Kitab Galatia: Merdeka dalam Kristus, Bukan karena Hukum Taurat
Pendahuluan
Bayangkan sebuah ruang makan di Antiokhia. Piring-piring sudah terisi, roti dipecah-pecahkan, dan di meja itu duduk orang Yahudi yang percaya kepada Yesus bersama orang bukan Yahudi yang baru saja mengenal nama-Nya. Sesuatu yang mustahil secara sosial sedang terjadi di situ: dua dunia yang terpisah selama berabad-abad kini makan dari satu nampan. Lalu beberapa tamu datang dari Yerusalem, dan Petrus perlahan-lahan menggeser kursinya. Ia mundur. Satu per satu orang Yahudi lain ikut mundur, sampai meja itu terbelah dua.
Dari insiden meja makan itulah Surat Galatia memperoleh panasnya. Paulus tidak sedang berdebat soal teori; ia sedang membela sebuah meja. Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulis Kitab Galatia, kapan dan mengapa surat ini lahir, bagaimana strukturnya dibangun, apa tema-temanya, dan bagaimana kemerdekaan yang diberitakannya menyentuh hidup Anda hari ini.
Sudut pandang panduan ini
Kita membaca Kitab Galatia dari meja makan di Antiokhia, bukan dari ruang kuliah. Banyak ulasan memperlakukan surat ini sebagai perdebatan tentang "iman versus perbuatan" yang abstrak. Padahal Paulus menulis karena ada orang-orang yang tidak lagi mau duduk semeja. Legalisme hampir tidak pernah muncul sebagai argumen; ia muncul sebagai jarak, sebagai tingkatan, sebagai perasaan halus bahwa ada orang kelas satu dan kelas dua di hadapan Allah. Kebenaran Injil dalam Galatia diuji bukan di ruang diskusi, melainkan di tempat orang berbagi roti. Itulah sudut pandang yang akan kembali berulang kali di sepanjang halaman ini.
Apa kata Alkitab tentang Kitab Galatia?
Surat ini membuka dirinya sendiri: "Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Galatia 1:1). Penulisnya adalah Rasul Paulus, dan hampir tidak ada ahli dari aliran mana pun yang meragukan hal itu. Nada tulisannya pribadi, tajam, kadang terdengar seperti orang yang sedang menahan air mata. Satu hal yang langsung terasa aneh bagi pembaca surat-surat Paulus yang lain: tidak ada ucapan syukur di awal. Biasanya Paulus memulai dengan memuji jemaatnya. Kali ini ia langsung berkata, "Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain" (Galatia 1:6).
Soal waktu penulisan, ada dua kemungkinan besar. Bila "Galatia" yang dimaksud adalah kota-kota di wilayah selatan provinsi Romawi Galatia, seperti Antiokhia Pisidia, Ikonium, Listra, dan Derbe, yang dikunjungi Paulus dalam perjalanan misinya yang pertama (Kisah Para Rasul 13 sampai 14), maka surat ini mungkin ditulis sekitar tahun 48 sampai 49 Masehi, bahkan sebelum sidang di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Bila yang dimaksud adalah daerah etnis Galatia di bagian utara, penulisannya bergeser ke sekitar tahun 53 sampai 55 Masehi. Pandangan pertama cukup kuat, dan bila benar, Galatia adalah surat Paulus yang paling awal, bahkan mungkin tulisan Perjanjian Baru yang paling tua.
Keadaan yang melatarbelakanginya jelas terbaca. Sesudah Paulus pergi, datanglah guru-guru lain yang mengajarkan bahwa percaya kepada Yesus saja belum cukup. Orang bukan Yahudi, kata mereka, harus disunat dan memikul hukum Taurat supaya sungguh-sungguh menjadi umat Allah. Secara permukaan tuntutan itu terdengar saleh. Namun Paulus melihat apa yang sebenarnya terjadi: Injil sedang diubah menjadi sistem keanggotaan, dan salib Kristus sedang dijadikan setengah jalan. Karena itu ia menulis kalimat paling keras dalam seluruh suratnya: "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia" (Galatia 1:8). Perhatikan bahwa Paulus memasukkan dirinya sendiri dan malaikat ke dalam daftar. Injil tidak bergantung pada otoritas pengkhotbahnya; pengkhotbahlah yang diukur oleh Injil.
Jantung argumennya diucapkan sambil mengenang meja makan Antiokhia: "Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus" (Galatia 2:16). Kata "dibenarkan" di sini adalah istilah ruang pengadilan: dinyatakan benar, diterima, tidak lagi berdiri sebagai terdakwa. Paulus menegaskan bahwa status itu tidak pernah bisa dicicil lewat ketaatan, sebaik apa pun ketaatan itu.
Dan bila status kita bukan hasil usaha, maka hidup kita pun bukan lagi proyek pribadi: "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:20). Kemerdekaan dalam Galatia bukan ruang kosong tempat kita berbuat sesuka hati. Kemerdekaan itu adalah ruang yang sudah dihuni oleh Kristus.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Paulus tidak sedang menciptakan ajaran baru yang memutus hubungan dengan Perjanjian Lama. Justru sebaliknya: ia membuktikan bahwa para pengajar sesat itulah yang salah membaca kitab mereka sendiri. Ia kembali ke Abraham, jauh sebelum sunat diperintahkan dan jauh sebelum Sinai, dan mengutip Kejadian 15:6: "Secara itu juga Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Galatia 3:6). Bapa orang percaya diterima Allah bukan karena prestasinya, melainkan karena ia mempercayai janji. Janji itu bahkan sejak semula mencakup bangsa-bangsa lain: "Olehmu segala bangsa akan diberkati" (Galatia 3:8).
Lalu apa fungsi hukum Taurat? Paulus menjawab dengan gambaran yang indah: "Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman" (Galatia 3:24). Kata yang dipakai menunjuk pada budak pengasuh yang mengantar anak tuannya ke sekolah dan menjaganya di jalan. Tugasnya mulia, tetapi sementara. Hukum Taurat menyingkapkan dosa, memelihara umat, dan menunjuk ke depan, namun ia tidak pernah sanggup memberi hidup.
Masalahnya, hukum yang baik itu mendatangkan kutuk atas kita yang melanggarnya, sebagaimana tertulis dalam Ulangan 27:26. Di titik inilah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bertemu dengan cara yang membuat napas tertahan: "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" (Galatia 3:13). Paulus mengutip Ulangan 21:23, teks tentang mayat penjahat yang digantung sebagai tanda terkutuk. Yesus Kristus mengambil tempat itu. Pertukaran besar terjadi di kayu salib: kutuk berpindah kepada-Nya, berkat Abraham mengalir kepada kita.
Dari sana Paulus bergerak ke penggenapan yang telah lama dinanti: "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat" (Galatia 4:4). Seluruh sejarah perjanjian, dari Abraham sampai Musa, dari para nabi sampai penantian panjang sesudah pembuangan, bermuara pada seorang Anak yang diutus dan sebuah Roh yang dicurahkan, sehingga kita berseru, "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6).
Hukum Taurat mengantar kita ke pintu; Kristus membawa kita masuk.
Dalam kanon, Galatia berdiri di antara 2 Korintus dan Efesus, dan berfungsi seperti versi ringkas serta berapi-api dari Surat Roma. Apa yang di Roma diuraikan dengan tenang dan sistematis, di Galatia diteriakkan dengan urgensi seorang gembala yang melihat kawanannya sedang digiring kembali ke kandang perbudakan.
Struktur dan tema utama
Surat ini terbagi rapi menjadi tiga bagian besar yang masing-masing mencakup dua pasal, dan ketiganya saling menopang seperti tiga lapis bangunan.
Dua pasal pertama bersifat pembelaan pribadi dan sejarah. Paulus menceritakan asal-usul Injil yang ia beritakan: bukan hasil belajar dari manusia, melainkan penyataan langsung dari Yesus Kristus. Ia menuturkan masa lalunya sebagai penganiaya jemaat, pertobatannya, tahun-tahunnya di Arab, kunjungannya ke Yerusalem, dan pengakuan dari Yakobus, Kefas, dan Yohanes yang memberi "tangan kanan" sebagai tanda persekutuan. Semua ini memuncak di Antiokhia: "Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah" (Galatia 2:11). Perhatikan mengapa Paulus menegur. Bukan karena Petrus mengajarkan doktrin keliru, tetapi karena ia memindahkan kursinya. Paulus menyebut tindakan itu "tidak berlaku jujur menurut kebenaran Injil" (Galatia 2:14). Bagi Paulus, siapa yang Anda ajak makan adalah pernyataan teologis.
Dua pasal berikutnya, yakni pasal 3 dan 4, adalah argumen teologis. Di sini Paulus menumpuk bukti: pengalaman jemaat Galatia sendiri yang menerima Roh karena percaya, bukan karena melakukan hukum Taurat; teladan Abraham; sifat janji yang tidak bisa dibatalkan oleh hukum yang datang empat ratus tiga puluh tahun kemudian; peran hukum sebagai penuntun; dan perubahan status dari hamba menjadi anak dan ahli waris. Nada emosionalnya tetap terasa; ia bahkan berkata, "Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu?" (Galatia 3:1), lalu melembut dan menyapa mereka "hai anak-anakku" (Galatia 4:19).
Dua pasal terakhir berbicara tentang kemerdekaan yang dijalani. Di sinilah kalimat yang menjadi semboyan seluruh surat berdiri: "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan" (Galatia 5:1). Paulus langsung mengunci dua pintu salah paham sekaligus. Pintu pertama adalah legalisme, yaitu kembali memakai kuk. Pintu kedua adalah kebebasan liar: "janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Galatia 5:13).
Tema-tema utamanya saling bertaut: kebenaran karena iman, kecukupan salib, pekerjaan Roh Kudus yang menggantikan tuntutan daging, status anak angkat Allah, dan kesatuan umat yang melampaui sekat etnis, kelas, serta gender, seperti dirumuskan dalam Galatia 3:28. Dan semuanya kembali ke meja itu. Kalau kebenaran kita adalah pemberian, tidak ada seorang pun yang boleh duduk di kursi yang lebih tinggi.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat berikut layak Anda baca perlahan, bahkan dihafalkan.
Yang pertama adalah Galatia 2:20: "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." Ayat ini menjawab pertanyaan yang selalu muncul sesudah kita mendengar tentang kasih karunia: kalau keselamatan bukan hasil usaha, lalu apa yang mendorong saya hidup kudus? Jawaban Paulus bukan aturan baru, melainkan Pribadi baru di dalam diri kita. Perhatikan juga betapa pribadinya bahasa itu. Bukan "mengasihi dunia", tetapi "mengasihi aku". Bukan "menyerahkan diri-Nya untuk semua orang", tetapi "untuk aku". Kasih karunia selalu menyempit sampai menyentuh nama Anda.
Yang kedua adalah Galatia 5:1: "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." Kuk adalah palang kayu di leher lembu pembajak. Paulus memakai gambaran itu untuk sistem agama yang terus menuntut dan tidak pernah berkata cukup. Yang mengejutkan, Paulus memakai kata kerja perintah. Kemerdekaan sudah diberikan, tetapi mempertahankannya menuntut keberanian, sebab hati kita punya kecenderungan aneh untuk merindukan kuk yang sudah dilepaskan.
Yang ketiga adalah Galatia 5:22: "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan." Perhatikan kata "buah" dalam bentuk tunggal, bukan "buah-buah". Ini bukan daftar sembilan keterampilan yang bisa dipilih sesuai bakat, melainkan satu kehidupan yang matang dari dalam. Dan hampir seluruhnya bersifat relasional. Kasih, kesabaran, kemurahan, dan kebaikan hanya kelihatan ketika ada orang lain di dekat kita, termasuk orang yang menjengkelkan kita. Dengan kata lain, bukti bahwa Roh Kudus bekerja tidak terlihat di ruang doa pribadi saja, melainkan kembali lagi di meja makan, di ruang rapat, di dapur, di tempat orang hidup berdampingan.
Cermin
Mari jujur sejenak. Anda mungkin tidak pernah menuntut siapa pun untuk disunat, tetapi Anda punya daftar. Daftar tentang seperti apa orang Kristen "yang sungguh-sungguh" itu: seberapa sering ia hadir di ibadah, bagaimana ia berpakaian, musik apa yang ia suka, dari gereja mana ia berasal, bagaimana masa lalunya, berapa penghasilannya. Dan tanpa Anda sadari, daftar itu menentukan siapa yang Anda ajak makan dan siapa yang hanya Anda sapa di pelataran.
Kitab Galatia menggosok tempat itu sampai perih. Kalau Anda sedang bekerja keras supaya Allah akhirnya puas kepada Anda, surat ini berkata bahwa pekerjaan itu sudah selesai di kayu salib dan Anda terlambat untuk membantu. Kalau Anda diam-diam merasa lebih rohani daripada rekan kerja Anda yang berantakan hidupnya, surat ini mengingatkan bahwa Anda dan dia berdiri di tanah yang sama persis, yaitu tanah belas kasihan.
Legalisme sangat menguras tenaga. Ia membuat Anda lelah di hari Minggu, cemas tentang tubuh Anda, tersinggung soal uang, dan kesepian justru di tengah keramaian jemaat, karena tidak ada seorang pun boleh tahu bahwa Anda tidak sekuat penampilan Anda. Dan pada waktu Anda gagal lagi, suara di kepala Anda berkata bahwa kasih Allah sedang surut.
Dengarlah Galatia 6:9: "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." Paulus tahu Anda lelah. Ia tidak menyuruh Anda berusaha lebih keras untuk dikasihi; ia mengundang Anda terus berbuat baik karena Anda sudah dikasihi, dan memberi janji panen bagi mereka yang bertahan.
Anda tidak sedang bekerja untuk kasih; Anda bekerja dari dalam kasih.
Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: adakah kursi yang selama ini Anda geser menjauh?
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sebenarnya cepat sekali menangkap inti Galatia, karena mereka hidup setiap hari dalam pertanyaan ini: apakah aku disayang karena aku baik, atau aku baik karena aku disayang?
Untuk menjelaskannya, Anda bisa memakai gambaran rumah. Ada anak yang tinggal di rumah seseorang sebagai pekerja. Ia harus rajin terus, karena kalau ia malas, ia bisa diusir. Setiap pagi ia bangun dengan perasaan takut. Lalu bayangkan anak lain yang tinggal di rumah itu sebagai anak kandung. Ia juga membantu, ia juga belajar taat, tetapi ia tidak pernah takut diusir, sebab ia memang anak di rumah itu. Kitab Galatia berkata bahwa karena Yesus Kristus, kita bukan pekerja yang ketakutan, melainkan anak yang boleh memanggil Allah dengan sebutan "Bapa". Jadi kita berbuat baik bukan supaya disayang, tetapi karena sudah disayang.
Anda juga bisa menunjukkan buah Roh sebagai buah di pohon. Tidak ada mangga yang mengejan supaya berbuah. Buah tumbuh karena pohonnya hidup dan akarnya dalam. Begitu pula kasih, sukacita, dan kesabaran tumbuh dalam hidup anak yang dekat dengan Yesus.
Setiap usia membutuhkan bahasa yang berbeda. Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Kitab Galatia untuk anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun yang memakai cerita dan gambar sederhana, untuk anak sekolah dasar usia 7 sampai 12 tahun yang sudah bisa diajak memahami arti kasih karunia, dan untuk remaja usia 12 tahun ke atas yang sering bergumul dengan tekanan untuk membuktikan diri. Pilihlah yang sesuai, lalu bacalah bersama mereka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis Kitab Galatia?
Rasul Paulus, dan ia menegaskannya sejak kalimat pertama: "Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa." Penekanan itu bukan kesombongan, melainkan bagian dari pembelaannya, sebab para pengajar sesat di Galatia rupanya meragukan keabsahan kerasulannya dengan alasan ia bukan salah satu dari kedua belas murid. Di bagian akhir Paulus bahkan menyebut bahwa ia menulis dengan tangannya sendiri dalam huruf besar-besar, sebuah sentuhan pribadi yang jarang ia lakukan.
Kapan Kitab Galatia ditulis?
Ada dua perkiraan utama. Bila surat ini ditujukan kepada jemaat-jemaat di bagian selatan provinsi Galatia yang dikunjungi Paulus dalam perjalanan misinya yang pertama, penulisannya jatuh sekitar tahun 48 sampai 49 Masehi, sebelum sidang para rasul di Yerusalem. Bila yang dimaksud adalah daerah Galatia di utara, waktunya bergeser ke sekitar tahun 53 sampai 55 Masehi. Banyak penafsir condong kepada pandangan pertama, yang berarti Galatia kemungkinan besar adalah surat Paulus yang paling awal dan salah satu tulisan Perjanjian Baru yang tertua.
Siapa jemaat Galatia itu dan di mana letaknya?
Galatia adalah sebuah provinsi Romawi di wilayah yang kini menjadi Turki bagian tengah. Namanya berasal dari suku Galia yang bermigrasi ke sana beberapa abad sebelum Masehi. Jemaat yang disurati Paulus kemungkinan besar berada di kota-kota seperti Antiokhia Pisidia, Ikonium, Listra, dan Derbe, tempat ia memberitakan Injil dan sempat dilempari batu di Listra. Mayoritas anggota jemaat berasal dari latar belakang bukan Yahudi, itulah sebabnya tuntutan sunat dari para pengajar baru terasa begitu mengguncang identitas mereka.
Apa pesan utama Kitab Galatia?
Inti pesannya adalah bahwa manusia dibenarkan di hadapan Allah semata-mata karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena melakukan hukum Taurat, dan karena itu umat Allah hidup dalam kemerdekaan yang dipimpin Roh Kudus. Namun pesan itu tidak berhenti sebagai rumusan doktrin. Paulus menunjukkan buahnya dalam hubungan nyata: tidak ada lagi tingkatan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi, antara hamba dan orang merdeka, antara laki-laki dan perempuan, sebab semua adalah satu di dalam Kristus Yesus dan layak duduk di meja yang sama.
Apa arti "dibenarkan karena iman" dalam Galatia 2:16?
Kata "dibenarkan" dipinjam dari dunia pengadilan dan berarti dinyatakan benar, dibebaskan dari tuduhan, diterima sepenuhnya. Galatia 2:16 berkata bahwa tidak seorang pun memperoleh status itu melalui ketaatan pada hukum Taurat, melainkan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus. Artinya, penerimaan Allah bukan upah yang dicicil melalui perbuatan baik, melainkan pemberian yang diterima dengan tangan kosong. Iman di sini bukan sekadar setuju secara pikiran, tetapi bersandar penuh pada karya Kristus sebagai satu-satunya dasar kita berdiri di hadapan Allah.
Apakah orang Kristen masih harus menaati hukum Taurat?
Paulus menolak hukum Taurat sebagai jalan untuk dibenarkan, bukan sebagai penyataan kehendak Allah yang kudus. Hukum itu ia sebut penuntun yang mengantar kita kepada Kristus, dan setelah Kristus datang, peran itu selesai. Orang percaya kini hidup di bawah apa yang disebutnya "hukum Kristus", yaitu mengasihi sesama dan saling menanggung beban. Menariknya, hidup yang dipimpin Roh justru menggenapi maksud terdalam hukum Taurat, sebab tidak ada hukum yang menentang kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kesetiaan.
Apa bedanya buah Roh dan perbuatan daging?
Perbuatan daging dalam Galatia 5 adalah hasil usaha manusia yang hidup menurut keinginannya sendiri, dan daftarnya mencakup hal-hal yang merusak hubungan seperti perseteruan, iri hati, amarah, serta perpecahan. Buah Roh adalah hasil pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang percaya, dan disebut dalam bentuk tunggal karena merupakan satu kesatuan hidup, bukan pilihan-pilihan terpisah. Perbedaannya bukan terutama soal kadar usaha, melainkan soal sumber: yang satu dipaksakan dari luar, yang lain tumbuh dari dalam karena Kristus hidup di dalam kita.
Mengapa Paulus menegur Petrus di Antiokhia?
Karena Petrus semula makan bersama orang-orang bukan Yahudi, lalu menarik diri ketika beberapa orang dari kalangan Yakobus datang. Secara doktrin Petrus tidak mengajarkan hal yang keliru, tetapi tindakannya mengirim pesan bahwa orang percaya bukan Yahudi adalah warga kelas dua yang belum sepenuhnya diterima. Paulus menyebut sikap itu tidak berlaku jujur menurut kebenaran Injil dan menegurnya di depan semua orang. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa bagi Paulus, kasih karunia yang tidak mengubah cara kita memperlakukan orang lain belum sungguh-sungguh dipahami.
Apa arti "terkutuklah dia" dalam Galatia 1:8?
Kata yang dipakai Paulus adalah istilah yang berarti diserahkan kepada penghakiman Allah. Ini bukan umpatan emosional, melainkan pernyataan resmi yang sangat serius. Yang membuatnya mengejutkan adalah Paulus menempatkan dirinya sendiri dan bahkan malaikat dari sorga dalam kalimat itu. Dengan demikian ia menegaskan bahwa Injil tidak bergantung pada kharisma atau jabatan pemberitanya; sebaliknya, setiap pemberita diukur oleh Injil yang sama. Siapa pun yang menambahkan syarat pada karya Kristus sedang memberitakan kabar yang bukan kabar baik lagi.
Apakah kemerdekaan dalam Kristus berarti bebas berbuat dosa?
Tidak, dan Paulus sendiri yang pertama menutup pintu itu. Setelah mengumandangkan kemerdekaan dalam Galatia 5:1, ia segera menambahkan bahwa kemerdekaan jangan dipakai sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan untuk saling melayani oleh kasih. Kemerdekaan Kristen bukan ruang kosong tanpa tuan, melainkan perpindahan tuan: dari perbudakan dosa dan tuntutan yang melelahkan kepada kehidupan yang dipimpin Roh Kudus. Orang yang sungguh merdeka justru menjadi hamba sukarela bagi sesamanya, bukan budak keinginannya sendiri.
Apa hubungan Kitab Galatia dengan Kitab Roma?
Keduanya membahas tema yang sama, yaitu pembenaran karena iman, peran hukum Taurat, dan teladan Abraham, tetapi dengan suasana yang sangat berbeda. Galatia ditulis dalam keadaan darurat, pendek, panas, dan penuh emosi seorang gembala yang jemaatnya sedang dirampas. Roma ditulis lebih tenang dan tersusun rapi, ditujukan kepada jemaat yang belum pernah Paulus kunjungi. Banyak orang menyebut Galatia sebagai rancangan awal dan Roma sebagai uraian lengkapnya. Membaca keduanya berurutan sangat memperkaya pemahaman tentang kasih karunia.
Berapa pasal Kitab Galatia dan bagaimana cara mulai membacanya?
Galatia terdiri dari enam pasal dan dapat dibaca sekali duduk dalam waktu sekitar dua puluh menit, dan memang sebaiknya dibaca begitu pertama kali, sebab surat ini aslinya dibacakan utuh di hadapan jemaat. Sesudah itu, barulah pelajari bagian demi bagian: dua pasal pertama tentang asal-usul Injil Paulus, dua pasal tengah tentang iman dan hukum Taurat, serta dua pasal terakhir tentang hidup dalam kemerdekaan dan pimpinan Roh Kudus.
Panduan membaca Kitab Galatia
Mulailah dengan membaca seluruh surat dalam satu kali duduk, tanpa catatan, tanpa berhenti. Rasakan nada suaranya, kemarahannya, kelembutannya, kelelahannya. Surat ini pertama kali didengar, bukan dipelajari per ayat.
Pada hari kedua, bacalah Galatia 1 dan tanyakan satu hal: apa yang membuat sebuah Injil berhenti menjadi Injil? Perhatikan bagaimana Paulus menilai bahkan dirinya sendiri dengan ukuran yang sama dalam Galatia 1:8.
Hari ketiga, bacalah Galatia 2 sambil membayangkan ruang makan di Antiokhia. Berhentilah lama di Galatia 2:16 dan Galatia 2:20, lalu tuliskan nama Anda di tempat kata "aku" muncul dalam ayat itu.
Hari keempat, bacalah Galatia 3 bersama Kejadian 15 dan Ulangan 21:22 sampai 23. Anda akan melihat mengapa Galatia 3:13 bukan sekadar teologi, melainkan sebuah pertukaran yang menyelamatkan.
Hari kelima, bacalah Galatia 4 dan catat setiap kali muncul kata anak, ahli waris, atau Bapa. Tanyakan di mana Anda masih hidup seperti hamba padahal Anda sudah anak.
Hari keenam, bacalah Galatia 5 perlahan. Bandingkan daftar perbuatan daging dengan buah Roh dalam Galatia 5:22, lalu pilih satu bagian dari buah itu yang paling Anda butuhkan minggu ini dan doakan setiap pagi.
Hari ketujuh, bacalah Galatia 6 dan berhentilah di Galatia 6:9. Tanyakan: dalam hal apa saya hampir menyerah berbuat baik, dan siapa yang bebannya bisa saya bantu pikul hari ini?
Bila Anda punya waktu lebih, bacalah Kisah Para Rasul 13 sampai 15 sebagai latar sejarahnya. Dan bila Anda ingin melanjutkan, Surat Roma adalah langkah berikutnya yang paling tepat.
Sebagai penutup
Kitab Galatia lahir dari sebuah meja yang terbelah, dan sampai hari ini surat ini terus menyatukan kembali apa yang dipisahkan oleh rasa lebih benar. Paulus tidak sedang mempertahankan sebuah mazhab; ia sedang mempertahankan kemungkinan bahwa seorang pendosa yang dibebaskan bisa duduk berdampingan dengan pendosa lain yang juga dibebaskan, tanpa tingkatan, tanpa syarat tambahan, tanpa kursi cadangan di sudut ruangan. Itulah bentuk nyata dari kasih karunia.
Bila Anda membawa pulang satu kalimat dari halaman ini, biarlah itu kalimat ini: Kristus sudah memerdekakan Anda, maka berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Jangan kembali menghitung-hitung apakah Anda sudah cukup baik hari ini. Hiduplah dari kasih yang menyerahkan diri-Nya untuk Anda, dan biarkan Roh Kudus menumbuhkan buah-Nya dalam cara Anda bersabar, memaafkan, dan membuka pintu.
Mulailah dengan membaca enam pasal itu utuh minggu ini. Lalu lakukan satu hal kecil yang sangat sesuai dengan isinya: undanglah seseorang yang biasanya tidak Anda ajak, dan makanlah bersama dia.
