat yang dalam dan kasih yang hangat tidak bertentangan di sini; keduanya tumbuh dari akar yang sama, yaitu Allah yang lebih dahulu memilih dan menebus umat yang tidak punya jasa apa pun. Ulangan 7:7-8 menegaskannya tanpa ragu: Israel dipilih bukan karena jumlah atau kualitas mereka, melainkan karena Tuhan mengasihi mereka dan setia pada sumpah-Nya.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Ulangan berdiri seperti pintu di tengah Alkitab. Ia menutup lima kitab Musa dan sekaligus membuka seluruh sejarah Israel sesudahnya. Kitab Yosua sampai 2 Raja-raja praktis bisa dibaca sebagai penerapan Ulangan: setiap kali Israel mendengar dan mengasihi, mereka hidup; setiap kali mereka lupa dan mengejar ilah-ilah lain, hal-hal yang diperingatkan Musa dalam pasal 28 terjadi, sampai pembuangan. Ketika Raja Yosia menemukan kitab hukum di Bait Allah dan mengoyakkan pakaiannya, kitab yang menghancurkan hatinya itu sangat mungkin Ulangan. Para nabi pun berbicara dengan kosakata Ulangan: kasih perjanjian, hati yang tidak bersunat, panggilan untuk kembali.
Tetapi Ulangan juga sadar bahwa umat ini tidak akan mampu. Musa berkata terang-terangan bahwa mereka akan gagal dan dibuang. Karena itu, di tengah peringatan, Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada usaha moral: "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup" (Ulangan 30:6). Perintah mengasihi akhirnya menjadi janji bahwa Allah sendiri yang akan mengerjakan kasih itu di dalam kita. Yeremia menyebutnya perjanjian baru; Yehezkiel menyebutnya hati yang baru.
Di Perjanjian Baru, Ulangan muncul di tempat-tempat yang menentukan. Ketika Yesus berpuasa empat puluh hari di padang gurun, Ia menjawab setiap godaan dengan kutipan dari kitab ini. Jawaban pertama-Nya diambil dari Ulangan 8:3. Di mana Israel gagal selama empat puluh tahun, Kristus setia selama empat puluh hari. Ketika seorang ahli Taurat menanyakan hukum yang terutama, Yesus mengutip Shema dari Ulangan 6:4-5 dan menggabungkannya dengan Imamat 19:18; seluruh hukum tergantung pada kasih kepada Allah dan kepada sesama.
Ada juga nubuat yang tidak boleh dilewatkan. Dalam Ulangan 18:15 Musa berkata, "Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan." Petrus dan Stefanus sama-sama menerapkan ayat itu pada Yesus Kristus. Dan di sini sudut pandang kita menjadi tajam: Musa berkhotbah dari tepi batas yang tidak boleh ia lewati, tetapi Nabi yang lebih besar itu tidak berhenti di tepi. Ia masuk. Lebih dari itu, Ia menanggung kutuk yang tertulis dalam Ulangan agar kita boleh masuk bersama-Nya. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" (Galatia 3:13). Kutipan Paulus itu diambil dari Ulangan 21:23.
Jadi benang merahnya utuh: Allah mengasihi lebih dahulu, memanggil umat untuk mengasihi balik, menyingkapkan bahwa hati kita terlalu keras untuk itu, lalu datang sendiri dalam Kristus untuk menyunat hati kita dan memberi apa yang Ia tuntut.
Struktur dan tema utama
Para ahli sudah lama memperhatikan bahwa Ulangan mengikuti pola perjanjian raja besar dengan bangsa vasal yang lazim di Timur Dekat kuno: pembukaan yang memperkenalkan raja, prolog sejarah yang mengingatkan kebaikan sang raja, lalu ketetapan-ketetapan, lalu daftar berkat dan kutuk, saksi-saksi, dan akhirnya pengaturan pewarisan dokumen. Ulangan memakai bentuk yang dikenal itu, tetapi mengisinya dengan sesuatu yang tidak ada dalam perjanjian politik mana pun: kasih.
Khotbah pertama (pasal 1 sampai 4) adalah pelajaran sejarah. Musa menceritakan perjalanan dari Horeb ke Moab, termasuk kegagalan di Kadesh-Barnea, kekalahan karena keras kepala, dan kemenangan atas Sihon dan Og. Ia tidak menyensor kegagalannya sendiri. Lalu ia menarik kesimpulan rohani: bangsa yang pernah melihat Allah bertindak tidak punya alasan untuk menyembah kayu dan batu. Pasal 4 menjadi seruan panas agar mereka menjaga hati dan tidak membuat patung apa pun.
Khotbah kedua adalah jantung kitab, membentang dari pasal 5 sampai 26. Dimulai dengan pengulangan Sepuluh Perintah di pasal 5, lalu Shema dan perintah kasih di pasal 6, disusul rangkaian pasal yang hampir seperti khotbah penggembalaan: ingat bagaimana Allah memelihara kamu di padang gurun (pasal 8), ingat bahwa kamu dipilih bukan karena kebaikanmu (pasal 7 dan 9), ingat bahwa yang Ia minta adalah hati (pasal 10). Baru setelah fondasi kasih itu dipasang, pasal 12 sampai 26 masuk ke penerapan konkret: tempat ibadah, makanan, tahun penghapusan hutang, hari raya, hakim dan raja dan nabi, kota perlindungan, perang, perkawinan, batas tanah, timbangan yang jujur, perhatian khusus bagi janda, anak yatim, dan orang asing. Urutan ini penting. Dalam Ulangan, etika sosial bukan tambahan sopan santun, melainkan bentuk nyata dari mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan.
Khotbah ketiga (pasal 27 sampai 30) membawa umat ke upacara perjanjian. Dua gunung, Gerizim dan Ebal, menjadi panggung berkat dan kutuk. Di sinilah berdiri Ulangan 28:1, "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi." Lalu pasal 29 dan 30 memuncak dalam tawaran yang menggetarkan: pilihlah kehidupan, sebab Allah sanggup memulihkan bahkan dari pembuangan dan sanggup mengubah hati.
Bagian penutup (pasal 31 sampai 34) adalah pengalihan tongkat. Musa menuliskan hukum itu, menyerahkan kepemimpinan kepada Yosua, menguatkan hati umat, mengajarkan nyanyian panjang tentang kesetiaan Allah dan ketidaksetiaan umat (pasal 32), memberkati kedua belas suku (pasal 33), lalu mendaki Gunung Nebo, melihat tanah itu dari kejauhan, dan mati di sana. Kitab ini ditutup dengan kalimat yang sangat jujur: tidak ada lagi nabi seperti Musa, yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka.
Tema-tema utamanya bisa dirangkum begini: Tuhan itu esa dan tidak dapat dibagi dengan ilah lain; kasih adalah isi kepatuhan; ingatan adalah benteng iman; tanah adalah anugerah, bukan upah; keturunan harus diajar; dan Allah tetap setia bahkan ketika umat-Nya tidak.
Ingat, atau kamu akan kehilangan hatimu.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Ulangan 6:4-5 adalah pusat gravitasi kitab ini. "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" lalu "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu." Ketiga kata "segenap" itu tidak menunjuk tiga bagian manusia yang terpisah, melainkan satu pribadi yang diminta utuh. Hati dalam pikiran Ibrani adalah pusat keputusan dan kehendak, jiwa adalah seluruh keberadaan dan nafas hidup, kekuatan adalah tenaga, waktu, harta, kapasitas. Artinya kasih kepada Tuhan bukan perasaan hangat di kebaktian, melainkan arah seluruh hidup. Dan ayat-ayat berikutnya menuntut agar kasih itu diteruskan secara sangat praktis: diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak, dibicarakan di rumah, di perjalanan, saat berbaring, saat bangun. Iman yang hanya diucapkan di tempat ibadah akan mati dalam satu generasi.
Ulangan 8:3 adalah ayat yang menjelaskan mengapa padang gurun tidak sia-sia. "Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau menderita kelaparan dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN." Perhatikan bahwa kelaparan dan manna datang dari tangan yang sama. Allah tidak hanya memberi makan, Ia juga mengatur saat kita tidak punya apa-apa, supaya kita belajar bahwa sumber hidup kita adalah firman-Nya, bukan isi lemari kita. Yesus mengutip ayat ini ketika Setan menyuruh-Nya mengubah batu menjadi roti, dan dengan itu Ia menunjukkan bahwa pelajaran padang gurun akhirnya dikuasai dengan sempurna oleh satu Manusia.
Ulangan 30:19 adalah klimaks retoris seluruh khotbah. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu." Musa tidak sedang memberi kuliah tentang kehendak bebas. Ia sedang memohon. Ia tahu bahwa ketaatan bukan soal mengumpulkan pahala, melainkan soal memilih tetap dekat dengan satu-satunya sumber kehidupan. Dan pilihan itu tidak berhenti pada diri sendiri; ada frasa "maupun keturunanmu", karena keputusan rohani orang tua selalu menetes ke bawah.
Satu lagi yang tidak boleh ditinggalkan: Ulangan 31:6, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." Inilah kalimat yang diambil penulis Ibrani untuk menenangkan orang Kristen yang gelisah soal uang: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). Keberanian dalam Alkitab tidak pernah lahir dari keyakinan pada diri sendiri, melainkan dari kepastian siapa yang berjalan di depan.
Panduan praktis membaca Kitab Ulangan
Kalau Anda belum pernah menyelesaikan kitab ini, jangan mulai dari pasal satu sambil berharap bertahan. Mulailah dari pasal 6. Bacalah seluruh pasal itu dengan tenang, dan biarkan Shema menjadi pintu masuknya. Setelah itu lanjutkan ke pasal 7 dan 8, dua pasal yang menjelaskan mengapa Israel dipilih dan apa yang Allah kerjakan lewat padang gurun. Lalu lompat ke pasal 10, khususnya ayat 12 sampai 22, karena di situ seluruh tuntutan hukum dirangkum menjadi beberapa kalimat yang bisa dihafal.
Tahap kedua, bacalah pasal 1 sampai 4 sebagai latar belakang. Bacalah seperti mendengar seorang tua bercerita, bukan seperti membaca buku sejarah. Perhatikan betapa sering muncul kata "ingat" dan "jangan lupa". Catat setiap kali Musa menyebut apa yang sudah dilihat mata mereka sendiri.
Tahap ketiga adalah bagian yang paling sering membuat orang berhenti, yaitu pasal 12 sampai 26. Kuncinya: jangan membacanya sebagai daftar aturan untuk Anda, tetapi sebagai gambaran masyarakat yang dibentuk oleh kasih Allah. Tanyakan tiga hal pada setiap pasal. Apa yang dilindungi hukum ini? Nilai apa dari karakter Allah yang terpancar di sini? Dan bagaimana prinsip ini digenapi atau diterangkan dalam Kristus dan dalam Perjanjian Baru? Dengan tiga pertanyaan itu, hukum tentang timbangan jujur, upah pekerja, batas tanah, dan perlakuan terhadap orang asing akan berubah dari pasal mati menjadi cermin hati Allah bagi yang lemah.
Tahap keempat, bacalah pasal 27 sampai 30 dalam satu kali duduk, dengan suara agak keras bila mungkin. Bagian ini ditulis untuk didengar. Pasal 28 panjang dan berat; jangan dipotong. Rasakan tekanannya, lalu masuk ke pasal 30 dan lihat bagaimana janji pemulihan dan sunat hati datang tepat setelah ancaman paling gelap. Di situlah Injil bersinar di dalam Taurat.
Terakhir, bacalah pasal 31 sampai 34 sebagai penutup yang personal. Nyanyian Musa di pasal 32 layak dibaca dua kali. Dan ketika Anda sampai di pasal 34, berhentilah sebentar di gambaran Musa di Gunung Nebo. Sebagai ritme harian, empat atau lima pasal sehari akan menuntaskan kitab ini dalam satu minggu lebih sedikit, tetapi membacanya satu pasal sehari selama tiga puluh empat hari jauh lebih menancap. Tulis satu kalimat setiap hari: apa yang hari ini Tuhan minta untuk saya ingat?
Cermin
Anda mungkin bukan orang yang sedang berdiri di tepi Yordan, tetapi ada tepi-tepi lain yang Anda kenal. Pekerjaan yang Anda bangun bertahun-tahun dan harus Anda serahkan kepada orang lain. Anak yang mulai tidak lagi bertanya kepada Anda tentang Tuhan. Tubuh yang tidak sekuat dulu. Rencana yang jelas-jelas baik, tetapi tidak diizinkan Tuhan Anda selesaikan. Ulangan ditulis oleh seseorang yang tahu rasanya itu, dan ia memilih memakai sisa tenaganya bukan untuk membela diri, melainkan untuk mengarahkan hati orang lain kepada Allah.
Lalu ada pertanyaan yang lebih menusuk. Ulangan 8 memperingatkan Israel bahwa bahaya terbesar bukan padang gurun, melainkan tanah yang berkelimpahan; bukan saat kekurangan, melainkan saat rumah sudah bagus dan rekening sudah aman, lalu hati berkata "ini hasil tanganku". Apakah Anda lebih rajin berdoa ketika sulit daripada ketika lancar? Kalau jawabannya ya, Musa sedang bicara kepada Anda. Kemakmuran punya cara halus untuk membuat kita lupa siapa yang memberi.
Dan perintah mengasihi itu. Hati, jiwa, kekuatan. Coba periksa yang paling konkret: kekuatan Anda. Ke mana jam-jam terbaik Anda pergi? Siapa yang menguasai layar ponsel Anda sebelum tidur? Apa yang akan paling membuat Anda hancur kalau diambil? Jawaban atas tiga pertanyaan itu biasanya lebih jujur daripada pengakuan iman kita.
Tetapi jangan pulang hanya dengan rasa bersalah. Ulangan tidak berhenti pada tuntutan. Ia berakhir pada janji bahwa Tuhan sendiri akan menyunat hati Anda. Perintah "kasihilah" tidak diberikan kepada orang yang harus memproduksi kasih dari nol, melainkan kepada orang yang sudah ditebus, sudah dibawa keluar, sudah digendong seperti seorang ayah menggendong anaknya di sepanjang jalan. Mulailah dari situ, bukan dari tekad Anda.
Kasih yang diperintahkan selalu kasih yang lebih dulu diberikan.
Dijelaskan untuk anak-anak
Untuk anak-anak, Ulangan paling mudah masuk lewat gambar seorang kakek yang mau mengucapkan pesan terakhir. Ceritakan begini: Musa sudah sangat tua. Ia memimpin orang Israel berjalan sangat jauh, melewati padang pasir yang panas, selama puluhan tahun. Sekarang mereka hampir sampai di rumah baru yang Tuhan janjikan. Tapi Musa tidak bisa ikut masuk. Jadi ia mengumpulkan semua orang dan berkata dengan suara pelan, "Ingat ya, Tuhan sangat baik kepada kita. Tuhan memberi makan kita setiap hari. Jangan lupa Dia. Cintai Tuhan dengan seluruh hatimu, bukan setengah saja."
Dua pesan itu cukup untuk anak kecil: Tuhan lebih dulu baik kepada kita, dan karena itu kita cinta Tuhan dengan seluruh hati. Kalau anak bertanya mengapa Musa tidak boleh masuk, jawab dengan jujur dan sederhana bahwa Musa pernah tidak taat, tetapi Tuhan tetap mengasihi dia dan menemaninya sampai akhir. Anak-anak perlu tahu sejak kecil bahwa ketaatan itu penting dan kasih Tuhan tidak gampang hilang.
Untuk mendalaminya di rumah, Ulangan 6 memberi pola yang indah: bicarakan tentang Tuhan saat duduk di rumah, saat di jalan, saat mau tidur, saat bangun. Jadikan itu kebiasaan kecil, bukan pelajaran formal.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus yang disesuaikan dengan usia: versi untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan cerita yang sangat sederhana, versi untuk anak sekolah tujuh sampai dua belas tahun yang mulai masuk ke isi perjanjian dan peta perjalanan Israel, serta versi untuk remaja dua belas tahun ke atas yang berani membahas berkat, kutuk, dan bagaimana Yesus memakai kitab ini saat dicobai.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis Kitab Ulangan?
Kitab ini menyebut Musa sebagai pembicara dan pencatat isinya, dan Perjanjian Baru berulang kali mengaitkan Taurat dengan Musa, termasuk oleh Yesus sendiri. Karena itu tradisi Kristen ortodoks mengakui Musa sebagai penulis utama. Bagian penutup yang menceritakan kematian dan penguburannya di pasal 34 jelas ditambahkan oleh tangan lain, kemungkinan Yosua atau penyunting kemudian yang dipakai Allah untuk melengkapi kitab ini. Pengakuan itu tidak mengurangi otoritas Ulangan, sebab yang menjamin kebenarannya adalah Allah yang mengilhamkannya, bukan sekadar identitas penulis manusianya.
Apa arti nama "Ulangan"?
Nama Indonesia "Ulangan" berasal dari judul Yunani Deuteronomion, yang berarti "hukum kedua" atau "hukum yang diulang". Nama itu cocok karena Musa mengulang Sepuluh Perintah dan banyak ketetapan Sinai bagi generasi baru yang tidak menyaksikan peristiwa di gunung itu. Dalam Alkitab Ibrani kitab ini disebut Devarim, artinya "kata-kata", sesuai kalimat pembukanya. Jadi kitab ini bukan hukum baru yang menggantikan yang lama, melainkan khotbah yang menerapkan hukum lama ke situasi baru, dengan penekanan yang jauh lebih hangat pada hati.
Kapan Kitab Ulangan ditulis?
Latar kejadiannya adalah bulan-bulan terakhir hidup Musa di dataran Moab, tepat sebelum Israel menyeberangi Sungai Yordan. Tanggalnya bergantung pada penanggalan Keluaran. Bila 1 Raja-raja 6:1 dibaca secara harfiah, Keluaran terjadi sekitar tahun 1446 sebelum Kristus, sehingga Ulangan diucapkan sekitar tahun 1406 sebelum Kristus. Sebagian ahli lain menempatkan Keluaran pada abad ketiga belas sebelum Kristus, sehingga Ulangan sekitar tahun 1240 sebelum Kristus. Apa pun penanggalannya, latar dan isinya tetap sama: pidato perpisahan di tepi tanah perjanjian.
Mengapa Musa tidak boleh masuk ke tanah Kanaan?
Karena peristiwa di Meriba, ketika Musa memukul bukit batu padahal Tuhan memerintahkan agar ia berkata-kata kepadanya, dan dengan itu ia tidak menghormati kekudusan Allah di depan umat. Dalam Ulangan 1 dan 3 Musa menceritakan kembali bagaimana ia memohon agar diizinkan menyeberang, dan Tuhan menjawab tidak. Yang luar biasa adalah responsnya: ia tidak menjadi pahit, tetapi memakai sisa hidupnya untuk mempersiapkan Yosua dan umat. Tuhan tetap mengasihinya, menunjukkan seluruh tanah itu dari Gunung Nebo, dan menguburkan dia sendiri.
Apa itu Shema dalam Ulangan 6:4?
Shema adalah kata Ibrani untuk "dengarlah", kata pertama dari Ulangan 6:4, "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" Ayat ini menjadi pengakuan iman harian Israel sampai hari ini, biasanya dibaca bersama ayat 5 sampai 9. Isinya menegaskan bahwa hanya ada satu Allah yang benar dan Ia tidak bisa dibagi dengan ilah lain. Yesus mengutipnya sebagai hukum yang terutama, sehingga orang Kristen juga mewarisi pengakuan ini: satu Tuhan, satu kasih, satu arah hidup.
Apa maksud berkat dan kutuk dalam Ulangan 28?
Pasal 28 adalah bagian perjanjian yang menjelaskan akibat ketaatan dan ketidaktaatan bagi Israel sebagai bangsa yang hidup di tanah perjanjian. Ulangan 28:1 membuka dengan janji bahwa bila mereka baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Ia akan mengangkat mereka di atas segala bangsa. Daftar kutuk yang jauh lebih panjang sesudahnya bukan ancaman sewenang-wenang, melainkan peringatan jujur tentang apa yang terjadi bila umat meninggalkan sumber hidupnya. Sejarah Israel sampai pembuangan memperlihatkan bahwa Musa tidak berlebihan sedikit pun.
Apakah Kitab Ulangan masih berlaku bagi orang Kristen hari ini?
Masih, tetapi tidak dengan cara yang sama. Orang Kristen tidak berada di bawah perjanjian Sinai sebagai sistem hukum nasional Israel, dan Kristus telah menggenapi serta menanggung kutuk hukum itu. Namun Ulangan tetap firman Allah yang berotoritas: ia menyingkapkan karakter Allah, mengajar kita apa artinya mengasihi Dia dengan segenap hati, memberi prinsip keadilan dan belas kasihan yang abadi, dan menjadi kitab yang paling sering dipakai Yesus untuk melawan pencobaan. Bacalah ia lewat Kristus, bukan tanpa Kristus.
Apa perbedaan Kitab Ulangan dengan Kitab Keluaran dan Imamat?
Keluaran mencatat peristiwa pembebasan dan pemberian hukum di Sinai. Imamat menjelaskan secara rinci bagaimana umat yang ditebus itu boleh mendekat kepada Allah yang kudus, dengan fokus pada korban, imam, dan kekudusan. Ulangan datang empat puluh tahun kemudian dan berbentuk khotbah: isinya mengulang, menjelaskan, dan menerapkan hukum itu kepada generasi berikutnya yang akan hidup di tanah, bukan di tenda. Karena itu nadanya paling personal dan paling sering menyentuh soal hati, ingatan, dan pendidikan anak.
Berapa kali Yesus mengutip Kitab Ulangan?
Yesus mengutip Ulangan beberapa kali di momen-momen penting. Dalam ketiga jawaban-Nya kepada Setan di padang gurun, Ia memakai kitab ini, dimulai dengan Ulangan 8:3 tentang manusia yang hidup bukan dari roti saja. Ia juga mengutip Ulangan 6:4-5 sebagai hukum yang terutama, dan memakai prinsip Ulangan tentang dua atau tiga saksi dalam pengajaran-Nya. Bersama Kitab Yesaya dan Mazmur, Ulangan termasuk kitab Perjanjian Lama yang paling sering dikutip di seluruh Perjanjian Baru.
Apa arti "sunat hati" dalam Ulangan 30:6?
Sunat adalah tanda fisik perjanjian Abraham. Musa memakainya sebagai gambar rohani: yang perlu dikerat bukan hanya tubuh, melainkan kekerasan hati manusia. Ulangan 30:6 berjanji bahwa Tuhan sendiri yang akan menyunat hati umat-Nya dan keturunan mereka, supaya mereka mengasihi Dia dengan segenap hati dan jiwa. Ini salah satu kalimat paling penuh anugerah dalam Perjanjian Lama, karena di situ perintah berubah menjadi janji. Paulus mengembangkannya dalam Roma 2 dan menghubungkannya dengan pekerjaan Roh Kudus di dalam hati orang percaya.
Apakah Ulangan 30:19 berarti keselamatan bergantung pada pilihan saya?
Ulangan 30:19 memang sungguh-sungguh memanggil umat untuk memilih kehidupan, dan panggilan itu tidak boleh dilunakkan. Tetapi ayat itu diucapkan kepada umat yang sudah ditebus dari Mesir oleh prakarsa Allah, dan beberapa ayat sebelumnya Tuhan berjanji akan menyunat hati mereka supaya mereka sanggup mengasihi Dia. Jadi pilihan manusia itu nyata, namun kemampuan untuk memilih dengan benar adalah anugerah. Panggilan dan anugerah berjalan bersama; kita diminta menjawab, dan Allah yang memberi hati untuk menjawab.
Apakah Ulangan 28:1 janji kemakmuran bagi orang Kristen?
Tidak, bukan dalam arti yang sering dikhotbahkan. Ulangan 28:1 adalah janji dalam perjanjian khusus dengan Israel sebagai bangsa di tanah Kanaan, dengan berkat yang bersifat nasional dan agraris. Perjanjian Baru tidak menjanjikan kekayaan bagi setiap orang percaya; justru Yesus dan para rasul berbicara jujur tentang penderitaan. Prinsip abadinya tetap berlaku: hidup yang menyelaraskan diri dengan kehendak Allah adalah hidup yang berbuah. Tetapi bentuk berkat terbesar dalam Kristus adalah pengampunan, kehadiran Allah, dan hidup yang kekal.
Bagaimana cara mulai membaca Kitab Ulangan bagi pemula?
Mulailah dari pasal 6, lanjutkan ke pasal 7, 8, dan 10, karena di situ seluruh pesan kitab ini terkumpul paling jelas. Sesudah itu baru bacalah pasal 1 sampai 4 sebagai latar sejarah, lalu pasal 27 sampai 30 untuk melihat puncaknya, dan pasal 31 sampai 34 sebagai penutup. Bagian hukum di pasal 12 sampai 26 paling mudah dibaca dengan tiga pertanyaan: apa yang dilindungi, apa yang dinyatakan tentang hati Allah, dan bagaimana ini digenapi dalam Kristus. Satu pasal sehari selama lima minggu sudah cukup.
Sebagai penutup
Kitab Ulangan tidak lahir di ruang kerja seorang ahli hukum. Ia lahir di tepi sungai, dari mulut seorang pemimpin tua yang tahu bahwa ia tidak akan ikut menikmati hasil perjalanannya, dan memilih memakai napas terakhirnya untuk berkata: Tuhan itu esa, Dia mengasihimu lebih dulu, karena itu kasihilah Dia dengan segenap hati, dan jangan pernah lupa. Itulah yang membuat kitab ini terasa begitu dekat. Setiap orang beriman pada akhirnya berdiri di tepi sesuatu yang tidak bisa ia selesaikan sendiri.
Kabar baiknya adalah bahwa khotbah Musa bukan kata terakhir. Nabi yang dijanjikan dalam Ulangan 18:15 datang, menggenapi hukum yang kita langgar, menanggung kutuk yang kita pantas terima, dan masuk ke tanah perjanjian yang sejati dengan membawa kita bersama-Nya. Karena itu, bacalah Ulangan tanpa takut. Biarkan ia menelanjangi hati Anda, lalu biarkan ia menunjukkan Allah yang berjanji menyunat hati itu.
Langkah berikutnya sederhana: buka Ulangan 6 malam ini, bacalah dengan suara terdengar, dan tanyakan satu hal kepada Tuhan. Bagian mana dari hidupku yang belum kuberikan kepada-Mu dengan segenap kekuatanku?
