Siapa Debora: Nabiah dan Hakim Perempuan yang Memimpin Israel
Pendahuluan
Bayangkan sebuah pohon korma di pegunungan Efraim, di antara Rama dan Betel. Di bawahnya duduk seorang perempuan. Orang-orang datang kepadanya dengan kaki berdebu, bukan lewat jalan raya, melainkan lewat jalan setapak yang berkelok-kelok, karena jalan utama sudah tidak aman selama dua puluh tahun. Mereka datang membawa sengketa tanah, warisan, dan luka. Tetapi yang sebenarnya mereka bawa adalah keputusasaan sebuah bangsa yang sudah lupa caranya berdiri tegak.
Perempuan itu bernama Debora. Ia tidak punya pasukan. Ia tidak punya istana. Ia punya firman Tuhan dan keberanian untuk mengucapkannya.
Di halaman ini Anda akan menelusuri hidupnya secara berurutan: dari kursi pengadilannya di bawah pohon korma, ke lereng gunung Tabor, sampai ke nyanyian kemenangan yang menjadi salah satu puisi tertua dalam Alkitab. Anda juga akan melihat kelemahan-kelemahan dalam kisah ini secara jujur, dan bagaimana semuanya menunjuk kepada Juruselamat yang jauh lebih besar.
Sudut pandang panduan ini
Kebanyakan tulisan tentang Debora berhenti pada satu kalimat: "Ia perempuan, dan ia memimpin." Itu benar, tetapi terlalu kecil. Panduan ini membaca Debora dari satu kata kerja yang berdenyut di sepanjang Hakim-hakim 4 dan 5: bangkit. Israel sedang tertidur, bukan hanya terjajah. Ladang-ladang kosong, kafilah berhenti, keberanian mati. Debora tidak muncul sebagai pahlawan yang mengerjakan semuanya sendiri; ia muncul sebagai suara yang membangunkan orang lain untuk bergerak. Ia mendorong Barak maju, ia memanggil suku-suku keluar dari kandang mereka, dan ia menyerahkan kehormatan kepada Tuhan dan kepada perempuan lain. Kepemimpinan yang membangunkan, bukan yang menggantikan. Itulah sudut pandang kita.
Apa kata Alkitab tentang Debora?
Kisah Debora dimulai dengan kalimat yang paling sering muncul dalam Kitab Hakim-hakim: Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Setelah Ehud mati, bangsa itu jatuh lagi, dan Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan yang memerintah di Hazor. Panglimanya, Sisera, memiliki sembilan ratus kereta besi dan menindas Israel dengan keras selama dua puluh tahun. Kereta besi di dataran Yizreel pada zaman itu kira-kira seperti tank di padang terbuka: tidak terkalahkan oleh petani bersenjata seadanya. Israel berseru kepada Tuhan, dan jawaban Tuhan datang bukan dalam bentuk senjata, melainkan dalam bentuk seorang perempuan yang mendengar suara-Nya.
Perkenalannya singkat dan padat. Hakim-hakim 4:4 berkata, "Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel." Dalam satu ayat ada tiga identitas: nabiah, istri, dan hakim. Ia bukan perempuan yang melarikan diri dari rumahnya untuk mengejar panggilan; ia perempuan yang membawa rumahnya ke dalam panggilan itu. Sebagai nabiah, ia menyampaikan firman Tuhan. Sebagai hakim, ia menyelesaikan perkara dan memimpin umat. Ayat berikutnya menjelaskan tempat kerjanya: ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora, dan orang Israel naik menghadap dia untuk berhakim kepadanya. Sebelum ada satu pun pedang terhunus, Debora sudah melayani bertahun-tahun dengan pekerjaan yang membosankan dan tidak heroik: mendengarkan orang, menimbang perkara, mengembalikan keadilan setetes demi setetes.
Lalu datang titik balik. Debora memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh dan menyampaikan perintah Tuhan: kumpulkan sepuluh ribu orang dari Naftali dan Zebulon, bergeraklah ke gunung Tabor, dan Tuhan akan menarik Sisera beserta kereta-keretanya ke sungai Kison dan menyerahkannya ke dalam tangan Barak. Perhatikan bahwa Debora tidak merebut peran Barak. Ia menyebut nama Barak, memberinya perintah, menjanjikan kemenangan kepadanya. Ia membangunkan, bukan menggantikan.
Barak ragu. Jawabnya: jika Debora ikut, ia maju; jika tidak, ia tidak maju. Dan di sinilah muncul salah satu ayat paling penting dalam pasal ini. Hakim-hakim 4:9 mencatat, "Kata Debora: 'Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.' Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh." Perhatikan dua hal. Pertama, Debora tidak menolak permintaan Barak; ia ikut. Kedua, ia berkata jujur tentang harga keraguan: kehormatan akan berpindah. Nubuat itu tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, melainkan kepada Yael, perempuan Keni yang nanti akan menghabisi Sisera di dalam kemahnya.
Di gunung Tabor, saat pasukan Kanaan sudah berderet di bawah, Debora mengucapkan kalimat yang menjadi jantung seluruh kisah. Hakim-hakim 4:14 berbunyi, "Lalu berkatalah Debora kepada Barak: 'Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau?' Lalu turunlah Barak dari gunung Tabor dan sepuluh ribu orang mengikuti dia." Debora tidak berkata, "Ikutlah aku." Ia berkata, "Tuhan sudah maju lebih dulu; kejar Dia." Itu bukan pidato motivasi; itu pemberitaan. Iman tidak menciptakan jalan, iman mengikuti Allah yang sudah berjalan di depan.
Hasilnya sudah ditentukan sebelum pedang pertama diayunkan. Tuhan mengacaukan Sisera dan seluruh keretanya; pasukan itu hancur; Sisera turun dari kereta dan lari dengan berjalan kaki. Panglima dengan sembilan ratus kereta besi mati di sebuah kemah, oleh tangan seorang perempuan yang memegang patok dan palu. Allah senang mematahkan besi dengan hal yang tampak lemah.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Debora berdiri di tengah sebuah pola yang berulang dalam Kitab Hakim-hakim: umat berdosa, Tuhan menyerahkan mereka kepada penindas, umat berseru, Tuhan membangkitkan seorang penyelamat, lalu negeri aman untuk sementara waktu. Kata "membangkitkan" itu penting. Hakim bukan jabatan yang diwariskan atau diperebutkan; hakim adalah orang yang dibangunkan Allah dari tengah umat yang tertidur. Debora adalah contoh paling murni dari pola itu, karena di dalam dirinya tidak ada satu pun syarat lahiriah untuk berkuasa: bukan imam, bukan raja, bukan prajurit.
Dalam Perjanjian Lama, Debora bukan satu-satunya nabiah. Sebelumnya ada Miryam yang memimpin nyanyian di tepi Laut Teberau; sesudahnya ada Hulda yang menafsirkan kitab Taurat yang ditemukan di zaman Raja Yosia. Nyanyian Debora dalam Hakim-hakim 5 bahkan bergema dengan nyanyian Miryam, dan keduanya menjadi cikal bakal pujian-pujian kemenangan dalam Mazmur. Ada garis panjang perempuan-perempuan yang menyanyikan karya Allah ketika laki-laki masih terdiam.
Perjanjian Baru mengambil garis itu dan membawanya ke dalam Kristus. Ketika Maria menyanyikan Magnificat, ia menggemakan tradisi Hana dan Debora: Allah yang menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Pada hari Pentakosta, Petrus mengutip Nabi Yoel dan berkata bahwa Roh akan dicurahkan "ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuanmu akan bernubuat" (Kisah Para Rasul 2:17). Apa yang di zaman Debora merupakan pengecualian yang luar biasa, di zaman Roh Kudus menjadi tanda umum: Allah berbicara melalui umat-Nya tanpa memandang jenis kelamin, usia, atau status sosial.
Nama Barak muncul lagi dalam daftar iman yang terkenal itu. Ibrani 11:32 berbunyi, "Dan apakah lagi yang masih harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi." Nama Debora tidak disebut, tetapi kalimat penutup ayat itu, "dan para nabi", merangkul dia, sebab ia dikenalkan Alkitab justru sebagai nabiah. Dan yang lebih mengharukan: Barak, yang tadinya ragu, dicatat sebagai pahlawan iman. Anugerah tidak mengingat keraguan kita sebagai judul; anugerah mengingat langkah kita turun dari gunung.
Semua hakim pada akhirnya gagal memberi damai yang kekal. Debora membawa empat puluh tahun ketenangan, lalu bangsa itu jatuh lagi. Itulah sebabnya Kitab Hakim-hakim diakhiri dengan kalimat getir bahwa setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Umat ini tidak butuh hakim yang lebih baik; mereka butuh Raja yang tidak pernah mati. Yesus Kristus adalah Hakim sejati yang menegakkan keadilan tanpa cela, Nabi sejati yang adalah Firman itu sendiri, dan Pemimpin yang maju di depan umat-Nya sampai ke salib. Ia tidak hanya mengalahkan satu Sisera; Ia mematahkan kuasa dosa dan maut.
Inti hidupnya
Ada tiga momen yang menentukan dalam hidup Debora, dan ketiganya memperlihatkan pola yang sama: ia membangunkan orang lain untuk bergerak kepada Allah.
Momen pertama adalah tahun-tahun panjang di bawah pohon korma. Hakim-hakim 4:4 memperkenalkan dia bukan sebagai komandan perang, melainkan sebagai hakim yang memerintah atas orang Israel, dan ayat berikutnya menempatkan dia di satu titik tetap di pegunungan Efraim. Ini bagian kisahnya yang paling jarang dikhotbahkan dan paling patut ditiru. Selama dua puluh tahun penindasan, ketika negeri lumpuh, ada satu tempat di Israel di mana firman Tuhan masih didengar dan keadilan masih bisa ditemukan. Otoritas Debora di gunung Tabor tidak lahir mendadak; otoritas itu ditempa oleh kesetiaan bertahun-tahun di tempat yang tidak ada sorotannya. Orang-orang mengikuti dia ke medan perang karena mereka sudah lebih dulu mempercayai dia di ruang pengadilan.
Momen kedua adalah percakapannya dengan Barak. Di sini kita melihat kebijaksanaan sekaligus ketegasan. Barak bukan pengecut total; ia bersedia maju, tetapi hanya jika kehadiran nabiah itu menjamin bahwa firman Tuhan sungguh menyertainya. Debora tidak mempermalukan dia, tidak juga memanjakannya. Ia ikut, dan ia berkata terus terang bahwa kehormatan akan jatuh ke tangan seorang perempuan. Di sinilah kejujuran Alkitab terasa tajam: kepemimpinan Debora yang kuat sebagian lahir dari kekosongan kepemimpinan laki-laki di Israel saat itu. Teks tidak merayakan kekosongan itu, tetapi juga tidak menghalangi Allah memakai siapa pun yang mau taat. Lalu di puncak gunung, Hakim-hakim 4:14 menunjukkan apa yang sebenarnya ia bawa: bukan strategi, melainkan keyakinan bahwa Tuhan sudah maju lebih dulu. Barak turun. Sepuluh ribu orang mengikutinya. Debora tetap di belakang nama Barak.
Momen ketiga adalah nyanyiannya. Hakim-hakim 5 adalah salah satu puisi tertua dalam Alkitab, dan isinya mengejutkan. Debora tidak menyusun daftar jasanya. Ia memuji Tuhan, memuji suku-suku yang datang, dan menegur dengan pedas suku-suku yang tinggal di rumah: Ruben yang penuh pertimbangan di antara kandang-kandangnya, Gilead yang diam di seberang Yordan, Dan yang sibuk dengan kapal, Asyer yang duduk di tepi pantai. Ia menyebut dirinya sendiri dalam Hakim-hakim 5:7, "Penduduk pedusunan diam-diam saja di Israel, ya mereka diam-diam, sampai engkau bangkit, Debora, bangkit sebagai ibu di Israel." Ia melihat dirinya sebagai ibu, bukan jenderal. Ibu membangunkan anak-anaknya, memberi makan, menegur, dan mendorong mereka keluar pintu.
Nyanyian itu juga memuat sisi yang membuat kita tidak nyaman: pujian bagi Yael yang membunuh tamunya sendiri, dan gambaran ibu Sisera yang menunggu di jendela anak yang tidak akan pernah pulang. Alkitab tidak menghaluskan kekejaman zaman para hakim. Justru kejujuran itu membuat kita rindu akan kerajaan di mana tidak ada lagi patok kemah dan tidak ada lagi ibu yang menunggu sia-sia.
Yang kita pelajari dari Debora
Pelajaran pertama: kepemimpinan rohani yang sehat membangunkan orang lain, bukan membuat mereka bergantung. Debora bisa saja menikmati posisinya sebagai satu-satunya orang yang mendengar suara Tuhan. Sebaliknya, ia memanggil Barak, mempercayakan sepuluh ribu orang kepadanya, dan membiarkan namanya tercatat sebagai pemimpin pasukan. Dalam gereja, keluarga, atau pekerjaan, tandanya sama. Pemimpin yang sehat meninggalkan orang-orang yang lebih berani dan lebih dewasa daripada saat pertama kali mereka bertemu. Kalau pelayanan kita runtuh begitu kita tidak hadir, mungkin kita sedang menggantikan, bukan membangunkan.
Pelajaran kedua: keberanian lahir dari keyakinan bahwa Tuhan sudah maju di depan. Pertanyaan Debora di gunung Tabor, "Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau?", membalikkan cara kita berpikir tentang iman. Kita biasanya berdoa agar Tuhan menyertai rencana kita. Debora mengajar kita melihat bahwa Tuhan sudah bergerak, dan tugas kita adalah turun dari gunung mengikuti Dia. Sembilan ratus kereta besi tidak berkurang jumlahnya karena iman Barak; yang berubah adalah siapa yang mengendalikan medan itu. Iman bukan menutup mata terhadap kenyataan, melainkan membuka mata terhadap kenyataan yang lebih besar.
Pelajaran ketiga: kehormatan bukan milik kita, dan itu kabar baik. Debora bernubuat bahwa kemuliaan akan jatuh kepada seorang perempuan lain, dan ketika itu terjadi, ia menyanyikan berkat bagi Yael tanpa sedikit pun nada iri. Nyanyiannya berakhir dalam Hakim-hakim 5:31, "Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah tanah itu empat puluh tahun lamanya." Perhatikan bahwa musuh-musuh itu disebut musuh Tuhan, bukan musuh Debora. Dan orang yang bersinar bukanlah orang yang menang, melainkan orang yang mengasihi Dia. Hidup kita yang sebenarnya bukanlah prestasi yang kita kumpulkan, melainkan kasih yang kita berikan kepada Allah yang lebih dulu mengasihi kita.
Di balik ketiganya ada satu benang yang sama: Debora besar justru karena ia tidak sibuk membesarkan dirinya. Ia duduk di bawah pohon ketika tidak ada yang melihat, ia mendorong orang lain maju ketika ia sendiri bisa memimpin, dan ia menyerahkan piala kepada Tuhan ketika kemenangan sudah di tangan.
Cermin
Mungkin Anda membaca kisah ini sambil berpikir bahwa Anda bukan Debora. Anda tidak punya pohon korma, tidak ada yang datang meminta nasihat Anda, dan keputusan terbesar Anda minggu ini adalah soal cicilan dan jadwal antar jemput anak. Tetapi tanyakan ini pada diri Anda: di bagian mana hidup Anda sedang tertidur?
Ada orang yang sudah dua puluh tahun hidup dengan luka keluarga yang tidak pernah dibicarakan, karena lebih aman memilih jalan berkelok daripada berjalan di jalan utama. Ada yang tahu persis bahwa pekerjaannya menuntut kompromi kecil setiap minggu, dan sudah lama berhenti merasa terganggu. Ada yang menyimpan talenta, suara, dan panggilan di dalam laci, karena pernah sekali ditolak dan tidak mau lagi berdiri. Ada yang tubuhnya lelah, dompetnya tipis, dan malamnya sepi, lalu menyimpulkan bahwa Allah sudah berpindah ke kehidupan orang lain.
Debora datang kepada Anda bukan dengan kalimat "berusahalah lebih keras", melainkan dengan pertanyaan yang ia ajukan kepada Barak: Bukankah Tuhan telah maju di depan engkau? Ia tidak menunggu Anda cukup kuat. Ia sudah bergerak lebih dulu, dan panggilan Anda adalah turun dari gunung tempat Anda bersembunyi.
Dan jika Anda merasa seperti Barak, yang hanya mau melangkah kalau ada orang lain di samping, dengarkan ini baik-baik: Allah tidak mencoret Barak. Allah memberinya Debora, memberinya kemenangan, dan ribuan tahun kemudian mencantumkan namanya di antara pahlawan iman. Keraguan Anda tidak membatalkan panggilan Anda. Yang membatalkan adalah keputusan untuk tetap diam.
Allah tidak menunggu Anda berani; Ia membangunkan Anda.
Mungkin hari ini langkah pertamanya sederhana: satu percakapan yang tertunda, satu pengakuan dosa, satu doa yang jujur, satu keputusan untuk berhenti berjalan di jalan yang berkelok.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak biasanya langsung tertarik pada bagian pohon kormanya. Mulailah dari sana. Ceritakan bahwa dahulu ada seorang ibu bernama Debora yang sangat dekat dengan Tuhan, sampai Tuhan memberitahukan hal-hal penting kepadanya. Ia duduk di bawah pohon kurma yang besar, dan semua orang datang kepadanya kalau mereka bertengkar atau bingung, karena ia selalu menolong mereka melakukan apa yang benar.
Lalu ceritakan bahwa pada waktu itu ada orang jahat bernama Sisera yang punya ratusan kereta perang dari besi, dan semua orang Israel sangat ketakutan sampai mereka tidak berani keluar rumah. Tuhan menyuruh Debora memanggil seorang bapak bernama Barak dan berkata, "Tuhan sudah berjalan di depanmu. Ayo, jangan takut!" Barak takut sendirian, jadi Debora ikut bersamanya. Dan Tuhan memberikan kemenangan. Sesudahnya, Debora tidak berkata, "Lihat, aku hebat." Ia menyanyi, "Tuhan yang hebat!"
Untuk anak kecil, kesimpulannya cukup satu kalimat: Tuhan bisa memakai siapa saja yang mau mendengarkan Dia, bahkan ketika orang lain mengira kita tidak penting. Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa masuk ke pertanyaan yang lebih dalam, misalnya mengapa Barak ragu dan mengapa Alkitab tetap menyebut dia orang beriman.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Debora yang disesuaikan dengan usia: untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun, untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun, dan untuk remaja dua belas tahun ke atas, lengkap dengan pertanyaan diskusi yang bisa dipakai di rumah atau di kelas sekolah minggu.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Debora dalam Alkitab?
Debora adalah seorang nabiah dan hakim yang memimpin Israel pada masa sebelum ada raja, kira-kira pada abad kedua belas sebelum Masehi. Hakim-hakim 4:4 memperkenalkan dia dengan singkat, "Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel." Ia menyelesaikan perkara di bawah pohon korma di pegunungan Efraim, menyampaikan firman Tuhan kepada panglima Barak, dan ikut maju ke gunung Tabor ketika Israel berperang melawan Sisera. Ia juga menggubah nyanyian kemenangan yang tercatat dalam Hakim-hakim pasal 5.
Di bagian mana Alkitab kisah Debora dapat ditemukan?
Seluruh kisahnya terdapat dalam Kitab Hakim-hakim pasal 4 dan pasal 5. Pasal 4 menceritakan peristiwanya dalam bentuk narasi prosa: penindasan Yabin dan Sisera, panggilan kepada Barak, pertempuran di sungai Kison, dan kematian Sisera di kemah Yael. Pasal 5 menceritakan peristiwa yang sama dalam bentuk puisi, yaitu Nyanyian Debora, yang dianggap banyak ahli sebagai salah satu teks tertua dalam Alkitab Ibrani. Namanya juga disinggung secara tidak langsung melalui Barak dalam Ibrani 11:32.
Apa arti sebutan "ibu di Israel" bagi Debora?
Sebutan itu muncul dalam Hakim-hakim 5:7, "Penduduk pedusunan diam-diam saja di Israel, ya mereka diam-diam, sampai engkau bangkit, Debora, bangkit sebagai ibu di Israel." Istilah ini bukan tentang jumlah anak kandungnya, melainkan tentang perannya bagi bangsa itu. Seorang ibu melindungi, menasihati, menegur, dan membangunkan anak-anaknya untuk berdiri. Debora melakukan itu bagi seluruh Israel yang sedang lumpuh ketakutan. Gelar itu memperlihatkan bahwa kepemimpinannya bersifat merawat sekaligus menggerakkan, bukan sekadar memerintah.
Mengapa Barak tidak mau maju tanpa Debora?
Hakim-hakim 4 mencatat bahwa Barak hanya bersedia maju jika Debora ikut. Para penafsir menilai sikap ini dengan dua cara. Sebagian melihatnya sebagai keraguan iman, sebab perintah Tuhan sudah jelas dan seharusnya cukup. Sebagian lain melihatnya sebagai kerinduan agar kehadiran nabiah itu menjamin bahwa firman Tuhan sungguh menyertai pasukan. Debora sendiri memberi penilaiannya dalam Hakim-hakim 4:9: ia ikut, tetapi kehormatan akan jatuh ke tangan seorang perempuan. Menariknya, Ibrani 11:32 tetap mencantumkan Barak di antara para pahlawan iman.
Apakah Debora menjadi hakim karena tidak ada laki-laki yang mau?
Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. Teks memperkenalkan Debora tanpa nada permintaan maaf: ia nabiah, ia hakim, dan orang Israel datang kepadanya untuk berhakim. Memang benar Nyanyian Debora menggambarkan Israel yang lesu dan beberapa suku yang menolak ikut berperang, sehingga ada kekosongan kepemimpinan yang nyata. Namun penekanan Alkitab bukan pada kekurangan manusia, melainkan pada kedaulatan Allah yang membangkitkan siapa saja yang Ia kehendaki untuk menyelamatkan umat-Nya.
Siapa Lapidot, suami Debora?
Alkitab hanya menyebut namanya satu kali, dalam Hakim-hakim 4:4, tanpa informasi lain. Beberapa penafsir Yahudi kuno mengusulkan bahwa frasa Ibrani "eshet lappidot" bisa dibaca sebagai "perempuan obor" atau "perempuan yang menyala", sebuah permainan kata tentang karakternya. Pembacaan yang paling lazim dan paling sederhana tetaplah bahwa Lapidot adalah nama suaminya. Yang menarik adalah apa yang tidak dikatakan Alkitab: statusnya sebagai istri tidak dipertentangkan dengan pelayanannya, keduanya disebut dalam satu napas.
Siapa yang sebenarnya membunuh Sisera?
Yael, istri Heber orang Keni. Setelah pasukannya hancur, Sisera melarikan diri dengan berjalan kaki dan berlindung di kemah Yael. Ketika ia tertidur karena kelelahan, Yael mengambil patok kemah dan palu lalu melantaknya ke pelipis Sisera. Peristiwa itu menggenapi nubuat Debora dalam Hakim-hakim 4:9 bahwa Tuhan akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan. Dalam Hakim-hakim 5, Debora menyanyikan berkat bagi Yael, tanpa sedikit pun rasa iri bahwa kehormatan itu jatuh kepada orang lain.
Mengapa nama Debora tidak disebut dalam Ibrani 11?
Ibrani 11:32 berbunyi, "Dan apakah lagi yang masih harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi." Penulis Ibrani sedang mempersingkat daftarnya dan menyebut para pemimpin militer sesuai alur pasal itu, lalu menutup dengan frasa "dan para nabi". Karena Alkitab memperkenalkan Debora terutama sebagai nabiah, ia tercakup dalam frasa itu. Ketiadaan namanya bukan penilaian atas imannya, sebab Hakim-hakim justru menampilkan dia sebagai tokoh yang paling percaya.
Apakah kisah Debora membuktikan perempuan boleh memimpin di gereja?
Kisah Debora memperlihatkan dengan jelas bahwa Allah dapat dan memang memakai perempuan untuk menyampaikan firman-Nya dan memimpin umat-Nya, dan bahwa Alkitab tidak memperlakukan hal itu sebagai penyimpangan. Orang Kristen yang sama-sama menghormati Alkitab tetap berbeda pendapat mengenai penerapannya pada jabatan gereja masa kini, sebab mereka juga menimbang teks-teks Perjanjian Baru tentang penatua. Yang tidak bisa dibantah siapa pun adalah ini: Debora bernubuat, memimpin, dan dihormati Alkitab, dan sikap merendahkan pelayanan perempuan tidak menemukan dukungan dalam kisah ini.
Apa makna Hakim-hakim 5:31 bagi orang percaya hari ini?
Ayat itu berbunyi, "Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah tanah itu empat puluh tahun lamanya." Debora menutup nyanyiannya dengan dua nasib yang berbeda: perlawanan terhadap Tuhan berakhir dalam kebinasaan, sedangkan kasih kepada Tuhan berakhir dalam terang. Yang menonjol adalah tolok ukurnya. Bukan keberanian atau kemenangan yang membuat seseorang bersinar, melainkan kasih kepada Allah. Bagi orang percaya hari ini, itu janji sekaligus undangan untuk hidup dari kasih, bukan dari prestasi.
Apa perbedaan antara Hakim-hakim pasal 4 dan pasal 5?
Keduanya menceritakan peristiwa yang sama dari sudut yang berbeda. Pasal 4 adalah laporan naratif yang runtut: siapa menindas siapa, siapa dipanggil, apa yang dikatakan, dan bagaimana pertempuran berakhir. Pasal 5 adalah puisi liturgis yang dinyanyikan Debora dan Barak sesudah kemenangan, penuh gambaran dramatis seperti bintang-bintang yang berperang dari langit dan sungai Kison yang menghanyutkan musuh. Pasal 5 juga menambahkan hal yang tidak ada di pasal 4, misalnya daftar suku yang ikut dan yang tinggal di rumah, serta adegan ibu Sisera menunggu di jendela.
Apakah Debora ini sama dengan Debora pengasuh Ribka?
Bukan. Kejadian 35:8 menyebut Debora, inang pengasuh Ribka, yang mati dan dikuburkan di bawah pohon besar dekat Betel. Peristiwa itu terjadi ratusan tahun sebelum zaman para hakim. Kebetulan yang menarik adalah bahwa keduanya dikaitkan dengan sebuah pohon di daerah Betel, dan sebagian ahli menduga tradisi tempat itu saling berdekatan. Namun Alkitab memperlakukan keduanya sebagai dua perempuan yang berbeda, hidup di zaman yang berbeda, dengan peran yang sama sekali berlainan.
Berapa lama Israel menikmati damai setelah kemenangan Debora?
Empat puluh tahun, menurut kalimat penutup Hakim-hakim 5:31. Angka empat puluh sering muncul dalam Kitab Hakim-hakim untuk menandai satu generasi penuh dalam ketenangan. Tetapi damai itu tidak bertahan selamanya. Pasal berikutnya langsung membuka dengan kalimat bahwa orang Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, kali ini ditindas oleh orang Midian. Pola berulang inilah yang membuat Kitab Hakim-hakim terasa melelahkan sekaligus mengarahkan kita kepada kebutuhan akan Juruselamat yang kekal.
Sebagai penutup
Debora tidak pernah menjadi ratu, tidak pernah memimpin pasukan dengan pedang di tangan, dan tidak meninggalkan dinasti. Yang ia tinggalkan adalah sebuah bangsa yang bangun. Ia duduk setia di bawah pohon ketika tidak ada yang bertepuk tangan, ia mendorong Barak maju ketika ia sendiri bisa mengambil seluruh panggung, dan ia menyanyikan nama Tuhan ketika kemenangan sudah menjadi miliknya. Itulah sebabnya kalimatnya di gunung Tabor masih menggigit sampai hari ini: Tuhan sudah maju di depan, tinggal apakah kita mau turun dan mengikuti.
Kalau Anda ingin menggali lebih jauh, bacalah Hakim-hakim 4 dan 5 berdampingan dalam satu duduk, lalu bandingkan Nyanyian Debora dengan nyanyian Miryam dalam Keluaran 15 dan Magnificat Maria dalam Lukas 1. Perhatikan bagaimana ketiganya memuji Allah yang membalikkan kekuatan dunia. Setelah itu, tanyakan satu hal kepada diri sendiri dalam doa: siapa yang Tuhan ingin saya bangunkan minggu ini, dan di bagian mana saya sendiri perlu dibangunkan?
Kemenangan Debora hanya bertahan empat puluh tahun. Kemenangan Kristus bertahan selamanya.
