Tanda-Tanda Akhir Zaman dan Kedatangan Yesus yang Kedua Kali
Pendahuluan
Ada video yang beredar di grup keluarga: rekaman gempa, banjir, kobaran api di sebuah kota jauh, lalu tulisan besar berwarna merah, "TANDA AKHIR ZAMAN SUDAH DEKAT!" Di bawahnya sepuluh emoji api dan pesan agar diteruskan ke sepuluh grup lain. Mungkin Anda ikut meneruskannya. Mungkin Anda hanya menatapnya sebentar dengan perasaan campur aduk: sedikit takut, sedikit lelah, sedikit curiga bahwa ini sudah kesekian kalinya.
Perasaan campur aduk itu bukan tanda iman yang lemah. Justru di situlah percakapan ini perlu dimulai. Sebab Yesus Kristus sendiri berbicara panjang tentang tanda-tanda akhir zaman, tetapi arah bicara-Nya sering berbeda dari arah bicara video-video itu. Di halaman ini Anda akan menemukan apa yang sebenarnya Alkitab katakan tentang tanda-tanda itu, bagaimana temanya mengalir dari Kejadian sampai Wahyu, mengapa banyak orang keliru membacanya, dan bagaimana kebenaran ini justru membuat hidup Anda hari ini menjadi lebih tenang, lebih terjaga, dan lebih penuh kasih.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini tidak membaca tanda-tanda akhir zaman sebagai kode rahasia untuk menghitung tanggal. Sudut pandangnya begini: kita tidak sedang menunggu akhir zaman dimulai; kita sudah hidup di dalamnya sejak Yesus Kristus bangkit dan Roh Kudus dicurahkan. Para rasul menyebut masa mereka sendiri "hari-hari terakhir". Artinya, tanda-tanda itu bukan jarum jam yang harus kita baca dengan kalkulator nubuat, melainkan rambu jalan sepanjang perjalanan panjang gereja. Rambu tidak memberi tahu jam kedatangan; rambu memberi tahu bahwa kita ada di jalan yang benar dan harus tetap terjaga. Perbedaan cara pandang ini mengubah segalanya: dari panik menjadi setia, dari spekulasi menjadi kasih yang nyata.
Apa kata Alkitab tentang tanda-tanda akhir zaman?
Ajaran paling padat tentang hal ini keluar dari mulut Yesus sendiri, di Bukit Zaitun, beberapa hari sebelum Ia disalibkan. Murid-murid baru saja mengagumi kemegahan Bait Allah, lalu Yesus mengatakan bahwa semuanya akan runtuh. Mereka pun bertanya kapan itu terjadi dan apa tandanya. Jawaban-Nya menjadi seluruh Matius 24.
Yang mengejutkan, hal pertama yang Yesus lakukan bukan memberi daftar tanda, melainkan memberi peringatan supaya jangan disesatkan. Baru sesudah itu Ia berkata dalam Matius 24:6-8, "Dan apabila kamu mendengar bunyi peperangan atau kabar-kabar tentang peperangan, janganlah kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru."
Bacalah sekali lagi kalimat "janganlah kamu gelisah". Peperangan, kelaparan, dan gempa bumi bukan disebutkan supaya kita tegang, tetapi supaya kita tidak kaget. Yesus menyebutnya "permulaan penderitaan", sebuah gambaran dari dunia persalinan: sakit yang datang bergelombang, yang menandakan bahwa kelahiran memang sedang menuju, tetapi belum tiba saat itu juga. Dunia yang bergejolak tidak sedang membuktikan bahwa Allah kehilangan kendali; dunia sedang mengerang menuju kelahiran zaman yang baru.
Lalu Yesus menutup pintu bagi semua perhitungan tanggal dengan satu kalimat tegas dalam Matius 24:36, "Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." Kalau para malaikat tidak tahu, dan Anak dalam kerendahan-Nya di bumi pun tidak menyatakannya, atas dasar apa seorang penafsir modern mengaku tahu tahunnya? Setiap sistem yang menjanjikan tanggal sudah bertabrakan dengan kalimat Tuhan Yesus sendiri.
