YOHANES 8:39
Teks Itu Sendiri
Percakapan di Bait Allah sudah memanas. Yesus baru saja mengatakan bahwa mereka melakukan apa yang mereka dengar dari bapa mereka, dan lawan bicara-Nya langsung memainkan kartu terkuat yang mereka punya: "Abraham adalah bapa kami." Satu kalimat, dan seluruh sejarah keselamatan seolah berdiri di pihak mereka. Jawaban Yesus tidak membantah silsilah mereka, tetapi memutar arah pembicaraan seratus delapan puluh derajat: "Jika kamu keturunan Abraham, kamu seharusnya melakukan apa yang Abraham lakukan." Bukan nama yang diperdebatkan, melainkan perbuatan. Dan kata kerja yang Yesus pakai menuntut bukti yang bisa dilihat, bukan kartu keanggotaan yang bisa ditunjukkan.
Inti Persoalan
Di sini Yesus membongkar satu anggapan yang sangat tua dan sangat manusiawi: bahwa hubungan dengan Allah bisa diwariskan seperti tanah atau nama keluarga. Mereka berdiri di atas perjanjian yang nyata, janji kepada Abraham memang sungguh-sungguh ada, tetapi mereka memperlakukan janji itu sebagai jaminan otomatis, bukan sebagai panggilan. Yesus berkata: kekerabatan rohani kelihatan dari kemiripan. Anak Abraham berperilaku seperti Abraham. Dan apa yang Abraham lakukan? Ia mendengar firman Allah dan bergerak, ia menerima utusan Allah, ia percaya sebelum ia melihat. Sementara orang-orang ini, kata Yesus dua ayat kemudian, justru berusaha membunuh Dia yang memberitahu mereka kebenaran. Identitas rohani bukan status yang dipegang, melainkan arah hidup yang terlihat. Itulah sebabnya anugerah tidak pernah bisa diwarisi secara pasif; anugerah selalu melahirkan keserupaan.
Benang Merah
Janji kepada Abraham selalu punya dua sisi: keturunan dan berkat bagi segala bangsa. Sisi kedua itulah yang terus dilupakan, dan justru di situ Yesus menancapkan jari-Nya. Abraham tidak menjadi bapa orang percaya karena darahnya, melainkan karena ia percaya kepada Allah yang berbicara kepadanya. Maka ketika Yesus berkata beberapa ayat kemudian, "Bapamu, Abraham, bersukacita karena dia akan melihat hari-Ku," Ia sedang menunjukkan ke mana seluruh garis itu mengarah. Abraham bukan titik akhir, melainkan penunjuk jalan. Yang benar-benar menjadi anak Abraham adalah mereka yang mengenali Dia yang Abraham nanti-nantikan. Inilah benang merah Alkitab: Allah tidak pernah mengumpulkan sebuah suku, Ia selalu mengumpulkan orang-orang yang percaya kepada firman-Nya.
Cermin
Pertanyaannya sederhana dan tidak enak: kartu apa yang Anda mainkan ketika iman Anda dipertanyakan? Mungkin kartu keluarga, orang tua yang saleh, gereja yang sehat sejak kecil. Mungkin kartu sejarah, dulu saya pernah sungguh-sungguh. Mungkin kartu jabatan, saya pengurus, saya pengajar, saya yang membuka rumah untuk persekutuan. Semua itu benar, seperti "Abraham adalah bapa kami" juga benar. Tetapi Yesus tidak menanyakan kebenaran klaim Anda, Ia menanyakan kemiripan Anda. Apakah cara Anda memperlakukan karyawan, atau menanggapi mertua, atau memutuskan soal uang bulan ini, kelihatan seperti milik seseorang yang mendengar firman lalu bergerak? Anugerah tidak menuntut prestasi, tetapi ia meninggalkan jejak. Hari ini, tulislah di secarik kertas satu kalimat jawaban jujur atas pertanyaan ini: "Kalau orang menilai saya hanya dari perbuatan minggu ini, siapa yang akan mereka sebut sebagai bapa saya?" Lalu bawa kalimat itu kepada Tuhan dalam doa, tanpa membela diri.
