Siapa Yusuf dalam Alkitab: Dari Sumur ke Istana Firaun
Pendahuluan
Bayangkan seorang remaja tujuh belas tahun berdiri di dasar sumur kering di Dotan. Dinding tanah liat setinggi tiga meter mengelilinginya. Di atas sana, sepuluh kakaknya duduk makan roti sambil menawar harga tubuhnya. Jubah kebanggaannya sudah dilucuti. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada malaikat yang turun. Tidak ada firman yang berkata, "Jangan takut, Aku menyertaimu." Hanya bau tanah lembap dan tawa orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Tiga belas tahun kemudian, anak itu berdiri di ruang takhta Mesir dengan cincin meterai Firaun di jarinya.
Di antara kedua adegan itu terbentang salah satu kisah paling jujur dalam Alkitab tentang iman yang bertahan ketika Allah tampak diam. Di halaman ini Anda akan menyusuri hidup Yusuf anak Yakub dari awal sampai akhir, jujur tentang kekuatan dan kelemahannya, dan melihat bagaimana sumur, penjara, dan istana ternyata satu jalan yang sama menuju keselamatan yang lebih besar.
Sudut pandang panduan ini
Ada satu hal yang jarang disebut orang tentang Yusuf: Allah tidak pernah tercatat berbicara langsung kepadanya. Abraham mendengar suara Tuhan. Ishak mendengar. Yakub bergulat dengan-Nya semalaman di Pniel. Tetapi kepada Yusuf, dalam tiga belas pasal yang panjang, tidak ada satu pun kalimat "Firman Tuhan datang kepada Yusuf". Ia bermimpi, ia menafsirkan mimpi orang lain, tetapi ia sendiri berjalan dalam keheningan.
Panduan ini membaca hidup Yusuf justru dari sudut itu: iman yang tetap setia ketika langit terasa bisu. Sebab di situlah kebanyakan dari kita hidup. Bukan di gunung Sinai, melainkan di sumur, di rumah tuan, di sel penjara yang orang lupakan.
Apa kata Alkitab tentang Yusuf, anak Yakub?
Kisah Yusuf menempati Kejadian 37 sampai 50, seperempat dari seluruh kitab Kejadian. Ia lahir di Padan-Aram sebagai anak pertama Rahel, istri yang paling dicintai Yakub, setelah bertahun-tahun kemandulan yang menyakitkan. Namanya berarti "kiranya Ia menambah", sebuah doa dari seorang ibu yang akhirnya melahirkan.
Persoalan dimulai dari kasih yang tidak seimbang di dalam rumah. Kejadian 37:3 berkata, "Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia." Jubah itu bukan sekadar pakaian bagus. Dalam keluarga peternak, jubah panjang berlengan adalah pakaian orang yang tidak perlu bekerja, tanda bahwa Yakub sudah memilih ahli warisnya. Sepuluh kakak Yusuf membaca pesan itu setiap hari, dan mereka membencinya.
Alkitab tidak menyembunyikan bahwa Yusuf muda ikut menyiram api. Ia membawa kabar buruk tentang kakak-kakaknya kepada ayahnya. Ia menceritakan mimpinya, dua kali, tentang berkas gandum yang sujud dan matahari, bulan, serta sebelas bintang yang menyembah dia. Mimpi itu memang dari Allah, tetapi cara menyampaikannya membuat ayahnya sendiri menegurnya. Anak ini benar, tetapi belum bijaksana.
Lalu datang hari di Dotan. Rencana pembunuhan diubah menjadi transaksi. Kejadian 37:28 mencatat, "Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, mereka menarik dan mengangkat Yusuf dari dalam sumur itu, lalu menjual dia kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir." Dua puluh syikal adalah harga standar seorang budak muda. Darah saudara ditukar dengan uang belanja.
Di Mesir Yusuf dibeli Potifar, pegawai istana Firaun. Dan di sinilah muncul kalimat yang menjadi kunci seluruh kisah ini: "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil" (Kejadian 39:2). Perhatikan, penyertaan itu tidak diucapkan kepada Yusuf, melainkan dicatat oleh penulis kepada kita, para pembaca. Yusuf sendiri tidak pernah mendengarnya.
Ketika istri Potifar berulang kali merayunya, jawabannya menyingkapkan isi hatinya. Kejadian 39:9 berbunyi, "bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Seorang budak asing, jauh dari keluarga, tanpa pengawasan, tanpa hukum yang membelanya, tetap menyebut nama Allah. Kesetiaannya bukan karena ada yang mengawasi, tetapi karena ada Yang dikasihi.
Harganya mahal: fitnah dan penjara. Namun ayat yang sama muncul lagi di sel itu, "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya" (Kejadian 39:21). Di penjara ia menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti Firaun, lalu dilupakan selama dua tahun penuh.
Dua tahun. Lalu Firaun bermimpi tentang tujuh sapi dan tujuh bulir gandum, dan tidak seorang pun di Mesir dapat menerangkannya. Yusuf dipanggil, dicukur, diberi pakaian bersih, dan berkata terus terang bahwa bukan dia yang punya jawaban, melainkan Allah. Setelah tafsiran dan nasihat yang bijaksana itu, Kejadian 41:41 mencatat momen pembalikan yang luar biasa: "Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: 'Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.'" Ia berumur tiga puluh tahun. Tiga belas tahun sebagai budak dan tahanan berakhir dalam satu pagi.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kisah Yusuf bukan sisipan menarik di ujung kitab Kejadian. Ia adalah jembatan. Tanpa Yusuf, tujuh puluh orang keluarga Yakub mati kelaparan di Kanaan dan janji kepada Abraham berhenti di situ. Karena Yusuf, mereka masuk ke Gosyen, bertumbuh menjadi bangsa, dan kelak keluar dari Mesir dalam peristiwa Paskah pertama. Seluruh kitab Keluaran berdiri di atas gandum yang ditimbun Yusuf.
Perjanjian Lama sendiri terus menengok kembali kepadanya. Mazmur 105:17 menyimpulkan seluruh tragedi Dotan dalam satu kalimat yang mengejutkan: "Diutus-Nya seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak." Yang dilihat kakak-kakaknya sebagai penjualan, dilihat Allah sebagai pengutusan. Dua kata untuk satu peristiwa yang sama.
Perjanjian Baru membawa benang itu lebih jauh. Stefanus, dalam pembelaannya sebelum dirajam, mengingatkan Sanhedrin: "Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia" (Kisah Para Rasul 7:9). Stefanus sedang membuat poin tajam: bangsa ini punya kebiasaan menolak orang yang diutus Allah kepada mereka, dan mereka baru saja melakukannya lagi kepada Yesus Kristus.
Sebab pola itu memang bergema. Seorang anak yang dikasihi Bapa. Dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri. Dijual dengan sejumlah keping perak. Dihitung sebagai orang mati. Diturunkan ke tempat yang paling rendah. Lalu ditinggikan ke tempat kekuasaan, dan dari sana menjadi satu-satunya sumber roti bagi dunia yang kelaparan. Ketika Firaun berkata kepada rakyatnya, "Pergilah kepada Yusuf" (Kejadian 41:55), sulit untuk tidak mendengar gaung dari Maria di Kana, "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu."
Namun perbedaannya juga penting. Yusuf diselamatkan dari sumur; Yesus tidak diselamatkan dari salib. Yusuf menyelamatkan tubuh orang dari kelaparan tujuh tahun; Yesus memberi diri-Nya sebagai roti hidup. Yusuf adalah bayangan, dan bayangan selalu lebih kecil dari yang membentuknya.
Puncak penghormatan Alkitab kepada Yusuf datang di daftar iman. Ibrani 11:22 berkata, "Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberi pesan tentang keluarnya orang-orang Israel dan tentang kuburannya." Menarik sekali. Bukan penolakannya terhadap istri Potifar yang dipilih, bukan pula kebijakannya menyelamatkan Mesir, melainkan permintaannya tentang tulang-tulang. Setelah delapan puluh tahun hidup nyaman sebagai orang nomor dua di kerajaan terkuat dunia, Yusuf tetap yakin bahwa Mesir bukan rumahnya. Ia mati sambil menunjuk ke arah tanah perjanjian yang belum ia lihat lagi. Empat ratus tahun kemudian Musa membawa peti tulang itu keluar dari Mesir, dan Yosua menguburkannya di Sikhem.
Inti hidupnya
Ada tiga saat yang menentukan arah seluruh hidup Yusuf, dan ketiganya terjadi tanpa suara Allah yang terdengar.
Yang pertama adalah sumur di Dotan. Di situ Yusuf kehilangan segalanya sekaligus: keluarga, kebebasan, nama, dan jubah yang menjadi lambang identitasnya. Kejadian 37:28 mencatatnya dengan dingin, tanpa komentar moral, tanpa air mata. Baru dua puluh tahun kemudian, dalam Kejadian 42:21, kakak-kakaknya mengaku bahwa mereka sebenarnya mendengar Yusuf memohon dari dalam sumur itu dan tidak peduli. Alkitab membiarkan kekejaman itu berdiri telanjang. Dan di titik inilah sudut pandang panduan ini paling terasa: tidak ada penglihatan yang menghibur Yusuf di dasar sumur, tidak ada janji yang dibisikkan. Yang ada hanya mimpi lama dari masa remaja yang sekarang tampak seperti lelucon kejam. Keheningan Allah bukanlah ketidakhadiran Allah.
Yang kedua adalah pintu kamar di rumah Potifar. Ini satu-satunya momen di mana Yusuf memilih secara sadar untuk kehilangan lebih banyak lagi. Ia sudah naik dari budak menjadi kepala rumah tangga; satu kompromi kecil bisa mengamankan posisinya, dan siapa yang akan tahu? Jawaban Yusuf dalam Kejadian 39:9 menunjukkan bahwa ia berhitung dengan Pribadi yang tidak terlihat: "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Ia menyebut dosa itu pertama-tama sebagai pelanggaran terhadap Allah, bukan sekadar pengkhianatan terhadap Potifar. Lalu ia lari, dan larinya membawanya ke penjara. Kesucian tidak selalu dihargai di dunia ini. Kadang harganya adalah karier Anda.
Yang ketiga adalah ruangan tertutup di Mesir tempat Yusuf akhirnya membuka topengnya. Setelah menguji kakak-kakaknya dengan cara yang keras dan berbelit, setelah mendengar Yehuda menawarkan diri menjadi budak menggantikan Benyamin, Yusuf tidak sanggup lagi menahan diri. Ia menyuruh semua orang Mesir keluar, lalu menangis begitu keras sampai terdengar sampai ke istana. Dan ia berkata dalam Kejadian 45:5, "Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu."
Kalimat itu tidak menghapus kejahatan mereka; Yusuf tetap berkata "kamu menjual aku". Tetapi ia menolak membiarkan kejahatan itu menjadi kata terakhir. Pengampunan di sini bukan amnesia, melainkan penolakan untuk menjadi hakim. Yusuf mengurungkan hak balas dendam yang secara hukum sepenuhnya ada di tangannya, sebab ia melihat tangan lain yang lebih besar bekerja di balik semuanya.
Yang kita pelajari dari Yusuf
Pelajaran pertama menyangkut cara kita membaca luka kita sendiri. Yusuf tidak pernah mengatakan bahwa penjualan dirinya adalah hal baik. Kejadian 50:20 sangat presisi: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." Dua kehendak berjalan dalam satu peristiwa, dan keduanya nyata. Kejahatan tetap kejahatan, dan pelakunya bertanggung jawab. Namun Allah tidak pernah kehilangan kendali atas hasil akhirnya. Paulus meringkas prinsip yang sama dalam Roma 8:28, bahwa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia". Ini bukan optimisme murahan yang menyuruh korban tersenyum. Ini keyakinan bahwa tidak ada satu pun kepingan hidup Anda yang jatuh di luar jangkauan tangan Tuhan.
Pelajaran kedua adalah tentang kesetiaan di tempat yang tidak ada yang melihat. Yusuf mengurus rumah Potifar dengan baik meski ia diculik ke sana. Ia mengurus penjara dengan baik meski ia dipenjara tanpa salah. Ia menanyakan kabar dua tahanan yang muram pada suatu pagi, sebuah tindakan kecil yang kelak menjadi engsel seluruh kisah. Kita cenderung menunggu panggung besar untuk menunjukkan iman kita, padahal karakter dibentuk di gudang, di dapur, di meja kerja yang membosankan. Kesetiaan kecil hari ini menyiapkan tanggung jawab besar besok.
Pelajaran ketiga adalah tentang memori yang disembuhkan. Yusuf menamai anak sulungnya Manasye, karena "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku", dan anak keduanya Efraim, karena "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku" (Kejadian 41:51-52). Nama-nama itu jujur sekaligus getir: Mesir tetap disebutnya negeri kesengsaraan, bahkan ketika ia sudah menjadi orang kedua di sana. Kesembuhan tidak berarti Anda berhenti merasakan sakitnya. Yusuf masih menangis berkali-kali dalam kisah ini. Tetapi air matanya tidak lagi menjadi racun.
Cermin
Anda mungkin sedang berada di bagian cerita yang tidak enak dibaca. Bukan bagian istana, melainkan bagian sumur, atau lebih buruk lagi, bagian penjara yang panjang dan tidak dramatis, ketika sudah dua tahun berlalu dan juru minuman itu masih juga lupa.
Barangkali Anda melakukan hal yang benar di kantor dan justru itulah yang membuat nama Anda dicoret dari daftar promosi. Barangkali Anda menolak sesuatu yang secara moral jelas salah, dan yang Anda dapat bukan pujian melainkan isolasi. Barangkali luka Anda datang dari orang-orang yang seharusnya paling melindungi Anda, dan sampai hari ini mereka belum pernah meminta maaf. Barangkali Anda sudah lama berdoa dan yang Anda terima hanyalah langit-langit kamar yang diam.
Kisah Yusuf tidak menawarkan jalan pintas kepada Anda. Tiga belas tahun tetap tiga belas tahun; Alkitab tidak memperpendeknya demi kenyamanan pembaca. Yang ditawarkan kisah ini adalah sesuatu yang lebih keras sekaligus lebih kokoh: Tuhan menyertai Yusuf sepanjang waktu itu, dan Yusuf tidak pernah diberi tahu. Kalimat "TUHAN menyertai Yusuf" ditulis untuk Anda yang membaca, bukan untuk dia yang menjalani.
Maka izinkan pertanyaan ini menusuk sedikit. Apakah ketaatan Anda bergantung pada seberapa cepat Allah menjelaskan diri-Nya? Apakah Anda hanya bisa setia ketika ada tanda? Dan satu lagi yang paling sulit: adakah nama yang selama ini Anda simpan dalam daftar orang yang tidak akan pernah Anda ampuni? Yusuf punya sepuluh nama dalam daftar itu, dan ia memeluk mereka semua sambil menangis. Bukan karena mereka pantas, melainkan karena ia telah melihat tangan Allah bekerja lebih dalam daripada kejahatan mereka.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak biasanya langsung tertarik pada kisah ini, sebab ada jubah warna-warni, ada mimpi aneh tentang sapi kurus memakan sapi gemuk, dan ada adegan tangis yang besar di akhir. Tetapi justru karena ceritanya seru, ada bahaya kisah ini menyusut menjadi dongeng tentang anak baik yang akhirnya kaya.
Inti sederhana yang bisa Anda sampaikan begini: Yusuf dijahati oleh kakak-kakaknya sendiri, dan selama bertahun-tahun hidupnya sulit sekali. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan Yusuf, bahkan ketika Yusuf tidak bisa merasakannya. Pada akhirnya Allah memakai semua hal buruk itu untuk menyelamatkan banyak orang dari kelaparan, termasuk keluarga yang dulu menyakitinya. Dan Yusuf memilih mengampuni, bukan membalas.
Untuk anak yang lebih kecil, cukup tekankan bahwa Allah menjaga Yusuf di tempat gelap dan Allah juga menjaga mereka. Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa mulai membicarakan pilihan Yusuf di rumah Potifar dan apa artinya melakukan hal yang benar walaupun rugi. Untuk remaja, kalimat Kejadian 50:20 bisa dibicarakan dengan serius, termasuk pertanyaan sulit tentang mengapa Allah mengizinkan penderitaan berlangsung lama.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Yusuf untuk tiga kelompok usia, yaitu anak prasekolah tiga sampai enam tahun, anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun, dan remaja dua belas tahun ke atas. Pilihlah yang sesuai, dan bacakan bersama, jangan hanya diserahkan untuk dibaca sendiri.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa sebenarnya Yusuf anak Yakub itu?
Yusuf adalah anak kesebelas Yakub dan anak pertama dari Rahel, istri yang paling dikasihi Yakub. Ia lahir di Padan-Aram, dibesarkan di Kanaan, lalu dijual sebagai budak ke Mesir oleh kakak-kakaknya sendiri ketika berumur tujuh belas tahun. Di Mesir ia naik dari budak menjadi tahanan, lalu menjadi penguasa kedua setelah Firaun pada usia tiga puluh tahun. Ia menikah dengan Asnat dan memiliki dua anak, Manasye dan Efraim, yang kemudian menjadi dua suku Israel. Yusuf meninggal di Mesir pada usia seratus sepuluh tahun.
Mengapa saudara-saudara Yusuf begitu membencinya?
Ada tiga lapis penyebabnya. Pertama, favoritisme ayah mereka yang terang-terangan, seperti dicatat dalam Kejadian 37:3, lengkap dengan jubah istimewa yang menandakan Yusuf dipilih sebagai pewaris. Kedua, Yusuf melaporkan hal buruk tentang mereka kepada Yakub. Ketiga, ia menceritakan dua mimpi yang menggambarkan seluruh keluarga sujud kepadanya. Kebencian itu tidak dibenarkan Alkitab, tetapi Alkitab juga tidak menutupi bahwa Yakub dan Yusuf ikut menyalakan apinya. Dosa dalam keluarga ini bergulir dari generasi ke generasi.
Yusuf dijual kepada orang Midian atau orang Ismael?
Kejadian 37:28 menyebut keduanya dalam satu ayat: saudagar Midian mengangkat Yusuf dari sumur, lalu menjualnya kepada orang Ismael. Ini bukan kontradiksi. Kedua kelompok sama-sama keturunan Abraham, hidup di jalur dagang yang sama, dan dalam Kejadian 37:36 disebut lagi bahwa orang Midian menjualnya kepada Potifar. Penulis kuno kerap memakai kedua nama itu secara bergantian untuk kafilah pedagang gurun yang sama, mirip cara kita menyebut satu rombongan dengan dua nama daerah asalnya.
Berapa lama Yusuf menderita sebelum diangkat menjadi penguasa?
Ia dijual pada umur tujuh belas tahun dan berdiri di hadapan Firaun pada umur tiga puluh tahun, jadi kira-kira tiga belas tahun sebagai budak dan tahanan. Dari jumlah itu, minimal dua tahun terakhir dihabiskan di penjara setelah juru minuman melupakannya. Angka ini penting untuk dicatat karena kita cenderung membaca kisah ini dalam sepuluh menit dan lupa bahwa Yusuf menjalaninya lebih dari empat ribu hari, tanpa jaminan apa pun bahwa keadaan akan berubah.
Apakah Yusuf pernah berbuat salah?
Alkitab tidak melukiskan Yusuf sebagai orang tanpa cela. Sebagai remaja ia tampak kurang peka dan gemar menonjolkan diri. Sebagai penguasa, cara ia menguji kakak-kakaknya dengan tuduhan mata-mata, penahanan Simeon, dan piala yang disembunyikan terasa keras dan berbelit. Kebijakan pertaniannya dalam Kejadian 47 juga membuat seluruh rakyat Mesir menyerahkan tanah dan kebebasan mereka kepada Firaun. Yusuf adalah orang benar yang tetap manusia. Justru kejujuran Alkitab semacam ini yang membuat kisahnya dapat dipercaya.
Apakah Allah pernah berbicara langsung kepada Yusuf?
Tidak ada satu pun catatan firman yang diucapkan Allah secara langsung kepada Yusuf, berbeda dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Yusuf menerima dua mimpi pada masa mudanya dan diberi karunia menafsirkan mimpi orang lain, tetapi ia tidak pernah mendengar suara yang menjelaskan mengapa hidupnya begitu berat. Inilah yang membuat kisahnya begitu dekat dengan pengalaman kita. Ia berjalan dengan penyelenggaraan Allah yang tersembunyi, bukan dengan wahyu yang jelas, dan tetap setia sampai akhir.
Apa arti Kejadian 50:20 bagi penderitaan kita hari ini?
Ayat itu mengajarkan bahwa satu peristiwa bisa punya dua maksud sekaligus. Manusia merancang kejahatan, dan mereka sungguh bersalah atas rancangan itu; pada saat yang sama Allah merancang kebaikan melalui peristiwa yang sama tanpa pernah menjadi pembuat dosanya. Karena itu iman Kristen tidak pernah menyuruh Anda menyebut kejahatan sebagai hal baik. Yang diyakini iman adalah bahwa kejahatan tidak memegang kata terakhir. Namun perlu kesabaran: Yusuf baru bisa mengucapkan kalimat itu setelah puluhan tahun.
Apakah Yusuf adalah gambaran dari Yesus Kristus?
Alkitab tidak pernah menyebutnya demikian secara langsung, tetapi kemiripannya sangat mencolok: anak yang dikasihi bapa, dikhianati saudara, dijual dengan perak, direndahkan sampai ke tempat orang mati, lalu ditinggikan menjadi sumber hidup bagi banyak bangsa, dan akhirnya mengampuni mereka yang mengkhianatinya. Banyak penafsir sejak zaman gereja mula-mula membaca Yusuf sebagai bayangan Kristus. Yang penting dijaga adalah proporsinya: Yusuf menyelamatkan tubuh dari kelaparan, sedangkan Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan jiwa.
Apa bedanya Yusuf anak Yakub dengan Yusuf suami Maria?
Keduanya orang yang berbeda dan terpisah kira-kira seribu tujuh ratus tahun. Yusuf anak Yakub hidup pada zaman para bapa leluhur dan kisahnya ada di Kejadian 37 sampai 50. Yusuf suami Maria adalah tukang kayu dari Nazaret, keturunan Daud, yang mengasuh Yesus. Menariknya, keduanya sama-sama menerima petunjuk Allah lewat mimpi dan sama-sama pergi ke Mesir. Nama Yusuf memang umum di kalangan orang Yahudi, sebagian karena penghormatan terhadap tokoh Perjanjian Lama ini.
Mengapa Yusuf meminta tulang-tulangnya dibawa keluar dari Mesir?
Karena ia percaya janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub tentang tanah Kanaan, dan ia tahu Mesir hanyalah tempat singgah. Ibrani 11:22 memuji hal ini sebagai puncak imannya: "Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberi pesan tentang keluarnya orang-orang Israel dan tentang kuburannya." Permintaan itu menjadi khotbah tanpa kata selama empat ratus tahun bagi keturunannya yang tertindas. Peti tulang itu dibawa Musa saat keluar dari Mesir dan akhirnya dikuburkan di Sikhem oleh Yosua.
Di mana kisah Yusuf dapat dibaca dalam Alkitab?
Kisah utamanya ada di Kejadian 37 sampai 50, dengan Kejadian 38 sebagai selingan tentang Yehuda dan Tamar yang sebenarnya sengaja ditempatkan di situ sebagai kontras moral. Rujukan penting lain terdapat dalam Mazmur 105:16-22, dalam pidato Stefanus di Kisah Para Rasul 7:9-16, dan dalam daftar iman di Ibrani 11:21-22. Berkat Yakub atas Yusuf terdapat di Kejadian 49:22-26, sedangkan pengangkatan Efraim dan Manasye sebagai suku tersendiri dicatat di Kejadian 48.
Mengapa nama Yusuf tidak ada dalam daftar dua belas suku Israel?
Karena bagian warisan Yusuf dipecah menjadi dua melalui kedua anaknya. Dalam Kejadian 48, Yakub secara resmi mengangkat Efraim dan Manasye menjadi anaknya sendiri, sehingga keduanya menerima jatah seperti anak-anak Yakub yang lain. Ini adalah bagian ganda yang biasanya diberikan kepada anak sulung, tanda bahwa hak kesulungan Ruben berpindah kepada Yusuf. Karena itu dalam banyak daftar suku, nama Yusuf digantikan oleh Efraim dan Manasye, sementara suku Lewi tidak menerima wilayah tanah.
Sebagai penutup
Jika Anda hanya membawa satu hal dari halaman ini, biarlah itu bukan gambar istana Firaun, melainkan sumur di Dotan yang sunyi. Sebab di sanalah kebanyakan orang percaya menghabiskan sebagian besar hidupnya: bukan di puncak, bukan pula dalam bencana yang dramatis, melainkan dalam masa penantian yang panjang ketika Allah tidak menjelaskan apa pun.
Yusuf mengajarkan bahwa iman tidak menunggu penjelasan. Ia menolak istri Potifar tanpa tahu bahwa penjara akan mengantarnya ke istana. Ia melayani sesama tahanan tanpa tahu bahwa satu percakapan pagi akan menyelamatkan sebuah bangsa. Ia mengampuni sepuluh orang yang tidak pernah bisa mengganti tiga belas tahun hidupnya yang hilang. Dan ia mati sambil menunjuk ke sebuah tanah yang tidak akan ia injak lagi.
Bacalah Kejadian 37 sampai 50 sekaligus dalam satu duduk, kalau bisa dengan suara keras. Perhatikan berapa kali muncul kata "Allah" dari mulut Yusuf, dan berapa kali ia menangis. Lalu tanyakan kepada diri Anda sendiri, di bagian mana dari cerita ini Anda sedang berdiri hari ini. Yang menyertai Yusuf dalam diam masih menyertai umat-Nya, dan sekarang Ia bahkan sudah bersuara, dalam Yesus Kristus.