Menarik sekali bahwa tanda-tanda yang paling banyak disorot dalam surat-surat Perjanjian Baru bukanlah bencana alam, melainkan kondisi hati manusia. Paulus menulis kepada Timotius dalam 2 Timotius 3:1-5, "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu mengucap syukur, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!"
Perhatikan bahwa daftar ini bukan tentang gempa di negeri jauh, melainkan tentang uang, mulut, keluarga, dan ibadah yang kosong. Dan perhatikan juga bahwa Paulus menyebut zamannya sendiri sebagai "hari-hari terakhir", sebab ia menyuruh Timotius menjauhi orang-orang seperti itu sekarang, bukan nanti.
Di ujung sejarah ada satu kepastian yang keras dan indah sekaligus. Petrus menulis dalam 2 Petrus 3:10, "Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi serta segala yang ada di atasnya akan lenyap." Datang "seperti pencuri" berarti tanpa pengumuman. Dan yang dituju bukan pemusnahan tanpa arti, sebab beberapa ayat kemudian Petrus menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Api itu api pemurnian sejarah, bukan akhir dari harapan.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Harapan akan kedatangan Tuhan tidak lahir di Perjanjian Baru. Ia sudah berdenyut sejak halaman-halaman pertama Alkitab. Di Taman Eden, setelah manusia jatuh, Allah berjanji tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular (Kejadian 3:15). Sejak saat itu seluruh Kitab Suci menjadi kisah penantian: kapan Dia datang, kapan yang bengkok diluruskan.
Para nabi memberi nama pada penantian itu: "hari TUHAN". Yoel melihatnya sebagai hari yang gelap dan dahsyat, disertai pencurahan Roh atas segala manusia. Amos memperingatkan orang-orang yang merindukannya dengan gegabah, sebab hari itu bukan hanya hari pembebasan bagi umat yang tertindas, melainkan juga hari penyingkapan bagi umat yang munafik. Yesaya menubuatkan langit dan bumi yang baru. Dan Daniel diberi penglihatan yang kemudian dipakai Yesus untuk menyebut diri-Nya sendiri: seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit, menerima kuasa dan kerajaan yang tidak akan berkesudahan (Daniel 7:13-14).
Lalu Yesus datang, dan sesuatu yang tak terduga terjadi. Hari Tuhan itu terbelah menjadi dua kedatangan. Pada kedatangan pertama Ia datang dalam kelemahan, memikul penghakiman yang seharusnya jatuh atas kita. Salib adalah hari Tuhan yang menimpa Anak Allah, bukan kita. Karena itulah kebangkitan-Nya dan pencurahan Roh Kudus menandai dimulainya zaman akhir. Petrus berdiri di Yerusalem pada hari Pentakosta dan mengutip Yoel: "Akan terjadi pada hari-hari terakhir, demikianlah firman Allah, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku atas semua manusia" (Kisah Para Rasul 2:17). Ia tidak berkata "nanti akan terjadi". Ia berkata bahwa hari-hari terakhir itu sudah dimulai, di hadapan mata mereka.
Zaman akhir bukan pintu di depan; kita sudah melewatinya.
Di antara kenaikan dan kedatangan-Nya kembali, gereja hidup di ruang tunggu yang aktif. Dua malaikat berkata kepada murid-murid yang masih menatap langit dalam Kisah Para Rasul 1:11, "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga di antara kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." Kalimat itu sekaligus janji dan teguran: Ia pasti datang, secara pribadi, terlihat, sungguh-sungguh; tetapi sementara itu jangan berdiri terpaku menatap langit, sebab ada dunia yang harus disaksikan.
Semuanya bermuara di Wahyu. Kitab itu bukan teka-teki untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan penglihatan yang menguatkan gereja yang tertekan: Anak Domba yang disembelih itulah yang duduk di takhta, dan pada akhirnya kemah Allah akan ada di tengah manusia, dan segala air mata dihapus dari mata mereka (Wahyu 21:3-4). Kalimat terakhir Alkitab bukan ramalan, melainkan doa rindu: "Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus! (Wahyu 22:20). Dari Kejadian sampai Wahyu, benang merahnya satu: Allah yang datang menjumpai umat-Nya, dan puncaknya adalah Kristus.
Kesalahpahaman yang umum
Pertama, anggapan bahwa tanda-tanda adalah alat untuk menghitung tanggal. Sepanjang sejarah gereja, orang-orang menetapkan tahun kedatangan Yesus, menjual harta, berhenti bekerja, lalu terbangun di pagi berikutnya dengan iman yang retak. Setiap kali, Matius 24:36 sudah lebih dahulu menjawab mereka. Bahkan ketika murid-murid mencoba menanyakannya sekali lagi tepat sebelum kenaikan-Nya, Yesus menolak memberi jadwal dan menggantinya dengan tugas: kamu akan menerima kuasa dan menjadi saksi-Ku. Ketika seseorang mengaku tahu tanggalnya, itu bukan tanda kerohanian yang tinggi, itu tanda bahwa ia belum mendengarkan Tuhannya.
Kedua, anggapan bahwa tanda-tanda akhir zaman terutama berupa bencana dan berita buruk. Peperangan, kelaparan, dan gempa memang disebut dalam Matius 24:6-8, tetapi justru dengan catatan "itu belum kesudahannya". Yesus menyebut hal-hal yang sudah terjadi di setiap generasi sejak abad pertama. Sementara itu, tanda yang Ia soroti dengan jauh lebih serius adalah penyesatan rohani, munculnya mesias-mesias palsu, penganiayaan, dan kasih yang menjadi dingin: "Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih banyak orang akan menjadi dingin" (Matius 24:12). Bersama 2 Timotius 3:1-5, gambarannya jelas. Tanda yang paling perlu Anda periksa bukan di layar berita, melainkan di dalam hati Anda sendiri.
Ketiga, anggapan bahwa kedatangan Yesus hanya rohani atau kiasan. Ada yang mengajarkan bahwa Kristus "datang" setiap kali orang percaya, atau bahwa kedatangan-Nya sudah terjadi diam-diam. Kisah Para Rasul 1:11 tidak memberi ruang untuk itu: Ia akan datang kembali dengan cara yang sama seperti Ia naik, yaitu secara pribadi dan terlihat. Paulus menggambarkannya dengan suara yang nyata dalam 1 Tesalonika 4:16-17, "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di udara, demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan." Ini bukan bahasa metafora yang samar, ini bahasa penyambutan seorang Raja yang benar-benar tiba.
Keempat, anggapan bahwa karena dunia akan lenyap, maka dunia tidak perlu diurus. Sebagian orang membaca 2 Petrus 3:10 lalu berkesimpulan: untuk apa memperbaiki apa pun, semuanya akan hangus. Tetapi Petrus sendiri menarik kesimpulan yang berbeda. Dari kenyataan bahwa segala sesuatu akan dimurnikan, ia justru mendesak pembacanya untuk hidup suci, saleh, damai, dan tak bercacat. Kesudahan dunia bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab; kesudahan dunia adalah alasan untuk mengerjakan hal-hal yang benar-benar bertahan. Karena Kristus bangkit secara tubuh, pekerjaan tangan kita di dunia ini tidak sia-sia.
Menghidupinya hari ini
Kalau kita memang sudah hidup di hari-hari terakhir, maka pertanyaannya berubah. Bukan lagi "berapa lama lagi", melainkan "bagaimana saya hidup di ruang tunggu ini". Yesus menjawabnya dengan satu kata yang diulang berkali-kali: berjaga-jaga. "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang" (Matius 24:42).
Berjaga-jaga dalam Injil tidak berarti duduk memandang langit sambil menebak. Perumpamaan-perumpamaan yang Yesus ceritakan sesudah Matius 24 justru berisi hamba yang membagikan makanan pada waktunya, gadis-gadis yang menyiapkan minyak, dan hamba-hamba yang menggunakan talenta mereka. Semuanya tentang kesetiaan sehari-hari. Jadi berjaga-jaga berarti tetap jujur pada laporan keuangan di kantor, walaupun atasan tidak melihat. Berarti tidak menunda permintaan maaf kepada pasangan, karena Anda tidak tahu berapa banyak pagi yang masih tersisa. Berarti membesarkan anak-anak dengan sabar, bukan dengan mengancam mereka memakai cerita akhir zaman.
Berjaga-jaga juga berarti membangun hubungan yang sehat dengan uang, sebab dua daftar tanda yang paling gamblang, dalam 2 Timotius 3:1-5, dibuka dengan mencintai diri sendiri dan menjadi hamba uang. Setiap kali Anda memberi dengan lepas, setiap kali Anda menolak menaikkan gaya hidup demi gengsi, Anda sedang melawan arus zaman akhir dengan cara yang jauh lebih nyata daripada mendiskusikan angka enam ratus enam puluh enam.
Dan berjaga-jaga berarti hidup dengan pengharapan yang menyembuhkan rasa takut. Paulus menulis 1 Tesalonika 4:16-17 bukan sebagai bahan seminar nubuat, melainkan sebagai penghiburan bagi orang-orang yang baru menguburkan anggota keluarga mereka. Ayat-ayat itu berarti: kuburan bukan kata terakhir, perpisahan bukan perpisahan yang final. Kalau Anda sedang berduka, inilah yang boleh Anda pegang malam ini.
Titus 2:13 memberi rumusan sikap yang pas, "dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus." Perhatikan bahwa yang dinanti bukan bencana, melainkan pengharapan yang penuh bahagia, dan yang dinanti bukan peristiwa, melainkan Pribadi. Dalam ayat-ayat sekitarnya Paulus menghubungkan penantian ini langsung dengan cara hidup yang bijaksana, adil, dan beribadah. Menanti Yesus selalu berbentuk hidup yang berubah.
Cermin
Jujurlah sejenak. Apa yang lebih sering Anda lakukan: menghitung tanda-tanda, atau menyiapkan hati? Banyak dari kita ternyata lebih menikmati sensasi berbicara tentang akhir zaman daripada ketaatan yang tidak sensasional hari ini. Lebih mudah menebak siapa antikristus daripada meminta maaf kepada saudara yang kita jauhi tiga tahun terakhir.
Dan mungkin ada sisi lain. Mungkin Anda sebenarnya tidak ingin Yesus datang terlalu cepat. Ada rencana yang belum selesai, karier yang baru menanjak, rumah yang baru separuh dibayar, hubungan yang Anda tahu tidak akan sanggup Anda bawa berdiri di hadapan-Nya. Kalau begitu, tanda-tanda akhir zaman menggesek tepat di tempat yang tepat. Sebab pertanyaan yang sesungguhnya bukan "kapan Ia datang", melainkan "apakah hidupku sedang menuju ke arah-Nya".
Bagi Anda yang letih, ada sisi yang membebaskan. Kalau Anda sedang merawat orang tua yang sakit dan tidak ada yang melihat, kalau tubuh Anda mengecewakan Anda, kalau kesepian datang paling keras justru pada jam sembilan malam, kalau kerja keras Anda dinilai tidak berarti, maka Matius 24:36 adalah kabar baik: waktunya di tangan Bapa, bukan di tangan orang-orang yang membuat hidup Anda sulit. Sejarah tidak sedang lepas kendali, juga sejarah kecil Anda.
Yesus tidak berjanji bahwa Anda akan mengerti seluruh garis waktu. Ia berjanji bahwa Ia sendiri akan datang menjemput Anda, dan bahwa segala air mata akan dihapus dari mata Anda. Pertanyaan-Nya kepada Anda hari ini sederhana dan tidak bisa dielakkan: kalau Aku datang minggu ini, sedang kaudapati Aku menemukanmu mengerjakan apa? Jawaban paling jujur atas pertanyaan itu biasanya bukan renungan panjang, melainkan satu langkah kecil yang sudah lama Anda tunda.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sering mendengar potongan-potongan pembicaraan orang dewasa tentang akhir zaman, lalu tidur dengan rasa takut yang tidak mereka bisa ungkapkan. Karena itu urutan bercerita sangat penting. Mulailah bukan dari bencana, tetapi dari janji: Yesus pernah datang ke dunia, Ia mati dan hidup kembali, lalu naik ke sorga, dan Ia berjanji akan kembali. Pakailah gambar yang mereka kenal, misalnya ayah atau ibu yang berangkat kerja dan berkata, "Nanti aku pulang." Rumah tetap disiapkan, meja tetap diatur, dan yang menunggu tetap bekerja dan bermain, tetapi hati mereka menanti pintu terbuka.
Sesudah itu barulah jelaskan bahwa dunia sekarang memang belum baik: ada perang, ada gempa, ada orang yang saling menyakiti. Yesus sudah memberi tahu lebih dulu supaya kita tidak bingung dan tidak takut. Dan tekankan bagian terbaiknya: ketika Ia datang, tidak ada lagi tangis, tidak ada lagi kematian, dan kita akan selalu bersama Dia. Hindari menakut-nakuti anak untuk membuat mereka taat; anak yang taat karena takut biasanya berhenti taat begitu rasa takutnya hilang.
Untuk yang masih kecil, cukup satu pesan: Yesus pasti pulang, dan Ia sayang padamu. Untuk yang lebih besar, boleh masuk ke Matius 24 dan Kisah Para Rasul 1:11 secara sederhana. Untuk remaja, jujurlah tentang pertanyaan-pertanyaan sulit dan tentang begitu banyak ramalan keliru yang beredar di media sosial. Tersedia penjelasan khusus untuk usia prasekolah tiga sampai enam tahun, usia sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun, dan remaja dua belas tahun ke atas, yang bisa Anda pakai sesuai tahap pemahaman mereka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu tanda-tanda akhir zaman menurut Alkitab?
Tanda-tanda akhir zaman adalah gejala-gejala yang Yesus dan para rasul sebutkan sebagai ciri masa antara kenaikan Kristus dan kedatangan-Nya kembali. Yang paling terkenal ada dalam Matius 24:6-8: peperangan, kabar tentang peperangan, kelaparan, dan gempa bumi di berbagai tempat. Namun Alkitab menekankan tanda-tanda rohani lebih daripada tanda-tanda alam, yaitu munculnya mesias dan nabi palsu, penganiayaan terhadap orang percaya, kasih yang menjadi dingin, kemerosotan moral seperti dalam 2 Timotius 3:1-5, dan pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Tanda-tanda ini bukan kode tanggal, melainkan penanda bahwa kita hidup di zaman penantian.
Apakah kita sekarang sudah hidup di akhir zaman?
Ya, menurut Perjanjian Baru kita sudah berada di dalamnya. Pada hari Pentakosta, Petrus mengutip nubuat Yoel dan berkata, "Akan terjadi pada hari-hari terakhir, demikianlah firman Allah, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku atas semua manusia" (Kisah Para Rasul 2:17). Paulus juga berbicara kepada Timotius tentang "hari-hari terakhir" sebagai kenyataan yang harus dihadapi saat itu juga. Jadi akhir zaman bukan periode singkat menjelang kiamat, melainkan seluruh masa sejak kebangkitan Kristus sampai kedatangan-Nya kembali. Kita bukan sedang menunggu babak terakhir dimulai; kita sedang berdiri di dalamnya.
Kapan Yesus datang kembali?
Tidak ada seorang pun yang tahu, dan setiap orang yang mengaku tahu sudah menyalahi perkataan Yesus sendiri. Matius 24:36 menyatakannya tanpa kompromi, "Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." Petrus menambahkan bahwa hari Tuhan akan tiba seperti pencuri, yaitu tanpa peringatan. Ketidaktahuan ini disengaja oleh Allah, supaya kita hidup setiap hari dalam kesiapan, bukan menunda pertobatan sampai tanggal tertentu. Fokus Alkitab selalu pada kesiapan hati, bukan pada perhitungan waktu.
Apa tanda paling utama sebelum Yesus datang kembali?
Yesus menyebut satu tanda yang berkaitan langsung dengan kesudahan zaman: "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya" (Matius 24:14). Menariknya, tanda utama itu bukan bencana, melainkan misi. Selama masih ada bangsa dan suku yang belum mendengar kabar baik, gereja punya pekerjaan yang jelas. Ini juga menjelaskan mengapa Allah menunda: Petrus berkata bahwa Tuhan sabar karena Ia tidak menghendaki ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
Apakah bencana alam dan gempa bumi termasuk tanda akhir zaman?
Termasuk, tetapi tidak seperti yang sering dibayangkan. Yesus memang menyebut kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat, namun langsung menambahkan bahwa semuanya itu "barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru" dan "belum kesudahannya" (Matius 24:6-8). Artinya, bencana adalah ciri sepanjang zaman ini, bukan penanda bahwa hitungan mundur baru saja dimulai. Setiap generasi sejak abad pertama mengalaminya. Karena itu, menanggapi bencana dengan spekulasi tanggal keliru; menanggapinya dengan doa, pertolongan nyata bagi korban, dan hidup yang siap bertemu Tuhan jauh lebih tepat.
Apa yang dimaksud dengan pengangkatan dalam 1 Tesalonika 4:16-17?
Paulus menulis, "maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di udara, demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan." Gambarannya adalah penyambutan seorang Raja: warga kota keluar menyongsong Dia yang datang, lalu mengiring Dia masuk. Orang Kristen berbeda pendapat mengenai urutan waktunya terhadap masa kesusahan, tetapi inti yang disepakati jelas dan menghibur, yaitu bahwa orang percaya yang sudah meninggal dan yang masih hidup akan bersama selamanya dengan Tuhan.
Siapa itu antikristus dan apakah ia sudah ada sekarang?
Alkitab berbicara tentang seorang penentang Kristus yang akan tampil pada akhirnya, digambarkan Paulus sebagai manusia durhaka yang meninggikan diri melawan Allah, dan digambarkan Wahyu dengan bahasa penglihatan. Namun Rasul Yohanes juga menulis bahwa sudah ada banyak antikristus, yaitu setiap orang yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus. Jadi roh antikristus bekerja sepanjang zaman ini dalam berbagai bentuk penyesatan. Karena itu tugas kita bukan menebak identitas seseorang di panggung dunia, melainkan mengenali Kristus yang sejati sedemikian dalam sehingga tiruan mana pun langsung terasa palsu.
Apa bedanya hari Tuhan dan akhir zaman?
"Akhir zaman" atau "hari-hari terakhir" adalah keseluruhan masa sejak kedatangan Kristus yang pertama sampai kedatangan-Nya yang kedua, masa ketika Roh Kudus dicurahkan dan Injil diberitakan. "Hari Tuhan" adalah puncak dari masa itu, saat Allah bertindak menghakimi dan menyelamatkan secara tuntas. Petrus menggambarkannya dalam 2 Petrus 3:10, "Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri." Para nabi Perjanjian Lama sudah menantikan hari itu. Perbedaannya sederhana: akhir zaman adalah musimnya, hari Tuhan adalah harinya.
Bagaimana cara membedakan nabi palsu dari pengajaran yang benar?
Yesus memperingatkan bahwa akan muncul mesias palsu dan nabi palsu yang melakukan tanda dahsyat, jadi mukjizat saja bukan bukti kebenaran. Ujiannya ada tiga. Pertama, isi ajarannya tentang Yesus Kristus: apakah Dia diakui sebagai Tuhan dan Juruselamat yang datang dalam daging, mati dan bangkit. Kedua, buah hidupnya, sebab Yesus berkata bahwa dari buahnyalah mereka dikenal. Ketiga, kesesuaiannya dengan seluruh Alkitab, bukan dengan potongan ayat yang dipilih-pilih. Tambahkan satu tanda praktis: orang yang berani menetapkan tanggal kedatangan Tuhan sudah gagal pada ujian Matius 24:36.
Apakah orang Kristen perlu takut menghadapi akhir zaman?
Tidak. Perintah pertama Yesus dalam Matius 24:6-8 justru "janganlah kamu gelisah". Ia memberi tahu lebih dulu supaya kita tidak panik ketika hal-hal itu terjadi. Paulus bahkan menyebut kedatangan Kristus sebagai "pengharapan kita yang penuh bahagia" dalam Titus 2:13. Bagi orang yang berlindung pada Kristus, hari itu bukan hari kehilangan, melainkan hari perjumpaan. Yang perlu ditinggalkan bukan hanya ketakutan, tetapi juga kelalaian: hidup tenang tanpa rasa takut tidak sama dengan hidup santai tanpa pertobatan.
Apakah dunia akan dibakar habis atau dibaharui?
Dua Petrus 3:10 memakai bahasa yang keras tentang langit yang lenyap dan unsur-unsur dunia yang hangus dalam nyala api. Namun beberapa ayat kemudian Petrus menulis bahwa sesuai dengan janji-Nya kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Gambaran akhirnya dalam Wahyu bukan orang percaya yang melayang tanpa tubuh, melainkan Allah yang berdiam bersama manusia di bumi yang diperbaharui. Karena itu api dalam nubuat ini lebih tepat dipahami sebagai pemurnian yang membakar habis segala kejahatan, bukan penghapusan ciptaan yang Allah sebut baik.
Bagaimana seharusnya saya bersiap menghadapi kedatangan Yesus?
Mulailah dengan hal yang paling mendasar: percaya kepada Yesus Kristus dan hidup di bawah anugerah-Nya, sebab kesiapan bukan hasil ketegangan melainkan hasil hubungan. Sesudah itu, hiduplah seperti yang Yesus perintahkan, yaitu berjaga-jaga dalam bentuk kesetiaan sehari-hari: jujur dalam pekerjaan, lembut dalam keluarga, murah hati dengan uang, cepat mengampuni, tekun berdoa dan membaca firman, serta membagikan Injil kepada orang di sekitar Anda. Titus 2:13 menghubungkan penantian dengan cara hidup yang bijaksana dan saleh. Orang yang siap bukan orang yang tahu tanggalnya, melainkan orang yang tidak perlu buru-buru membereskan apa pun.
Sebagai penutup
Tanda-tanda akhir zaman diberikan bukan untuk membuat kita menghitung, melainkan untuk membuat kita terjaga. Kita sudah berada di hari-hari terakhir sejak Roh Kudus dicurahkan, dan seluruh masa ini adalah musim penantian yang panjang, penuh gejolak, tetapi berada di bawah kendali Allah. Peperangan dan gempa adalah gelombang sakit bersalin, bukan bukti bahwa Allah kehilangan kemudi. Kemerosotan moral yang Paulus daftarkan mengajak kita memeriksa hati sendiri lebih dahulu sebelum menunjuk zaman. Dan janji dalam Kisah Para Rasul 1:11 tetap berdiri kokoh: Yesus yang sama, yang naik ke sorga, akan datang kembali dengan cara yang sama.
Kalau Anda ingin melangkah lebih jauh, bacalah Matius 24 dan 25 dalam satu kali duduk, lalu tanyakan pada diri sendiri mengapa Yesus menutup ajaran tentang akhir zaman dengan perumpamaan tentang kesetiaan, kesiapan, dan pelayanan kepada yang paling hina. Sesudah itu bacalah 2 Petrus 3 dan Wahyu 21. Anda akan menemukan bahwa akhir cerita ini bukan kehancuran, melainkan perjumpaan. Dan doa terakhir Alkitab boleh menjadi doa Anda malam ini juga: datanglah, Tuhan Yesus.