Sang Tokoh Utama
Yang menonjol di ayat ini adalah cara Yesus bertengkar. Ia tidak berteriak, tidak menghina silsilah mereka, bahkan Ia mengakuinya: "Aku tahu bahwa kamu adalah keturunan Abraham." Lalu Ia menggeser percakapan ke tempat yang tidak bisa dimenangkan dengan dokumen. Ada ketenangan di dalam Dia yang hanya mungkin datang dari seseorang yang tahu persis dari mana Ia berasal dan ke mana Ia pergi. Dan ada luka juga: Ia berbicara kepada orang-orang yang sedang merencanakan kematian-Nya, dan Ia tetap berbicara, tetap menawarkan kebenaran. Itulah potret Allah yang kita punya. Bukan hakim yang diam, melainkan Pribadi yang terus berbicara kepada orang yang menolak Dia, sampai batu-batu diangkat dan Ia harus pergi.
Pertanyaan yang Tersisa
Kalau keturunan tidak menjamin apa-apa, lalu apa gunanya perjanjian itu? Dan lebih tajam lagi: bagaimana saya tahu bahwa saya sendiri bukan sedang memegang kartu kosong? Yesus tidak memberi daftar periksa. Ia tidak berkata, lakukan tiga hal ini maka kamu aman. Ia hanya menunjuk pada apa yang Abraham lakukan, dan membiarkan pendengar-Nya mengukur diri. Itu tidak nyaman, dan memang seharusnya tidak nyaman. Yang bisa saya katakan dengan jujur adalah ini: kepastian iman tidak pernah datang dari memeriksa diri sampai puas, melainkan dari terus mendengar Dia yang berbicara. Rasa tidak aman itu sendiri sering menjadi tanda bahwa telinga Anda masih terbuka. Orang yang benar-benar tuli tidak pernah merasa terusik.
Konteks
Peristiwa ini terjadi di pelataran Bait Allah, beberapa hari setelah Hari Raya Pondok Daun, di tengah kerumunan, di wilayah kekuasaan para pemimpin agama. Di situ silsilah bukan urusan sentimental melainkan modal sosial: menjadi keturunan Abraham berarti punya hak atas tanah, atas Bait Allah, atas masa depan Allah. Di bawah pendudukan Roma, identitas itu menjadi satu-satunya kemerdekaan yang tersisa, karena itu kalimat mereka sebelumnya, "tidak pernah menjadi hamba siapa pun," terdengar hampir nekat. Yesus, seorang guru dari Galilea tanpa dukungan lembaga, menyerang justru titik itu. Bukan heran percakapan berakhir dengan batu di tangan. Ia tidak sedang berdebat soal teologi abstrak, Ia sedang mencabut lantai tempat mereka berdiri.
Refleksi
Ketika iman saya terasa goyah, kepada bukti apa saya biasanya berpegang: kepada riwayat saya, atau kepada firman yang sedang Tuhan ucapkan kepada saya hari ini?
Di bagian hidup mana saya paling tidak mirip dengan Bapa yang saya akui, dan mengapa justru bagian itu yang paling saya hindari untuk dibicarakan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 8:39
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 8:39?
Tentang apakah YOHANES 8:39?
Apa konteks historis dari YOHANES 8:39?
Apa yang YOHANES 8:39 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 8:39 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, Yesus pun menyisih ke bukit yang sunyi sebelum menghadapi keramaian. Ajari aku melakukan hal yang sama: berhenti sejenak, menenangkan hati, mencari wajah-Mu sebelum hari ini menuntut terlalu banyak dariku. Aku butuh ruang bersama-Mu.
Tuhan, aku tahu rasanya berdiri di tengah, ditatap banyak mata, dengan kesalahan yang terbuka. Tolong aku percaya bahwa Engkau tidak ikut melempar. Dan jauhkan aku dari sikap menyeret orang lain demi membuktikan bahwa aku lebih baik.
Aku mengatakan apa yang telah Aku lihat pada Bapa-Ku, dan kamu melakukan apa yang telah kamu dengar dari bapamu." Yesus berbicara dari apa yang Dia lihat. Mereka bertindak dari apa yang mereka dengar. Ada jarak besar antara keduanya. Cara hidupmu hari ini diam-diam menunjukkan suara siapa yang paling sering kaudengarkan.
Dia yang mengutus Aku ada bersama-Ku. Dia tidak meninggalkan Aku sendiri," kata Yesus sambil dikelilingi orang-orang yang ingin melempari-Nya. Tidak ada satu pun yang berdiri di pihak-Nya, tapi Dia tetap tidak sendiri. Dan nanti di salib, Dia yang ditinggalkan, supaya kamu yang hari ini merasa tak punya siapa-siapa tidak pernah benar-benar sendirian.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi