IBRANI 11:8
Teks
Abraham mendengar panggilan, lalu berjalan. Itulah seluruh isi ayat ini: ada suara yang memanggil, ada tanah yang dijanjikan sebagai milik pusaka, dan ada seorang laki-laki tua yang mengemasi hidupnya dan melangkah keluar. Penulis Ibrani merangkumnya dengan satu kalimat yang hampir terdengar seperti catatan perjalanan: "Oleh iman, Abraham taat ketika dipanggil Tuhan untuk pergi ke suatu tempat yang akan diberikan sebagai milik pusakanya." Lalu datang anak kalimat yang mengubah segalanya, yang membuat kisah ini bukan kisah migrasi biasa melainkan kisah iman: "Ia berangkat tanpa tahu ke mana ia akan pergi." Tujuannya dijanjikan, tetapi alamatnya tidak diberikan. Abraham tahu Siapa yang memanggil; ia tidak tahu ke mana kakinya akan berhenti.
Inti
Perhatikan urutannya: bukan Abraham yang mencari Allah, melainkan Allah yang memanggil Abraham. Iman di sini tidak lahir dari pencarian spiritual seorang manusia saleh, tetapi dari inisiatif Allah yang menyapa seorang penyembah berhala di Ur. Itu sebabnya iman dan ketaatan dalam ayat ini bukan dua hal yang berbeda; penulis menulis "oleh iman, Abraham taat", seolah keduanya satu gerakan tubuh yang sama. Percaya berarti berangkat. Dan yang membuat keberangkatan itu mungkin bukanlah informasi yang cukup, melainkan Pribadi yang cukup. Abraham tidak memiliki peta, ia memiliki janji. Di sinilah letak kejutan Injil yang sudah berdenyut jauh sebelum Kristus datang: keselamatan selalu dimulai dari pihak Allah, selalu berbentuk janji sebelum berbentuk kepemilikan, dan selalu menuntut kaki yang bergerak sebelum mata melihat bukti.
Benang Merah
Kata yang diterjemahkan "milik pusaka" (Yunani: klēronomia, warisan) bukan kata netral. Warisan dalam dunia Alkitab selalu datang dari seorang bapa kepada anak, dan selalu berarti tempat berpijak yang sah. Abraham meninggalkan rumah bapanya justru untuk menerima warisan dari Bapa yang lain. Dan penulis Ibrani segera membuka kartunya di ayat berikutnya: yang sesungguhnya dinantikan Abraham adalah "sebuah kota yang mempunyai fondasi, yang perancang dan pembangunnya adalah Allah." Tanah Kanaan hanyalah uang muka. Pola ini mencapai puncaknya pada Yesus: Anak yang meninggalkan rumah Bapa, yang taat sampai ke tempat yang tidak dipilih-Nya sendiri, dan yang melalui ketaatan itu menjadi Ahli Waris segala sesuatu, lalu membagikan warisan-Nya kepada orang-orang yang tidak punya hak apa pun atasnya. Abraham berjalan di jejak yang baru belakangan dibuat.
Cermin
Kita jarang menolak Allah secara terbuka. Kita hanya menunda sampai gambarannya jelas. Anda ingin tahu dulu apakah pekerjaan itu aman sebelum Anda melepaskan yang sekarang. Anda ingin tahu dulu apakah anak Anda akan kembali sebelum Anda berhenti mengancam dan mulai mengasihi. Anda ingin hasil pemeriksaan dokter dulu sebelum Anda berani berdoa dengan jujur. Itu bukan iman, itu negosiasi: Tuhan, tunjukkan peta-Nya, lalu saya berangkat. Abraham membalik urutannya. Ia berangkat, lalu Allah menunjukkan. Yang membuat langkah itu bukan nekat melainkan iman adalah karena ia mengenal Suara yang memanggilnya. Hari ini, tuliskan pada secarik kertas satu langkah ketaatan yang sudah lama Anda tunda karena menunggu kepastian, lalu ucapkan dengan suara keras: "Tuhan, saya tidak tahu ujungnya, tetapi saya berangkat."
Konteks
Surat Ibrani ditulis kepada orang-orang percaya yang sedang lelah dan tergoda untuk pulang, kembali ke bentuk ibadah lama yang aman dan diakui masyarakat. Penulis bahkan menyinggungnya terang-terangan: kalau mereka ingat tempat yang mereka tinggalkan, "mereka bisa saja ada kesempatan kembali." Karena itu Abraham dipilih sebagai contoh. Di dunia kuno, meninggalkan negeri dan kaum berarti kehilangan perlindungan hukum, jaminan ekonomi, dan identitas; ilah-ilah pun dianggap terikat pada wilayah tertentu, sehingga pergi berarti seolah meninggalkan jangkauan para dewa. Abraham berusia tujuh puluh lima tahun, usia untuk menetap, bukan untuk membongkar tenda. Ia melepaskan segala yang membuat seseorang dihitung sebagai manusia di matanya zamannya, demi satu janji lisan.
Pertanyaan
Lalu apakah ia menerimanya? Tidak. Beberapa ayat kemudian penulis mengakuinya tanpa basa-basi: mereka semua "telah mati tanpa menerima apa yang dijanjikan." Satu-satunya tanah yang pernah dimiliki Abraham di Kanaan adalah kuburan istrinya. Ini sisi iman yang tidak enak dan tidak boleh kita haluskan: ketaatan tidak menjamin Anda melihat hasilnya. Ada orang tua yang berdoa puluhan tahun bagi anaknya dan meninggal sebelum doa itu dijawab. Penulis Ibrani tidak menghibur dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya menerimanya diam-diam. Ia mengatakan sesuatu yang lebih berani: Allah sengaja menahan kepenuhan itu, "sebab, Allah telah menyediakan apa yang lebih baik untuk kita." Penggenapan janji Abraham menunggu Kristus. Itu bukan penundaan yang kejam, melainkan rancangan yang lebih luas daripada satu umur manusia.
Intertekstual
Kejadian 12 memberi kita adegan aslinya: perintah untuk pergi diucapkan lebih dulu, tujuannya menyusul kemudian, "ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Penulis Ibrani membaca kekosongan itu bukan sebagai kelalaian Allah melainkan sebagai inti pelajarannya. Dan Paulus dalam Roma 4 menarik janji itu melampaui batas geografis: Abraham dijanjikan menjadi ahli waris dunia, bukan sekadar sepetak Kanaan, dan itu diterima melalui iman, bukan melalui hukum Taurat. Dua bacaan ini bertemu di satu titik: warisan Abraham tidak pernah benar-benar berupa tanah, melainkan berupa dunia yang dipulihkan di bawah pemerintahan Kristus. Kita mewarisi bersamanya, bukan setelahnya.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda sedang menuntut peta dari Allah padahal yang Dia berikan adalah janji dan sebuah langkah pertama?
Jika Anda meninggal sebelum melihat jawaban atas doa yang paling Anda perjuangkan, apakah iman Anda masih masuk akal bagi Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Hebrews 11:8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti IBRANI 11:8?
Tentang apakah IBRANI 11:8?
Apa konteks historis dari IBRANI 11:8?
Apa yang IBRANI 11:8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana IBRANI 11:8 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Hebrews 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yang pertama disebut dalam daftar iman bukanlah Abraham atau Nuh, melainkan ini: "Oleh iman, kita mengerti bahwa alam semesta telah diciptakan oleh firman Allah sehingga apa yang kita lihat tidak dibuat dari hal-hal yang kelihatan." Jadi sejak awal, yang kelihatan bukanlah seluruh ceritanya. Masalahmu hari ini pun tidak. Allah masih bekerja di tempat yang belum bisa kaulihat.
Jika mereka memikirkan negeri yang telah mereka tinggalkan, mereka akan mendapat kesempatan untuk kembali." Kesempatan itu selalu ada. Pintu pulang tidak pernah benar-benar terkunci. Yang menahan Abraham bukan jalan yang tertutup, melainkan hati yang sudah memilih. Jadi tanyakan pada dirimu: ke mana pikiranmu pulang saat kamu lelah?
Abraham, Musa, Rahab, semuanya mati tanpa pernah memegang yang dijanjikan. Dan itu bukan kelalaian Allah: "sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita supaya mereka tidak disempurnakan tanpa kita." Mereka menunggu kamu. Imanmu yang kecil hari ini ternyata bagian dari kisah yang sudah lama dimulai.
Yusuf mati sebagai orang besar di Mesir, tapi kata-kata terakhirnya bukan tentang istana. "Oleh iman, ketika Yusuf hampir mati, ia menyebut tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi perintah tentang tulang-tulangnya." Ia tahu Mesir bukan rumah. Apa yang kamu genggam hari ini, apakah itu tempat tinggalmu yang sebenarnya, atau hanya persinggahan?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi