MATIUS 22:21
Teks
Mereka menyodorkan sekeping dinar, dan Yesus hanya bertanya satu hal: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawabannya sudah pasti sebelum diucapkan, "Kaisar." Lalu datang kalimat yang menutup jerat itu sekaligus membukanya lebar-lebar: "bayarlah kepada kaisar hal-hal milik kaisar, dan kepada Allah hal-hal yang adalah milik Allah." Perhatikan apa yang tidak Ia lakukan. Ia tidak menyusun daftar. Ia tidak menjelaskan di mana batas wilayah kaisar berakhir dan wilayah Allah dimulai. Ia menaruh sekeping logam di tangan mereka, menyebut gambar yang tertera di atasnya, dan membiarkan mereka pulang dengan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada pertanyaan pajak yang mereka bawa. Ayat 22 mencatat reaksinya dengan jujur: mereka terheran-heran, dan pergi. Bukan diyakinkan. Hanya terdiam.
Inti
Kalimat itu bekerja dengan logika gambar. Koin itu milik kaisar karena wajah kaisar tercetak di sana; kembalikan saja kepadanya, itu uangnya. Tetapi begitu Yesus mengucapkan bagian kedua, pertanyaan yang sama berbalik menghantam para penanya: lalu, di manakah gambar Allah tercetak? Yesus tidak menjawabnya. Ia tidak perlu. Siapa pun yang pernah membaca halaman pertama Kejadian tahu bahwa manusia dibuat menurut gambar Allah, dan karenanya yang harus dikembalikan kepada Allah bukan sepersekian dari penghasilan, melainkan diri itu sendiri, utuh, dengan wajah dan nama dan seluruh hidupnya. Kaisar boleh mengambil kembali logamnya. Allah menuntut yang jauh lebih dalam dan jauh lebih mahal. Dan yang mengganggu adalah ini: Yesus membiarkan tuntutan itu menggantung tanpa penjelasan, seperti undangan yang belum dijawab.
Benang Merah
Yang berdiri di sana sambil memegang koin itu adalah Dia yang sendiri adalah gambar Allah yang tidak tercetak di logam melainkan hidup, berjalan, dan beberapa hari kemudian diserahkan. Tiga pasal sebelumnya Matius sudah menyiapkan telinga kita: Anak Manusia datang untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Di situlah kalimat tentang mengembalikan kepada Allah apa yang milik Allah mendapat wujudnya yang paling utuh. Satu-satunya manusia yang benar-benar mengembalikan diri-Nya kepada Allah secara penuh, tanpa menahan sepeser pun, berdiri di Bait Allah pada minggu terakhir hidup-Nya, dikepung oleh orang-orang yang menghitung batas kewajiban mereka. Perjanjian Lama penuh dengan tuntutan "kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu", dan beberapa ayat kemudian Yesus mengutipnya sendiri. Segenap. Bukan sebagian yang tersisa setelah kaisar mengambil jatahnya.
Cermin
Kita hidup dengan pembagian yang rapi, dan diam-diam kita menyukainya. Ada kolom untuk pekerjaan, kolom untuk keluarga, kolom untuk Allah, dan kolom terakhir itu biasanya yang paling mudah dipangkas ketika tenggat menumpuk. Yang menakutkan dari kalimat Yesus bukan bahwa Ia menuntut kolom yang lebih besar, melainkan bahwa Ia menghapus garis-garisnya. Jam kerjamu bergambar siapa? Caramu berbicara kepada anakmu saat lelah, bergambar siapa? Uang yang kau simpan untuk masa tua, tabungan yang kau rasa benar-benar milikmu sendiri, bergambar siapa? Pertanyaan itu tidak mengancam; ia hanya tidak mau pergi. Hari ini: ambil selembar uang dari dompetmu, pegang, dan ucapkan dengan suara keras, "Ini bergambar negara. Aku bergambar Allah." Lalu sebutkan satu hal yang kau kembalikan kepada-Nya sebelum malam.
Detail
Kata yang Yesus pakai untuk "bayarlah" bukan kata biasa untuk membayar. Dalam bahasa Yunani ia memakai apodote, yang berarti kembalikanlah, serahkanlah kembali sesuatu yang memang bukan milikmu. Perhatikan betapa itu mengubah segalanya. Para penanya bertanya apakah "dibenarkan untuk membayar", seolah-olah ada pilihan memberi atau menahan. Yesus menggeser seluruh percakapan: ini bukan soal memberi, ini soal mengembalikan. Koin itu tidak pernah benar-benar milikmu; wajah orang lain tercetak di sana. Dan jika logika itu dipakai sampai habis, maka hidupmu pun tidak pernah benar-benar milikmu. Tidak ada kemurahan hati dalam mengembalikan barang pinjaman. Hanya kejujuran. Mungkin itulah sebabnya mereka pergi tanpa sepatah kata pun.
Konteks
Ini hari Selasa dalam minggu terakhir, di pelataran Bait Allah, beberapa hari setelah Yesus menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang. Udara masih panas. Orang Farisi, yang membenci Roma, bersekutu dengan orang Herodian, yang hidup dari Roma; aliansi semacam itu hanya terjadi ketika ada musuh bersama. Pajak yang mereka maksud adalah pajak kepala, satu dinar per orang per tahun, dipungut langsung oleh penguasa asing sejak sensus yang dulu memicu pemberontakan berdarah di Galilea. Jebakannya sempurna. Katakan ya, dan massa yang baru saja meneriakkan "Hosana" akan berbalik. Katakan tidak, dan sebelum senja laporan sudah sampai ke Pilatus. Pujian mereka di ayat 16 terdengar manis justru karena mereka ingin Yesus merasa harus berani.
Profil
Pendengar pertama tahu persis apa yang tercetak pada dinar itu, dan itulah yang membuat permintaan Yesus tajam. Di satu sisi wajah Tiberius, di sisi lain tulisan yang menyebutnya anak dari yang ilahi. Sepotong penyembahan berhala kecil, dilipat dalam dompet, dibawa masuk ke pelataran Bait Allah oleh orang-orang yang mengaku paling murni. Yesus tidak perlu menuduh; Ia cukup meminta mereka mengeluarkannya. Bagi mereka, kalimat penutup itu bukan teori kewarganegaraan yang nyaman melainkan telanjangnya sebuah kompromi yang sudah lama mereka jalani tanpa gelisah. Dan bagi pembaca Matius, yang hidup sebagai minoritas di bawah kekaisaran yang sama, kalimat ini menjadi tanah berpijak: kaisar boleh mengambil banyak, tetapi tidak pernah boleh mengambil yang bergambar Allah.
Refleksi
Jika koin itu milik kaisar karena wajahnya tercetak di sana, bagian mana dari hidupmu yang paling sulit kau akui sebagai milik Allah karena gambar-Nya tercetak di sana?
Mengapa menurutmu Yesus membiarkan kalimat itu terbuka tanpa daftar dan tanpa batas, dan apa yang akan hilang seandainya Ia menjelaskannya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 22:21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 22:21?
Tentang apakah MATIUS 22:21?
Apa konteks historis dari MATIUS 22:21?
Apa yang MATIUS 22:21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 22:21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 22
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tunjukkan kepada-Ku mata uang untuk membayar pajak itu." Lalu, mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Mereka datang dengan pertanyaan rohani, tapi Yesus minta melihat isi kantong mereka. Dan ternyata ada. Uang Kaisar itu mereka bawa ke mana-mana. Kadang hidup kita berbicara lebih jujur daripada pertanyaan kita. Apa yang ada di kantongmu hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi